#20FactAboutMe

12:00 pm

Kemarin malam, saat pulang dari jalan-jalan, saya mengecek notifikasi grup #Jumatulis yang bejibun. Awalnya saya sempat tidak mengerti apa yang sedang mereka perbincangkan, setelah scroll dengan tertatih-tatih, akhirnya saya mengerti. Adalah seorang bapak-bapak bernama Ijul yang sangat kurang kerjaan mentag kami perihal #20FactAboutMe yang lagi heboh-hebohnya di instagram itu. Sebenarnya saya cukup berduka karena di instagram tidak ada satu pun followers saya yang berjumlah 368 itu mengingatku. Apakah kini kepopuleranku berkurang? Apakah kini para pemujaku meninggalkanku?!! #plak


Tapi setelah dipikir-pikir, di tag di blog itu jauh lebih menyenangkan... terimakasih untuk Pak Ijul!!! Saya bisa cuap-cuap panjang memperkenalkan diriku kepada khalayak ramai. Saya sudah bosan selama ini bersikap sok misterius dan mungkin karena itu juga, karena begitu sulitnya menggali informasi tentang diriku, para pengagumku pergi meninggalkanku... jengjengjeng... bah! Ini apaan si?!! Hihihi... tulisan tentang diri saya ini, secara langsung membuat saya semakin dekat dengan diriku sendiri. Membuat saya semakin mengenal siapa saya. Bukankah ada sebuah hadis yang meriwayatkan, “Siapa mengenal dirinya pasti mengenal Tuhannya”?!! (Jangan tanya ini hadis yang diriwayatkan oleh siapa, jika penasaran, silahkan tanya kepada guru agama kalian masing-masing, saya tidak punya kemampuan untuk menjawabnya). Jadi... inilah saya...


1.       Namaku Dwi Ananta Sari.

Shakespeare berkata dalam naskah dramanya yang begitu terkenal, Romeo Juliet;

“What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet”.

Saya pribadi sepaham sekaligus tidak sepaham tentang hal tersebut. Ya saya rasa saya akan tetap menjadi seperti saat ini jika saja orangtua saya memberikan nama yang lain kepada saya, tapi.... akankah itu masih tetap saya?! Rasanya agak meragukan... bingung? Oke, aku juga bingung! #skip

Waktu kecil saya pernah mendengar bahwa sempat saya akan dinamakan Andi Bunga Wali. Tetapi tidak jadi... mungkin karena Aba’ saya yang bukan keturunan darah biru, ya ialah darah Aba saya merah sehingga saya tidak pantas menyandang nama tersebut atau Aba’ saya sendiri yang menolaknya dengan alasannya sendiri. Saya pun dinamakan Dwi Ananta Sari. Yang setahuku diambil dari bahasa sansekerta.

Dwi yang berarti dua, berhubung saya memang anak ke dua. Ananta yang berarti, baiklah bagian ini akan panjang... ada beberapa sumber terkait nama Ananta. Pertama nama Ananta dari bahasa sansekerta berarti tanpa akhir/kekal (disimbolkan dengan angka delapan yang rebah itu) akan tetapi ketika agama Hindu memasuki Jawa dan mengalami asimilasi, Ananta berganti makna menjadi pemimpin yang jeli. Dalam mitologi India, Ananta sendiri adalah nama naga putra dari Dewi Kadru dan Kashyapa. Dalam mitologi Bali diceritakan Anantaboga adalah ular raksasa yang tinggal di khayangan, saat awal penciptaan dunia, Anantaboga yang sedang bermeditasi berubah menjadi seekor penyu raksasa bernama Bedawang. Ia membawa dunia di atas punggungnya, jika ia bergerak maka akan terjadi gempa atau letusan gunung berapi. Di mitologi India sendiri, Anantaboga bersama dua naga lainnya mendukung dunia manusia di atas kepalanya (Mungkin ini yang menyebabkan saya sering sakit kepala dan punggung saya sering pegal-pegal! Duh!) Dan dalam penganut spritual kejawean, Anantaboga adalah tali energi yang menghubungkan manusia melalui cakra mahkota dengan Sang Maha Pencipta. Fyiuhhhhh... dan Sari sendiri berarti Putri... Jadi Dwi Ananta Sari berarti... (silahkan simpulkan sendiri)

Di rumah dan dilingkungan keluargaku, saya dipanggil Winta. Yang merupakan penggabungan dari huruf-huruf terakhir Dwi Ananta. Orangtua saya memang sangat kreatif. Saya pun tumbuh dengan mengenal diri saya sebagai Winta, baru ketika masuk sekolah saya dipanggil dengan Dwi. Itu pun hanya dikalangan teman sekolah dan guru saja. Awalnya saya sangat membenci panggilan Dwi itu, nama saya itu sering diplesetkan oleh teman-teman menjadi Duit. Saya sangat marah saat itu. Tapi lama kelamaan panggilan Dwi itu terasa indah di telinga saya, saya belajar menyukainya. Semakin bertambahnya umurku semakin banyak pula panggilanku, mulai dari Dwee, Dweedy, Wee, Wii, Ananta, hingga Nan dan Bun. Hihihi

2.       Sindrom QueenBee

Ada yang tahu ini sindrom seperti apa?! Gak ada?! Jadi istilah ini kubuat sendiri untuk menyebutkan tingkahku yang suka menjadi pusat perhatian... Jika diibaratkan sebuah pesta, aku sangat ingin berada di tengah ruangan dan dikerumuni oleh orang-orang yang memuja dan memujiku. Dan jika saya tidak mendapatkan perhatian itu, seringnya saya menjadi badmood, cemberut, dan akhirnya ngambek. Tidak lama si, setelah itu saya beranggapan orang-orang itulah yang tidak tau tatakrama, tidak sopan nan merugi karena nyuekin manusia sepenting saya... HAHAHAHA...

3.       Saya pusat dunia!

Hmmm... ini satu lagi sifatku yang kusadari songong banget. Mau apa lagi ya memang sudah seperti inilah saya...

Saya sering menyangka saya adalah pusat dunia. Dunia bergerak atas kehendak saya (tapi gak sampai mau menyamai Sang Kekasih kok) dan sesuai keinginan saya. Apa yang saya harapkan, dunia dan seluruh semesta ini akan bersegera mewujudkannya. Mungkin ini memang songong, tapi saya menyebutnya sikap yang optimis!

4.       Egois!

Baiklah... saya mengakui diri saya itu egois. Saya tidak bisa mengutamakan kepentingan orang lain dan kesenangan orang lain diatas kepentingan dan kesenanganku. Saya meyakini, bahwa hal tersebut seperti cinta, kau tidak akan dapat memberikan cinta jika tidak memilikinya, jika tidak merasakannya terlebih dahulu... Lagian saya paling tidak suka dengan pengorbanan.

Jika dihadapkan pada persoalan yang menuntut pengorbanan, saya akan berusaha mencari jalan keluarnya. Berkompromi, tawar-menawar, sehingga saya tidak perlu berkorban selayaknya martir. Untungnya saya tidak dilahirkan sebagai Nabi ya ._.

5.       Sombong dan ramah. Jutek dan murah senyum.

Bagi orang yang tidak mengenalku, yang hanya melihatku saja, mereka akan mengira saya orang yang sombong dan jutek. Ini mungkin karena saya tidak suka berbasa-basi, bibir tanpa sadar sering tertekuk kebawah seperti orang yang cemberut dan jika jalan pandanganku selalu lurus ke depan dan daguku pasti terangkat beberapa centi. Untuk yang telah mengenalku atau setidaknya pernah berkenalan denganku pasti  mengatakan (pada akhirnya) aku ini orang yang sangat ramah dan sering memamerkan senyum kelihatan gigiku kemana-mana. Yahhh kecuali jika saya memang tidak menyukai orang itu...

6.       Banyak cita-cita tetapi tidak ada ambisi.

Cita-citaku itu jika dituliskan di selembar kertas folio akan memenuhi halamannya, depan mau pun belakang. Dulu, ketika masih labil dan hidupku dipenuhi amarah dan ketergesaan, aku membuat list mimpi-mimpi ku dan target untuk mencapainya. Juga cara-cara bagaimana saya bisa mencapai cita-citaku itu. Semua hal yang kulakukan adalah untuk segera mencapai cita-cita tersebut.

Kini, setelah saya jauh lebih tenang dan mungkin jauh lebih dewasa dalam berpikir, saya pun lebih santai dalam menyikapi hidup ini. Saya lebih banyak menikmati hidup dan alam disekitarku. Lebih banyak bersantai dan pada akhirnya tidak terlalu ngoyo, harus, wajib, kudu, untuk meraih cita-citaku itu.

Biarkan semuanya mengalir... pada akhirnya arus itu akan membawaku ke sana. Cepat atau lambat... dan jika saya meninggal dan masih banyak cita-citaku yang belum tercapai, anggap saja itu bonus, bonus demi bertemu lebih cepat dengan Sang Kekasih.

7.       Punya banyak hobby

Selain cita-cita yang banyak, saya pun punya hobby yang banyak. Saking banyaknya hobby ku itu, dalam sehari, dua-puluh-empat-jam, saya tidak akan bisa menekuni semuanya. Ditambah lagi saya tipe orang yang tidak bisa mengerjakan dua hal secara bersamaan. Harus fokus mengerjakan satu hal itu. Kata Pai, karena banyaknya hobbyku itu, saya tidak bisa serius mendalami salah satunya, sehingga semuanya terkesan setengah-setengah. Hmmm...

8.       Tidur dan bermalas-malasan

Tidur itu anugrah yang diberikan Tuhan pada kehidupan kita! Jadi... selagi masih bisa tidur, dimana pun dan kapan pun manfaatkanlah sebaik-baiknya!
Saya bisa tidur dalam situasi apa pun dan pas bangun langsung seger dan cantik. Juga dalam posisi apa pun! Mau berbaring, duduk, mau pun berdiri, saya bisa tertidur pulas. Dan ya, jika bisa memilih, saya hanya ingin tidur seharian dibandingakan melakukan pekerjaan lainnya! Hahaha...

9.       Malas ke rumah sakit

Bagi saya, rumah sakit itu memiliki aura terkelam dan memiliki banyak energi negatif. Kesedihan, penyakit, kedukaan, air mata, bau antiseptik bercampur luka yang membusuk, dan setan! Semua yang menyeramkan bercampur baur di sana...

Mungkin juga ketidaksukaan saya terhadap rumah sakit karena saya punya beberapa pengalaman tidak menyenangkan di rumah sakit...

Pertama, sewaktu bayi, katanya saya sering keluar masuk rumah sakit, karena sewaktu bayi itu saya sakit-sakitan, bahkan pernah mati suri. Dokter sudah menyatakan saya meninggal, Andi’ sudah pinsan, dan keluarga yang lainnya sudah berurai air mata... ehhh... saya hidup kembali... Bagaimana rasanya meninggal? Entahlah saya saja tidak ingat kejadian itu. Tapi mungkin jauh di bawah alam sadar saya mengingatnya sehingga begitu ngeri berada di rumah sakit.

Kedua, sewaktu TK, Aba’ pernah masuk rumah sakit selama dua minggu (atau sebulan? Saya lupa), rumah sakit itu punya peraturan yang ketat, saya yang masih kecil tidak diperbolehkan masuk ke rumah sakit itu. Saya hanya boleh sampai di depan pagar rumah sakit, sebentara Aba’ tidak bisa keluar dari kamar rawatnya. Saya hanya bertemu dengan Andi’ lalu berpisah lagi karena beliau yang menunggui Aba’ dan saya tinggal bersama nenek. Saya ingat saya menangis meraung-raung saat itu. Dalam pikiran ku saat itu, saya ditinggalkan dan entah kapan akan bisa bertemu Aba’ dan Andi’ lagi.

Ketiga, sewaktu di Jakarta, menemani Andi’ melakukan pengecekan rutin penyakitnya (apa kemoterapi ya? Lupaaaaa). Biasanya pengecekan itu berlangsung lama, saya dan kakak seringnya pergi ke moll (yang berada tidak jauh dari rumah sakit tersebut) lalu kembali lagi menemui Andi’ di rumah sakit dan bersama-sama pulang ke rumah. Seperti saat itu setelah izin ma Andi’ kami pun pergi. Saat kembali ke rumah sakit, kamar tempat Andi’ berada, susternya pada kasak-kusuk keluar masuk, kaget kami pun segera masuk ke dalam. Andi’ sedang dipasangi bantuan pernapasan dan terlihat sangat menyedihkan. Beliau anfal... saya dan kakak ketakutan dan langsung menangis. Suster meminta kami keluar dan menunggu. Rasanya hari itu adalah hari yang teramat panjang dan menakutkan buat saya. Belum lagi orang-orang di rumah sakit yang memandangi kami dengan pandangan ingin tahu dan kasihan melihat kami yang menangis sesegukan.

