Kisah Kedua

February 18, 2021

Ini adalah sebuah cerita baru tentang Kisah Kedua yang dipercayakan Sang Kekasih kepada kami...

Meskipun diminggu kedua setelah positif covid badanku terasa baik-baik saja tanpa ada keluhan gejala yang berarti, aku merasa gampang sekali lelah, mabok (pusing, keliyengan, dan cuma enakkan kalau berbaring gitu), dan terkadang mual. Aku pun menjadi jauh lebih sensitif. Awalnya karena mendengar cerita-cerita penyintas covid lainnya yang memang menjadi mudah lelah, aku pun mengira ini hanyalah efek samping dari penyakit itu. Tapi kemudian kumenyadari bahwa kusudah telat semingguan dari jadwal haidku yang biasa. Ah masa sih?

Singkat cerita akhirnya kucoba test pack dan hasilnya positif. Setelah lima tahun akhirnya aku hamil lagi, alhamdulillah... Senang? Tentu saja. Mengetahui ada kehidupan baru yang bertumbuh di perutku terasa seperti sebuah keajaiban. Anugrah yang tak terlukiskan. Hadiah teramat indah di tahun yang pada awalnya diawali dengan rentetan kabar duka.

Aku sendiri tidak menyangka akan merasa sebahagia ini, merasa penuh dan luar biasa. Yang mengenalku mungkin tahu karena dulu mengalami proses persalinan yang sulit, aku masih trauma dengan proses melahirkan itu. Sampai sekarang pun aku masih bergidik ngeri jika membayangkan bagaimana melahirkan nantinya. Karena itu aku sebenarnya menolak memiliki anak lagi. Seandainya bisa hamil saja dan proses melahirkannya di skip dan si bayi bisa tiba-tiba hadir di dunia, begitu inginku. Tapi tentu saja tak mungkin bukan?!! Syukurlah perasaan kecewa dan kengerian yang kurasakan mengenai kehamilan malah tak kurasakan saat melihat garis dua di test pack ku itu. Aku hanya berbahagia dan bersyukur...


Tentu saja aku masih memiliki ketakutan tentang melahirkan itu. Hanya saja dibandingkan dengan kebahagiaan, rasa haru, dan syukur yang kurasakan, ketakutan itu terasa tak terlalu menghantui. Mari menikmati prosesnya, begitu yang kupikirkan.

Tapi kami juga merasa cemas. Berarti saat hamil itu aku terinfeksi covid! Bagaimana pengaruh penyakit itu ke janinku? Bagaimana pengaruh obat-obatan yang kuminum pada perkembangannya? Belum lagi segala macam ramuan yang dikirimkan keluarga yang khawatir... memang aku tak rutin sih meminumnya, tapi tetap saja, bagaimana jika mempengaruhi janinku? Dengan segala kecemasan itu, akhirnya kami memeriksakan kandunganku ke dokter yang telah kupilih setelah mencari tahu rumah sakit mana dan dokter siapa yang praktek di sana.

Setelah konsultasi dengan dokter mengenai kekhawatiran kami, aku pun merasa lumayan lega, meskipun kekhawatiran baru muncul... Saat itu usia kandunganku 6 minggu dan dari hasil usg janinnya belum terlihat. Yang terlihat barulah kantungnya, karena itu dokterku memintaku untuk datang kembali bulan depannya. Sebenarnya di usia kandungan seperti itu hal yang wajar jika janin belum terlihat tetapi entahlah aku tetap saja merasa cemas. Bagaimana jika aku mengalami kehamilan kosong? Embrio tak terbentuk?

Ya, aku dan kecemasan-kecemasanku...


Beda anak, beda kisah begitu yang sering dikatakan orang-orang dan yang sedang kualami sekarang... Trisemester pertama ini lebih banyak kulalui di rumah. Selain karena pandemi sehingga kegiatan di luar rumah dibatasi, aku pun tak bisa terlalu lama berada di luar rumah. Mual dan mabok sehingga aku lebih banyak berbaring saja sambil netflix-an. Aku pun menjadi malas makan, mau ini itunya tetap ada tapi hanya dilihat atau diicipi sedikit. Yang ada Pai yang berat badannya naik karena menghabiskan semua pesanan makananku, sedangkan berat badanku turun 4kg.

Tidak bermaksud membandingkan, saat Ghaza dulu, aku tak seperti ini. Mual cuma sesekali dan nafsu makan pun normal. Melakukan kegiatan sehari-hari juga tanpa halangan. Selain jarak yang jauh antara kehamilanku yang dulu dan sekarang, banyak hal baru yang kualami sebagai ibu hamil yang tidak kurasakan dulu. Menarik, aku menganggap ini petualangan yang baru, pun aku mempelajari banyak hal baru sembari mengupgrade pengetahuanku tentang kehamilan lagi.

Sebulan berlalu, aku pun pergi memeriksa kandunganku lagi yang ternyata telah memasuki usia 11 minggu. Alhamdulillah kekhawatiranku tidak terjadi. Detak jantungnya sudah bisa didengarkan dan berdetak dengan stabil. Insyallah kami akan bertemu di akhir Agustus dan Ghaza akan menjadi seorang kakak.

"The more greatful I am, the more beauty I see."
_ Mary Davis


You Might Also Like

28 Comments

  1. jadi mbak positif covid dan hamil? gimna crtanya tuh, hmmm apakah benar? atau sy salah tangkap ya? semoga sehat selalu mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia hamilnya pas positif covid mbak tapi baru ketahuan saat sudah negatif.

      Delete
  2. Aku kok terharu sih, baca paragraf akhir, tentang detak jantung sudah bisa didengarkan dan terdengar stabil. Itu mah...perasaan yang tak terlukiskan deh. Hilang segala kekhawatiran, yang ada semangat dan berpikir positif, agar janin berkembang baik dan lahir dengan selamat.
    Selamat yaaa...semoga sehat selalu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huhuhu... ia mbak itu tuh moment paling mengharukan setiap cek kedokter dah. اَمِين يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن, terimkasih mbak.

      Delete
  3. alhamdulillah ibu dan janin sehat

    saya ngalamin di semua kehamilan mbak, karena mengidap epilepsi sehingga harus minum obat tiap hari, takutnya janin akan terpengaruh

    Allahu Akbar, Tuhan maha baik, ke-4 anakku sehat tak kurang suatu apa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masyallah keren sekali kamu mbak. Salam ya untuk keluarga dan semoga kalian diberikan kesehatan dan kebahagiaan yang berlimpah. Amin!

      Delete
  4. Insya Allah sehat sehat selalu sampai hari persalinan tiba ya mba, dan Gaza bisa resmi dinobatkan sebagai kakak. Hehehe

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah.... selalu ada kabar bahagiaa yg bikin kita sumringah ya mbaa
    walopun awalnya cukup mellow dgn covid, eh... ternyata ALLAH berikan rezeki yang luar biasa.

    semogaaa lancar dan sehaaat ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia mbak, alhamdulillah banget. Tahun 2021 kami diawali dengan kabar gembira.

      Amin, terimakasih mbak.

      Delete
  6. Aku deg-degan bacanya. Cuma bisa kirim peluk dan doa dari Bandung, Mbaaaak. Sehat-sehat yaaa....Mbak dan si janin. Semoga sehat dan lancar selalu.

    ReplyDelete
  7. Jaga kesehatan selalu ya kak Dwi dan dede janin, insya allah selalu dilindungi Allah Swt serta dilancarkan dan tanpa hambatan. SemangatCiee selalu kak

    ReplyDelete
  8. wahh Selamat ya mbak
    semoga selalu sehat ibu dan janinnya
    lancar terus sampai melahirkan

    ReplyDelete
  9. MasyaaAllah selamat ya Kak atas kehamilan keduanya. InsyaaAllah lancar persalinannya. Katanya kalau sudah lahiran pertama, bisa lebih mudah yang kedua. Tapi itu katanya sih hehe. Tapi mari kita berpositif saja karena tidak ada yang salah dengan mengharapkan hal baik bukan? XD

    Sehat selalu Mbak dengan jabang bayi aamiin

    ReplyDelete
  10. MashaAllah. Selamat ya Mbak Dwi. Semoga proses kehamilan dan melahirkan nya nanti lancar, sehat ibu dan debay, juga selalu dalam lindungan Allah SWT.

    Bener. Tiap anak, tiap kehamilan, itu ceritanya beda-beda. Waktu anak sulung (ke-1) saya mabok hampir 2 bulan dan sampe harus unpaid leave dari kantor. Tapi bulan-bulan setelahnya sehat walafiat. Sementara anak ke-2 (bungsu) harus mengalami proses kehamilan yang penuh cobaan. Susah makan sampe mau melahirkan. Opname 4x karena air putih aja gak bisa tertelan. Tapi alhamduillah semua anak-anak sehat dan sempurna.

    ReplyDelete
  11. Selamat ya mba...semoga sehat selalu meskipun telah melalui cobaan yang berat dg adanya pandemi ini. Insya Allah selalu dapat lindungan dari Allah SWT. Mba dan calon debay dapat melaluinya dengan aman dan lancar.

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah mba, semoga sehat selalu dan lancaaar yaaa persalinannya Agustus nanti yaaaa, semoga sekeluarga juga selalu diberikan kesehatan yaa

    ReplyDelete
  13. Selamat unt kehamilannya ya mbaaa. Aku jg pgn program hamil lagi, anak udh cukup usia unt punya adek. Wish me luck. Semoga mba jg sehat trs ya, covidnya kalah dgn semangat, istirahat n konsumsi makanan yg baik. Amen.

    ReplyDelete
  14. Barakallah... sehat selalu yaa kak. Aku bacanya tirut degdegan hahaha... tapi setiap anak punya kisahnya sendiri2 dan semoga kalian sekeluarga selalu dalam lindungan Allah yaa

    ReplyDelete
  15. Semoga segera sembuh dari covid ya mbak.. dan mbak dwi juga caon debay sehat-sehat terus sampai kelahirannya di duni sampai seterusnya.
    Tetap semangat bumil ...

    ReplyDelete
  16. Masya Allah, Dwi.
    Diberi rezeki setelah berbagai ujian dilalui.
    Semoga cadebay dan bundanya sehat selalu hingga waktunya brojol nanti.
    Aamiiin...

    ReplyDelete
  17. Mbaaa, syukurlah akhirnya bisa kedetect juga yaaa. Aku doain, semoga si bayi sehaaat trus sampe waktunya melahirkan nanti, ibunya juga kuat dan ga kenapa2. Ngerti banget hamil di saat sedang pandemi ini, ngeri2 gimanaaa :(. Tapi mau gimana lagi yaa kan. Jaga kesehatan selalu ya mba ;)

    ReplyDelete
  18. Selamat Mbak.. semoga sehat terus, dan persalinan nanti lancar jaya. btw ini udah sembuh dari covid? Yang penting dibawa bahagia aja ya. Semua akan baik2 saja.

    ReplyDelete
  19. Ya Allah...ikut bahagia, kak Dwi.
    Semoga sehat semua Ibu dan janinnya. Semoga semua baik-baik saja hingga proses persalinan nanti.
    MashaAllah~
    Jaraknya neka banget yaa, kak...dari anak pertama 5 tahun. Pas.

    ReplyDelete
  20. Selamat ya Mba atas kehamilannya!

    Aku percaya setiap kehamilan itu memang unik dan punya pengalaman sendiri.

    Tetap semangat dan hei lihatlah sisi positifnya, Mba jadi bisa upgrade ilmu kehamilan.

    Apalagi di masa sekarang semua pintu informasi terbuka lebar.

    Semoga dilancarkan segalanya ya, mba!

    Aaamiin ya Robbalalaamiin...


    ReplyDelete
  21. congratulations atas kehamilannya kak :D

    semoga sehat selalu ya kak :D, selalu dijaga oleh Allah swt aamiin <3

    ReplyDelete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus. Juga yang komennya dibaca brokenlink terpaksa saya hapus.