Karena Kita Adalah Kim Ji Yeong

3:55 pm

Kim Ji Yeong, Lahir Tahun 1982
Oleh Cho Nam-joo

Alih bahasa: Iingliana
Editor: Juliana Tan
Penyelaras aksara: Mery Riansyah
Ilustrator: Bella Ansori

Diterbitkan pertama kali oleh
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, 2019

Cetakan ketiga: Januari 2020
192 hlm; 20cm


Sebelum membaca buku ini, aku terlebih dahulu menonton filmnya. Saat itu aku merasa seperti menonton kisahku sendiri, meskipun tak persis sama tapi hal-hal yang Kim Ji Yeong alami dan rasakan sedikit banyak pernah kurasakan. Dan mungkin pernah dirasakan oleh semua perempuan Asia lainnya? Belakangan barulah aku mengetahui bahwa film ini diadaptasi dari novel berjudul sama dan Gramedia telah menerjemahkannya...

Sebelum lanjut membacanya, review ini mungkin mengandung spoiler!

Adalah Kim Ji Yeong, seorang perempuan Korea biasa berusia 34 tahun, yang merasa lelah dengan kehidupannya sebagai Ibu Rumah Tangga. Meskipun menikah dengan lelaki pilihannya, tuntutan sebagai seorang istri yang baik, memaksanya meninggalkan banyak hal; kebebasannya, pekerjaannya, mimpinya dan kemandirian finansialnya.

Jeong Dae Hyeon, suaminya yang bekerja diperusahaan IT sering bekerja sampai tengah malam dan bahkan bekerja di akhir pekan. Karena mertuanya tinggal di Busan dan karena orangtuanya sendiri membuka restoran, dia harus mengurus anaknya yang masih bayi sendirian. Barulah saat anaknya berusia 1 tahun, Jeong Ji Won pun dititipkan ke tempat penitipan anak di lantai dasar kompleks apartement mereka.

Di luar waktu yang dibutuhkan untuk mengantar dan menjemput Ji Won, Kim Ji Yeong memiliki waktu kurang lebih 3 jam untuk dirinya sendiri. Namun, waktu itu bukan sepenuhnya waktu istirahat baginya. Ia harus mencuci pakaian, mencuci piring-piring kotor yang menumpuk, membersihkan rumah, lalu menyiapkan cemilan dan makanan untuk anaknya. Jarang sekali ia bisa duduk minum kopi dengan tenang. Perbedaannya hanyalah mengerjakan pekerjaan rumah tangga tanpa menggendong anak atau sambil menggendong anak.

Tidakkah kisah Kim Ji Yeong ini terasa sangat familiar? Berapa banyak perempuan di luar sana yang meninggalkan mimpi dan pekerjaannya demi merawat dan membesarkan anaknya? Sebuah pengabdian yang mulia memang, tapi tetap saja meninggalkan kegetiran. Belum lagi di dunia patriarki ini, pekerjaan rumah dan mengurus anak "sepatutnya" adalah tugas istri. Banyak kasus yang terjadi, ketika suami pulang kerja, jangankan membantu menggantikan popok anak, malah dia lagi  lah yang minta dilayani. Anggapan karena sang suami yang menghasilkan uang maka sepatutnya ia diperlakukan seperti raja sungguh sangat menyesatkan dan mengesalkan.

Ada adegan di buku ini saat Kim Ji Yeong mendekati waktu melahirkannya dan kebingungan antara harus mengambil cuti melahirkan atau berhenti bekerja sama sekali. Banyak hal yang harus mereka pertimbangkan, seperti siapa yang nantinya merawat anak mereka saat keduanya bekerja karena orangtua mereka tak bisa dititipi cucunya, apakah menyewa pengasuh? Tapi sampai kapan? Hingga anak mereka sudah bisa ke sekolah sendiri, ke tempat kursus sendiri, dan menyiapkan makan sendiri? Dan berapa lama mereka harus hidup dengan perasaan bersalah? Selain itu mencari pengasuh purnawaktu bukanlah hal yang gampang. Bagaimanapun, pengasuh itu nantinya tidak hanya mengasuh anak mereka, tetapi juga terlibat dalam kehidupan keluarga mereka. Padahal mencari orang yang bisa mengasuh anak saja sudah susah, apalagi mencari seseorang yang bisa diajak hidup bersama dengan baik. Pada akhirnya, mereka memutuskan bahwa salah seorang dari mereka harus berhenti bekerja untuk merawat anak. Dan sudah sewajarnya Kim Ji Yeong-lah yang harus berhenti bekerja. Karena gajinya lebih kecil dan praktik umum selama ini adalah suami bekerja dan istri membesarkan anak. Sudah bukan hal yang mengejutkan, tapi tetap saja Ji Yeong merasa tertekan.

"Tidak bisakah kau berhenti mengoceh tentang bantuan? Kau membantu dalam urusan rumah tangga, membantu membesarkan anak, membantu urusan pekerjaanku. Memangnya rumah ini bukan rumahmu? Memangnya keluarga ini bukan keluargamu? Anak ini bukan anakmu? Lagi pula, selama aku bekerja, memangnya hanya aku sendiri yang menikmati hasilnya? Kenapa kau berbicara seolah-olah kau bersikap murah hati menyangkut pekerjaanku?"
_Halaman 143

Kim Ji Yeong juga harus menghadapi prasangka masyarakat yang meringankan situasi dengan berkata bahwa menjadi ibu rumah tangga sama dengan bersantai-santai saja di rumah... Apa lagi dengan adanya kebijakan penitipan anak gratis di Korea sana (apa kabar dengan Indonesia 😅), orang-orang berkata bahwa para ibu muda zaman sekarang menitipkan anak-anak mereka ke tempat penitipan supaya mereka sendiri bisa pergi minum kopi, melakukan perawatan kuku, dan berjalan-jalan di mal. Namun kenyataannya, hanya sebagian kecil orang berusia 30-an yang memiliki kekuatan ekonomi sebesar itu di Korea Selatan.

Suatu hari saat menjemput anaknya dari tempat penitipan, Kim Ji Yeong memutuskan berjalan-jalan di taman sementara anaknya tertidur dalam kereta dorong. Dia pun singgah di sebuah kafe yang mengadakan program diskon di lantai dasar gedung di seberang taman dan membeli secangkir kopi Americano dan kemudian duduk di bangku taman. Saat itu ada beberapa karyawan kantoran yang berusia 30-an yang duduk di bangku di samping bangkunya. Meskipun tahu para karyawan kantoran itu mungkin merasa lelah dan frustasi, ia tak dapat menahan rasa irinya sementara ia mengamati mereka. Saat itu salah seorang pria meliriknya lalu mengatakan sesuatu kepada rekan kerjanya, "Aku juga mau punya suami yang bekerja sehingga aku bisa berjalan-jalan santai sambil minum kopi."
"Ibu-ibu kafe memang beruntung."
"Aku tidak sudi menikah dengan wanita Korea."

Saat membaca bagian ini, apa lagi sebelumnya telah menonton part serupa di filmya, membuatku dua kali, tidak seribu kali lebih murka, dan menyayangkan reaksi Kim Ji Yeong yang memilih pergi dari sana. Jika itu aku... wah sudah habislah pria sok tahu itu. Hahahaha...

"Harga kopi itu 1500 won. Mereka juga minum kopi yang sama, jadi seharusnya mereka tahu benar harganya. Memangnya aku bahkan tidak berhak minum kopi seharga 1500 won? Tidak, anggap saja harga kopinya 15 juta won. Bagaimana aku ingin menghabiskan uang dari suamiku adalah urusan keluarga kita sendiri, bukan urusan mereka. Aku juga bukannya mencuri uangmu. Aku sudah melahirkan seorang anak dengan susah payah, aku sudah melepaskan hidupku, pekerjaanku, impianku, keseluruhan diriku demi membesarkan anakku. Tetapi aku malah dianggap seperti serangga. Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?"
_Halaman 165-166

Lalu Kim Ji Yeong mulai bertingkah aneh, ia berubah menjadi orang lain. Ia berubah menjadi wanita mana pun yang ada disekitarnya. Hal itu pertama kali disadari oleh suaminya, Jeong Dae Hyeong...
*****

Buku ini sendiri dibagi menjadi 6 bab, dimana setiap bab mewakili latar tahun ceritanya. Bab pertama, MUSIM GUGUR 2015, kita diperkenalkan dengan Kim Ji Yeong dan keluarganya dan bagaimana suaminya menyadari keanehan pada istrinya. Di bab ini juga diceritakan bagaimana hubungan antara menantu dan mertua di Korea sana.

Bab kedua, 1982-1994, adalah masa kecil Kim Ji Yeong. Bagaimana pada awalnya keluarganya tinggal di sebuah rumah sempit yang hanya memiliki dua kamar tidur, satu dapur, dan satu kamar mandi. Dia harus berbagi kamar tidur bersama kakak perempuannya yang usianya 2 tahun lebih tua darinya dan nenek dari pihak ayahnya, sedangkan ayah dan ibunya tidur bersama adik laki-lakinya yang lebih muda 5 tahun darinya. Saat itu ayah Ji Yeong adalah pegawai negeri dan ibunya adalah ibu rumah tangga.

Di awal bab ini kita diceritakan bagaimana ketimpangan prilaku terhadap anak laki-laki dan perempuan. Hal ini digambarkan dengan sosok nenek yang menganggap cucu laki-lakinya yang paling berharga, kedua cucu perempuannya tidak boleh menyentuh milik cucu laki-lakinya.  Adik lelakinya juga selalu mendapat barang yang paling bagus dan porsi makanan yang lebih banyak, sedangkan Ji Yeong dan kakaknya harus berbagi. Bagaimana sang nenek selalu membanggakan ke-4 anak laki-lakinya, bagaimana meskipun mereka tidak kaya di masa tuanya ini dia bisa makan makanan dan tidur di rumah yang disediakan anaknya. Padahal dari keempat putranya, hanya ayah Ji Yeon yang merawatnya, itu pun yang menyiapkan makanan dan tempat tidurnya, adalah menantunya, ibu Ji Yeon, bukan anaknya.

Adegan memilukan lainnya digambarkan saat ibu Ji Yeong terpaksa menggugurkan kandungannya karena anak yang ia kandung bukanlah anak laki-laki. Setelah memiliki dua anak perempuan, harapan untuk memiliki anak laki-laki semakin besar padahal saat itu pemerintah Korea menerapkan kebijakan pengendalian kelahiran. Aborsi karena alasan medis juga telah diperbolehkan secara hukum, dan "anak perempuan" seolah-olah termasuk alasan medis. Tak mendapat dukungan dan penghiburan dari suami, apa lagi ibu mertuanya, Ibu Ji Yeong dengan hati hancur ke rumah sakit sendirian dan "menghapus" anak perempuannya.

"Semua itu bukan pilihan Ibu, tetapi entah bagaimana semua itu menjadi tanggung jawabnya. Tidak ada anggota keluarga yang menghiburnya sementara jiwa dan raganya tersiksa. Dokter menggenggam tangan Ibu dan meminta maaf, sementara Ibu menangis meraung-raung seperti hewan yang kehilangan anaknya."
_Halaman 27

Lain dengan Ji Yeong yang lebih banyak memilih diam dan menghindar, sosok Ibu digambarkan jauh lebih kuat di buku ini. Demi bisa pindah ke rumah yang lebih luas, sehingga anak perempuannya bisa memiliki kamar tidur sendiri dan tak perlu berbagi kamar dengan nenek mereaka, Ibu mengambil banyak pekerjaan sambilan. Dia pun mengambil kursus kecantikan dan dari hasil kerja sambilannya ia membuka usaha salon yang murah untuk para anak kecil dan nenek di sekitar rumah. Lalu saat Ji Yeong duduk di kelas 5, mereka pun pindah ke apartement yang 2 kali lebih luas dan 10 kali lebih nyaman. Semua itu adalah berkat Ibu yang mempelajari bunga dan keuntungan yang ditawarkan berbagai bank dengan teliti, kemudian berinvestasi dalam berbagai macam bentuk tabungan dan deposito. Ia juga mengadakan arisan dengan sekelompok tetangga yang bisa dipercaya, yang ternyata menghasilkan keuntungan yang sangat besar.

Di masa SD-nya, Ji Yeong sering menghadapi gangguan dari anak laki-laki dan meskipun telah melaporkannya pada ibu dan kakaknya, tapi kakaknya hanya berkata bahwa anak laki-laki memang kekanak-kanakan dan menyuruhnya mengabaikannya, sementara ibunya malah memarahinya karena menangis padahal temannya hanya bermain dengannya. Suatu hari seorang anak laki-laki yang sering mengganggunya menendang sendalnya sehingga meluncur ke depan kelas dan membuat guru marah. Karena itu sendal Ji Yeong, dia hampir saja mendapatkan hukuman, anak laki-laki yang menendangnya tidak mengaku dan dia sangat ketakutan sehingga tak dapat membela dirinya sendiri. Untunglah seorang anak perempuan yang duduk di bangku sebelahnya berani bersuara bahwa itu memang sendal Ji Yeong tetapi bukan dia yang menendangnya. Anak laki-laki itu pun dihukum dan gurunya meminta maaf kepadanya sambil berkata jangan terlalu membenci temannya, sebenarnya temannya itu menyukai Ji Yeong karena itu ia sering mengganggunya.

"Jika kita menyukai seseorang, bukankah kita seharusnya bersikap lebih ramah dan bersahabat? Itulah yang harus kita lakukan pada teman-teman kita, keluarga kita, bahkan anjing dan kucing kita. Itulah yang diketahui Kim Ji Yeong yang berusia delapan tahun."
_Halaman 39

Bab ke-3, 1995-2000, adalah masa SMP hingga SMA Kim Ji Yeong. Memasuki usia remaja ini dia melihat dan mengalami lebih banyak lagi ketimpangan perlakuan antara lelaki dan perempuan, belum lagi berbagai kasus pelecehan seksual yang dialami oleh teman-temannya...

Sekolahnya sewaktu SMP memiliki peraturan yang ketat tentang seragam, terutama bagi anak perempuan. Suatu kali ada anak perempuan yang memakai sepatu olahraga ke sekolah dan dicegat di gerbang sekolah, anak itu protes mengapa anak laki-laki diperbolehkan memakai sepatu olahraga sedangkan dia tidak dan guru pengawas menjawab itu karena anak laki-laki selalu bergerak.

"Anda pikir anak-anak perempuan tidak suka bergerak? Harus mengenakan rok, stoking, dan sepatu biasa membuat kami merasa tidak nyaman untuk bergerak. Ketika kami masih duduk di bangku SD, aku juga suka melompat ke sana kemari, berkeliaran ke sana kemari, dan bermain lompat tali setiap jam istirahat."
_Halaman 53

Saat itu juga ada seorang "burberry man" yang terkenal suka berkeliaran di depan sekolah, meskipun telah terkenal tetapi tak ada pihak sekolah yang mengambil tindakan, karena itu suatu hari sekelompok teman perempuan di kelas Ji Yeong menyergapnya dan mengikat pria itu dengan tali jemuran dan ikat pinggang lalu menyeretnya ke kantor polisi. Tak ada yang tahu apa yang terjadi di kantor polisi, yang pasti setelah kejadian itu si burberry man tidak pernah muncul lagi. Tapi teman-teman Ji Yeong di skors. Seminggu kemudian, mereka diminta menulis surat permintaan maaf dan dihukum lagi membersihkan lapangan dan kamar mandi. Kadang-kadang guru yang melewati mereka akan memukul kepala mereka sambil berkata, "Anak-anak perempuan tidak tahu malu. Justru membuat sekolah malu."

Di periode ini Ji Yeong juga mengalami menstruasi pertamanya. Dia merasakan kram yang amat sangat di area perutnya dan belajar untuk "malu" dan jijik dengan menstruasinya.

Di masa SMA, lingkaran pergaulannya semakin luas. "Ia pun menyadari dunia ini besar dan dipenuhi orang-orang berengsek. Banyak tangan mencurigakan yang menyapu pinggul atau dada para wanita di dalam bus dan kereta bawah tanah. Ada juga bajingan-bajingan gila yang suka menempelkan diri ke paha dan punggung para wanita. Walaupun para wanita sebal pada para kakak senior laki-laki - di sekolah, tempat kursus, atau gereja - yang suka memegang bahu mereka, mengusap bagian belakang leher mereka, atau berusaha mengintip ke balik celah kancing kemeja mereka, mereka hanya akan berusaha menghindar tanpa menimbulkan keributan.

Mereka juga tidak tenang di sekolah. Ada guru pria yang suka mencubit bagian dalam lengan atas murid wanita, menepuk bokong anak perempuan yang sudah besar, atau mengusap punggung mereka di antara tali bra." _Halaman 61

Dari semua itu, kejadian sepulang dari tempat kursus-lah yang membuat Ji Yeong sangat ketakutan. Seorang murid pria ngotot membuntutinya karena merasa Ji Yeong menyukainya karena ia selalu tersenyum kepadanya saat membagikan kertas soal. Untunglah saat itu ada seorang perempuan di bus yang membantunya. Karena hal itu, Ji Yeong malah dimarahi oleh ayahnya:

"Kenapa ia harus kursus di tempat sejauh itu? Kenapa ia berbicara dengan sembarang orang? Kenapa ia memakai rok sependek itu? Ia harus banyak belajar. Ia harus berhati-hati, harus berpakaian pantas, harus bersikap pantas. Ia harus menghindari jalan yang berbahaya, waktu yang berbahaya, dan orang yang berbahaya. Kalau ia sampai tidak sadar dan tidak menghindar, maka ia sendiri yang salah."
_Halaman 66

Masa kuliah dan kerja Kim Ji Yeong diceritakan pada Bab-5, 2001-2011. Di masa ini, Ji Yeong juga menyadari banyak ketidakadilan perlakuan antara mahasiswa laki-laki dan perempuan, apa lagi antara karyawan laki-laki dan karyawan perempuan.

"Pada tahun 2005 ketika Kim Ji Yeong lulus, sebuah survei di situs informasi pekerjaan yang dilakukan pada lebih 100 perusahaan menyatakan bahwa jumlah wanita yang diterima bekerja hanya 29,6%. Konon, angak itu menuai protes. Pada tahun yang sama survei dilakukan terhadap kepala HRD dari 50 perusahaan dan 44% dari mereka menyatakan bahwa apabila para pelamar memiliki kualifikasi yang sama, mereka lebih memilih pelamar pria. Tidak seorang pun menyatakan bahwa mereka lebih memilih wanita."
_Halaman 94

"Di antara anggota-anggota OECD (Organisation for Economic Cooperation and Development -- Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi), Korea Selatan adalah negara yang memiliki selisih penghasilan terbesar antara pria dan wanita. Menurut data statistik tahun 2014, apabila penghasilan pria adalah 1.000.000 won, maka penghasilan rata-rata wanita dalam OECD adalah 844.000 won, sementara penghasilan wanita di Korea adalah 633.000 won, Menurut Index Langit-Langit Kaca yang diumumkan oleh majalah Inggris Economist, di antara negara-negara yang diikutkan survei, Korea berada di posisi paling bawah. Hal ini menandakan bahwa Korea merupakan negara yang paling tidak ramah bagi pekerja perempuan."
_Halaman 123

Lalu di Bab 2012-2015, adalah cerita dimana Ji Yeong menikah, masuk ke keluarga suaminya, hamil, melepaskan pekerjaannya, membesarkan anaknya, dan kemudia depresi...

Di Bab terakhir, 2016, berisi pandangan, atau kesimpulan (?) dari Psikiater yang menangani Kim Ji Yeong. Di sinilah letak perbedaan besar antara buku dan filmnya. Di filmnya, kehidupan perempuan di dunia misoginis ini terlihat mulai mengalami perbaikan, setidaknya lewat pengalaman Ji Yeong; senior perempuan yang ia hormati di tempat kerjanya dulu kini mendirikan perusahaan sendiri dan bersedia mempekerjakan Ji Yeong yang telah setahun lamanya hanya mengurus anak dan suaminya sendiri bersedia untuk mengambil cuti melahirkan dan mengurus anak mereka, meskipun tidak di setujui oleh ibunya, mertua Ji Yeong dan kemungkinan karir suaminya akan mandek jika mengambil cuti itu. Ji Yeong sendiri akhirnya berhasil mengeluarkan unek-uneknya ketika ada orang yang nyinyir saat dia antri membeli kopi dan tak sengaja menumpahkannya karena tiba-tiba anaknya menangis. Tapi di akhir buku tak seperti itu...



Di buku ini, Sang Psikiater (yang adalah laki-laki, sementara di fimnya adalah perempuan) menceritakan meskipun frekuensinya telah berkurang gejala penyakit Ji Yeong masih belum hilang sepenuhnya. Lalu dia membandingkan kehidupan Ji Yeong dan istrinya sendiri yang lebih pintar dan lebih berambisi dari pada dirinya di masa kuliah, tetapi kemudian melepaskan impiannya menjadi profesor. Istrinya kemudian bekerja sebagai dokter umum dan pada akhirnya berhenti bekerja, di titik ini dia menyadari seperti apa rasanya hidup sebagai wanita di Korea, terutama wanita yang sudah memiliki anak.

"Pada kenyataannya, pria-pria yang tidak pernah melahirkan dan tidak pernah mengurus anak-anak tidak akan mengerti, kecuali mereka memiliki pengalaman dan peluang khusus sepertiku diriku."
_Halaman 170

Setelah kisah panjang tentang keluarganya dan rasa simpatinya pada perempuan Korea, di akhir kisah seorang asistennya masuk dan berpamitan. Ini hari terakhir psikiater yang baik itu bekerja... dan dia pun berpendapat...

"Namun, karena ia mendadak memilih berhenti bekerja, lebih banyak pasien yang memilih berhenti berobat sama sekali daripada yang bersedia dirujuk kepada dokter lain. Itu artinya rumah sakit kehilangan klien. Sebaik apa pun orangnya, pekerja perempuan hanya akan menimbulkan banyak kesulitan apabila mereka tidak bisa mengurus masalah pengasuhan anak. Yang pasti, kami harus mencari dokter yang masih lajang untuk menggantikannya."
_Halaman 175

Cukup menyesakkan bukan? Kisah Kim Ji Yeong ini mengisahkan cerita semua perempuan... Aku rasa banyak yang mengalami hal-hal yang diceritakan di buku ini, termasuk aku, dan banyak pula yang seperti Ji Yeong memilih diam dan memendamnya sendiri atau memilih menghindar untuk menghindari keributan dan pandangan nyinyir sebagai korban.

Meskipun begitu, menyenangkan dan melegakan rasanya, meskipun Ji Yeong dan banyak perempuan lain memilih diam dan menghindar, ada beberapa tokoh perempuan yang bersuara dan bertindak serta membawa sedikit banyak perubahan di buku ini... Seperti sosok Ibu-nya yang bekerja dan berinisiatif sehingga keluarga mereka bisa hidup berkecukupan dan ngotot memberikan kedua putrinya kamar sendiri, teman yang membelanya sewaktu SD, teman lainnya yang memprotes peraturan sekolah, teman-temannya yang bertindak menangkap burberry man dan menyeretnya ke kantor polisi meskipun mendapatkan hukuman berat dari sekolah, dll. Hal ini memberikan sedikit harapan, bahwa meskipun berat, kitalah yang harus bersama-sama bergandengan tangan menciptakan dunia yang lebih baik dan adil untuk kita tinggali.

Untuk terjemahannya sendiri lumayan kaku menurutku dan penulisan semua nama tokoh dengan nama lengkapnya semakin membuat buku ini terasa kaku. Diksinya pun tidak indah seperti tulisan penulis Asia Timur kebanyakan, entah karena penerjemahnya atau buku ini memang ditulis seperti itu. Tapi selain itu, aku menikmati membaca buku ini. Baik buku dan filmnya memiliki pesona yang tak boleh kita lewatkan, terutama untuk isu yang ia angkat.

Dan untuk semua Ibu yang ada di titik dimana ia bertanya-tanya untuk apa dia hidup, kemana dirinya yang dulu penuh ambisi, mimpi dan cita-cita, kehilangan semangat hidup, dan kini berusaha mengabdi sebagai ibu dan istri yang baik, serta merasa beribu-ribu kali lebih bersalah dan gagal karena berpikiran "egois" seperti ini... Kamu tidak sendirian... Bagaimana kita membuatnya menjadi lebih baik?

You Might Also Like

5 komentar

  1. Filmnya udh masuk dlm list film yg aku bakal tonton, tp bukunya aku blm ada.malah jd pgn baca bukunya mba :D. Krn kalo bukukan biasanya LBH komplit ceritanya.. gpp deh kalo terjemahannya mungkin msh rada kaku.. :).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nonton film dan baca bukunya juga Mbak ^^
      Ada perbedaan mendasar dikeduanya tapi sama-sama bagus kok.

      Delete
  2. Replies
    1. Terimakasih kembali sudah berkunjung ke sini Mbak ^^

      Delete
  3. Waaah ini toh yang semalem diobrolin sama temen aku, film ibu rumah tangga yang sedang pusing dan penuh tekanan. "Ini film gue banget dah," katanya. Kayaknya lebih dramatis baca bukunya gak sih? Biasanya ada emosi yang bisa diinterpretasi dan dibayangin sendiri. Thanks for sharing, kalau bukunya mau dijual second, info-info yah :)

    ReplyDelete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus. Juga yang komennya dibaca brokenlink terpaksa saya hapus.