Dua Belas Pasang Mata

8:50 pm



Nijushi No Hitomi
By Sakae Tsuboi
Copyright @ 1952 Koichi Kato
All rights reserved

Dua Belas Pasang Mata
Alih bahasa: Tanti Lesmana
Desain dan ilustrasi sampul: Yulianto Qin

Hak cipta terjemahan Indonesia: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama

248 hlm; 20 cm

Sebagai guru baru, Bu Guru Oishi ditugaskan mengajar di sebuah desa nelayan yang miskin. Di sana dia belajar memahami kehidupan sederhana dan kasih sayang yang ditunjukkan murid-muridnya. Sementara waktu berlalu, tahun-tahun yang bagai impian itu disapu oleh kenyataan hidup yang sangat memilukan. Perang memorak-porandakan semuanya, dan anak-anak ini beserta guru mereka mesti belajar menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.


Adalah sebuah desa yang sederhana di Laut Seto dengan mayoritas masyarakatnya adalah petani dan nelayan. Penduduk desa itu jumlahnya hanya sekitar seratus keluarga, dan desa tersebut terletak di ujung sebuah tanjung yang panjang, sehingga teluknya tampak seperti danau. Karenanya, orang-orang desa yang hendak pergi ke kota-kota dan dusun-dusun di seberang teluk mesti menggunakan perahu, atau berjalan memutar di jalur setapak yang panjang dan berliku-liku melintasi perbukitan.

Berhubung desa itu sangat terpencil, anak-anak yang sudah memasuki usia sekolah dasar belajar di sekolah cabang yang ada di sana, selama empat tahun pertama. Setelah naik ke kelas lima, untuk pertama kali barulah mereka diperbolehkan pergi ke sekolah desa utama yang jauhnya lima kilometer.

Sejak dulu sekolah cabang itu memiliki dua orang guru: seorang guru laki-laki yang sudah sangat tua, dan seorang guru perempuan yang masih sangat muda. Guru tua itu tinggal di ruang jaga malam di sebelah ruang kelas, sedangkan guru perempuan yang masih muda mesti menempuh jarak jauh kesekolah setiap hari. Guru yang tua mengajar anak-anak kelas tiga dan empat, sedangkan guru yang muda mengajar anak-anak kelas satu dan dua.

Hari itu, seorang guru muda yang baru akan datang mengajar. Guru muda yang ditugaskan mengajar di sekolah cabang itu biasanya adalah anak yang baru saja lulus SMA, “setengah matang”.  Semua orang menanti-nantikan kedatangan guru baru tersebut. Apalagi anak-anak yang sudah besar, yang telah bersekolah di sekolah utama, mereka tidak sabar untuk bertemu di jalan dengan si guru baru dan menggodanya. Tapi tak disangka-sangka, guru baru itu, Bu Guru Oishi membuat mereka semua (warga desa, Pak Guru, murid lama dan baru) terkejut. Bu Guru Oishi teramat mungil dan memakai pakaian barat juga menaiki sepeda ke sekolah, belum lagi dia ternyata adalah lulusan sekolah guru wanita, bukan dari SMA biasa. Bersamanya ia membawa banyak perubahan dan kemodern-an meskipun pada awalnya ia sering disalah pahami.

Pada bab-bab pertama, buku ini mengingatkan saya pada kisah Anne-nya L.M Montgomery, saat-saat ia menjadi guru, menghadapi kenakalan anak-anak didiknya dan ketidaksukaan masyarakat terhadap orang asing. Juga tentang pribadi masing-masing muridnya tentu saja… Hal yang paling membuatku tersentuh adalah adegan kedua-belas murid Bu Guru Oishi yang diam-diam menempuh jarak yang sangat jauh untuk menjenguk beliau yang sedang sakit.




Setelah itu kisah akan melompat ke lima tahun kemudian, Bu Guru Oishi yang pindah mengajar ke sekolah utama bertemu lagi dengan sebelas muridnya, seorang lagi tinggal kelas. Anak-anak itu telah bertumbuh di tengah suka cita dan kesedihan-kesedihan mereka sendiri. Mereka tumbuh sewajarnya tanpa menyadari bahwa saat ini mereka berada di tengah-tengah gelombang sejarah yang mahabesar. Mereka tidak tahu apa yang menanti di depan sana…

Pada bagian ini kisah di buku mulai terasa suram dan memilukan, Jepang saat itu sedang bergolak, bermula empat tahun lalu 15 Maret 1918 dan 16 April 1919 banyak orang Jepang menuntut kemerdekaan bagi rakyat serta merencanakan reformasi dipenjara oleh pemerintah yang menekan gagasan-gagasan progresif. Disusul bencana kelaparan di Honshu Utara dan Hokkaido, kemudian insiden Manchuria dan Shanghai dan beberapa lelaki dari desa tanjung dipanggil untuk menjadi tentara. Dan tidak lama kemudian, semua orang di kedua desa mulai merasakan dampaknya, tidak terkecuali Bu Guru Oishi dan kedua-belas muridnya. Hingga puncaknya pada tahun 1945, ketika Jepang menyerah kepada sekutu.

Bagaimanakah kehidupan Bu Guru Oishi dan kedua-belas muridnya?
Mampukah mereka bertahan di tengah kekejaman perang?
Dan mampukah mereka melanjutkan hidup setelah perang itu berakhir?

Buku ini beralur superlambat dengan banyak deskripsi di sana-sini, kalau kataku sih khas tulisan orang Jepang banget, tapi mungkin akan terasa membosankan untuk sebagian orang. Bagiku tipe buku semacam ini memang untuk dibaca pelan-pelan, bukan sekali duduk langsung tamat.

Buku ini sangat antiperang. Melalui mata kedua-belas anak yang polos, kita diperlihatkan kekejaman dan ketidakmanusiawian perang. Juga melalui mata seorang perempuan, seorang ibu dan istri, yang paling berat merasakan dampak perang, kehilangan suami, bahkan mungkin anak laki-laki, dan harus membanting tulang menghidupi anggota keluarga yang tersisa saat dan setelah perang. Mungkin terlihat naif, tapi buku ini memang hanya memperlihatkan ketidaksetujuan pada perang dan kecintaan murni pada umat manusia. Kau tidak akan menemukan hal-hal tentang mengapa perang terjadi atau perang yang dapat dibenarkan di buku ini. Tapi hey?! Bukankah begitulah seharusnya? Mengapa kita saling merampas dan membunuh???

Melalui buku ini, saya juga belajar bahwa berlangsungnya perang dan penjajahan juga menyulitkan masyarakat yang tinggal di negara yang memulai perang dan penjajahan tersebut, tidak hanya oleh masyarakat yang diperangi/dijajah. Lalu sebenarnya perang itu untuk apa? Nafsu menguasai dan merampas itu untuk apa?

Sebuah karya yang bagi saya teramat menyentuh~

“Seandainya masa depan yang menunggu anak lucu ini hanyalah perang, lalu apa artinya memiliki, mencintai, dan membesarkan anak-anak? Mengapa orang tidak diperbolehkan menghargai nyawa manusia dan mencegah supaya mereka tidak mati kena peluru serta hancur berkeping-keping? Apakah menjaga ketentraman umum berarti melarang kebebasan berfikir, bukannya menghargai serta melindungi nyawa manusia?”
_Halaman 186

Terimakasih untuk Tante Monster Pipi yang telah menghadiahkan buku ini kepada saya ^^

You Might Also Like

13 comments

  1. hmmm.
    mungkin sama seperti buka dan film-film romance jepang kebanyakan: alurnya super....lambat.
    btw, oishi itu artinya kan enak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia khas orang Jepang kali ya ^^ padahal mereka orangnya "terburu-buru", tidak ada waktu yang terbuang percuma.

      Eh ia ya artinya enak? Entahlah~ hehehehe

      Delete
    2. kalau menurut aku justru sepertinya tidak seperti itu ?
      karena dari kebanyakan aku lihat sejarah sejarah dulu di jepang kalau mereka memang sangat mementingkan waktu akan tetapi mereka juga berjalan pelan karena ingin memastikan kemenangan dan berbagai hal yang dapat membuat mereka untung. layaknya pelayan nobunaga oda, hide matsukichi kalau saya gak salah namanya. dia sudah lama berperan bersama oda nobunaga memang cukup lama tapi akhirnya ia berhasil merebut seluruh kekuasaan yang ada saat itu.

      Delete
  2. ngomong2, followback blog dong :)
    hehehe...

    ReplyDelete
  3. Mau bukunya ahh~
    Anyway, salam kenal ya. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hay salam kenal juga ^^ semoga bukunya masih ada ya, soalnya aku dibeliin buku ini tahun lalu.

      Delete
  4. Berkaitan dengan guru, ada film bagus juga,, judulnya Detachment... menarik itu... haha salam kenal..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah nanti aku coba nonton deh ^^ Salam kenal juga ya ^^

      Delete
  5. wah bukunya menarik mbak,salam kenal ya :)

    ReplyDelete
  6. Kak, ini masuk kategori buku klasik bukan ya? :D
    Biasanya beli buku klasik/dongeng gitu di mana? (kalau via online nya)

    Gara-gara baca blog ini jadi pengen baca tentang itu :D *racun nih*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya belum masuk buku klasik deh ^^
      kalau jajan buku online aku biasanya di foboekoe atau @jualbukusastra dan beberapa ol shop di FB ^^

      Delete
    2. Terus masuknya ke kategori apa nih? Buku terjemahan? ._.

      Oke, terima kasih ^^ *brb ke akun itu*

      Delete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan