Cadas Tanios

3:16 pm


Le Rocher de Tanios
By Amin Maalouf
@ Editoins Grasset & Fasquelle, 1993
Izin copyright dibantu oleh Kedutaan Besar Perancis di Indonesia

Cadas Tanios
Penerjemah: Ida Sundari Husein
Desain sampul: Ipong Purnama Sidhi

Hak terjemahan Indonesia pada Yayasan Obor Indonesia
Diterbitkan pertama kali oleh Yayasan Obor Indonesia
Edisi pertama: Juli 1999

262 hlm; 21 cm


Novel karangan Amin Maalouf dan mendapat penghargaan Prix Goncourt 1993 dan Grand Prix de Lecteurs 1996 ini membawa kita ke sebuah desa di pegunungan Lebanon dan mempertemukan kita dengan Tanios, putra Lamia, istri Kepala Rumah Tangga Istana yang cantik jelita, idaman setiap pria. Kelahiran Tanios disambut gembira ayah dan bundanya, sanak saudara, dan seluruh penduduk desa, karena sudah lama di tunggu-tunggu. Namun ada desas-desus, ayah Tanios adalah Cheikh, Penguasa desa itu. Tetapi sang penguasa bersumpah dengan jari terkembang di atas Injil di depan bibi Tanios, bukanlah dia yang membuahi Tanios. Namun nasi sudah jadi bubur, gunjingan orang tak kian reda, melainkan menjalar kemana-mana. Ketiadaanpastian mengenai siapa ayahnya sebenarnya menjadi titik awal dari semua peristiwa yang menimpa Tanios semasa kecil, dan mencapai puncaknya ketika pada suatu hari ayahnya, anak buah kesayangan sang Penguasa, anak buah yang penurut, rajin, pendiamtanpa keinginan yang lebih tinggi selain mengabdi pada majikannya, menghadang Pemimpin Gereja di sebuah hutan pinus di lembah desa dan meremuk kepalanya dengan sebutir peluru yang ditembakkan dari sebuah senapan hadiah seorang utusan pemerintah Inggris bagi Sang Penguasa, untuk membela anaknya dan kehormatan dirinya sendiri.

Tabios dan ayahnya lari bersama dari desanya, di kejar-kejar ketakutan siang dan malam. Kisah yang berlatar belakang keadaan zaman 1830-an ini, zaman pertarungan seru adu pengaruh antara negara-negara besar pada waktu itu, menghanyutkan kita dan sekaligus membuat kita terpana betapa nasib seseorang ditentukan oleh tangan-tangan yang tidak tampak dan kekuatan yang lebih besar.

DIBAWAH INI ADALAH HAL-HAL YANG SAYA RANGKUM DARI DISKUSI BUKU YANG DIADAKAN DI GRUP WHATSAPP @KLUBBUKU. SAYA SENDIRI BELUM SEMPAT MEMBACANYA. POSTINGAN SEGERA AKAN SAYA REVISI SETELAH MENAMATKAN BUKUNYA.


Adalah sebuah Cadas di suatu desa di Lebanon yang bernama Cadas Tanios. Cadas itu diberi nama Tanios dikarenakan seorang pria bernama Tanios duduk membatu di atasnya dan kemudian hilang tak berjejak. Hal itu menjadi buah bibir masyarakat, apalagi Tanios sudah sedari kecil menjadi bahan gossip di masyarakat. Tanios, begitulah namanya, adalah anak seorang perempuan cantik yang menjadi idaman setiap pria, Limia. Limia sendiri adalah istri seorang Kepala Rumah Tangga penguasa desa, Gerios. Saat kelahiran Tanios, Cheikh berkeinginan memberikan nama kepadanya, hal itu menimbulkan kecurigaan dan desas-desus di seluruh desa. Gerios yang tujuan hidupnya hanyalah melayani tuannya dengan sebaik-baiknya dengan tidak enak hati menolak nama pemberian Cheikh dan menamakan putranya Tanios. Meskipun begitu, hal tersebut tidak meredakan desas-desus tersebut, Tanios besar dengan ketidakpastian siapakah ayahnya.

Ketika ia dewasa, Gerios demi membela putra dan kehormatannya, juga dikuasai amarah membunuh pendeta desanya. Setelah itu bersama Tanios, mereka melarikan diri. Hidup berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lainnya, dihantui teror yang mengejarnya. Dalam pelarian itu, mereka berjumpa dengan banyak orang dengan watak yang berbeda-beda. Tanios juga bertemu seorang wanita yang membuatnya jatuh cinta.

Berlatar tahun 1830, dimana Lebanon berada ditengah-tengah perang besar antara Mesir, Turki, Perancis dan Inggris. Ketika agama digunakan untuk melancarkan politik kepentingan dan kekuasaan. Tidak hanya berkisah tentang hubungan ayah dan anak, buku ini juga mengangkat bagaimana politik biasanya hanyalah tentang kepentingan dan kekuasaan beberapa pihak saja.

Di klub buku sendiri mereka (yang mengikuti diskusi dan telah membaca bukunya) bersepakat bahwa ini buku tentang politik dengan tokoh-tokoh di dalamnya yang terlibat secara kebetulan maupun disengaja. Banyak yang menyayangkan kelemahan Gerios, tetapi begitu terharu akan besarnya cinta yang ia berikan terhadap Tanios. Adegan paling menyentuh bagi mereka adalah ketika pada akhirnya, untuk pertama kalinya Tanios memanggil ayah kepada Gerios. Untuk politik di buku ini, saya tidak terlalu mengerti, mungkin nanti saya akan mengerti setelah membaca sendiri bukunya.


Pada akhirnya Cadas Tanios adalah simbol kekuasaan, kebengisan, dan keserakahan.

You Might Also Like

9 comments

  1. izin membaca dan menyimak dulu iya :)

    ReplyDelete
  2. mbak,, mau nanya bedanya resensi dan review itu apa ya?? hhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama aja ^^ bedanya cuma satu bahasa Indonesia dan satunya lagi bahasa english ^^

      Delete
  3. Mbak ._. bacaanmu kok berat, berbobot dan bersejarah gitu ya ._. bertolak belakang sama aku yang bacanya novel komedi hahaha hihihi :D keren mbak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh gak juga sih ^^ bacaanku paling banyak fantasi dan buku anak-anak malah. Mungkin ini kebetulan aja kali ya jadi bacaan bulanan di klub buku ^^

      Delete
  4. eh, commentku masuk nggak sih ._.

    ReplyDelete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan