Kisah kedua: Minggu ke 25

May 18, 2021

Kisah Kedua: Minggu ke-25. Sungguh tak terasa waktu berjalan dengan cepat... Minggu ini kandunganku telah memasuki usia 25 minggu, telah tiba di akhir trisemester kedua. Tersisa 3 bulan lagi, Insyallah aku akan bertemu dengan Baby G. Semoga saat itu semuanya dilancarkan...

Sebenarnya ada sedikit perasaan bersalah karena tak menuliskan banyak hal dikehamilan kali ini. Terkesan membedakan yang pertama dan kedua... Tapi seperti tulisanku yang sebelumnya, kumasih belum bisa fokus merangkai kata. Bisa dilihat dari berantakannya kalimat-kalimat yang tersusun saat ini. Ah maafkan bunda nak!

Di pertengahan April aku tidak bermasalah lagi dengan makanan, nafsu makanku kembali dan semua terasa enak di lidah. Bahkan hampir tiap jam rasanya aku merasa lapar. Hanya saja aku masih belum bisa makan terlalu banyak, karena akan kesulitan bernapas dan perutku mengencang. Aku pun mensiasatinya dengan makan sedikit tetapi sering. Stok cemilan pun berambah di rumah, hahaha...


Oh ia aku tidak ikut berpuasa di bulan Ramadhan. Sebenarnya aku merasa cukup mampu untuk berpuasa, tetapi Pai melarang.  Ia merasa khawatir karena sebelumnya aku mengalami pendarahan, dan berat badanku yang tak bertambah kala itu. Akankah gizi Baby G di perut terpenuhi? Kami juga tak ada jadwal ke dokter si di bulan April, jadi tak sempat berkonsultasi perihal berpuasa ini. Lagian, apa memang aku sanggup berpuasa dengan rasa lapar yang hampir setiap jam itu?

Eksimku pun mereda di trisemester kedua ini. Tertinggal hanya dibagian telapak tangan saja yang memang masih bersentuhan dengan sabun cuci piring dan handsanitizer. Kulit wajah masih sedikit labil, kadang sangat sehat, lembab, tanpa jerawat dan beruntusan, kadang malah sebaliknya...

Hmmm apa lagi ya?

Perutku semakin membesar dan Baby G semakin lincah bergerak. Alhamdulillah dia sehat dan lincah, hanya saja hal ini membuat tidur malamku semakin sulit. Pinggang, panggul, tulang ekorku terasa amat sakit. Belum lagi kakiku yang bisa tiba-tiba kram. Badanku juga terasa sangat gerah, membuatku ingin minum yang dingin terus menerus.

Paling susah di bulan Ramadhan itu sih. Biasanya jam 2 atau setengah 3 dini hari aku baru bisa terlelap, tapi kadang terpaksa terbangun karena seruan menjengkelkan orang-orang dari toa mesjid yang membangunkan untuk sahur. Ada kali semingguan orang itu berteriak tak jelas dan super rese membangunkan sahur sebelum mendapatkan protes dari warga lainnya dan akhirnya proses membangunkan sahurnya jauh lebih normal. Hanya membangunkan sahur tanpa teriak dan cekikikan tak sopan. Syukurnya lagi Pai itu mandiri dan tak gila dilayani, jadi untuk makan sahur dia yang menyiapkannya sendiri. Sementara Ghaza hanya bangun untuk minum lalu tidur kembali. Aku bisa tidur minimal 4 jam sebelum solat subuh.

Di awal Mei, sebelum lebaran, kami pun mengunjungi dokter kembali. Mengecek keadaan Baby G yang alhamdulillah sehat tanpa kekurangan apapun dan sangat aktif bergerak. Kami juga akhirnya mengetahui jenis kelaminnya... Saat di usg itu, ia menendang dan meninju dengan antusias. Meskipun begitu, posisinya masih melintang. Dan juga timbanganku hanya bertambah 2kg sepanjang kehamilan ini!

Bahagia bertemu Baby G, pulangnya kami melipir ke tempat makan untuk membungkus makanan, Pai juga belum sempat makan nasi setelah berbuka. Tapi mungkin terlalu exited dan menghindari hujan yang tiba-tiba, Pai tak melihat jalanan rusak di depan yang membuat motor kami berguncang hebat. Sepanjang jalan dia ku omelin dan benar saja aku kembali pendarahan dong...

Darahnya hitam berupa gumpalan-gumpalan yang menyeramkan. Kembalilah aku menggunakan obat penguat kandungan. Syukurnya, Baby G masih lincah bergerak dan tiga hari kemudia pendarahannya berhenti. Hal ini membuat kami berpikir, bagaimana nantinya saat lebaran. Masa kami tidak mengunjungi kakek dan nenek Ghaza di Bili-bili?

Sebenarnya jarak Makassar - Bili-bili tidak begitu jauh. Hanya 30 menitan menggunakan mobil, tapi jalanan di sana rusak parah. Dengan kondisi kandunganku yang tak begitu kuat ini, bisa-bisa aku melahirkan di tengah jalan kali ya. Tapi kasian juga jika kami tidak ke kakek dan nenek Ghaza, mereka hanya berdua di sana dan selama Ramadhan ini kami tidak pernah mengunjungi mereka. Pai pun memutar otak dan mencari alternatif jalan, ya meskipun jalannya memutar dan jadi jauh setidaknya kami selamat sampai tujuan.

Alhamdulillah hingga tulisan ini kubuat, aku tak pernah pendarahan lagi. Hanya saja kumulai merasakan kontraksi palsu yang membuat perutku mengencang dan keras seperti batu. Yang rasanya tentu saja tak nyaman. Berganti posisi dari berbaring ke duduk, duduk ke berdiri, membutuhkan perjuangan keras. Serasa aku membawa-bawa batu sebesar bola sepak di perutku.

Selebihnya aku merasa bahagia, bersyukur, dan terberkati...

Baca juga: Kisah Kedua

Tapi kalau ditanya mau hamil lagi apa tidak? Dengan tegas kujawab, TIDAK TERIMAKASIH!




You Might Also Like

15 Comments

  1. Hahahahaha aku ngakak baca kata2 trakhir. Krn itu juga yg aku ucapin kalo ditanya org lain mba, Ga akan mau hamil lagi :D. Pada dasarnya aku memang ga suka anak2 sbnrnya.

    Aku kebayang kuatirnya pas pendarahan itu :(. Aku hamil kedua juga beda Ama hamil pertama. Agak LBH lemah dan ga suka traveling samasekali. Padahal hamil pertama, even hampir 7 bulan, aku msh kelayapan ke LN. Pas hamil si adek, boro2. Bawaan mager di rumah Mulu :D.

    Semoga semuanya dilancarkan sampai hari H ya mbaaa :). Sehat2 selalu mami dan baby nya :).

    ReplyDelete
  2. Sudah yakin ndak mau hamil lagi hahaha. Ada teman yang waktu hamil tobat ngak mau hamil lagi pas dua bulan setelah lahiran isi lagi.

    ReplyDelete
  3. Halo Baby G! Semoga kamu sehat dan jadi anak yang berbakti ya sama orangtua nanti Aamiin! Sehat-sehat juga ya mbak buat kamu dan keluarga. Nggak sabar nunggu cerita ketiga hihi

    ReplyDelete
  4. Halo Bunda. Sehat selalu untuk bunda dan calon dedek bayi ya ... Semoga posisi dedek juga lekas berada di bawah kepalanya. Tapi posisi gitu bikin pinggang ibu makin nano nano loh rasanya (sepengalaman saya, hehe).

    ReplyDelete
  5. Ingat dulu saat hamil, apa lagi saat perut semakin besar. Tidur itu jadi masalah banget. Gak bisa celentang dan telungkup. Saking pegalnya punggung pengen deh melubangi kasur hahaha..

    Insyaallah selalu sehat ya Mbak. Si buah hati lancar kelahirnannya, ibu dan anak selalu sehat

    ReplyDelete
  6. Semoga diberikan kesehatan dan keselamatan selama kehamilan sampai kelahiran nanti. Pastinya jadi kenangan indah suatu hari nanti

    ReplyDelete
  7. perjuangan ibu untuk memastikan sang buah hati selalu sehat, Mudah mudahan saat lahiran lancar, ibu dan bayi sehat semuanya

    ReplyDelete
  8. Semoga sehat selalu ya kak bersama baby G. Jadi pelajaran buat para calon ibu untuk tetap menjaga kesehatannya dan calon buah hati.

    ReplyDelete
  9. Ahh, artikel ini membaw anganku ke kehamilan Yasmin, buah hati yang kami nanti setelah hampir 8 tahun perkawinan.

    Hingga 7 bulan pertama, aku mengalami mornimg sick, yang sangat menyiksa, hingga suatu hari aku muntah kuning yang sangat pahit itu.

    Kalau disuruh memilih, morning sikcness bagiku lebih horor ketimbang proses persalinan.
    Selera makanku menguap entah kemana saat morning sickness.

    Awalnya aku ragu apakah bayi Yasmin akan sehat, karena aku cuma bisa makan mangga muda kecut dan minum kopi susu saat periode morning sickness.

    Untunglah memasuki bulan ke 8, seleraku berbalik, pemirsah.
    Aku mencoba mengejar ketinggalan dengan memakan semua kuliner favort, hahaha.
    Istilah sekarang, gaaaskaaan!

    Alhamdullillah, Yasmin lahir normal dengan berat 2,9kg dan panjang 50cm.

    Semoga lancar segala sesuatunya ya, mba
    Aamiin Ya Robbalalaamiin.


    ReplyDelete
  10. Sehat terus mba, dan jangan lupa bahagia terus biar yang di dalam perut ikutan bahagia juga hehe

    ReplyDelete
  11. Bismillah mba Dwi, semangat selalu ya aku jadi belajar nih biar hati-hati juga kalo kelak diamanahi hamil amaiin.

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah, sudah mau nginjak trimester kedua ya mbak. Gak Terasa memang. Apalagi kalo gak ada keluhan. Tapi masuk trimester kedua keluhanku biasanya eungap. Perut yang makin besar bikin susah tidur juga. Aku biasanya nambah BB-nya drastis sih. Sehat-sehat selalu baby dan bundanya ☺

    ReplyDelete
  13. Semoga semua lancar sampai lahiran nanti Dwi, saya dulu pas hamil Rayhan hamipir mirip ji rasanya dengan hamil Ridwan. Tepar sepanjang hari nda bisa ngapa-ngapain wkwkkw. Masih mau nambah satu lagi tapi klo ingat pengalaman lahiran Rayhan yang bikinka trauma jadi mundur dan menimbang-nimbang lagi.

    ReplyDelete
  14. Sehat selalu, kak Dwi.
    Salut banget sama perjuangannya. Aku yakin ini gak mudah, apalagi kak Dwi biasa beraktivitas, lalu jadi susah makan dan beberapa kali flek.

    Semoga Baby G lancar lahirannya yaa, nak..
    sehat Ibu dan beibinya.

    Aku juga jadi so excited niih...

    ReplyDelete
  15. Mbaak, semoga calon debay dan mamahnya sehat selalu ya. Sehat terus sampai lahiran. Selalu positif thingking dan semangat mbak.

    ReplyDelete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus. Juga yang komennya dibaca brokenlink terpaksa saya hapus.