Mengeja Olfaktorium Bersama Aroma Karsa

2:13 pm

Aroma Karsa
Karya Dee Lestari


Cetakan Pertama, Maret 2018

Penyunting: Dhewiberta
Perancang sampul: Fahmi Ilmansyah
Ilustrasi sampul: Hezky Kurniawan
Ilustrasi isi: Hezky Kurniawan
Konsep layout isi: Febrian
Pemeriksa aksara: Achmad Muchtar, Mia F. Kusuma & Rani Nura
Penata aksara: Anik & Petrus Sonny
Foto penulis: Reza Gunawan

Diterbitkan oleh Penerbit Bentang

710 hlm; 20cm

Dari sebuah lontar kuno, Raras Prayagung mengetahui bahwa Puspa Karsa yang dikenalnya sebagai dongeng ternyata tanaman sungguhan yang tersembunyi di tempat rahasia.

Obsesi Raras memburu Puspa Karsa, bunga sakti yang konon mampu mengandalikan kehendak dan cuma bisa diidentifikasikan melalui aroma, mempertemukannya dengan Jati Wesi.

Jati memiliki penciuman luar biasa. Di TPA Bantar Gebang, tempatnya tumbuh besar, ia dijuluki si Hidung Tikus. Dari berbagai pekerjaan yang dilakoninya untuk bertahan hidup, satu yang paling Jati banggakan, yakni meracik parfum.

Kemampuan Jati memikat Raras. Bukan hanya mempekerjakan Jati di perusahaannya, Raras ikut mengundang Jati masuk ke dalam kehidupan pribadinya. Bertemulah Jati dengan Tanaya Suma, anak tunggal Raras, yang memiliki kemampuan serupa dengannya.

Semakin jauh Jati terlibat dengan keluarga Prayagung dan Puspa Karsa, semakin banyak misteri yang ia temukan, tentang dirinya dan masa lalu yang tak pernah ia tahu.

Saat menerima novel ini dan kemudian membaca blurb-nya, aku langsung teringat novel parfum karangan Patrick Suskind. Kehebatan penciuman Jati dan kecintaannya dalam meracik parfum serta-merta membuatku membayangkan sosok Jean-Baptiste Grenoille, tokoh utama dalam Parfum itu. Akan semirip apakah Aroma Karsa ini dengan Parfum? Dengan pertanyaan yang disisipi rasa penasaran itulah aku memulai membaca buku ini…


Di bab awal, diselubungi aroma cendana dan melati, kita diperkenalkan pada Raras, pada permulaan bagaimana dia terobsesi dengan Pupsa Karsa. Di samping ranjang neneknya yang tengah sekarat, dia diberitahu bahwa Puspa Karsa bukanlah sekedar cerita dongeng belaka, dia nyata dan mengantarkan neneknya serta keturunannya ke tatanan teratas. Kini tugas Raras lah untuk mencari Puspa Karsa itu! Ke tangan Raras, diselipkan sebuah kunci yang menuntunnya pada lembar-lembar lontar kuno yang dipenuhi aksara hanacaraka. Juga terdapat dokumen pendamping yang ditulis memakai mesin tik dan disemat bersama kartu nama seorang arkeolog bernama Profesor Sudjatmiko. Tapi tak hanya itu, terdapat juga dua buah tube mungil terbuat dari perunggu, yang tak lebih besar dari ibu jarinya. Hal itu mengaliri Raras dengan keyakinan, keinginan, dan hasrat untuk bebas… Pertama-tama yang harus ia lakukan adalah menyelamatkan Kemara, perusahaan kecantikan yang didirikan neneknya, dari tangan orangtuanya sendiri.

“Eyangku selalu bilang, dunia ini sesungguhnya dunia aroma. Penciuman adalah jendela pertama manusia mengenal dunia. Manusia lebih mudah dipengaruhi oleh yang tidak terlihat.”
_Raras, hlm 153

Cerita pun bergulir… hanya dengan waktu lima tahun, Raras Prayagung, sang pengusaha muda di bawah usia tiga puluh tahun berhasil menyelamatkan Kemara, perusahaan tua dari tepi liang kubur dan menyuntikkan energi kebaruan padanya. Lima tahun berikutnya, Kemara mengukuhkan diri sebagai perusahaan jamu dan kosmetik nomor satu dengan porsi pasar terbesar di Indonesia juga dengan ekspor yang menggurita kemana-mana. Jalan telah terbuka sepenuhnya bagi Raras untuk lepas landas. Kemara pun menjadi sponsor ekskavasi Prasasti Planggatan yang dipimpin Profesor Sudjatmiko dengan harapan lokasi Puspa Karsa akan ditemukan.

“Semua yang berharga dalam hidup ini datang dengan resiko besar.”
_Raras, hlm 431

Seketika aroma berganti, bau busuk TPA menyelubungi, kita kini di bawah berkenalan dengan Jati Wesi, si Hidung Tikus. Jati memiliki indera penciuman yang luar biasa, saking luar biasanya dia bisa meramalkan datangnya badai dan mengklarifikasi bermacam-macam bau yang ada. Dia bahkan berhasil membaui mayat seorang pria yang telah tertimbun sampah-sampah TPA. Kehebatannya itu membuatnya terkenal disekitar TPA. Tapi hidupnya tidaklah mudah, sewaktu kecil dia dibuang di TPA itu dan diasuh oleh Nurdin Suroso. (hal ini mengingatkanku kembali kepada Jean-Baptiste Grenoille). Sekarang Jati bekerja tujuh hari seminggu, menjalani empat profesi: pengurus taman di tujuh rumah mentereng di kompleks Graha Royal Bekasi, pegawai pabrik kompos di TPA Bantar Gebang, pegawai Nurdin Suroso di lapak tanaman hias, dan pegawai Khalil Batarfi di toko Attarwalla. Hampir seluruh dari total penghasilannya itu ia berikan kepada Nurdin.

Dari semua pekerjaan yang ia geluti itu, ia sangat meyukai pekerjaannya di toko Attarwalla, meracik parfum. Dia bahkan memiliki laboratoriumnya sendiri yang diberi nama Laboratorium Gila oleh sesama karyawan Attarwalla. Dari sanalah Jati pertama kali bersentuhan dengan Kemara melalui Puspa Ananta, produk parfum keluaran Kemara. Karena rasa ingin tahunya, Jati membuat duplikat keempat parfum Puspa Ananta itu yang membuatnya ditangkap polisi dan berakhir dengan kontrak seumur hidup dengan Kemara.

Tinggal bersama Raras Prayagung serta putrinya Tanaya Suma membuat pembendarahan bau-bau-an Jati semakin banyak. Ia pun diberikan kesempatan belajar di Kemara dan di Perancis. Tapi ketidaksukaan Tanaya Suma membuatnya resah. Mengapa ia sangat membutuhkan pengakuan Suma? Dan mengapa semakin jauh Jati terlibat dengan keluarga Prayagung dan Puspa Karsa, semakin banyak misteri yang ia temukan? Tentang dirinya, hubungannya dengan Suma, dan masa lalu mereka? Akankah Puspa Karsa menuntunnya pada orangtuanya yang sebenarnya?

“Tan wenang kinawruhan ng katrsnan, wenang rinasan ri manah juga.”

Sebuah insiden membuat kesalahpahaman itu teratasi. Jati dan Suma pun menjadi dekat. Mereka akhirnya bergabung dengan misi Puspa Karsa 2, melewati jalur tengah Gunung Lawu menuju Kali Purba hingga ke desa mistis, Desa Dwarapala, tempat dimana manusia-manusianya bergerak seperti terbang dan tersamarkan dalam rupa hewan. Diselubungi ampuk-ampuk, dikejar kiongkong, hingga menghadap Sanghyang Batari Karsa, sang Puspa Karsa itu sendiri…

Sejujurnya menamatkan buku ini membuatku dihinggapi perasaan tidak puas. Aku berharap cukup banyak dengan petualangan mereka mencari Puspa Karsa, sayangnya porsi petualangan itu hanya menempati sebagian kecil di buku ini. Sepertiga buku ini malah diisi dengan pengenalan tokoh. Hal ini bisa menjadi masuk akal jika ternyata novel ini menjadi buku pertama dari dwilogi, trilogi, atau lebih, sehingga pengenalan tokoh yang teramat panjang itu bisa dimaklumkan. Terlalu banyaknya tokoh juga terkesan sia-sia, karena mereka hanya lewat begitu saja. Ingin rasanya memangkas bagian tokoh-tokoh tak penting itu dan menggantinya dengan petualangan yang jauh lebih mendebarkan, tapi sekali lagi jika novel ini berkelanjutan dan tokoh-tokoh lainnya kunci untuk cerita selanjutnya maka hal itu menjadi masuk akal. Tapi membaca review-review orang di buku Dee lainnya, terutama serial Supernova, memang seperti inilah gaya penulisan Dee. Hmmm…. mungkin ini alasan aku tidak seantusias pencinta buku lainnya saat buku-buku Dee terbit?

Pengenalan tokoh yang menghabiskan sepertiga di buku ini tidak jelek tentu saja. Pengarang sukses mengenalkan dunia parfumer melalui deskripsinya yang apik dan mengalir. Aku dibuat bisa membayangkan bau-bau-an yang dihidu oleh Jati dan Suma tersebut. Membuatku turut merasa, memasuki dan mengeja dunia olfaktorium. Bagaimana Jati mendeskripsikan bau Puspa Ananta, membuatku sangat ingin memiliki parfum itu, terutama yang DARANI. Dee ada niatan gak ya membuat parfum Puspa Ananta ini? Hehehehe...

Sosok protagonis dalan diri Jati juga membuat kita jatuh simpatik kepadanya, hal ini juga menjadi garis pembeda antara Jati dan Jean-Baptiste Grenoille. Yang akhirnya membuatku beranggapan novel ini tidak mirip Parfum meskipun ada beberapa persamaan yang mendasar di keduanya.

Dari segi misteri, pengarang juga sukses dengan cerdas menyisipkan potongan-potongan informasi yang membuat kita digiring untuk menebak-nebak fakta dan kelanjutan kisahnya. Misteri Puspa Karsa yang konon bisa mengubah dunia lewat baunya adalah daya pikat yang sungguh membuatku penasaran. Memasukkan unsur mistis dengan hewan-hewan mitologi perwayangan pun membuat buku ini terasa mendebarkan saat di baca. Kurangnya ya itu saja, Dee terlalu lama bermain-main di pengenalan tokoh dan dunia realitas. Tiba dibagian mistis, petualangan, dan fantasinya yang aku tunggu-tunggu malah terasa dituliskan dengan terburu-buru. Penggambaran Desa Dwarapala pun terasa mentah, hambar, dibandingkan bagaimana ia mendeskripsikan dunia olfaktori. Tokoh-tokoh yang mucul dan mati dibagian ini pun tidak digambarkan dengan detail sehingga tidak membangkitkan simpati...

Akhir kata… aku tidak merekomendasikan buku ini bagi pembaca yang mengharapkan kisah petualangan dan fantasi yang mendebarkan. Buku ini kurekomendasikan dibaca dengan santai sambil minum teh sore hari, atau sebelum tidur, jalinan katanya yang indah mampu membuai dan menutup hari dengan manis.


“Muliha kami ring lemah, mahuripa kami ing swargaloka, tan hana ikang amrta, matemwa ta kami ri kita.”

You Might Also Like

30 comments

  1. wah kayaknya perlu nich punya buku ini, buat teman menikmati teh sore hari. Agendakan ahhh

    ReplyDelete
  2. seperti yg ditulis mba dwi kalau buku ini tidak direkomendasikan bagi pembaca yg suka petualangan berarti saya gak ada keinginan untuk baca bukunya mba. maklum saya lebih suka buku tentang petualangan atau setidaknya ada makna yg bisa diambil dari setiap ceritanya

    ReplyDelete
  3. Aku udah baca tapi belum selesai. Mungkin emang dibuat Trilogi Mbak .Terus terang aku kalau baca bukunya Dee berasa terintimidasi, duh kalau aku nulis novel bisa sedetail itu nggak ya. Duh risetnya keren banget dll. Tapi buku Hunger Games itu juga pengenalan tokoh detail lho, dan memang berseri. Berharap banyak ada lanjutannya. Aq cuma mikir kalau dijadikan film kurang greget berasa kayak serial Kamandanu,dll

    ReplyDelete
  4. Berarti nih buku cocok untuk menemani bumil seperti aku menikmati pagi hari sambil minum teh dan makan cemilan, asikkkkkkkkkkkk

    ReplyDelete
  5. Sepertinya menurutku, buku ini tidak banyak orang suka karena sebagian besar orang suka dengan bacaan yang uhm, cis bag bug (giamana ya jelasinnya) yang seru begitu.
    Namun, kadangkala apapun yang berkualitas tidak harus seru kan?
    Ini buku bisa jadi referensiku buat temen2 goodreads hehe

    ReplyDelete
  6. Terima kasih Mbak atas review-nya yang apik.. aku penasaran pengin baca, tapi aku agak takut dengan cerita yang mistis-mistis. Hihihi..

    ReplyDelete
  7. rasanya bukunya tak cocok dengan ku yang lebih suka baca buku teknik di pagi hari sambil sarapan bubur ayam tanpa diaduk...

    tapi rasanya si Doi bakal seneng kalo dibeliin buku nya DeeLestari

    ReplyDelete
  8. Sudah bberapa blog saya baca mereview ini. Dan setelah membaca ini makin yakin akan segala rasa yang timbul akibat membaca ini. Keren banget ya bukunya

    ReplyDelete
  9. Ah iya, jadi inget jean baptise kak XD namanya unik-unik juga yah ka kaya cerita kerajaan2 gitu, sempet heboh si kemarin tapi aku baru lihat bagaimana ceritanya di sini hihihi

    ReplyDelete
  10. Aroma karsa, salah satu Buku dee terbaru yang aku tunggu tunggu nih, tapi sayangnya meski sudah punya bukunya namun saya masih belum membacanya, karena daftar antrian buku baca terlalu banyak...

    Namun dari membaca ulasan ini, yg aku dapatkan justru rekomendasi buku baru, buku parfum .. Bisa buat dibaca selanjutnya ^^

    ReplyDelete
  11. Ahhrgg penasaran sama buku ini, terima kasih revew-nya jadi punya gambaran dan jadi tambah pengen baca

    ReplyDelete
  12. Penasaran banget sama buku aroma karsa, makasih ya revieww-nya, bikin makin mupeng baca

    ReplyDelete
  13. membaca tentang peracikan perfume di review novel ini mengingatkan saya akan seorang teman yang memiliki usaha parfume juga

    ReplyDelete
  14. Wahhhh aku enggak sabar mau baca ini. Aku sudah beli bukunya. Tapi sengaja belum aku baca. Aku menanti enggak sibuk, enggak ada deadline (sayangnya ternyata itu susah).
    Aku pengennya menikmati Aroma Karsa ini tanpa gangguan.

    ReplyDelete
  15. Aroma Karsa adalah novel yg lagi booming akhir2 ini dan aku belum baca. Sudah banyak baca reviewnya termasuk di sini. Aku bisa menyimpulkan bahwa novel ini dibangun oleh kekuatan aroma mistis. Diksinya yang kaya membuatku makin tergiur untuk mencicipinya. Semoga dalam waktu dekat aku bisa membeli dan membaca buku ini.

    ReplyDelete
  16. Ini ngomongin parfume? Wah keren ya, kan jarang-jarang novel membahas parfume, siapa tahu ini nanti bisa mengalahkan novel The perfume itu

    ReplyDelete
  17. sepertinya bukunya berat ya
    apa saya menilai dari nama nama tokohnya yg panjang dan ga mudah diingat ?

    ReplyDelete
  18. Aku jarang baca karya Dee. Satu itu Madre. Kata temen di blog buku, Aroma Karsa cukup oke. Cuma ya aku memang krg suka sama yg model detektif dan fantasi gitu. Mungkin kapan2 deh bacanya

    Aku setuju kalau baca itu pas mau tidur aja, hahaha

    ReplyDelete
  19. Saya sudah lama mengetahui keberadaan buku ini. Dan sekarang baru tau sedikit cerita di dalamnya. Sepertinya buku yang bagus untuk dibaca

    ReplyDelete
  20. Buku yang lagi hits dansepertinya sangat dicari banyak orang. Rata rata sua dengan ceritanya karena ngga tertebak. Banyak yang suka ternyata

    ReplyDelete
  21. Aku kok ngebayangin pas baca novel ini tiba2 bisa merasakan bau2 menyeruak gtu ya hehe. Soalnya kan biasnaya kalau baca novel bisa sambil terbawa suasananya :D
    Ini novel kyknya cocok ya kalau dibaca sambil santai sambil hyeruput kopi atau teh anget :D

    ReplyDelete
  22. Ntah..kalo cerita masa lalu..gitu aku agak susah memahami..apalagi kalau nama tempat sulit ngeja...dll..apalagi pakai bahasa...yg campur2 ..

    Enakan cerita romantis ...hi2

    ReplyDelete
  23. 710 halaman mesti bersabar dengan nama-nama Jawa dan bahasa Jawa yang halus.
    Hiihii...aku yang orang Jawa aja agak bingung.
    Apakah novel ini bisa dinikmati oleh khalayak luas?

    ReplyDelete
  24. Seru kali ya kl bukunya jg diksh bebauan parfum gitu hehe, jd bs kebayang2 baunya parfum, spt si puspa ananta tuh gmn ... :D

    ReplyDelete
  25. Ini afalah buku yg masuk ke list wanna read..
    Semoga dpt rejeki deh biar bisa kebeliiii heheeh
    Bagus yahh Dwee.. suka deh ulasannya

    ReplyDelete
  26. menurut saya ini supernova versi mini

    ReplyDelete
  27. Aku udah kelar baca ini juga nih dan sepakat kalau rasanya perjalanan nyari Puspa Karsa sedikit banget. Agak terlalu panjang di awal. Yah kalau jadi trilogi dan semacamnya masuk akal lah yaaa.

    Cerita kopi dan buku lainnya di sophiamega.com

    ReplyDelete
  28. Duh makin penasaran sama buku ini. Semoga bulan depan bisa kebeli :D

    ReplyDelete
  29. saya sudah baca bukunya, rekomended

    ReplyDelete
  30. Sejujurnya belum pernah baca buku Dee yg genre Fantasi selain Filosofi Kopi. Tapi, setrlah baca review ini aku penasaran dengan kisah fantasi ala Dee ini. Aku adlh samgt suka baca buku2 fantasi, tp klu kurang greget fantasinya kykx mesti mikir2 dlu 😁

    ReplyDelete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.