Kabur Dari Rutinitas dan Berlibur Ke Pantai Bara

November 30, 2020

Tahun ini, tahun yang sulit. Awal tahun dimulai dengan berita banjir besar di Jakarta, disusul kebakaran hutan di Australia, hampir saja pecahnya perang dunia ke-3 yang berujung ditembak jatuhnya sebuah pesawat, lalu pandemi covid-19 yang sampai sekarang masih membuat kita kesulitan... Banyak kabar duka, banyak yang meninggal, banyak juga yang kehilangan pekerjaan, pemerintah kita yang semakin mengecewakan dengan kebijakannya, sementara yang lain juga sedang berjuang dengan masalah masing-masing. Sulit dan berat. Itu kilasan tentang 2020 yang kuingat...

Meskipun biasanya hanya di rumah saja, tapi kini tanpa event yang bisa kudatangi, bertemu dengan kerabat dan teman, atau sekadar jalan-jalan ke moll dan melipir ke toko buku, 2020 ini berefek membuatku stress juga. Kekhawatiran yang menumpuk, badan yang terkungkung, dan khayalan yang terlalu aktif. Eksim pun kambuh setiap bulannya... AKU BUTUH LIBURAN!

Rencana milipir ke pantai yang sepi pun dikemukakan, dan Tanjung Bira di Bulukumba menjadi pilihan kami. Pantai pasir putih dengan pilihan penginapan cantik nan nyaman yang beragam... ah aku sudah membayangkannya. Ghaza pun bisa melemaskan otot-ototnya dan menyalurkan kelincahannya di sana, begitu pikirku. Dan yang paling penting kami tak perlu naik pesawat ke sana, jujur saja aku masih takut perihal Covid ini. Apalagi Ghaza itu mengidap asma yang tentunya lebih rentan dengan komplikasi Covid ini. Ya meskipun perjalanan ke sana cukup jauh juga, kurang lebih 5 jam naik mobil, tapi setidaknya di mobil hanya ada kami bertiga.

Mencari penginapan yang sesuai baik dari faktor kenyamanan dan harga ternyata tak begitu mudah. Awalnya aku berniat menginap di Kaluku Cottage yang menghadap ke Pantai Panrangluhu tapi karena Covid ini mereka tutup. Aku pun harus kembali meriset (cielah bahasanya) penginapan lainnya... Beberapa penginapan (cottage) di sepanjang Pantai Bara menarik perhatianku, hanya saja kebanyakan kamar-kamarnya tak memiliki AC hanya kipas angin. Kami takutnya saat di siang hari, cuaca akan terasa sangat gerah. Ada sih yang memiliki AC tapi tak sesuai budget kami, apa lagi di sana kami tak hanya semalam. Pada akhirnya kami pun memutuskan menginap di salah satu penginapan itu, yakni Cosmos Bungalow. Untuk review mengenai penginapan ini akan kutulis secara terpisah di blog ini, tungguin saja ya.

Rencananya kami akan berangkat jam 7 pagi di hari Senin itu, tapi Pai tiba-tiba ada tugas dari kantor sehingga kami baru berangkat dari rumah sekitar jam 10. Hanya bertiga di atas mobil, dengan playlist laguku yang terputar menemani perjalanan kami. Aku dipenuhi perasaan bahagia dan bersemangat, juga rasa syukur, akhirnya bisa lepas sejenak dari rutinitas...

Perjalanan dari Makassar ke Bulukumba tidak begitu terasa dengan percakapan yang mengalir diantara kami. Rasanya sudah lama kali terakhir kami bercakap-cakap seperti itu. Meskipun serumah, entah mengapa, atau hanya perasaanku saja, kami sangat sulit berbincang seperti ini. Saat pulang kantor dia sudah lelah, aku pun mumet dengan kepenatan dan keseharian yang berulang, membuat percakapan berakhir singkat. Terkadang meskipun panjang dan intim tapi tidak dalam. Ya begitulah, hal itu mengingatkan pada masa-masa pacaran kami.

Pemandang di sepanjang jalan juga terlihat indah. Hamparan sawah dan bayangan pegunungan nun jauh di cakrawala, lalu berganti padang rumput dan perbukitan, ladang garam, kemudian lautan dan kapal nelayan yang berjejeran. Dan untuk permata kalinya aku melihat kincir angin di Gorontalo, terlihat gagah dan berputar konstan yang menghipnotis.

Niatnya kami akan singgah makan bakso di Bantaeng. Bakso Merpati, adalah bakso andalan yang setiap ke Bantaeng wajib didatangi karena ngangenin. Sayangnya saat itu map ku ngadat sehingga tempatnya malah terlewat jauh, untuk memutar kembali akan membuang-buang waktu, karena kami mengincar momen sunset dan Ghaza ingin turun berenang di laut sebelum malam tiba.

Sesampai di Cosmos Bungalow kami pun langsung masuk ke kamar, menata barang, makan siang yang sangat terlambat kemudian turun ke pantai. Ghaza dan Pai berenang, sedangkan aku memilih mengabadikan momen saja sambil merasakan pasir putih yang lembut serta sapuan menggelitik ombak di antara kaki-kakiku.

Pemandangan dari depan kamar kami


Saat matahari terbenam dan langit yang awalnya berwarna orange mulai menggelap, kami pun kembali ke kamar. Membersihkan diri lalu bersantai gegoleran di kasur atau berayun-ayun di hammock yang ada di depan kamar kami. Suara ombak dan kipas angin beradu saat itu... terkadang semilir angin berhembus membawa wangi bunga sedap malam...

Bosan di kamar saja kami pun memilih duduk direstoran dan menikmati malam berlalu di sana... kadang juga kami melipir sejenak ke minimarket dan membeli cemilan ini-itu dan serta es krim.

Paginya Ghaza membangunkanku pukul 5.25 dan dengan bersemangat ingin segera turun ke pantai. Di sana jam segitu sudah sangat terang, dia pun tak sabar ingin bermain pasir dan air lagi, apa lagi saat mengintip ke luar, laut sedang surut dan bentangan pantai semakin luas. Tapi aku inginnya dia sarapan terlebih dahulu dan restoran baru dibuka jam 7. Karena itu kuminta ia bersabar menunggu. Sedikit drama sih meskipun bisa dimaklumi, berat untuk anak-anak yang sangat bersemangat diminta untuk bersabar.

Di samping kamar kami adalah tanah kosong yang ditumbuhi pepohonan dan semak belukar, pagi itu saat menanti waktu sarapan, seekor monyet menyapa dan berayun-ayun di ranting pepohonan lalu hilang diantara kanopi. Menakjubkan melihatnya, kapan terakhir aku melihat monyet liar di habitatnya sendiri?

Sudah sarapan kami pun mengganti baju lalu bermain di pantai sampai matahari tak tertahankan lagi panasnya. Itu pun harus membujuk Ghaza agar dia mau naik kembali ke kamar. Kami juga berjanji padanya di sore hari nanti kita akan turun kembali ke pantai.

Setelah membersihkan diri lalu makan siang, Ghaza pun tertidur. Kami menikmati saat itu dengan menjelajahi penginapan (yang tak terlalu besar) dan berfoto (maksudnya aku yang di foto sih hahaha), juga menghabiskan waktu berdua.

Begitulah kurang lebih hari-hari yang kami lewatkan di sana. Bangun pagi, sarapan lalu berenang hingga panas matahari tak tertahankan lagi, bersantai di kamar atau di restoran atau di area duduk yang berada di sana, dan sorenya kembali berenang di pantai sampai matahari terbenam. Malamnya kami lebih banyak bersantai di kamar atau pun di restoran. Ghaza yang mulai merasa seperti rumah sendiri, malah berkeliaran semaunya di area penginapan itu jika dia merasa bosan di kamar.

Banyak pepohonan dan bunga tropis di Cosmos Bungalow ini sehingga kami beberapa kali berpapasan serangga; laba-laba, kupu-kupu sebesar telapak tanganku, kumbang, lebah, belum lagi nyanyian burung di setiap pagi dan sore hari. Juga kamar kami yang menghadap pantai sering dikunjungi burung layang-layang atau pun sekedar rombongannya terbang berputar-putar yang bisa kami pandangi saat berbaring di hammok. Oh ia, karena kami perginya weekday dan pulang weekend, penginapan itu tidak terlalu ramai, bahkan ada hari yang hanya kami tamunya, begitupun pantai di bawahnya super sepi. Jadi ya betul-betul serasa milik kami sendiri. Kami bertiga diantara lautan biru dan pasir putih membentang, diantara keindahan milik-Nya.
Tentu saja hal ini menyingkirkan kepenatanku dan ya terasa seperti penyembuhan untuk jiwa dan raga. Bebas sejenak dari rutinitas hanya memikirkan bermain air dan menikmati pemandangan indah, suara alam yang memanjakan telinga, dan waktu yang banyak untuk kami bercengkrama bersama.

Terimakasih untuk liburannya dan waktu yang berkualitas bersama 😊



You Might Also Like

23 Comments

  1. Duh pantainya sangat bagus. Sepi, bersih dan beneran masih alami ya. Cocok bener buat refreshing pantainya.
    Di Jaw susah banget lho mencari pantai seperti Bira ini

    ReplyDelete
  2. mbaaa, ini sih surga dunia bangeeettt
    aku mupeng bisa plesir ke destinasi alami kayak gini.
    ngga terlalu rame, jadi insyaALLAH aman jaya sentosa ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia mbak alhamdulillah. Yuk mbak ke sini hehehehe

      Delete
  3. Wow, benar2 liburan yang mengesankan! Cakep deh Cosmos Bungalow-nya. Bermain2 di pasir bareng anak kesayangan, menikmati alam, air dan angin di Tanjung Bira memang momen pas. Menjauhi keramaian malah enak ya apalagi pas pandemi gini. Mau juga ah liburan kayak mbak Dwi :) Nice story.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pilihan liburan yang tepat sih memang di saat seperti ini ^^ Terimakasih mbak sudah mampir.

      Delete
  4. aduh cantiknya pantai di sulawesi
    karena belum tercemar seperti pantai laut Jawa ya?
    Huhuhu bikin saya pingin ke pantaijuga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Soal tercemar atau tidaknya, semoga enggak sih mbak dan jangan sampai, huhuhu...

      Delete
  5. Kalau dikumpulkan, rindu liburan dari orang-orang di dunia selama pandemi ini mungkin seluas samudera ya :D

    Pergi ke pantai salah satu tips aman liburan, selain tempatnya yang terbuka, juga bisa dinikmati berbagai usia, asalkan pilih tempat yang sepi. Kalau pantai hiburan kayak Ancol yang biasanya rame, kayaknya bukan tujuan yang tepat :D

    Nah kayak pantai Bara ini cocok banget ya mbak Dwi.
    Kami pun pergi liburan ke gunung, dan ke pulau yang sepi, biar aman.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha ia kali ya mbak. Saking penatnya di rumah saja hampir setahunan. Duh kalau semacam Ancol juga kuhindari deh mbak, serem.

      Nah ia ke gunung sepertinya asik juga tuh.

      Delete
  6. Gimana Ghaza gak lupa waktu ya kalo liat pantai dan laut indah begini hahahaha. Bersih, tenang, dan bisa dipandangin setiap waktu. Jangankan anak-anak, saya aja mungkin bisa berjam-jam nangkring di pinggir pantai dengan banyak kegiatan, bahkan menikmati tidur sekalipun.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia mbak, hahahaha... Tapi panasnya itu loh ampun-ampunan. Jam 9 saja sudah terik banget. Aku sempat tiduran juga akhirnya tapi ngumpet di bawah karang. Untungnya banyak gua-gua gitu hahahaa

      Delete
  7. Senangnya quality time bersama keluarga ya mba. Ini Pantai Bara yang di Sulawesi Utara ya mba? Tadi saya sempat ragu, saya kira ini Pantai Bara yg di Kepulauan Seribu. Hehehe. Liburan ke pantai pas pandemi begini memang lebih asik, sebab kita lebih bisa menjaga jarak. Alamnya pun lebih terbuka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah senang banget mbak ^^

      Pantai Bara ini di Sulawesi Selatan Mbak

      Delete
  8. pantainya sesepi dan sebersih itu? wahh.. bagusss banget. serasa panai pribadi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia terasa milik pribadi banget. MUngkin juga karena aku perginya weekday sih dan balik pas weekend, jadinya sepi banget.

      Delete
  9. Huaaaaaaa view kamar langsung pantai, wow banget mevvah loh ini, langsung bisa turun ke pantai yang bersih dan sepi yaaa mba, staycation ala sultan check

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha ia mbak dan syukurnya harganya gak bikin ngutang sana-sini

      Delete
  10. MasyaAllah refresh diri ya Mba. Semakin berbahagia dan menikmati suasana bareng keluarga di tempat yang sempurna. Semoga aku bisa main ke sini aaamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ψ§َΩ…ِΩŠΩ† يَΨ§ Ψ±َΨ¨َّ Ψ§Ω„ْΨΉَΨ§Ω„َΩ…ِيْΩ†, semoga ya mbak.

      Delete
  11. Masyaa Allah, pantainya indah banget,Mbak. Trus bersih dan sepi juga lagi. Berasa jadi milik sendiri, ya.

    ReplyDelete
  12. Bener ini yaa...persis kaya AADC, "Ku lari ke hutan, kemudian ke pantai..."
    Hehhee...berlibur memang bikin kita sejenak refresh dari hingar bingar dunia yang melelahkan.

    I need vitamin-seaaaa too...

    ReplyDelete
  13. hua lihat pantainya jadi kangen, pengen segera liburan, semoga pandemi segera berakhir ya Allah, hua kangen banget foto pinggir pantai begitu

    ReplyDelete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus. Juga yang komennya dibaca brokenlink terpaksa saya hapus.