Keempat, pada hari natal setelah berkunjung ke rumah teman yang merayakan natal, saya menemani teman (teman yang lain, bukan yang merayakan natal) mengantarkan modem untuk keluarganya yang sedang dirawat di rumah sakit. Rumah sakit itu memiliki dua gedung yang terpisah, depan dan belakang. Keluarga teman saya ini di rawat di gedung belakang di lantai kesekian. Kami pun masuk ke gedung belakang tersebut dan naik lift menuju kamar sang keluarga. Setelah itu kami pun menaiki lift yang sama untuk turun ke bawah. Pas sampai di lantai dasar, loh kok beda?!! Tidak seperti pemandangan sebelum kami tadi naik ke atas. Kami pun mencari pintu keluar. Pas kami keluar... sadarlah kami berada di gedung depan rumah sakit tersebut... awalnya kami bengong, lalu saling berpandangan, kemudian lari ta’buccu (entah bahasa Indonesia-nya apa).

Kelima, keenam, ketujuh, kedelapan, dan seterusnya... semakin lama saya semakin sering bertemu dan berpapasan dengan keanehan rumah sakit. Bahkan saya pun paham bagaimana melihat orang sakit yang sepertinya tidak akan pulang ke rumahnya dalam keadaan masih bernyawa...

10.   Kecoak dan binatang melata

Saya jijik banget dengan kecoak. Kecoak itu jelek dan super duper rantasa’. Tidak masalah jika hanya melihat gambarnya atau dia berada dalam satu ruangan denganku, hanya saja jangan sampai kecoak itu menyentuh tubuhku. Sudah dipastikan saya akan berteriak histeris! Dan paling horor itu jika kecoaknya terbang-terbang tanpa tujuan, ihhhhhh *merinding*

Untuk binatang melata saya punya ketakutan besar terhadap mereka. Entah mengapa... mereka menyeramkan saja pokonya (sengaja tidak menuliskan reptil, soalnya saya tidak takut ma kura-kura atau pun penyu, tetapi sangat takut ma kelabang, lipan, dan kaki seribu)!!! Melihat gambarnya saja atau menontonya di natgeo wild saya langsung pucat dan segera mengganti cannelnya. Kecuali si binatang melata di gambarkan imut nan cute seperti di film kartun atau ilustrasi buku anak-anak ya. Oh ia saya juga tidak keberatan dengan ulat bulu, dia imut soalnya.

11.   Tidak suka ditolak

Jadi gini, saya merasa sangat malu, harga diriku terinjak-injak, dan sakit banget jika saya meminta tolong tetapi permintaan tolong ku itu tidak ditanggapi atau pun ditolak. Entah... (mungkin juga termasuk jika cinta saya ditolak) Hahaha

12.   Segan meminta tolong

Saya orangnya sangat tidak enakkan jika harus merepotkan orang lain, selama apa pun itu bisa kukerjakan dan kuselesaikan sendiri, saya akan mengerjakan dan menyelesaikannya sendiri. Barulah jika hal tersebut benar-benar tidak lagi dapat kukerjakan dan kuselesaikan sendiri, atau masalahnya sudah sangat gawat, barulah aku menabahkan diri meminta pertolongan orang lain. Karena itu jika saya meminta tolong setelah penabahan hati itu dan ternyata tidak ditanggapi/ditolak saya merasa seperti poin di atas, kadang juga karena tidak ingin merasakan perasaan seperti poin di atas, saya tidak meminta pertolongan kepada siapa pun, seya menanggungkannya sendiri. Tapiiii baik poin 11 dan 12 itu tidak berlaku terhadap Pai!!! Hahahaha...

13.   Cengeng sekaligus berhati batu

Bingung ya?!!
Saya pun bingung!!! Hahahaha... Hmmm... Jadi saya itu cengeng banget, jika sedih menangis, jika bahagia menangis, jika marah menangis... saya mudah terharu (dan menangis) pada hal-hal yang membahagiakan, seperti pernyataan cinta, kisah kesuksesan seseorang yang mati-matian mendapatkannya, adegan kasih sayang antara orangtua dan anaknya (bahkan pada hewan), adegan kasih sayang antara suami-istri, adegan kasih sayang guru dan murid, antar saudara dan lain-lain. Juga saya mudah bersedih (dan menangis) pada kemalangan orang lain dan musibah-musibah yang terjadi, bencana alam, perang, pembantaian umat manusia, pembantaian hewan dan pengrusakan alam dll.

Tapi sekaligus saya tidak bisa bersimpati (apalagi meneteskan air mata) pada kemalangan orang yang diakibatkan oleh kebodohan atau salahnya sendiri, apa lagi jika orang itu berlama-lama larut dalam kemalangannya, begitu betah berada di dalamnya dan tidak mau berusaha untuk bangkit, pada kisah cinta yang berakhir tanpa diperjuangkan, pada orang malang yang disakiti tetapi memilih diam dan tidak melawan, dan pada kematian seseorang yang terjadi dengan wajar dll.

14.   Bosenan

Untuk hal-hal yang monoton, berulang terus menerus dalam segala aspek kehidupan saya, saya pasti akan bosan, tidak betah, dan memilih meninggalkannya. Kadang di saat menulis, tiba-tiba saja saya merasa bosan dan segera meninggalkannya, menonton drama tiba-tiba saja bosan, juga dalam hubungan dengan seseorang, makanya dulu saya sangat tidak betah berpacaran lebih dari dua bulan, hingga berkuliah dan tau-tau saja disemester enam bosan dan memilih keluar. (Tapi hal ini tidak berlaku pada Pai dan tidur)

15.   Menyukai perbedaan

Mungkin ini terkait juga dengan sifatku yang bosenan, saya sangat suka melihat perbedaan, keberagaman, dan menjadi unik. Tidak terbayangkan jika di dunia ini rupa manusia sama semuanya, cantik semuanya... pasti sangatlah membosankan... atau yang paling ekstrim saya pernah membayangkan dunia ini hanya memiliki satu negara, satu pemerintahan, dan satu agama.... hih! Seramnya!

Aku juga selalu ingin menjadi berbeda dari orang kebanyakan apa lagi dalam hal penampilan... Paling menyebalkan jika kesebuah acara atau ke mol dan menemukan orang lain memakai pakaian atau sepatu atau tas yang sama dengan yang ku pakai.

16.   Tidak bisa berbasa-basi

Bagi saya berbasa-basi itu perihal yang sangat melelahkan dan menguras banyak tenaga. Juga membosankan dan menyebalkan. Kenapa orang-orang tidak langsung saja berbicara intinya?!! Mengapa perbincangan selalu dimulai dengan basa-basi busuk ini? Dan kenapa memangnya kalo tiba-tiba saya malas berbicara dan hanya diam seharian? Haruskah saya mengeluarkan perkataan yang tiada guna?

17.   Susah mengingat nama

Sering ketika bertemu seseorang yang saya kenal tetapi namanya saya lupakan,saya hanya tersenyum super manis dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan super standar saja; Apa kabar? Dengan siapa? Sudah lama saya menyerah memeras otak mengingat nama-nama itu, dia akan muncul sendiri kepermukaan pada akhirnya. Seperti mayat yang dibuang ke air suatu saat pasti akan terapung kembali... #plak kecuali bila habis disantap ikan maupun buaya ya...

18.   Sakit gara-gara buku

Ia saya sering sakit gara-gara buku, apalagi kantong saya. Kasian... seringnya kanker... belum lagi stres yang ditimbulkan jika saya menginginkan sebuah buka tetapi tidak punya uang. Hati yang berdara-darah ketika ke bazar buku atau ke gramedia atau mengintip toko buku online tetapi tidak punya uang. Ituuuuuu... sakit.... sakit... Sakit... SAKIT!!!!!!!

Hwahahah... oke ini serius, saya pernah sakit seminggu gegara buku, dua kali malah;
Pertama karena buku Harry Potter and The Orde of Phoenix dan Eragon, sewaktu kelas dua SMP, saat itu saya baru pulang membeli buku tersebut, kalau tidak salah hari Minggu, dan langsung membacanya maraton dalam waktu 26 jam tanpa makan mau pun tidur. Hanya minum, berhenti ketika buang air kecil, mandi dan berpakaian lalu berangkat ke sekolah, di sekolah saya tidak memperhatikan guru terus membacanya di bawah meja, bahkan ketika pup saya tetap membacanya. Alhasil saya demam selama seminggu, panasku turun naik, sempat dikira DBD, pas di bawa ke dokter katanya hanya kecapekan ._____.

Kali kedua karena buku Harry Potter and The Deathly Hollows, saat itu kelas tiga SMP, kasusnya hampir sama kecuali saya membacanya dari sore hari sepulang membelinya hingga azan subuh berkumandang. Alhasil saya diare dan muntah-muntah seminggu.

Kenapa harus seminggu ya sakitnya?

19.   Alergian dan punya kulit super duper sensitif

Punya antibodi super duper protektif ya beginilah jadinya...seperti saya. Ada beberapa alergi yang kuderita...

Pertama, aku alergi pada seafood. Ia seafood! Ikan, udang, cumi, kerang dll. Masalahnya aku tinggal di daerah pesisir dengan kekayaan lautnya dan juga saya memang sangat menyukai seafood. Jadi meskipun alergi, aku tetap memakannya, sejauh reaksi yang ditimbulkannya hanya berupa gatal-gatal di badan, lidah dan tenggorokan. Untuk ikan aku terbilang pilih-pilih, harus dimasak dengan baik dan bau amisnya hilang, jika tidak sudah bisa dipastikan aku akan muntah-muntah. Paling parah saat makan lobster, mata, hidung dan mulut ku membengkak seperti balon yang ditiup. Tapi kalau dimasakin lobster lagi kayaknya mau tetap ku makan deh, habis enak banget!!! Hhahaha... tinggal ngedem di rumah kan sampai bengkaknya hilang.

Kedua, debu!!! Saya tidak bisa banget terpapar debu atau berada di dalam ruangan yang banyak debunya. Saya pasti akan bersin-bersin, meleran, bahkan bisa sampai demam. Belum lagi kulit saya akan gatal-gatal (padahal saya malas mandi). Makanya tiap keluar rumah naik motor, saya memakai helm yang ada penutup mukanya. Saya pun rajin bersih-bersih, terutama kamar, meski pun ini serasa memakan buah simalakama, tidak bebersih, debu yang menempel membuat saya meleran, bebersih apa lagi.... huftttt makanya Pai menyediakan masker yang banyak buat saya.

Ketiga saya tidak bisa terpapar sinar matahari secara terus menerus atau berada di tempat yang sangat gerah dan lembap. Akan muncul biji keringat di tubuh saya yang gatalnya bukan main dari telapak kaki  hingga kulit kepala. Akhir-akhir ini Makassar panas sekali, saya pun menjadi rajin mandi, dua kali sehari... hiks...

Keempat tidak bisa berada di tempat yang (sangat) dingin terlalu lama, kulit saya akan bentol-bentol kecil (masih di seluruh tubuh), dan jika bentol-bentol itu disentuh atau tergesek-gesek dengan kain akan menyatu menjadi bentolan yang semakin besar dan luar biasa gatal...

20.   Mandiri tetapi sebenarnya sangat manja

Nah ini membingungkan juga ya?!! Hahaha

Sebagai anak bungsu dan berbeda lima tahun dengan kakak, saya terbilang cukup dimanja. Apalagi ketika kakak masuk SMP, dan saya naik kelas dua SD, kakak tinggal di rumah tante yang lokasinya dekat dari sekolahnya, semakin dimanjalah saya, serasa anak tunggal. Sebagian besar keinginan saya dituruti, setiap hari dimasakkan makanan kesukaan saya, dll.

Karena itulah saya menjadi anak yang manja, hanya saja situasi yang membuat saya harus menjadi mandiri dan tidak bisa (tidak ingin tepatnya) mengandalkan orang lain. Saya merasa dengan mengandalkan orang lain, menggantungkan hidup pada orang lain, orang itu punya kuasa yang sangat besar untuk menyakitimu jika ia meninggalkanmu. Saya tidak menyukai perasaan itu. Selain itu saya tidak suka dibantu karena orang-orang merasa kasihan kepadaku. Ah ia saya sangat benci dikasihani!

Tapi jauh di dalam sana saya masihlah seorang anak yang manja... senangnya saya menemukan seseorang yang membuatku bisa menanggalkan kemandirianku dan menjadi super manja padanya. Bahkan meskipun dia sebel dengan sifatku yang manja itu, sering ngomel-ngomel, saya tidak peduli! HAHAHAHA...

Fyuhhhhh.... selesai deh... panjang amat yak -___-“

Beranikah kau mengungkap 20 fakta tentang dirimu???

You Might Also Like

19 comments

  1. Ada beberapa kali saya membaca (tidak berlaku pada Pai). Yaeyalah kalo berlaku maka niscaya kau akan merugi NGAHAHAHAHA.


    btw ya. Kalau perkara rumah sakit awalnya juga gue benci Dwe. Tapi semakin gue benci semakin pulalah gue bolak balik rumah sakit. SAKIT DOMPET GUE DWE. SAKIT. PEDIH.


    Dan satu lagi. Kenapa ga lu masukin fakta tentan orang2 yang patah hati setelah mendengar suaramu berkicau cerempeng dan membuyarkan imajinasi tentang sosokmu. SEHARUSNYA KAU MASUKAN JUGA NYONYA PAI!


    dah ah...nyampahnyaaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tolong jelaskan meruginya seperti apa tante?

      Syukurnya semenjak bisa mengingat aku belum pernah diopname di rumah sakit Bin .-.

      Suara imutku memang sering membuat orang terkejut ya ^^ tapi syudahlah cuma 20 fakta soalnya, gak cukup tante...

      Delete
  2. halo salam kenal :)
    Aku juga ditag di fb buat bikin 20facts kaya gini. Nice try :) tapi aku bingung banget mau mulai darimana, kl disuruh ngungkapin 20 fakta ttg diri sendiri aku pikir mungkin terlalu kebanyakan, tapi pas aku udah mulai ngetik eh malah kayanya kurang banget, sampe mikir lagi "asli nih cuma disuruh 20 aja"? hahahahhaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hay salam kenal juga ^^
      Hihihi temanku banyak yang merasa seperti itu juga, tapi aku enggak si, beberapa kali aku berhenti karena bosa. ^^V

      Delete
  3. sama mak, aku juga suka susah ingat nama :)))

    ReplyDelete
  4. Heh! Kayaknya gue bakal kebirit-borit dah kalo ketemu Nyonya Pai. Ratu ulaaaar meeen. :(((

    ReplyDelete
    Replies
    1. APE DEH LOH JUL!!! Hah! Aku ratu naga dong >.<

      Delete
  5. Nomor 5 Dwi, iya bingits... iya bingits. Hahaha

    But, so glad to know you :* *peluk kangen*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Toss Dhan!!! Hahaha
      Gyaaaaa ku juga kangen! Kapan ke Makassar?!!

      Delete
  6. Ini napa kak dwi kaya mak nia, mahahaha panjang beut tesisnya ya Allah T_T

    Eh aku juga gak suka ke rumah sakit kak, kalo lagi sakit, usahain buat kuat supaya gak sampe kedokter karena gak suka sama baunya. Barulah nanti kalo diem-diem dan udah parah baru dibawa ke dokter :)) makanya kalo sakit jarang ngomong. .


    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin kami sama-sama berbakat narsis .-.

      nah itu Lia! ITU!!!

      Delete
  7. FAKTA BERIKUTNYA ADALAH DWEE ITU KERAS KEPALA!!!

    NGGAK MAU NGALAH, tapi pas SALAH langsung ngeloyor wkkwkwwkwwkwk

    tapi dwee itu asik buat di gangguin x))))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ihhhh sotoy deh lu Pep :p

      husshhhh hussshhhh sana kau bertapa calon manten

      Delete
  8. Lengkap sudah itu haaaa, Salam kenal

    ReplyDelete
  9. Okeh, Bunda Winta, akhirnya ik kelar juga bacanya, Ya Allah panjanga amat yaakkkk...

    Paling suka bagian penjelasan namanya, itu Allahu Akbar...bisa amat sedetil ituh, hih!

    ReplyDelete
  10. Sungguh panjang tesis kali ini. Ohohoho.

    Saya sempat berpikiran kalau ortunya Bunda Winta ini penggemar Pramoedya Ananta Toer, jadi anaknya ada 'Ananta'nya. Hik.








    Btw, siapa juga yang suka RS dah. T.T

    ReplyDelete
  11. Filosofi namamu kak... bikin aku pusing membacanya. Namaku bahkan nggak ada arti sepenting itu bhahaha :))

    ReplyDelete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan