Menikmati Sensasi Berkemah di Lembah Hijau Malino

11:14 pm

Liburan panjang di akhir Maret kemarin aku sempatkan berlibur bersama keluarga di Malino. Ke Malino adalah hal yang biasa untuk warga Makassar, sebiasa warga Jakarta ke Puncak jika ingin menyingkir sejenak dari hingar-bingar perkotaan. Letaknya di dataran tinggi dengan lingkungan yang masih asri dan hawa yang sejuk menyebabkan Malino masih menjadi tujuan wisata banyak warga Makassar, apa lagi kini dengan semakin banyaknya tempat-tempat menarik yang dikembangkan di sana seperti kebun stroberi yang menawarkan pengalaman memetik stroberi, kebun bunga, dll.

Nah diliburan kali ini kami berniat berkemah di Lembah Hijau Camp Ground. Tempat ini, seperti yang tertulis di webnya; “Terletak diketinggian 1500  mdpl di Kota Bunga Malino, menawarkan sensasi liburan yang sarat akan nuansa alam yang eksotis. Dengan fasilitas yang lengkap, kami memanjakan anda, keluarga, sahabat, dan bahkan teman kantor anda untuk menyatu dengan sejuk dan hijaunya alam…”. Jadi… tempat ini adalah tempat perkemahan yang aku bilangnya eksklusif dengan fasilitas yang ada tetapi tetap menawarkan pengalaman berkemah yang membuat kita merasa dekat dengan alam. Gak perlu repot-repot membawa tenda, selimut, sleeping bag, kompor, dan semacamnya karena telah tersedia di sana.



Ada dua tipe Camp yang ditawarkan di tempat ini, yakni Camp Standar dan Private Camp. Karena kami berenam plus dua bocah, kami memilih membooking Private Camp sehari sebelumnya. Berhubung ini liburan panjang, kami mengira di sana akan ramai dan mungkin saja tendanya sudah full jika kami tidak membooking terlebih dahulu. Oh ia, saat kakak mengabari akan menginap di tempat ini, aku tuh girang dan bersemangat banget. Bagaimana tidak, aku sudah sudah lama sekali ingin merasakan berkemah eksklusif seperti ini di Bandung sana, sayangnya belum kesampaian juga. Terus… pas dengar di Malino akhirnya ada juga dibuat tempat seperti itu, aku langsung mengajukan proposal ke Pai, cuma memang belum sempat saja ke sananya. Sukur alhamdulillah akhirnya aku ke tempat ini juga, meskipun kali ini Pai tidak bisa ikutan.

Pagi-pagi, kami sudah berangkat menuju Malino dan sesampai di sana kami menyempatkan diri mengisi perut terlebih dahulu sebelum menuju Lembah Hijau. Untung saja, karena setelah itu kami menghabiskan waktu seharian menikmati keindahan dan fasilitas di sana.

Letak Lembah Hijau searah jalan dengan Lembah Biru, yang sudah pernah ke Lembah Biru Malino aku yakin akan mudah menemukan tempat ini. Sebelum mencapai Lembah Biru, akan ada gardu pos yang menjadi petunjuk untuk berbelok. Jalannya lumayan curam dan membuat dada ketar-ketir cemas, hehehe…

Setiba di sana, kami segera cek-in. Kami dipersilahkan menunggu terlebih dahulu sementara tenda yang akan kami tinggali dibersihkan. Di area atas, terdapat tempat parkir, kedai makanan, pavilliun (ternyata selain tenda, ada juga 1 pavilliun yang bisa kita sewa dengan harga yang sama dengan Private Camp), dan beberapa spot untuk berfoto. Menuruni beberapa anak tangga terdapat Musollah. Di sana aku baru tahu kalau area berkemahnya itu di lereng bukit dan menuju ke sana kita menggunakan tangga yang cukup curam. Awalnya aku berharap ada pihak di sana yang membantu kami mengangkat barang menuju ke lokasi kemah kami, ternyata tidak ada. Dan perjuangan yang cukup melelahkan dengan mengangkat barang dan menggendong Ghaza sembari menuruni satu per satu tangga yang curam itu. Untungnya pemandangan yang terhampar menghapuskan rasa lelah itu. Pohon-pohon yang menjulang tinggi, rumput hijau membentang, bunga-bunga liar yang bermekaran, deretan kemah yang kontras berwarna orange cerah, serta udara yang sejuk dan suara air yang bergemuruh di bawah sana menjauhkan rasa lelah itu.






