Berkenalan Dengan Therese Raquin

2:07 am


"Di sebuah apartemen kumuh di Passage du Pont- Neuf, Paris, Therese Raquin terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Camille, sepupunya yang sakit-sakitan.
Namun hari-harinya yang sungguh membosankan tiba-tiba berubah ketika dia menjalin hubungan gelap dengan Laurent, teman suaminya. Gairah cinta mereka yang tak kenal batas akhirnya menjerumuskan pasangan kekasih ini ke dalam perbuatan kriminal yang akan menghantui mereka selamanya."


Aku sendiri lupa dimana tepatnya pertama kali mengetahui nama sastrawan Perancis ini. Saat berkuliahkah? Mungkin salah satu dosen sastraku pernah menyebut-nyebut nama pengarang ini? Atau aku pernah membacanya di suatu tempat? Yang pasti, saat seorang teman di Klub Buku Indonesia menyinggung-nyinggung tentang pengarang ini, aku pun menjadi tertarik untuk membaca bukunya, selain karena selera bacaannya terpercaya, aku merasa sangat kurang pengetahuanku perihal Sastra Perancis. Karena itulah setiap mendatangi bazar buku, aku selalu memasang mata mencari "Emile Zola".

Theresa Raquin dibuka dengan pendahuluan dari pengarang untuk edisi keduanya (1868), dimana sang pengarang menumpahkan keluh-kesah dan kekecewaannya kepada para kritikus sastra yang menganggap buku ini tidak bermoral yang memuat adegan-adegan tak senonoh;

"Saya tahu permainan-permainan kecil yang dimainkan para kritikus; saya pernah melakukannya juga. Namun saya harus mengakui, saya sedikit tersinggung gara-gara pandangan yang sempit ini. Apa! Tidak adakah salah seorang dari rekan-rekan saya yang bersedia menjelaskan buku saya, apalagi membelanya? Dalam kebisingan suara-suara yang berteriak, "Pengarang Therese Raquin adalah orang gila yang suka memamerkan pornografi," saya menunggu dengan sia-sia munculnya sebuah suara yang menyahut, "Bukan, penulisnya semata-mata hanya seorang analis, yang mungkin telah mengarahkan perhatiannya pada sifat-sifat buruk manusia, namun dalam cara yang sama seperti seorang dokter yang menjadi asyik dalam ruang operasi.""

Membaca sinopsis singkatnya di cover buku ini kemudian membaca pendahuluan dari pengarangnya membuatku berekspektasi buku ini memuat banyak adegan dewasa, yiah paling tidak seperti novel-novel seri harlequin-lah. Karena buku ini pertama kali terbit di tahun 1967, pantaslah begitu menghebohkan dan dianggap "memamerkan pornografi".

Permulaan cerita kita langsung disuguhkan kesuraman suatu sudut di Paris, Selasar du Pont-Neuf, semacam gang sempit dan gelap yang menghubungkan Rue Mazarine dengan Rue de Seine. Di sana berdirilah sebuah toko Penjual Busana dan Peralatan Menjahit, tempat dimana Therese Raquin beserta suami dan bibinya tinggal. Di toko inilah yang merangkap sebagai tempat tinggal mereka menjadi setting ceritanya. Kesuraman yang dideskripsikan penulis dimulai dari awal buku ini terus bertahan hingga mencapai klimaks di akhirnya. Membuatku cukup lama menamatkannya, harus kucicil sedikit demi sedikit, lembar demi lembar, jika tidak, aku bisa ikut-ikutan depresi. Ya, sesuram itulah buku ini...

Di bab selanjutnya kita diperkenalkan satu per-satu kepada tokoh-tokoh yang berperan dalam kisah ini; Mme Raquin, seorang perempuan sederhana yang menikmati hidupnya tanpa pernah merasakan kenikmatan dan kepedihan duniawi. Ia pada dasarnya telah menciptakan kehidupan yang damai dan membahagiakan untuk dirinya sendiri. Satu-satunya sumber kebahagiaannya dan tempat dimana ia mencurahkan segala cinta dan kasih sayang yang ia miliki adalah putranya Camille yang sewaktu kecil sakit-sakitan. Ia berjuang keras merawat putranya itu yang menderita segala penyakit yang terbayangkan silih berganti, mengalahkan setiap penyakit dengan sikapnya yang sabar, penuh perhatian, dan pengabdian. Bahkan setelah Camille tumbuh dewasa, ia tetap memanjakannya seperti anak kecil. Yang ia harapkan Camille berada di sisinya sepanjang waktu, meringkuk di balik selimut, jauh dari segala marabahaya kehidupan.

Camille yang tumbuh dewasa dan lolos dari maut, masih sering gemetaran gara-gara penyakit-penyakit yang silih berganti menyerangnya dulu. Pertumbuhan fisiknya tidak sempurna dan sosoknya tetap kecil dan bantat. Gerakkan-gerakkan tangan dan kakinya lamban dan kikuk. Karena penyakitnya jugalah ia tidak begitu baik menggunakan otaknya ditambah dengan segala perhatian dan kecemasan Mme Raquin membuatnya tumbuh tanpa perlu berusaha keras serta segalanya telah tersedia. Tipikal anak mami yang dimanja dan dilindungi sedemikian rupa sehingga tumbuh menjadi orang yang egois dan keras kepala. Membayangkan sosok Camille dari deskripsi yang disuguhkan pengarang membuatku mau tak mau merasa jijik dengan tokoh ini, apa lagi jika aku menempatkan diriku sebagai Therese... Mungkin akan kulakukan juga apa yang pada akhirnya dilakuan Therese?! Ya mungkin saja!

"Kelembutan dan pengabdian ibunya membuat Camille menjadi orang yang egois dan keras kepala; ia berpikir bahwa ia mencintai siapa pun yang merasa kasihan terhadap dirinya dan menyayanginya, meskipun kenyataannya ia justru menjauhkan diri, tenggelam di dalam diri sendiri, hanya mementingkan kepentingannya sendiri dan selalu berusaha mencari cara-cara untuk meningkatkan kesenangan-kesenangannya sendiri."

Therese Raquin sendiri, tinggal bersama bibi dan sepupunya sejak ia berusia dua tahun, ia pun tumbuh besar bersama Camille dan menerima curahan kasih sayang yang sama dari bibinya. Ia anak yang sehat, namun diperlakukan seperti anak yang sakit, persis seperti Mme Raquin memperlakukan Camille. Kehidupan seperti orang sakit yang dipaksakan terhadap dirinya membuatnya menjadi orang yang tertutup. Ia menjadi terbiasa berbicara dengan suara lirih, berjalan tanpa suara, duduk diam dan tak bergerak-gerak di kursi, memandang kosong dengan mata membelalak lebar. Meskipun demikian ada kalanya ketika ia berjalan atau mengangkat lengan, gerak-gerakkannya gesit dan lincah, penuh energi dan semangat yang tertimbun pasif di dalam sosoknya yang malas.

"Bibinya begitu sering memberitahunya, "Jangan ribut, tenanglah," sehingga ia selalu menjaga agar sifat alaminya yang penuh semangat terpendam rapat di dalam dirinya. Ia mempunya kemampuan luar biasa untuk bersikap sabar dan penampilan tenang yang menyembunyikan hasrat menggebu-gebu yang dimilikinya."

Tak bisa tidak, aku pun langsung jatuh iba dengan Therese. Kegigihannya menekan sifat alaminya karena terdidik dari kecil seperti itu, keharusannya meminum obat yang sama dengan sepupunya dan diperlakukan seperti anak yang sakit, hingga akhirnya menikahi sepupunya yang lemah dan menjijikkan itu... Terasa tak tertahankan bukan? Juga tidak pernahnya dimintai pendapat, seakan-akan pendapatnya tidaklah penting dan lebih buruk lagi, dianggap hanya semacam prabotan, atau hewan peliharaan. Tapi jika mau adil, suami dan bibinya tidak mau repot-repot menanyakan pendapatnya karena sedari dulu ia selalu menunjukkan kepatuhan yang pasif. Tapi bukankah itu karena didikan bibinya? Hingga pada akhirnya disuatu titik ia benar-benar menyerah kalah, ia menghabiskan waktunya dengan duduk dan tidak melakukan apa-apa.

"Therese, yang tinggal di tempat gelap, lembap, suram, dan hening ini merasa bahwa masa depan yang terbentang di hadapannya sungguh hampa. Setiap malam yang menunggunya hanyalah tempat tidur dingin yang sama, dan setiap pagi sebuah hari yang monoton."

Suatu hari, sepulang dari kantor, Camille membawa seorang pria muda yang adalah teman masa kecilnya yang kebetulan bekerja diperusahaan yang sama dengannya, Laurent. Kemudian kisah pun bergulir... Therese yang baru pertama kali melihat seorang "pria sejati" tidak kuasa menahan hasratnya, sedangkan Laurent pada awalnya memanfaatkan situasi itu hanya untuk memuaskan berahinya secara gratis dan tanpa ikatan. Perselingkuhan itupun terjadi dan lama kelamaan menjadi intens dan menjerumuskan keduanya...
Apakah keduanya pada akhirnya saling jatuh cinta?
Akankah perselingkuhan itu terus berlanjut? Bagaimana jika mereka ketahuan?

Laurent sendiri adalah pria muda yang malas, dengan hasrat kuat dan dorongan hati menggebu-gebu untuk mencari kenikmatan-kenikmatan hidup yang gampang dan berlangsung lama. Tubuhnya yang kekar dan sehat tidak menginginkan apa pun selain berbaring menganggur, bermalas-malasan, dan bersantai nikmat. Tapi errr jujur, siapa yang tidak ingin seperti itu jika memang bisa? Iya gak sih?

Setelah menamatkan buku ini, aku banyak merenung. Tentang sifat egois manusia. Bagaimana kebahagiaan kita, bisa jadi kesedihan orang lain. Bagaimana apa yang kita impikan dan perjuangkan dengan segala cara malah berakhir tidak sesuai harapan. Bagaimana kejahatan yang kita lakukan berakhir kembali menjahati kita. Bagaimana dosa-dosa kita akhirnya dibalaskan... ya, hal-hal suram semacam itu. Ditambah lagi perasaan kesal yang bergelayut lama karena akhir yang begitu SURAM nan menyedihkan. Membuatku melewati beberapa minggu yang melankolis... Mungkin karena aku yang setiap membaca, masuk terlalu jauh ke dalam ceritanya, tersesat, dan butuh waktu untuk kembali ke dunia nyata.

Yang aku herankan, dimana pada buku ini memuat hal-hal yang tak senonoh? Apa lagi pornografi sehingga pantas dihujat dan dicaci maki saat pertama kali diterbitkan? Deskripsi adegan seksnya saja tidak ada. Kecuali yang dimaksud adegan cakar-cakaran dan pukul-pukulan? Mungkin di masa itu topik tentang perselingkuhan dan KDRT di Paris sana adalah hal yang tabu...

Menurutku pengarang sukses menghadirkan tokoh-tokoh protagonis yang tidak sepenuhnya baik, juga tidak bisa dikatakan antagonis, yang sepenuhnya jahat. Tokoh-tokoh di buku ini berdiri di antara, di daerah abu-abu, dimana hitam dan putih berbaur menjadi satu. Bukankah manusia memang seperti itu? Tidak sepenuhnya baik dan tidak sepenuhnya jahat. Sehingga menurutku pengarang sukses menghadirkan sosok manusia sebenarnya. Aku pun tak bisa tidak bersimpati sekaligus jengkel luar biasa dengan tokoh-tokohnya. Perasaan campur aduk itu terus berlangsung hingga akhir buku.

Aku harus memiliki dan membaca karya-karya Emile Zola lainnya...

Bagaimana dengan kalian? Tertarik membaca Therese Raquin ini?

Cover barunya juga cantik ya ☺

Identitas buku:

THERESE RAQUIN
by Emile Zola
Alih bahasa: Julanda Tantani
Desain dan ilustrasi cover: Eduard Iwan Mangopang
Hak cipta terjemahan Indonesia: PT Gramedia Pustaka Utama
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, Agustus 2011
336 hlm; 20 cm

You Might Also Like

44 comments

  1. pasti bagus banget ya membaca karya Emile Zola

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia mbak 😊. Aku jadi penasaran bagaimana buku-buku lainnya~

      Delete
  2. Bener sih, rasa2nya jarang ada manusia yg sepenuhnya baik atau sepenuhnya jahat. Selalu ada 2 sisi.

    Tp klo ditanya apa aku tertarik baca bukunya, kurasa ngga saat ini, lg riweh bgt dan jd merasa gk ada wktu baca buku. Haha payah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi kalau gitu baca yang ringan aja dulu mbak, sembari menyelesaikan keriweh-an ^^

      Delete
  3. wahhh dikritik seperti itu bukannya down ya dwi malah lgsg menghasilkan karya luar biasa... jadi penasaran baca bukunya gegara review dwi ini...

    ReplyDelete
  4. Udah lama banget gak baca novel2 gendre ini mbak. Jadi kangen. Skrng lebih banyak baca buku kesehatan anak hehe.
    Masih ada di Gramedia gk ya bukunya? Penasaran... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah diterbitkan lagi kok bukunya dengan cover putih. Wah aku malah jarang banget baca buku kesehatan anak, palingan buka milis sehat atau mayoclinic.

      Delete
  5. Aku agak sedkit bingung dgn sinopsisnya,hub antara tkoh2 yg disebutkan seperti belibet. Mungkin hrus baca secara langsung,krna aku lumayan bolak-balik tadi menelaah hub antar tkoh di buku therese raquin ini.

    ReplyDelete
  6. waw, tertarik siiih, tapi aku cukup kesusahan untuk baca buku terjemahan... hehehe
    justru aku lebih tertarik sama sinopsisnya ini aja, hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kesusahannya baca terjemahan dimana? Lebih susah baca versi aslinya kalau aku 😝

      Delete
  7. Manusia itu kaya mata uang, ada 2 sisinya, tidak bisa salah satu. Menurut aku sih gitu. Gak tau deh menurut mas Anang. Wkwkwkw.

    ReplyDelete
  8. Sampai hari ini, saya masih belum pernah baca bukunya emile zola, kalau penulis prancis palingan yg aku baca baru victor hugo, alexander dumas, voltaire atau albert camus, kalau emile zola baru sejenak dilirik, belum tertarik utk membeli dan membaca bukunya..

    Tapi melihat review bukunya emile zola yg therese raquin ini, mungkin sudah saatnya saya membaca juga..

    Background penulisannya nya lebih banyak menyasar ke. Sisi kelam, gelap, suram, dsb.. Mungkin sedikit banyak mirip gaya penulisannya dostoevsky kali ya 🤔🤔

    Hmmm penasaran saya, lain waktu harus beli ini buku..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Victor Hugo, Alexander Dumas, dan Albert Camus bukunya banyak yang terjemahin si ya 😊 Voltaire yang agak susah cari terjemahannya. Di situ saya merasa ingin bisa mengerti bahasa aslinya~

      Tema yang diambil memang mirip-mirip Dostoevsky tapi dari segi gaya penulisan aku rasa berbeda si. Jelasnya silahkan baca sendiri tulisan Zola 😜

      Delete
  9. Itu pengarangnya, pengarang jaman dulu (sudah meninggal misalnya krn tahun 1900an) atau baru? Imajinasinya lumayan ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Zaman dahulu Mas pengaranganya 😂

      Delete
  10. Belum pernah de gar, tapi menarik semakin divaca kesan bukunya isinya alias bhsannya berat pastinya tapi jD pnsaran ibgin baca lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silahkan dibaca Mbak 😊 gak berat kok, lebih berat batako 😝

      Delete
  11. kaykanya bagus ya mbak bukunya, tapi kok sedih gitu ya, kasihan therese. bisa kurus seumur hidup dia kalau lama-lama tinggal dengan si bibi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia mbak bukunya bagus. Bukan kurus lagi si Therese tapi sudah gangguan mental.

      Delete
  12. Si Therese kok ngenes ya, rekomendasi bacaan saat sepi nih.
    Cuman blm pernah dengar judulnya, kalau tidak dari blog ini mungkin ga tau

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah ia benar buku ini cocok untuk bacaan sepi pas hujan turun, hehehe...

      Delete
  13. Suka gemes dengan cerita2 orang macam therese ini. Please, kamu berdaulat atas tubuhmu! Tapi ya mau gimana lagi, zola sutradaranya. Ah, aku jadi pengin baca novel2nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmmm... harus lihat setting waktu dan tempatnya juga si mbak. Di masa itu perempuan terlihat vulgar jika hidup sendiri, apa lagi bercerai tidak diperbolehkan.

      Delete
  14. diriku harus berkenalan dulu nih dengan mencari bukunya. dari sinopsis dan reviewnya perlu waktu yang tenang dan nyaman dengan segelas teh dan kue sembari membaca.
    coba nyari di perpusda atau di gramedia deh. siapa tahu ada

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh membaca ditemani segelas teh dan kue memang mantap banget mas. Selamat mencari bukunya ya

      Delete
  15. Kalau buku Barat kissing sex kaya gitu udah biasa ya. Tapi kadang ada yg berprinsip melakukan itu setelah nikah.

    Buku2 terjemahan aku kdg baca, tp emang gak sering. Buku Emile Zola ini aku blm baca sih. Ngenes juga kalau kitanya sehat tp diperlakukan spr orang sakit. Kitanya jd tumbuh gak sehat jg, termasuk pikiran. Jgn2 tindakan kriminal mereka itu ingin menguasai harta si suami. Duh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangankan buku barat mbak, buku Indonesia pun banyak.

      Ngenes dan terkekang. Hak hidup kita serasa dirampas. Hihihi silahkan baca bukunya, gak enak kalau aku spoiler 😛

      Delete
  16. Ini jenis sastra klasik ya.. Menarik untuk dibaca. Yang foto pertama ini cover republish-nya? Lebih menarik dan klasik..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyap satra klasik. Yang kedua malah cover barunya mbak.

      Delete
  17. saya pembaca novel
    tp baru tahu nama pengarang ini
    apa saya yg kudet ya ?
    jd penasaran dengan bukunya
    mga ada di perpustakaan umum

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini sastra klasik mbak. Kalau ke perpustakaan coba cari dibagian sastra klasik.

      Delete
  18. Kebayang gimana kehidupan Therese Raquin yang tinggal dengan bibinya itu. Kasihan sekali, ya. Diperlakukan tidak dengan semestinya.

    Saya lihat jalan ceritanya menarik. Kayaknya lain waktu, saya mau baca juga karya-karya Emile Zola.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamat berburu karya-karya Emile Zola 😊

      Delete
  19. Aku menarik benang merah, mendidik anak dengan perlakuan seolah-olah anak yang sakit bisa bahaya untuk masa depannya ya. Hiks, padahal sebenarnya kasihan sama si anak, khawatir yg berlebihan gitu.

    Btw, jarang loh pengarang yang mampu menghadirkan tokoh protagonis yang manusiawi. Rerata tokoh protagonis mah tanpa cela. 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia menurutku juga begitu, kasihan si anaknya.

      Disitulah kerenya buku ini. Tokohnya bercela

      Delete
  20. Yaampun lama ga baca novel aku, keseringan ngadepin drama. Padahal novel itu sumber ketenangan dan imajinasi tetap terjaga.

    Novelnya sedih yaaa :(((

    ReplyDelete
    Replies
    1. Drama hidup ya mbak? hehehe dijalani aja sih itu... Iyap buku mengasah imajinasi.

      Delete
  21. Sebenarnya kalau dilihat dari jumlah halamannya, rasanya hampir-hampir mirip buku novel kebanyakan yaa..

    Tapi menikmati alur kisahnya lembar demi lembar, seakan menyelami bagaimana hakekat manusia itu sebenarnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya terbilang standar novel kebanyakan si ini. Tapi isinya "dalam".

      Delete
  22. Wuiihhh... Therese Raquin! Coba tonton filmnya, Mbak. Produksi tahun 1981. Semoga nggak mengecewakan imajinasimu dari novelnya haha. Aku belum baca sih novelnya. Belum pernah lihat di toko buku daerahku malah. Hmm..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah ada filmya. Ada terjemahannya gak?

      Delete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Beautiesquad