Suatu Hari di November

11:30 pm

Ada suatu hari di bulan November yang tidak mungkin bunda lupakan. Di hari itu, bunda merasakan semua perasaan yang ada di dunia ini secara bersamaan; bahagia, gelisah, cemas, kegirangan, ketakutan, kesakitan, terharu, bersyukur, marah, jengkel, sedih, dan lain-lain. Di hari dimana Sang Kekasih menghadiahi bunda kado paling terindah... 

Itu kau nak.



Dan hari itu adalah hari kelahiranmu.

Baca juga: Melahirkan, Antara Harapan dan Kenyataan Part 1 dan Part 2

Saat itu bunda bahagia dan kegirangan karena akan bertemu denganmu setelah sembilan bulan kita bercakap-cakap tanpa saling bertatap muka. Sebuah penantian yang panjang akhirnya akan berakhir, kita akan segera berjumpa dan bertatap muka. Aku bisa menyentuhmu, memelukmu, mengecupmu, menggendongmu, membuaimu, dan menyenandungkan lagu pengantar tidur untukmu. Dan menyusuimu, tentu saja.
Bunda merasa gelisah menantikan dirimu yang tidak mau keluar-keluar juga meskipun pembukaan telah lengkap dan air ketuban telah keluar. Bunda cemas apakah kau di sana baik-baik saja. Apa yang menghalangimu bertemu denganku? Bunda takut jika tidak diberi kesempatan menjadi seorang ibu, jika Sang Pemilik memutuskan meminta kau kembali di sisi-Nya, atau bunda yang dipanggil terlebih dahulu tanpa sempat memelukmu.

Rasa sakit yang bunda rasakan sejak jam 3 dini hari, juga perasaan marah dan jengkel yang mengikuti, silih berganti datangnya, hingga rasa sedih muncul karena bunda mengingat Ettandi. Bunda sedih karena kalian tidak akan bertemu di dunia ini. Bunda sedih karena saat menjadi ibu tidak ada Ettandi yang menemani dan mengajarkan. Ettandi tidak punya kesempatan menjadi seorang nenek di dunia ini, beliau tidak akan pernah mendengarmu memanggilnya “Ettandi”. Bukankah itu menyedihkan? Kau tidak akan mengenalnya, tidak akan merasakan kasih sayangnya yang berlimpah...

Bunda juga sedih membayangkan Ettandi merasakan sakit seperti yang bunda rasakan. Karena mendengar cerita kelahiranku, kasus kita sama nak, bedanya bunda terlahir tanpa pembedahan. Juga bunda sedih membayangkan akan pergi lebih dahulu dan kau tidak akan mengenalku, lalu ayahmu suatu saat akan melupakanku kemudian menghadirkan ibu yang lain untukmu. Lucu bukan? Dimana di hari itu perasaan bunda bercampur aduk. Khayalan bunda juga menjadi-jadi. Padahal rasa sakit yang menyelimuti bunda seharusnya mampu membuatku tidak lagi merasakan apa-apa kecuali rasa sakit itu sendiri.

Tapi semua itu terbayarkan nak. Saat bunda mendengarkan suara tangismu yang membahana. Perasaan haru yang luar biasa itu. Rasa syukur yang membuncah itu. Seakan sebuah beban berat yang menghimpit dada bunda telah diangkat.

Waktu berlalu, kini kau telah berusia dua tahun.

Semakin lincah dengan kegemaranmu berlari-larian, melompat, dan memanjat, bunda pun menjadi lima kali lebih awas menjagamu. Kau bisa tiba-tiba sudah ada di lantai dua jika bunda lengah sedikit saja. Apa yang menarik di atas sana nak? Sehingga kau sangat gemar menaiki tangga itu?

Kau juga sudah sangat pintar berakting menangis dan merengek jika ada sesuatu yang kau inginkan tetapi bunda tidak memperbolehkannya. Ketahuilah nak, tidak semua yang kau inginkan bisa terkabulkan. Mungkin sesuatu itu memang tidak baik untukmu, atau mungkin belum rezekimu saja, atau mungkin malah kau belum cukup berusaha. Bunda pun punya alasan jika tidak mengabulkan keinginanmu. Dan jangan harap dengan kau menangis, bunda akan mengikuti maumu. Menurutmu dari mana datangnya sifat keras kepala itu?

Tahukah kau apa yang membuat bunda pusing saat ini?
Berat badanmu! Yang jauh dari ideal itu. Sekarang kau pun sudah pilih-pilih makanan, tidak seperti dulu yang apa pun makanan yang diberikan kau pasti dengan senang hati memakannya. Kini kau sudah pintar menolak makanan. Dulu, saat makanmu baik, berat badanmu tetap susah naiknya, apalagi kini disaat kau pilih-pilih makanan. Bunda geregetan! Sukurlah kau tetap lincah sehingga bunda tidak terlalu cemas. Oh ia jangan suka membuang-buang makanan nak. Tahukah kau di belahan bumi lain ada anak-anak yang otaknya tidak berkembang karena kekurangan gizi?

Terakhir, sebelum surat ini menjadi terlalu panjang... Terimakasih sayang karena telah terlahir menjadi anak bunda ♥. Tumbulah dengan sehat, ceria dan bahagia. Ayo semangat disapihnya, jangan galau-galau kelamaan ah ☻.

Makassar 14 November 2017




You Might Also Like

3 comments

  1. Selamat 2 tahun nak Ghaza. Tumbuhlah besar seperti harapan Bunda dan Ayahmu 💝

    ReplyDelete
  2. Selamat ulang tahun Nak...semoga selalu sehat cerdas dan sholeh

    ReplyDelete
  3. Selamata ulang tahun nak Ghaza 😍😍😍

    ReplyDelete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Beautiesquad