Mengenang Perempuan Tercantik di Dunia

3:27 am


Kepahlawanan adalah perihal sifat pahlawan (seperti keberanian, keperkasaan, kerelaan berkorban, dan kekesatriaan)

Bagiku dia salah satu perempuan tercantik di dunia. Tubuhnya yang mungil, rambutnya yang panjang bergelombang, senyumnya yang lebar menampakkan deretan gigi yang putih, dan kulitnya yang berwarna kuning langsat menarik perhatian siapa saja; orang dewasa maupun anak-anak, lelaki maupun perempuan. Dalam hati, aku selalu berharap suatu hari kelak bisa secantik dirinya.

Selayaknya perempuan lainnya, dia sangat suka bersolek. Melakukan perawatan tubuh ini dan itu dan setiap pagi meminum jamu buatan langganannya. Aku dan kakakku pun tak luput dari itu. Sedari kecil rambut kami terbiasa diolesi minyak kemiri atau minyak kelapa yang dia buat sendiri. Kulit kepala kami dipijat-pijatnya lembut dan minyak itu dibalurkannya dari kulit kepala hingga ujung rambut. Kadang juga dia akan memetik lidah buaya yang ia tanam sendiri dan menggosok-gosokkannya di kepala kami sebelum mandi. Jika dia melakukan itu, aku akan protes keras dan berusaha lari. Aku sangat tidak menyukai bau tanaman itu, sakkulu’(bau ketek), membuatku ingin muntah. Tapi dia yang telah mengetahui gelagatku, telah terlebih dahulu mengunciku dalam pelukannya dan membuatku tak bisa kemana-mana. Itu baru rambut, belum badan kami yang setiap minggu akan dilulur dengan lulur racikannya atau pun lulur yang dibeli di toko. Tak bisa kusangkal dari dialah, aku belajar merawat dan menghargai tubuhku sendiri. Katanya, dengan merawat tubuh, kita mensyukuri dan menjaga pemberian Tuhan.

Lucunya, meski pun sangat suka bersolek dan menerapkan hal tersebut kepada kami, dia tidak pernah melarangku bermain-main sepuasnya di bawah terik sinar matahari, bermain hujan, turun kerawa-rawa menangkap ikan, memanjat pohon, dan bermain air ketika banjir. Dia merasa meskipun merawat tubuh penting, bertualang dan memuaskan rasa ingin tahuku pun penting. Dan ya memang, dia jarang melarangku melakukan apa pun yang aku inginkan. Dia menemaniku dan membiarkanku merasakan resiko dari semua keinginanku, baru setelah itulah kami duduk berbincang tentang benar dan salahnya. Salah satu kebiasaan bersamanya yang sangat kurindukan saat ini.

Dari mata seorang anak kecil saat itu, dialah ibu terhebat sedunia!!!
Telinga yang selalu ada untuk mendengar ocehanku, tawaku, keluhan dan curhatanku, bahkan tangisku. Lengan yang selalu memelukku jika dibutuhkan. Mata yang selalu awas mengawasiku. Dan kehadirannya yang selalu membuatku merasa aman.

Ah ya, jika kalian belum menebak, perempuan yang sedang kuceritakan ini adalah ibuku. Aku memanggilnya Andi’ (untuk seterusnya aku akan menggunakan sapaan ini). Mungkin bagi semua orang, ibu adalah sosok pahlawan pertama yang ia kenal dan sangat berjasa dalam hidupnya. Begitu pun bagiku. Andi’ adalah pahlawan untukku. Seorang perempuan yang melahirkanku dengan susah payah hingga hampir saja membuatnya meregang nyawa.

Aku yang mendengar dari tante maupun sepupuku tentang bagaimana proses kelahiranku berlangsung pun bergidik ngeri. Diceritakan oleh mereka bagaimana Andi’ harus mengejan begitu lama karena aku yang menolak keluar padahal air ketuban sudah pecah. Bagaimana tenaga Andi’ terkuras habis dan aku tetap ngotot belum mau keluar sehingga suster harus naik ke perutnya dan membantunya mendorongku keluar. Tentang sumpah yang keluar dari mulut Andi’ untuk tidak mau lagi melahirkan. Hingga kepanikan ketika aku tidak juga mau menangis saat telah lahir hingga Andi’ menyangka aku telah tiada... Anehnya kisah ini tidak pernah sekali pun kudengar dari mulut Andi’. Dan mengapa aku tidak menanyakannya? Entahlah... mungkin aku berfikir masih banyak waktu untuk itu. Hal ini dan pertanyaan apakah ia pernah merasa menyesal melahirkanku dan pertanyaan-pertanyaan sesederhana apakah dia mencintaiku, menjadi hal-hal yang tidak lagi bisa kutanyakan padanya.

Kehebohan saat melahirkanku ternyata tidak hanya sampai di situ saja. Aku menjadi bayi yang sakit-sakitan-- yang tentunya memberikan kerepotan dua kali lipat dibandingkan bayi yang sehat -- dan berujung saat usiaku genap empat bulan, aku tiba-tiba saja berhenti bernapas dan badanku membiru. Aku pun dibawa kerumah sakit... Tidak berapa lama kemudian, dokter menyatakan aku meninggal. Bayangkan jika kau seorang ibu dan bayi yang baru empat bulan lalu kau lahirkan dengan susah payah meninggal... bagaimana perasaanmu?!! Andi’ bercerita bahwa saat itu dia langsung pingsan. Lalu terjaga dengan histeris dan melibatkan banyak air mata. Syukurlah aku kembali, hidup sekali lagi (jangan tanya bagaimana rasanya mati itu, perihal ini saja aku tahu karena diceritakan).

Abaku (ayahku) mengidap penyakit diabetes. Diabetes Aba sudah parah, sehingga setiap mau makan harus disuntik insulin terlebih dahulu. Akan sangat merepotkan jika setiap mau makan Aba  harus ke dokter untuk disuntik sedangkan untuk mempekerjakan suster di rumah akan menghabiskan terlalu banyak uang. Maka Andi’ belajar menyuntik pada suster di rumah sakit tempat Abaku pernah dirawat. Dengan cepat Andi’ sudah ahli melakukannya, bahkan Aba merasa cara Andi’ menyuntik tidak ada rasanya, tau-tau insulin itu sudah mengalir di pembuluh darahnya. Belum lagi tumit Aba yang bolong karena luka penderita diabetes sangat susah sembuh sehingga membusuk, harus dibersihkan tiap malam. Dengan telaten Andi’ membersihkannya, membasuhnya dengan air infus, memberinya obat merah kemudian ia perban dengan rapi. Mengontrol makan Aba dan mengecek kadar gula darahnya juga dilakukan Andi’ dengan seksama.

Ketika kondisi Aba semakin menurun dan hanya bisa berbaring saja di ranjang, Andi’ selalu ada di sisinya, merawatnya dengan sabar. Padahal tak jarang, Abaku karena stres tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan untuk buang air kecil harus dengan bantuan orang lain dan menggunakan pispot, ia menjadi sering marah-marah dan super duper manja. Andi’ tetap merawat Aba dengan penuh cinta dan tetap tidak lupa memperhatikan kebutuhanku dan kakakku. Sehingga saat itu kami tidak merasa diabaikan.

Lalu saat Aba’ meninggal, dia menghadapinya dengan kuat-- untuk kami -- dan menjadi orangtua tunggal yang luar biasa. Saat-saat itu adalah saat dimana kami (Andi’ dan aku) menjadi sangat dekat. Sebelumnya, aku adalah putri kecil Aba. Meskipun dekat dengan Andi’, aku jauh lebih dekat dengan Aba sewaktu kecil. Banyak hal mengasyikkan yang kulakukan dengan Aba, sementara Andi’ berperan mengajarkan kedisiplinan kepadaku. Kehilangan Aba, meskipun berat, tapi karena ada Andi’ membuatku bisa menghadapinya. Sebentara kakakku, saat masuk SMP telah tinggal di rumah tante, sehingga sepeninggalan Aba, di rumah hanya ada kami berdua. Untuk membunuh waktu kami menonton TV bersama hingga larut malam, hal yang biasanya kulakuan berdua dengan Aba. Kadang kami bermain kartu atau pun menggambar bersama. Andi’ sebenarnya tidak pintar menggambar, satu-satunya gambarnya yang bagus adalah gambar bunga matahari. Pernah, dia menggambar di atas selembar karton bekas lalu mengguntingya dan menyatukannya kembali sedemikian rupa, sehingga bunga matahari yang ia gambar itu tegak berdiri. Sangat cantik. Aku memajang gambarnya itu di atas meja belajarku, bahkan membawanya ke sekolah untuk kupamerkan pada teman-temanku.

Salah satu ritual kami bersama adalah tak pernah absen, setiap minggu sekali, mengunjungi kuburan Aba’ sambil membawa air dan kembang warna-warni yang dipetik sendiri dari taman Andi’. Bunga-bunga yang dulu Aba belikan untuk Andi’ yang dirawatnya hingga beranak pinak. Aku senang Andi’ tidak melupakan Aba dan tidak mencari penggantinya. Padahal jika mau, banyak lelaki yang ingin menjadi suami Andi’. Mungkin bagi Andi’ posisi Aba tidak tergantikan atau mungkin karena aku, yang digoda sedikit saja oleh orang-orang perihal ayah baru langsung menangis terisak-isak.

Saat masuk SMP, seringnya aku sampai di rumah saat hampir mendekati maghrib, itu karena anak kelas satu di sekolahku masuk siang dan pulang jam lima sore, sementara memang jarak rumah dan sekolahku terbilang jauh. Ada saat-saat dimana azan maghrib sudah lama berkumandang baru aku tiba di rumah. Aku sering mendapati Andi’ dengan gelisah menungguiku di ujung jalan kompleks rumah. Saat melihatnya itu aku dipenuhi perasaan haru dan sukacita, aku akan berlari mendekatinya, dan dia, setelah melihatku baik-baik saja, terlihat begitu lega dan menghadiai-ku senyumnya yang lebar merekah. Dan kami pun bersama-sama berjalan menuju rumah.

Andi’ sakit. Kabar itu kuketahui ketika sedang mengikuti JUMBARA Daerah (Jumpa Bakti dan Gembira tingkat daerah, acara PMR) di Soppeng. Aku yang menelpon Ibu (panggilanku untuk tanteku, saudari bungsu Aba) diberitahukan perihal itu. “Ohhh” itulah tanggapanku saat itu. Aku merasa Andi’ku yang kuat yang tidak pernah sakit, palingan hanya flu biasa saja. Lagian saat itu bukanlah waktu yang tepat untuk merasa khawatir, aku sedang dalam perlombaan.

Setiba di Makassar dan mengetahui bahwa Andi’ mengidap kangker payudara bahkan tidak membuatku terlalu khawatir. Andi’ku kuat, buktinya tidak ada yang berubah pada dirinya. Dia tetap sama saja seperti biasanya. Ceria, murah senyum, ramah, dan senang tertawa hahaha-hihihi bersamaku.

Saat saudara-saudaranya mengetahui penyakit yang diderita Andi’, mereka menginginkan Andi’ segera berobat ke Jakarta. Maka Andi’ pun berangkat ke Jakarta dan aku tinggal bersama nenek beserta tante, om dan sepupuku dari pihak Aba. Masa-masa hanya kami berdua pun berakhir. Aku sangat merindukannya dan pubersitasku memperburuk segalanya. Setiap liburan sekolah aku memang selalu mengunjunginya di Jakarta, hal itu mengobati kangenku, tapi melihat keadaanya yang menjalani kemoterapi membuatku terguncang. Pipinya menjadi tirus, kulitnya menjadi keriput dan kehitaman, rambut hitamnya yang indah rontok parah, meninggalkan pitak-pitak besar yang menyeramkan. Ia pun lalu mencukur habis rambutnya dan sambil tersenyum kepadaku berkata toh rambutnya akan tumbuh kembali setelah kemoterapi ini selesai.

Ada beberapa kali saat Andi’ tiba-tiba anfal. Hal itu membuatku ketakutan, sangat ketakutan. Meskipun ini bukan pengalaman baru bagiku, Aba juga sering tiba-tiba anfal, tapi dulu ada Andi’ ku yang kuat, sebagai tempatku berpegangan. Kini, aku serasa kehilangan pijakan, tak tahu harus bagaimana. Saat-saat itu aku hanya menangis dan terus menangis sambil bermohon pada Tuhan untuk tidak mengambil Andi’ku. Bukankah dia sudah mengambil Abaku?!!

Setelah enam bulan (aku lupa persisnya berapa lama, bagiku terasa sangat lama), Andi’ku akhirnya kembali ke Makassar. Operasinya berhasil, meskipun ia kini kehilangan sebelah payudaranya. Kami tinggal bersama lagi, juga dengan kakakku. Hidup kembali seperti sedia kala lagi bagiku. Sayangnya hal itu tidak berlangsung lama.

Lama kelamaan Andi’ku melemah. Ia sering meracau tentang orang-orang yang sudah meninggal juga tentang hidupnya yang tidak lama lagi. Aku membenci saat-saat itu! Aku tidak suka Andi’ku saat itu. Anggapanku dia menyerah pada hidupnya!!! Dan aku tidak suka dia membuatku sedih dengan berbagai ceramahnya jika dia sudah tidak ada lagi. Aku tak pernah mendengarkan apapun perkataannya dan memilih menjauh, mengunci diri dalam kamar. Beberapa hal yang kini sangat kusesalkan.

Lalu Andi’ berangkat lagi ke Jakarta untuk melakukan pengecekan atas penyakitnya. Aku merasa sangat lega saat itu. Aku sudah sangat tidak tahan berada di dekatnya. Rasanya menyesakkan dan menyedihkan. Andi’ku yang cantik, yang kuat, yang setiap melihatnya membuatku merasa aman, kini tak ada lagi. Ia terlihat menyedihkan. Aku melepasnya di bandara dengan perasaan lega. Aku tidak pernah berpikir itu saat terakhirku melihatnya. Aku meyakini, Andi’ akan kembali ke Makassar. Terlebih lagi aku yakin ia akan kembali dengan sosoknya yang seperti dahulu, seperti sebelum penyakit itu menggerogotinya.

Aku ingat hari itu hari senin, setelah libur lebaran kini waktunya kembali bersekolah. Aku duduk di kelas tiga SMP, telah berpakaian rapi dan siap berangkat ke sekolah waktu telpon rumah berdering. Aku pun mengangkatnya. Dari om ku, setelah tahu yang mengangkat telpon itu aku, dia mencari kakakku. Aku pun membangunkan kakakku, tanpa perasaan curiga sama sekali. Kakakku berbicara di telpon lalu kemudian menangis sedih. Memilukan. Aku segera tahu apa yang terjadi. Dan turut menangis. Karena apa lagi yang bisa kulakukan?

Setelah itu, setelah lelah menangis, setelah selesai pemakaman, takziah, dan segala sesuatunya hingga aku harus kembali menjalani hidupku. Aku pun merasa marah! Marah pada segala sesuatunya, Tuhan, Aba dan terutama pada Andi’ku. Dia tidak cukup sayang padaku untuk tetap bertahan. Dia pergi begitu saja karena tidak bisa lagi menahan rindu pada Aba!!! Bukankah dulu Andi’ sering menangis diam-diam ketika dia mengira aku telah tertidur pulas, menangisi kepergian Aba? Jadi dia menyerah pada hidupnya, demi bertemu Aba!

Lama waktu yang kubutuhkan untuk berdamai dengan kepergian Andi’ dan menyadari rasa sayang dan cintanya kepadaku. Juga hal-hal yang ia lakukan untuk kami, pengorbanannya hingga kami bisa seperti ini. Andi’ memang tak bisa menemani kami tapi hal-hal yang ia ajarankan dulu, prilakunya sehari-hari dan caranya bersikap pada orang-orang dan menyikapi jalan hidupnya menjadi contoh buat kami, terutama untukku.

Aku pun selalu merasa beruntung memiliki Ibu seperti Andi’.

Menurut KBBI, “Pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani”. Mungkin Andi’ bukan sosok pembela kebenaran, ia hanya perempuan biasa yang kebetulan menjadi ibuku. Selayaknya seorang ibu, dia akan berkorban banyak untuk anaknya, dimulai dari saat mengandung hingga akhir hayatnya...



You Might Also Like

2 comments

  1. Halo. Baru pertama kali main kesini nih. Ceritanya bagus, ngena di hati. Hehe. Salam kenal ya \:D/

    ReplyDelete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan