Jumatulis Season 2 - 06 SMA - Kisah Di Buku Tulis

1:04 pm

Sudah lama tak kulihat buku ini, kusangka telah lama hilang. Sebuah keajaiban menemukannya kembali di antara tumpukan barang yang menggunung di gudang. Sampulnya telah tertekuk dan berjamur, kertasnya telah menguning dan beberapa telah saling berdempetan. Aku membukanya perlahan, dengan kasih. Sebuah buku dari masa lalu, masa yang indah, kurindukan tapi tidak ingin kuulang kembali.

Ya, meskipun ini buku tulis biasa, tapi buku ini dahulu kugunakan sebagai diari. Menyimpan petualangan, pengalaman, pemikiran, dan kisah cinta pertama dari masa yang lalu, masa remajaku. Masa SMA yang kata orang adalah masa-masa termanis dalam hidup. Tersenyum aku membacanya dan seakan dibawa melintasi waktu dan kembali ke masa itu.
*****

Jelas kulihat seorang anak lelaki duduk di bangku depan jendela, tangannya sibuk mencoret-coret kertas dan sesekali ia menghembuskan nafas. Ini kali kedua aku melihatnya berdiam diri di kelas saat jam istirahat. Biasanya ia selalu bergerombol bersama temannya, menghiruk-pikukan kantin. Apa gerangan yang ia pikirkan? Dari bangkuku yang terletak jauh di belakang bangkunya, aku memperhatikannya. Memandang punggungnya dalam diam. Mengagumi punggung itu dan pemiliknya. (Arg dia gak mau noleh apa?!!) Tiba-tiba ia berbalik dan mata kami bertatapan, tersenyum ia menyapaku; "Tidak ke kantin?”.
“Tidak,” jawabku singkat sambil menunjuk novel yang sedang kupegang. Dia masih saja memandangku, sedikit kelabakan aku membenamkan mukaku ke dalam novel dan berpura-pura serius membaca. Malu...

Namanya Ghaza, Muhammad Ghaza Al Ghazali. Dia anak yang periang dan selalu memeriahkan sekitarnya. Senyum selalu menghiasi bibirnya, dan ketika ia tersenyum matanya menyipit dan kedua pipinya dihiasi lesung pipi, sangat manis. Dia memiliki kepercayaan diri yang tinggi, mungkin dia sadar dengan ketampanannya dan juga kecerdasannya. Tapi dia tidak sombong, dia bersedia berteman dengan siapapun. Temannya banyak, apalagi barisan pengagumnya. Di sekolah ini, dari siswa hingga penjaga sekolah dan Ibu Kantin mengenalnya. Singkat kata dia populer, sangat. Dan aku? Gadis biasa dengan nilai pas-pasan di matapelajaran IPA, lebih senang menghabiskan waktu istirahat dengan membaca novel dibandingkan nongkrong di kantin. Aku punya teman, tentu saja. Tapi di sekolah ini, aku ragu jika semuanya mengenalku. Aku cantik kok, aku tahu itu, tapi aku tidak terlalu menyukai berada dikeramaian. Dan terlalu malu untuk mendekatinya....

Ahhh... Ya tentunya aku salah satu dalam barisan pengagumnya. Aku mengaguminya dan menyukainya. Apakah ini yang dinamakan cinta? Mungkin tidak, hanya rasa kagum terhadap lawan jenis? Oke, ini terasa sangat aneh bagiku.
*****
Aku menutup buku itu, untuk sementara. Aku harus melanjutkan membereskan tumpukan barang di sini. Memilahnya, ada barang yang telah terlalu rusak dan tempat terbaiknya hanyalah di tempat sampah, beberapa masih bagus tapi tidak kuinginkan lagi, mungkin akan kuberikan kepada seseorang yang menginginkannya dan sisanya akan tetap kusimpan. Melelahkan juga rupanya, kegemaranku menumpuk barang seharusnya segera dihentikan. Hanya saja aku selalu merasa sayang membuang barang-barang, bagiku setiap barang itu memiliki kisah dan menyimpan kenangan. Melihatnya, membuatku bernostalgia, kembali pada kenangan yang dipicu oleh benda tersebut.

Aku suka mengenang, pada hal-hal indah dan manis, moment-moment terbaik hidupku, bahkan pada hal-hal sedih dan moment terburuk hidupku. Untuk yang indah-indah, aku mengenangnya untuk merasakan kembali sukacitanya dan bersyukur. Untuk yang sedih-sedih atau kesalahan yang pernah aku perbuat, aku mengenangnya untuk mengerti, menerima, dan belajar dari kesalahan yang mungkin kuperbuat.

Setelah semua barang-barang itu telah kupilah dan kurapikan, aku pun beranjak dari gudang, malam telah tiba, memilah dan merapikan barang yang ada di gudang itu ternyata menyita banyak waktu.
*****

"Belum pulang?"
"Hah? Ohhh ia... belum. Eh, mau, nanti." Kaget, terbata-bata aku menjawab pertanyaannya. Lonceng tanda pulang sekolah telah sedari tadi berbunyi, aku yang merasa nanggung untuk menutup novel yang sedang ku baca tidak mengidahkannya dan terus saja membaca. Tak sadar ia kini telah berada di depanku. Dia tersenyum jahil menatapku (GYAAAAAAA) lalu duduk di kursi tepat di depan bangku ku.
"Wow aku mengagetkanmu ya? Maaf ya, lagian kamu serius banget si bacanya."
"Hehehe ia nih, sudah mau tamat. Kamu kok belum pulang?" Celingak-celinguk aku memandang ke luar jendela, sekolah mulai terlihat sepi (DAN DI KELAS TERTINGGAL KAMI BERDUA SAJA!!!).
"Mau pulang nih tapi lihat kamu serius banget bacanya jadi ya..."
"Ini sudah mau pulang kok." Aku pun dengan terburu-buru memasukan barang-barangku ke dalam tas dan berdiri, beranjak ke luar.
"Hey! Ini novelnya kelupaan!" (DUH!) Di depan pintu aku berhenti dan menunggunya membawakan novelku.
"Nih."
"Makasih." Aku berbalik dan melangkah ke luar gerbang sekolah. Kusadari dia masih mengekor dibelakangku.
"Kamu gak pulang?" Tanyaku akhirnya saat menunggu angkot dan dia masih ada di dekatku.
"Lah ini apa?"
"Bukannya kamu punya motor ya?"
"Sudah dijual. Sekarang pulangnya naik angkot."
"Ohhh..." Sebenarnya aku ingin bertanya mengapa motornya dijual dan sebenarnya aku ingin terus bercakap-cakap dengannya, hanya saja aku tidak ingin terlihat sok ikut campur dengan urusannya (padahal memang mau tau apapun mengenainya! padahal sangat penasaran!).
"Aku duluan ya." Aku pun naik ke angkot dan memilih duduk di pojokan, membuka tas dan siap membaca kembali. Seseorang duduk tepat di sebelahku, aku pun menoleh, "Loh?". Ternyata dia.
"Wah ternyata rumah kita sejurusan ya."
*****
Aku ingat, semenjak itu kami selalu pulang bersama-sama. Kadang di atas angkot itu kami bercakap-cakap, tapi lebih seringnya aku membaca buku dan dia, entah apa yang ia lakukan. Hal itu terus berlanjut hingga...

Aku membuka halaman buku itu cepat-cepat, membaca sekilas bagian-bagian yang kurasa penting hingga tiba dibagian di mana kami tidak pernah bertemu lagi...
*****

Saat penerimaan raport.

Ibu mencubit pipiku gemas. Beliau kesal, aku masuk ke kelas IPS, bukannya IPA seperti yang ia harapkan. Yahhh mau bagaimana lagi? Aku memang lemah di pelajaran IPA. Dan membayangkan selama dua tahun bersekolah tanpa dibuat pusing dan ribet dengan kimia, fisika, dan biologi rasanya seperti surga. AKU SENANG!!!!
"Ih Ibu. Sukur-sukur aku naik kelaskan?!!" Kataku saat mengantar Ibu keparkiran. "Dasar anak ini. Pulangnya jangan lama!"
"Iaaa... dah Ibuku cantik! Hehehehe"

Dimana dia? Dia masuk kelas apa ya? Dia belum datang sepertinya, apa sudah pulang?
"Ghi." Seseorang memanggil namaku dan menepuk punggungku. (Dia!)
"Kau selalu mengagetkanku." Kaget, aku merengut.
"Maaf... bisa kita bicara berdua?"
"Bisa. Ada apa?" Jarang, bahkan mungkin tidak pernah kulihat ia bertampang seserius ini.
"Tidak di sini. Ikuti aku."
Agak ragu aku pun mengikutinya, ia berjalan cepat menuju samping musollah, tempat yang jarang didatangi orang.
"Errr... kenapa kita ke sini?"
"Besok pagi aku akan pergi, ini untukmu." Dia menyerahkan sebuah bungkusan berbentuk persegi panjang. Aku menerimanya dan berkata, "Kemana?"
"Utrecht, Belanda."
"Kau berlibur di sana?" Ia menggeleng.
"Aku akan pindah ke sana."

Aku tak ingat setelahnya. Kami berpisah, dia pergi. Dan aku seperti ingin menangis berdarah-darah tapi tak ada setitik pun air mata yang jatuh. Linglung aku memilih pulang ke rumah.

Bungkusan itu berisi sebuah buku sketsa yang di dalamnya penuh dengan sketsa wajah ku dengan berbagai mimik; tertawa, tersenyum, kaget, serius, tersipu-sipu, semuanya...
*****
"Hyaaa!!!" Aku tiba-tiba dipeluk kuat dari belakang.
"Kau mengagetkanku! Jangan seperti itu ih!"
"Aku lapar!!! Beri aku makan istriku yang cantikkkkkkkkk....."
"Hush berisik tauk."
"LAPARRRRRRRRRR!!!!"

Dengan geli aku beranjak dari sofa tempatku sedari tadi duduk membaca buku itu. Buku itu sendiri kututup dan kuletakkan di dalam laci, di atas sebuah buku sketsa yang nyaris sama tuanya. Aku teringat sebuah lagu dan mendendangkannya pelan...

"Cheotsarangeun areumdawoseo cheotsarangeun -ggotiramnida bomi omyeon
Hwahlchag pineun o~ nuni bushin -ggotcheoreom
Cheotsarangeun eorinaecheoreom cheotsarangeun seotureumnida
Sarangeurakgimeobshi ju-go kajjil mothanikka
Illa illa illa, illa illa illa, illa illa illa, nayesarang good-bye"


You Might Also Like

0 comments

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan