My Breasthfeeding Story

9:00 am


Sebelum menjalaninya sendiri, menyusui di kepalaku sebatas menyodorkan payudara ke mulut bayi, kemudian meyakini dengan bahagia bahwa ASI itu mencukupi kebutuhannya. Mudah, gampang, dan murah.

Saat hamil aku memang sudah berusaha membekali diriku perihal ASI dan menyusui dari berbagai sumber yang bisa kudapatkan. Aku ingin memberikan ASI eksklusif untuk Ghaza, aku ingin dia mendapatkan yang terbaik dariku!!! Hal itu yang terus kutanamkan di kepalaku.

Tiba saat melahirkan, semua yang kupelajari itu BUYAR!!! Aku tidak IMD dan makanan yang pertama Ghaza cicipi adalah sufor. Tak ada pembenaran atas apa yang kulakukan, semuanya terjadi karena ketololan dan keegoisanku semata (saat itu terjadi aku mencari banyak pembenaran atas tindakanku, semakin ke sini, aku sadar ini semata keegoisanku saja). IMD tidak terjadi karena aku memilih tertidur setelah Ghaza lahir, juga dokter sama sekali tidak menawarkannya kepadaku. Aku menjadi terlalu nyaman dengan obat bius yang disuntikkan sehingga menjadi begitu pasif. Ya saat itu aku bertanya-tanya mengapa tak IMD tapi memilih diam saja.


Sama halnya ketika Ghaza diberi sufor setelah itu, sekali lagi aku memilih diam dan dalam hati merasa prihatin karena ia mencicipi sufor (okelah sufor bukannya racun tapi ini perihal komitmenku sedari awal). Entah, saat itu aku merasa bukan diriku, seakan-akan aku yang asli melayang-layang dan hanya bisa mengamati tubuhku yang bertindak mangut-mangut saja.

Keesokan harinya, saat perlahan-lahan pengaruh obat biusnya menghilang, aku pun mulai merasakan sakit. Ini sama saja dengan penantian panjang menunggu pembukaan lengkap yang kualami semalam. Sama-sama sakit tetapi dengan rasa yang berbeda. Ini terasa perih luar biasa. Saat itu aku hanya memikirkan bagaimana menjadi terbiasa dengan rasa perih ini dan kapan keteter serta infus ini dilepas sehingga aku boleh bergerak, turun dari tempat tidur dan menggendong Ghaza. Maka aku membiarkan Ghaza mencicipi sufor lagi. Padahal aku tahu bayi yang baru lahir punya cadangan makanan selama 72 jam, sehingga ia mampu bertahan sembari menunggu keteter dan infusku dilepas. Dan hey, bahkan tanpa menunggu itu dilepas pun, seharusnya aku bisa langsung menyusuinya~ Lalu mengapa aku membiarkannya? Entah… aku masih bertindak pasif dan mungkin masih trauma dengan proses melahirkanku.

Tepat 24 jam setelah SC, akhirnya keteter dan infusku pun dilepas, dengan menguatkan diri menahan perih dan dengan keras kepala aku turun dari tempat tidur. Terbungkuk-bungkuk mencoba berjalan lalu duduk dan meminta Pai meletakkan Ghaza di pelukanku. Dan mulai menyusuinya.

Alhamdulillah menyusui kali pertama itu berjalan lancar. Apa yang orang-orang katakan mengenai betapa romantisnya menyusui itu ternyata benar. Sambil mendekapnya, aku merasakan detak jantung kami seirama, dia menatapku, dan aku menatapnya. Pandangan kami terkunci. Aku tersesat dalam tatapannya, dia tersesat dalam tatapanku, aku seketika merasa penuh, bahagia tak terkira sekaligus merasa haru tak terperi. Dan dia pun terlelap dalam pelukanku.

Esok harinya, aku menyusuinya kapan pun ia menangis. Drama dimulai saat malam hari, bermula ketika Ghaza mulai terlihat gelisah. Terkadang ia menolak di susui dan lama kelamaan tangisnya semakin kencang. Saat itu hanya ada kami bertiga. Suster pun sempat masuk karena mendengar suara Ghaza yang menangis terus menerus. Di saat itulah aku mulai merasa panik! Kehadiran suster itu yang menanyakan ada apa dengan bayiku, mungkinkah sakit perut, apakah ASIku sudah keluar, membuatku merasa disudutkan. Aku takut di vonis tidak memiliki ASI, aku takut Ghaza diberi sufor lagi, aku takut ternyata tidak becus menjadi ibu. Iya, saat itu pikiran buruk merasukiku. Pada akhirnya Ghaza tenang dan tertidur pulas, aku pun bisa bernapas lega, meskipun pikiran buruk itu masih menghantui.

Tengah malam, Ghaza terbangun dan menangis lagiq. Ia segera kugendong dan kususui. Hanya sebentar ia menyusu, kemudian melepasnya dan menangis kembali. Kucoba susui lagi, dia pun menyusu kembali, tapi melepasnya lagi dan menangis lebih kencang. Pola itu berlanjut terus hingga pagi hari. Bergantian aku dan Pai menggendongnya, diselingi beberapa kali kucoba untuk menyusuinya. Aku panik! Rasanya hatiku teriris-iris mendengar suara tangisnya. Aku lelah, mengantuk dan perutku terasa semakin perih. Terkadang karena kelelahan, Ghaza tertidur dalam gendongan kami, lalu terjaga kembali dan masih terus saja menangis. Aku langsung menduga ia kelaparan! ASIku tak cukup! Ia, buyar semua hal-hal yang kupelajari. Meskipun ketika kucoba perah, ASIku keluar, aku merasa itu mungkin terlalu sedikit. Anakku kelaparan!!!

Aku akhirnya turut menangis bersamanya dan meminta Pai membuatkan susu untuknya. Ya, aku menyerah. Tapi di kamar kami tidak memiliki air hangat dan setahu kami membuat susu diperlukan air hangat. Pai berusaha menenangkanku sembari ia menggendong Ghaza. Saat itu aku begitu panik sehingga takut menggendongnya. Ketika matahari terbit barulah Ghaza tertidur. Saat itu aku sudah dipenuhi pikiran kalau ia kelaparan, sehingga tetap meminta Pai membuatkan Ghaza susu saat air hangat telah kami dapatkan. Dan sebotol sufor pun masuk lagi di tubuhnya.

Ketika tanteku datang, aku pun bercerita perihal semalam. Ia pun mengajariku untuk tiap 3 jam sekali, menyusui Ghaza, meskipun saat itu dia tertidur, bangunkan saja sebentar untuk menyusui, karena bayi mudah lapar katanya.

Setelah cukup tidur dan merasa tenang, aku mengingat apa saja yang telah kupelajari mengenai menyusui. Aku ingat kalau lambung bayi yang baru lahir hanya sebesar buah anggur, karena itu mereka hanya membutuhkan sedikit ASI dalam sekali minum, tapi dengan frekuensi yang sering. Ini sejalan dengan apa yang tanteku sarankan. Hari itu Ghaza banyak tidur, aku membiarkannya tidur begitu saja dan hanya menyusuinya ketika menangis. Mungkin malamnya dia sangat kelaparan sehingga menjadi sangat gelisah.

Aku juga mengingat bahwa keadaan di dalam kandungan begitu tenang, begitu damai, ketika bayi lahir, ia dihadapkan pada keadaan yang jauh berbeda dengan saat ia dalam kandungan. Ia butuh beradaptasi. Dan bentuk komunikasi bayi ya cuma itu, menangis. Mungkin ia ketakutan, merasa asing, dan hanya butuh ditenangkan. Sialnya, aku yang seharusnya menenangkannya malah ikutan panik, cemas, khawatir, sehingga semakin menjadi-jadilah tangisnya. Apalagi sebelumnya, kami kedatangan banyak pengunjung. Ia digendong berganti-gantiian, kamar kami bising oleh percakapan. Aku menduga saat itulah ia mulai merasa tidak aman. Belajar dari kejadian malam itu, aku mencoba tidak gampang panik dan menghadapi semuanya dengan tenang. Apakah berhasil?

Setelaha prahara itu (asik, lebay dikit gak apa dong ya), alhamdulillah hingga kini telah berusia 9 bulan, Ghaza tidak pernah lagi menegak sufor. Aku si berharap ia masih menyusui hingga berusia 2 tahun. Tapi drama menyusui memang tak ada habisnya…

Aku mengalami hal-hal yang dialami seorang ibu. Malam-malam panjang dengan waktu tidur yang sedikit. Badan pegal karena terus-terusan tidur hanya disatu posisi karena Ghaza terus menyusui sepanjang malam. Kehausan dan kelaparan terus menerus. Susahnya melepaskan diri dari si bayi yang terus menyusu, sehingga disuatu titik aku merasa diserap habis. Juga payudara yang membengkak dan sakitnya minta ampun.