Lokasi Private Camp-nya sendiri letaknya lebih ke bawah lagi, tidak bergerombol dengan tenda-tenda lainnya dengan pemandangan langsung ke arah sungai di bawah sana. Gemuruh air terdengar jelas, memberi kesan seakan-akan hujan deras turun terus. Sekali-kali pemandangan tertutupi kabut tipis yang membuatku membayangakan negeri para peri.



Kemahnya sendiri dipasang di dalam bale-bale yang beratap nipa-nipa, membuat suhu di dalam tenda terasa hangat. Terdapat  sebuah kasur dan meja di dalam tenda. Karena kami berenam (plus 2 bocah, jadi berdelapan ya), kami pun memesan kasur tambahan. Ada pancuran air di depan pintu bale-bale, dimana kita bisa mencuci kaki sebelum masuk ke area kemah. Di depan kemah terdapat dua kursi, dua meja, dan empat bantalan untuk duduk melantai yang bisa kita gunakan saat menikmati pemandangan yang terhampar. Di bawah bale-bale ada kamar mandi yang luas, dimana terdapat pancuran air panas, toilet, dan westafel. Listrik pun 24 jam! Rasanya betul-betul seperti berkemah di gunung sekaligus tidak terasa seperti berkemah dengan segala fasilitas yang ada. Errr… gitulah pokoknya, semoga kalian gak bingung. Hahahaha…

Private Camp. Gambar di ambil dari Google

Private Camp. Gambar di ambil dari Google

Kamar mandi Private Camp. Gambar diambil di Google



Setelah melepaskan lelah kami pun mulai menjelajahi area Lembah Hijau ini, ya lebih tepatnya si sibuk narsis-narsisan berfoto.






Sayangnya karena fotografer pribadiku (baca: Pai) tidak bisa ikut jadilah hasil foto-fotonya kurang memuaskan. Ditambah lagi Ghaza yang entah kenapa malah tidak mau turun dari gendongan. Ngeselin hahaha… Bunda jadi gak bisa narsis deh!

Oh ia, ternya bisa juga menggunjungi Lembah Hijau ini tanpa perlu menginap, cukup mengeluarkan uang sebesar Rp 15000, kita sudah bisa masuk ke area perkemahan. Menikmati panorama alamnya, berfoto, dan main di sungai. Untuk mencoba skybike dikenakan biaya Rp 30000 dan river tubing seharga Rp 50.000. Kami sendiri tidak mencoba kedua hal itu, alasannya ya karena bocah pasti mau ikutan, foto di atas pohon aja mereka berdua nekat mau ikut, errrr…


Senyum kaku 😅. Ini di atas pohon, kayunya goyang-goyang dan dua bocah ngamuk gak mau dipegang 😫.





Puas berfoto kami kembali ke tenda, beristiraha sejenak. Selama ini aku sudah jarang banget berolahraga, karena itu kakiku, terutama dibagian paha terasa sangat pegal setelah mendaki dan menuruni tangga-tangga yang curam itu. Untungnya sesampai di tenda, Ghaza dan sepupunya, Syifa, asik bermain dan berlari-larian mengelilingi tenda, sehingga aku bisa santai sejenak, duduk manis sambil menikmati susu coklat hangat. Rasanya mewah banget deh, hahaha…


Entah siapa yang pertama kali mengusulkan, yang pasti karena melihat air sungai di bawah sana telah kembali jernih setelah  sebelumnya berwarna coklat keruh diakibatkan hujan yang turun, kami pun memutuskan ke sungai di bawah sana. Menuruni tangga-tangga yang curam itu lagi, turun terus hingga mencapai akhir dari tangga tersebut. Di pinggir sungai itu terdapat gazebo dan kursi panjang untuk bersantai, tapi untukku duduk-duduk di batu besar di pinggir sungai jauh lebih menggoda. Ghaza kubiarkan saja asik bermain di pasir pinggir sungai sedangkan aku menikmati pemandangan sekitar. Sebenarnya aku izinkan dia mandi di sungai sih, tapi karena airnya yang sangat dingin dia gak mau juga dan hanya bermain pasir saja.

Tangga menuju ke sungai.




Sungai di sini tuh masih alami banget dan terjaga kebersihannya, dan diseberangnya itu ada pojokan yang tanahnya ditutupi rerumputan dan dinaungi bunga liar seperti bunga matahari di atasnya, mudah banget berkhayal di sana sedang bermain-main para peri dan suara mereka yang seperti denting lonceng mengalun bersama hembusan angin atau sekelompok bidadari sedang merendam kakinya di air sungai yang jernih itu. Oke, aku orangnya kebanyakan imajinasi emang. LOL.



Cuaca semakin dingin, kami pun memutuskan kembali ke atas. Ternyata kembali ke tenda itu butuh perjuangan, kakiku terasa sakit dari telapak hingga paha, tanganku pegal luar biasa karena menggendong Ghaza, dan napas pun ngos-ngosan. Sebenarnya keesokan paginya kami berencana untuk turun kembali ke sungai, mandi di sungai dan membiarkan kedua bocah itu puas bermain air, tapi setelah pengalaman menaiki tangga itu kami langsung memutuskan untuk tidak turun lagi ke sungai. Salahkan tubuh lemah kami yang jarang ditempa olahraga. Padahal di bawah itu masih ada spot untuk berfoto loh, yang dinamakan Perahu Kenangan, yang sayang banget untuk dilewatkan. Ada juga air terjun dan goa yang bisa kita kunjungi, yang sayangnya harus kami skip.

Sampai di tenda kedua bocah langsung dimandikan setelah itu mereka kembali asik bermain dan ngemil. Kesempatan itu langsung kugunakan untuk menyegarkan diri dengan mandi air panas. Sayangnya aku lupa membawa kamera turun ke kamar mandi, jadi aku gak bisa memotret “suasana” kamar mandinya. Otot-otot di badanku langsung melemas setelah diguyur air panas itu, rasanya gak mau berhenti mandi. Apalagi jendela besar di kamar mandi itu membingkai deretan pepohonan hijau yang tersaput embun tipis, pikiran ikutan rileks memandangnya. Seandainya ada bathtub sehingga aku bisa berendam air panas sambil melamun memandangi pemandangan yang terhampar, pastinya jauh lebih nikmat. Tapi showeran pun sudah sangat memuasakan sih. Oh ia jangan takut bakalan diintip orang saat mandi, karena jendelanya itu tinggi dan letak Private Camp-nya itu dilreng yang cukup curam.

Malam pun datang, suasana menjadi mistis dengan deru air di sungai di bawah sana serta bunyi-bunyian malam yang membuat perasaan damai. Sensasi berkemah di dalam hutan terasa banget di saat matahari tenggelam itu.

Lama kelamaan kami pun merasa lapar dan memutuskan ke luar mencari makan. Sebenarnya di area perkemahan terdapat dapur umum dan tempat untuk barbeque-an, tapi kami tidak membawa bahan makanan dan memang malas saja untuk memasak dan juga kami lupa untuk membungkus makanan. Dan ya, kembali lagi berjuang menaiki tangga kemudian menuruninya lagi sepulang dari tempat makan itu. Sekedar saran jika memang malas masak-masak seperti kami, lebih baik membungkus makanan jadi sehingga tidak perlu bolak-balik ke luar area perkemahan itu. Popmie pun boleh la ya sebenarnya, tapi kami ada bocah yang belum kami izinkan makan mie instan gitu.

Suasana dimalam hari. Romantis ya 😍

Suhu di depan tenda semakin lama semakin dingin, tapi syukurlah di dalam tenda itu hangat. Kami pun melewati malam yang menyenangkan…

Paginya aku bangun dengan perasaan segar, meskipun badan, terutama kaki pegal luar biasa. Kabut tebal pun menyelimuti kami… Pemandangan yang tak akan kami saksikan di kota sana 😊💕.

Lembah Hijau Camp Ground
Private Camp (muat untuk 8 orang): Rp 800.000

Include sarapan, kamar mandi pribadi (dengan air panas), skybike dan river tubing untuk 2 orang.

You Might Also Like

16 comments

  1. Kerennya wisata Malino. Ini konsepnya kayak glamour camping itu ya, camping serba modern. Aku pengen nyoba ke sana, soalnya di tempatku belum ada yang kayak gini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia glamout camping! Istilahnya kece ya hahaha...

      Delete
  2. Seger banget ya pasti di sana, pemandangan dan udaranya OK banget untuk liburan. Kalau pergi bareng keluarga di hari libur juara nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyap! Refreshing banget deh. Tapi kalau bawa balita lumayan repot juga sih hahaha

      Delete
  3. Private Campnya itu tenda di dalam rumah ya? Boleh juga apalagi bawa bocah gitu. Bisalah bayangin lagi naik gunung tanpa bawa peralatan. Suka pas suasana malamnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia di dalam gazebo gitu gak langsung di pasang di tanah kemahnya. Memang cocok kalau bawa bocah,jadinya gak terlalu rempong. Ia suasana malamnya juara banget!

      Delete
  4. Wah yang privat camp ada atapnya. Ternyata Makasar seru juga ya wisatanya. Jadi pingin nyebur ke sungainya

    ReplyDelete
  5. Aduh tempatnya menyenangkan sekali untuk melepaskan stres dan

    ReplyDelete
  6. hijau, adem, udara segar, Muantapp.. Kalo ngajak anak-anak main seru juga :D

    ReplyDelete
  7. wah asyik banget kempingnya
    saya terakhir kemping waktu SMA
    pengin kemping lagi nih
    tp di objek wisata spt ini juga

    ReplyDelete
  8. Wah, sepertinya menarik juga nih. Suasana camping gitu, jadi ingat waktu SD, pernah campiing ecek-ecek di depan rumah , waktu itu iseng-iseng beli tenda gitu kan, tapi ga pernah kepake sayangnya. Apalagi dengan suasana alam seperti ini, beuh. Enak mah ini

    ReplyDelete
  9. Pengelola wisatanya keren, sudah mempersiapkan tempatnya sebaik mungkin. Ada tenda siap pakai juga dan ramah untuk membawa keluarga. Pemandangannya hijau pasti udaranya sejuk dan segar sepanjang hari. Asik bener liburannya

    ReplyDelete
  10. Asri banget temoatnya mbak Dewi. Kalau untukku yang tinggal di kampung, pemandangan seperti inj sudah bkasa, hehe secara dekat laut dan gunung, kalau ke bioskop atau mall itu baru luar biasa

    ReplyDelete
  11. kalo ngecampnya "glamour" gini aku mau juga ya hehehe

    ReplyDelete
  12. Seru juga nge camp di Malino, bisa lari sebentar dari hiruk pikuknya pekerjaan kantor...

    ReplyDelete
  13. keren banget ya tempatnya, kita benar-benar bisa bersatu dengan alam dan udaranya juga masih terlihat sangat segar.. :)

    ReplyDelete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Beautiesquad