Doaku Tak Muluk, Kau Tumbuh Dengan Baik dan Bahagia

8:30 pm

14 November 2015, pukul 11.15 pm, sedikit lagi hari berganti kau lahir ke dunia. Bunda tak sanggup lagi, bahkan untuk membuka kelopak mata karena sangat kelelahan. Ku hanya meneteskan air mata saat mendengar tangisanmu. Merasa terharu, bersyukur, bahagia, lega, pasrah, berbagai emosi menyergapku saat itu. Aku kini menjadi seorang ibu, begitu pikirku. Ahhh... kau mungkin telah bosan mendengarkan perihal ini?


Di usia berapa kau akan membaca tulisan-tulisanku tentangmu (yang ternyata tak sebanyak yang kurencanakan)? Semoga saat membaca ini kau akan memahami betapa bunda mencintaimu dan memaafkan ketidak sempurnaan bunda sebagai orangtua yang mungkin saja melukaimu hingga berbekas.

Sekarang kau telah berusia 5 tahun. Waktu berlalu... kini kau begitu cerewet. Sudah pintar membantah dengan argumen ajaib dan jago menegur yang seringnya tepat sasaran dan membuat bunda merasa sebal dan banyak-banyak istigfar dan bercermin. Kadang bunda habis kesabaran saat kau sangat lelet mencontoh ayahmu. Kita bahkan sering bertengkar di kamar mandi karena kau masih ingin bermain air sementara bunda ingin segera menyelesaikannya dan bersantai. Ah, perihal menggosok gigi juga membuatku habis kesabaran... kenapa pola yang sama terus berulang? Kurasa bunda masih perlu banyak bersabar.

Kecerewetanmu itu membuat hidupku semakin berwarna. Lucu dengan caranya sendiri. Contohnya seperti tadi saat di kamar mandi dan kau memintaku mengambilkan hp mu (potongan lego berwarna hitam) dan mengatakan kekhawatiranmu jika saat berendam itu teman-temanmu menelponmu dan mengucapkan selamat ulang tahun. Dan saat "hp" itu kau terima, kau pun mengoceh lagi bahwa kau menerima chat ucapan selamat ulang tahun dari seorang teman. Kamu sangat menggemaskan! Contoh yang lain saat bunda marah lalu mengomel dan dengan enteng kau berkata kalau bunda mirip dengan Angry Bird. Ya saat itu aku sangat kesal tetapi langsung ingin tertawa terbahak-bahak.

Kau perasa dan sensitif. Mungkin mirip dengan bunda? Kau pun seringnya ngambek dan baperan. Sayang kehidupan bermasyarakat itu kejam, kuharap nantinya kau bisa survive dan tak terlalu mengambil pusing perkataan orang lain. Saat ini, ku tak menghardikmu saat ngambek dan baper, kurasa itu hakmu merasakan semua emosi itu. Karena anak lelaki tak selamanya harus kuat dan karena anak lelaki tak apa menangis. Hanya saja, semoga nantinya kau bisa lebih mengontrolnya... ya tak apa menangis. Bahkan ketika kau dewasa dan merasa dunia tak tertahankan, kau boleh pulang kepelukan bunda dan menangis. Kau juga boleh memilih menangis sendirian di kamar. Intinya kau bebas memilih. Menjadi apa dan bagaimana. Selama hal itu tidak mengkhianati Sang Pencipta, tak menyakiti dan merugikan orang lain dan membuatmu bahagia.

Bunda bukan ibu yang sempurna. Ku akui itu. Kau kurus dan pemilih dalam hal makanan, motorik kasar dan halusmu kurasa belum berkembang sebagaimana harusnya di usiamu, kosa katamu masih sedikit, dan kau selalu begadang... ah entahlah mungkin bunda yang terlalu lebay atau terlalu malas mengajarimu. Atau bunda yang terlalu banyak melahap tentang "parenting" dan ketika tak sesuai dan tepat merasa gagal dan berputus asa lalu mencari penghiburan dengan menyamankan diri dan bersikap sebodo amat. Bunda minta maaf. Sekali lagi bunda memang bukan ibu dan orangtua yang sempurna... Tapi yakinlah bunda berusaha belajar dari kesalahan itu dan memperbaiki diri...

Tahun depan kau akan masuk sekolah, semoga kau bisa beradaptasi dengan baik. Ahh... bunda merasa sangat terharu kau kini telah besar, bukan anak bayi lagi. Kapan aku bisa terbiasa dengan kenyataan itu? Semoga ke egoisanku tidak mengahalangimu berkembang dan mandiri. Pertanyaan kapan kami akan memberimu adik semakin sering ditanyakan. Jujur bunda tak bisa menjawabnya, karena hai itu bukan kuasa kami. Apakah kau ingin memiliki adik? Menjadi seorang kakak?

Dear anak kesayangan bunda... Yang begitu manis dan romantis. Yang tiba-tiba datang dan memeluk bunda, yang seringnya mengatakan sayang kepadaku, memberikanku ciuman mesra sebelum tidur... Terimakasih telah menjadi anakku. Aku mencintaimu. Doaku tak muluk, ku berharap kau tumbuh dengan baik dan bahagia... Selamat ulang tahun.


Makassar, 14 November 2020

You Might Also Like

4 komentar

  1. Monolog yang mengharu biru, masyaAllah, moga kesayangan bunda tumbuh menjadi anak yang sholeh dan pintar ya bun. anak cowok saya juga sampai sekarang masih nempel aja kayak perangko dengan saya, padahal usianya udah 14 tahun, but gapapa, karena nanti jika sudah dewasa, mungkin saya akan merindui moment seperti ini

    ReplyDelete
  2. Selamat ulang tahun dedek ganteng, semoga jadi anak Soleh dan cerdas. Bundanya hebat sudah membesarkan anak dengan baik..peluk Bundaa..you are the best mom...

    ReplyDelete
  3. Menyentuh banget, Mbak. Apa yg mbak mbak rasain persis dengan yang aku rasakan sekarang. Aku juga melangitkan doa yg sama untuk anak2ku. Semoga saat dewasa nanti anak-anak kita menjadi pribadi yang tak pernah merasa jenuh dengan cinta dan perhatian kita ya.

    ReplyDelete
  4. MashaAllah..
    Barakallahu fii umriik, keshayangan semua.
    In syaa Allah tumbuh sehat, cerdas dan menjadi permata hati keluarga.

    Tabarakallahu...keshayangan sholih.

    ReplyDelete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus. Juga yang komennya dibaca brokenlink terpaksa saya hapus.