Kadang aku tergoda memberikan Ghaza sufor, jika sudah begitu lelah, rasanya ingin meledak, butuh sendirian tetapi ia menempel terus, menyusu terus. Dengan sufor, aku bisa bebas menitipkan Ghaza jika ingin menyendiri, bersantai sejenak, atau pacaran dengan Pai tanpa perlu khawatir ia kelaparan. ASIP memang bisa sebagai alternatif tapi mempumping butuh perjuangan yang lebih lagi. Jadwal ketat yang harus ditepati, ketekunan dan kesabaran menunggu botol ASIP terisi, mensterilkan botol-botol, mencatat waktu dan tanggal. Aku malas. Rasanya hidupku hanya seputar itu saja. Belum lagi jika hasil pumping-nya tak sebanyak harapan, bisa-bisa menimbulkan rasa pesimis dan jatuhnya payudara tidak memproduksi ASI karena stress. Aku memang tetap mempumping, tapi hanya jika payudaraku terasa penuh saja. Resikonya, ya aku dan Ghaza jarang lepas. Tapi positifnya bonding kami kuat.

Seiring berjalannya waktu, aku semakin menikmati menjadi ibu. Juga proses menyusui ini. Bukan hanya Ghaza yang tak bisa lepas dariku, aku pun tak bisa berpisah terlalu lama dengannya. Dan ya, sekarang dia memang selalu ikut kemana pun aku pergi… Nikmati saja, nanti ada masa dia sudah tak mau lagi terus-terusan bersama bundanya ini. Nikmati saja…

Ah ya, perihal menyusui ini begitu sensitif untuk diperbincangkan. Postingan ini tidak ada niat untuk menyinggung ibu-ibu yang memberikan sufor terhadap anaknya, aku yakin semua ibu tahuu apa yang terbaik untuk anaknya. Dan untukku, untuk Ghaza, ASI adalah hal yang wajib kuberikan untuknya, hal yang terbaik buatnya.

Sedikit pesan untuk ibu yang sedang hamil, pelajarilah tentang menyusui dari sekarang. Lahaplah informasi terpercaya mengenai ASI dan menyusui. Jika pun pada awalnya kamu melupakan semua yang telah kau pelajari, insyallah pada akhirnya kamu akan kembali mengingatnya. Karena menyusui memang dengan keras kepala dan hati baja. Oh ia, dukungan keluarga, terutama suami sangat berperan besar dalam hal menyusui ini. Usahakan bukan hanya kamu yang belajar tetapi suamimu juga.


Well, happy breasthfeeding mom :*


You Might Also Like

16 comments

  1. MasyaAllah dwiii tulisannya bagusssssssss sekalii ini terharu bacanyaa ....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh Qiah saya jadi malu >.< padahal curcol ja ini hahaha

      Delete
  2. Wahh kalau saya yg nulis ini pasti sambil berlinang air mata mengingat masa-masa itu. Kamu udh hebat bgt kok saii..saya sukses IMD, ASI Eks 6 bulan, sampai 2 tahun dan menyapih tanpa drama belum tentu bisa setegar dirimu kalau kondisi saya dulu sama ky tulisanamu:*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah alhamdulillah ^^ doakan saya berhasil juga ya mba menyusui sampai Ghaza berusia 2 tahun.

      Delete
  3. asi memang tdk semudah yg kita pikirkan yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia ^^ pas udah menjalaninya baru deh ngerasain suka dukanya, hahaha

      Delete
  4. Semangat bundaaaa, setiap ibu punya kisah menyusuinya sendiri2, yang kadang tak terbayangkan akan bisa dilalui saat mengalaminya.

    ReplyDelete
  5. Waaaah, meskipun belum ketemu jodoh, informasinya bermanfaat sekaliiii. sehat terus kak dwi dan dedek bayi :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Diingat ya Tari buat bekal masa depan :p #ehh hahahaha~

      Delete
  6. ALhamdulillah moga sukses ngASI-nya sampai usia Ghaza dua tahun ya mbak :)

    ReplyDelete
  7. Akhirnya update lagi^^ Sehat terus adik Ghaza. Terharu bgt pasti kalau sdh besar baca tulisan ibunya ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah akhirnya bisa ngatur waktu luang buat menulis ^^
      Hihihi semoga aja dia gak malu perihal dia di publish di sini :p

      Delete
  8. Peluk Dweeee :(

    Ah gimana ya tuh dokter, masak gak ada nawarin atau nyuruh IMD. Tapi mungkin kondisi kamu jugak yg gak memungkinkan ya. Semoga kalian berdua sehat selalu. Aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pelukkkkk Beby~
      Iya gitu kali ya ^^ terimakasih Beby

      Delete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan