Rumah Kecil di Rimba Besar

5:27 pm


Little House In the Big Woods
By Laura Ingalls Wilder
Published by arrangement with HarperCollins Children’s Books, a division of HarperCollins Publisher, Inc.
Text copyright @1995 by Little House Heritage Trust
Pictures copyright @1953 by Garth Williams

Rumah Kecil di Rimba Besar 
Penerjemah: Djokolelono
Editor: Anton Sulistiyant, Eko Y.A Fangohoy
Setter: Deisy Rikayanti
Desain sampul: Hendry Kusumawijaya

Buku ini pernah diterbitkan dengan judul yang sama oleh BPK Gunung Mulia sampai cetakan ke-11.
Edisi revisi ini diterbitkan dalam imprint Libri, 2011

216 hlm; 18cm



Adalah Laura, seorang gadis kecil yang tinggal di Rimba Besar, di daerah Wisconsin, dalam sebuah rumah kecil kelabu yang terbuat dari balok-balok kayu. Pohon-pohon raksasa yang tinggi besar dan rindang mengelilingi rumah itu. Kalau seseorang berjalan ke arah utara dalam waktu sehari, atau seminggu, atau sebulan penuh, yang akan dilihatnya hanyalah pohon dan pohon, dan lagi-lagi pohon. Tidak ada rumah atau jalan. Tidak akan bertemu seorang manusia pun. Hanya pepohonan dan binatang-binatang yang hidup di antara pepohonan raksasa itu.

Serigala tinggal di Rimba Besar. Juga beruang dan kucing-kucing hutan yang besar-besar. Di anak-anak sungai, hidup tikus kesturi, cerpelai berbulu halus, dan berang-berang. Rubah bersarang di bukit-bukit dan rusa terdapat di mana saja.

Di sebelah timur dan barat rumah kecil dari balok kayu itu, terbentang pula daerah pepohonan berkilometer dengan beberapa rumah kayu di sana-sini. Kecil-kecil dan jumlahnya sedikit sekali. Inilah daerah pinggiran Rimba Besar.

Sejauh-jauhnya Laura memandang, baginya yang ada di dunia ini hanyalah rumah kecil yang ditinggalinya bersama Pa, Ma, Mary kakaknya, serta Carrie adiknya yang masih bayi.

Mendekati musim dingin, hari-hari terasa semakin pendek. Setiap malam kabut merayap di kaca jendela. Salju akan segera tiba dan rumah kayu yang kecil itu pasti hampir seluruhnya terbenam di dalam salju. Danau dan sungai-sungai akan membeku. Di musim dingin, sulit sekali bagi Pa untuk mendapatkan binatang buruan. Hal itu dikarenakan bangsa beruang akan bersembunyi di dalam gua-gua mereka dan tidur nyenyak sepanjang musim dingin. Bangsa tupai tidur melingkar di sarang-sarang mereka di lubang-lubang pohon. Rusa dan kelinci makin liar, makin penakut, dan bertambah gesit. Kalaupun Pa dapat menembak seekor rusa, sudah pasti rusa itu kurus kering, tidak gemuk, berdaging seperti di musim gugur.

Karena itu, sebelum musim dingin tiba, persediaan makanan harus ditumpuk sebanyak-banyaknya di dalam rumah kecil tersebut. Laura dan Mary akan sibuk memantu Pa dan Ma mengawetkan makanan; mengasinkan lalu mengasapi daging rusa, menggarami ikan, mengumpulkan hasil kebun dan disimpan di gudang bawah tanah, merebus lemak babi, menggoreng kulit babi, membuat acar daging, dan membuat sosis. Laura dan Maryhanya bekerja terus, banyak hal mengasikkan ketika membatu Ma dan Pa mengumpulkan makanan untuk persediaan musim dingin. Seperti menikmati daging rusa dan ikan yang segar, bermain balon dari kandung kemih babi, mencicipi sate ekor babi dan masih banyak lagi.




Ketika Rumah Kecil hampir penuh dengan persediaan makanan untuk musim dingin yang panjang. Laura dan Mary tidak boleh lagi bermain di luar rumah, hawa sudah menjadi terlalu dingin dan daun-daun yang kecoklatan mulai berguguran. Laura dan Mary akan bermain di loteng, bermain rumah-rumahan di antara labu-labu besar. Atau membantu Ma membuat keju, mentega dan kue. Ketika malam tiba, angin bertiup sepi, mereka akan mendengarkan dongeng dari Pa atau mendengarkan Pa memainkan biolanya dan bernyanyi, menjaga keluarganya tetap hangat dan aman.

Bagiku kehidupan keluarga Laura yang sederhana ini begitu arif. Terlihat sekali hubungan orangtua dan anak yang begitu akrab dan bikin sirik, hubungan persaudaraan antara Laura dan Mary yang meski pun kadang dibumbui pertengkaran dan persaingan tetapi terlihat sekali bahwa mereka saling menyayangi. Rumah kecil mereka selalu hangat dan semuanya bahu-membahu bekerja, saling membantu, terlihat begitu indah buatku. Mungkin juga karena saat itu belum ada teknologi (hp, internet dll), interaksi diantara mereka itu intim dan manis, setiap hari adalah waktu untuk bersama keluarga.

Bermain salju, merayakan natal, menghadiri pesta dansa di rumah kakek, pergi ke kota, menantikan kunjungan saudara, bermain-main bersama sepupu yang berkunjung, memperhatikan orang-orang dewasa bekerja, dan membantu Ma dan Pa, entah mengapa hal itu terasa sangat mengasikkan, mendalam, mesra dan mendebarkan. Tentu saja part favoritku ketika Pa mulai bercerita atau memainkan biolanya dan benyanyi. Sensasinya seperti dipeluk #apeuw




Sepertinya karena membaca buku ini sewaktu kecil dan mengingat rumah kecil dimana aku dibesarkan, aku pun selalu bermimpi memiliki rumah kecilku sendiri. Semoga saja impian itu segera terkabul. Amin!!!

“Walaupun kita mengembara,
di antara kemewahan dan istana-istana
rumah tercinta tidak ada bandingnya
walaupun sangat sederhana.”
_Halaman 158

Membaca kembali buku ini terasa sama mengasikkannya seperti dulu. Mungkin malah lebih asik, karena saya tak kuasa bernostalgia, mengingat-ingat saat pertama kali saya membaca buku ini, moment-moment di mana saya dan Abah ke toko buku berdua dan saya bisa bebas memilih buku apa pun yang saya inginkan.

Hanya saja… saya baru menyadari buku ini memuat hal rasis ._.
Dihalaman 42, Pa bercerita sewaktu ia kecil dia mengkhayalkan dirinya sebagai pemburu perkasa, yang sedang berburu binatang-binatang liar dan orang-orang Indian. Berburu orang Indian?!! Waduh emang mereka hewan liar apa? Bukan manusia yang berhak untuk tinggal dan mencari makan di bumi ini?!! Yiah saya sadar si, di masa itu orang Indian dianggap sebagai suku bar-bar. Tapi tetap saja…

Selain perihal rasis itu, saya merekomendasikan buku ini untuk siapa saja yang menyukai kisah-kisah sederhana tentang keluarga. Juga untuk orangtua yang ingin memberikan bacaan berkualitas untuk anak-anaknya. Narasi buku ini sederhana, sesederhana ceritanya dan juga dilengkapi ilustrasi cantik nan memukau.

“Ia sekarang gembira atas rumah yang nyaman, Pa, Ma, cahaya api, dan musik. Semua itu tidak akan terlupakan, sebab sekarang adalah sekarang. Sekarang tidak akan menjadi milik hari-hari silam.”
_Halaman 213

You Might Also Like

17 comments

  1. wah aku suka cerita yang ada ilustrasinya kayak gini,
    mengingatkanku zaman TK
    Oh tapi sekarang aja aku masi koleksi cerita cerita dongeng

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga suka banget ilustrasinya ^^ Toss aku juga koleksi buku-buku dongeng ^^

      Delete
  2. Baru liat potongan Yg gambarnya di foto dari halaman buku. Hawa. Kreatif kreatif..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku roaming >.< Yang mana ya maksudnya? Fotonya? Atau latar bukunya?

      Delete
  3. baru mampir sudah langsung suka sama tulisanya, saya follow ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah terimakasih ^^ semoga betah ya

      Delete
  4. ini cerita Laura yang juga jadi serial TV di 80'an dg judul little house on the prairie bukan sih?

    ReplyDelete
  5. Aku suka banget seri ini :)

    ReplyDelete
  6. Suka gambar-gambarnya.. Khas 90-an banget, ya ngga sih? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia ya gambarnya bagus banget ^^ khas 70an kayaknya :p soalnya ni buku udah lama banget!

      Delete
  7. buku favoritkuuuuuu ^o^..lengkap edisinyaa...malah saking fansnya, aku tuh punya bucket list, HARUS BISA KE MUSEUM LAURA INGALS di Missouri sanaaaa ^o^. pgn liat dr deket barang2 yg pernah dibikin Pa...ihhh excited bgt baru ngebayangin ajaa!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huwaaa toss ^^ hehehe
      Aku juga punya lengkap seri Laura ^^ ini mau reread ulang sekaligus direview ^^ Aku juga mau ke Museum Laura!!! Ajak aku!!! >.<

      Delete
  8. bagus yaa ilustrasinya :D koleksi gua belum lengkap neeh XD

    ReplyDelete
  9. Ini adalah salah satu serial favorit saya. Sangat luar biasa. Saya selalu menikmati setiap lembarnya. Ceritanya sangat sederhana dan 'terlampau biasa', tetapi justru dari yang biasa itulah, kemanusiaan kita tergerak. Dulu pernah membaca beberapa seri, tetapi dalam bentuk cerita gambar (gambarnya lebih banyak dari ceritanya), baru tahu dari blog mbak dwi kalo ternyata ada yang mirip novel ya.

    ReplyDelete
  10. Keren, salah satu seri buku terbaik yang pernah ditulis. Sederhana namun memperkaya karakter pembaca. Harusnya jadi bacaan wajib di sekolah.

    ReplyDelete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Beautiesquad