Letters to Karel

7:31 pm


Letters to Karel
Oleh Nazrul Anwar
Self-Publishing oleh Nazrul Anwar
4 Juli 2014

220 Halaman

Jika kamu membaca surat-surat ini kelak, entah di bilangan berapa usiamu menginjak, surat ini hanyalah salah satu cara abi untuk mengenalkan ummi kamu, Karel. Bukan karena ummi perempuan terbaik, masih banyak jutaan perempuan di luar sana yang jauh lebih baik daripada ummi. Tapi agar kamu bisa selalu berbakti kepadanya, Sayang. Walaupun tidak bisa secara langsung, setidaknya dengan meneladani kebaikan-kebaikannya, dengan berusaha sebisa mungkin untuk menjadi anak yang baik lagi sholeh. Karena tak ada cara terbaik untuk membalas kebaikan orangtua, selain dengan menjadi anak yang sholeh/ah. Karena anak yang soleh/ah akan selalu menjadi investasi orangtua sampai di akhirat nanti.

***
Kisah nyata perjuangan seorang ibu yang melahirkan anaknya hingga meregang nyawa, perjuangan seorang ayah yang membesarkan bayinya tanpa seorang ibu dan betapa indahnya rencana Tuhan di balik itu.

Buku ini adalah sekumpulan surat yang dituliskan seorang ayah, yakni penulis sendiri, untuk putranya, Karel. Di dalam surat-surat tersebut, sang penulis mengenalkan sosok sang ibu, agar putranya dapat mengenal ibunya yang meninggal ketika melahirkannya dan meneladani prilakunya. Selain itu, surat-surat itu juga berisi kumpulan petuah, harapan, serta pandangan hidup penulis beserta almarhum istrinya.


“Karel, Sayang, Sholeh, Pinter, jangan pernah sedikitpun berfikir kalau kamu adalah penyebab kematian ummi. Jngan sekalipun kecewa dan menyesali kehendak Allah atas kehidupan kita. Cara terbaik untuk menyikapi kehendak Allah adalah dengan menerimanya. Karena hanya dengan menerima, kita akan mendapatkan ganti rugi yang lebih baik. Entah dalam bentuk apa dan bagaimana yang lebih baik itu. Karena sebagaimana Allah menyayangi ummi dengan begitu cepat memanggilnya, Allah juga tentu akan menyayangi kita. Hanya saja caranya saja yang mungkin berbeda. Hanya bagaimana sajanya yang belum kita tahu.”
_Halaman 18

Untuk saya sendiri membaca buku ini agak membuat saya tidak nyaman. Rasanya saya membaca banyak surat yang tidak dialamatkan kepada saya (dan memang ia), rasanya terlalu bersifat pribadi dan sangat tidak ada privasi. Sang penulis secara blak-blakan membuka dirinya, membuat saya lumayan syok dengan pengetahuan tentang seseorang yang tidak saya kenal ini.

Meskipun begitu saya lumayan menikmati membaca buku ini. Turut bersedih dan berdukacita, bahkan tak jarang menitikkan air mata, tersenyum menyaksikan pertumbuhan Karel, terpesona pada budi luhur sang ummi, mengerutkan kening pada hal-hal yang janggal dan aneh menurut saya, dan ya tidak sependapat tentang beberapa hal. Saya mempelajari banyak hal dari buku ini dan buku ini membuat saya merenungkan banyak hal kembali.

“Seseorang harus menyayangi kita karena kita memang layak untuk disayangi, Karel. Atas perbuatan kita, atas kebaikan-kebaikan yang kita lakukan, atas karya-karya yang kita ciptakan. Bukan karena kita anak siapa atau darimana asalnya. Bukan karena keterbatasan atau ketidakmampuan kita.”
_Halaman 3

Saya hanya menyayangkan bagian terakhir buku ini, dimana surat dari ummi yang ditulis pengarang untuk dirinya, rasanya terlalu narsis. Entahlah... saya sangat tidak puas pada bagian itu. Rasanya membaca sebuah pembenaran atas tindakan yang ia lakukan dalam membesarkan Karel. Tak salah tentunya, hanya saja ketika dipublish, disebarkan seperti ini, rasanya ada yang errr saja, entahlah... Meskipun penulis mengatakan surat itu ditulis berdasarkan diary ummi, hasil diskusi mereka, dan sudut pandang dan pola pikir yang terlihat dalam keseharian ummi, tetap saja saya sangat tidak menyukai bagian itu...

Senangnya buku ini saya dapatkan secara cuma-cuma, semoga gak nyesal ya bang memberikan buku ini untuk saya baca dan review V(^^)
Buku ini juga hardcover dan kertasnya keren, ada beberapa typo yang saya temukan tetapi tidak sampai sangat mengganggu.

“Nah, Karel, mau tidak mau, cepat atau lambat, orang di sekitar kita akan pergi, bergantidengan orang yang baru. Atau diri kita sendiri yang harus pergi, hidup di tempat dan suasana baru. Jangan khawatir Sholeh, karena hidup bukanlah tentang bersama siapa kita menjalaninya, tapi bagaimana kita menjalaninya. Siapapun orang yang membersamai kita, jika kita berusaha untuk menjalaninya dengan baik, maka hidup kita juga akan berjalan baik, Sayang. Hidup kita harus dan akan terus berjalan; bersama siapapun, di tempat manapun, tapi tidak sampai kapanpun.”
_Halaman 40-41

“Jika kita diberikan ujian, atau ketetapan yang rasanya menyakitkan, Allah hanya ingin kita lebih mendekat lagi, Allah ingin agar kita lebih baik lagi, Allah ingin agar kita jauh lebih kuat.”
_Halaman 110

“di dunia ini, masih banyak orang yang lebih susah daripada kita, Sayang. Masih banyak orang yang memiliki ujian yang berkali-kali lipat besarnya daripada ujian yang kita punya. Jadi jangan pernah merasa sebagai orang paling susah sedunia, merasa kurang beruntung, sedih, mengeluh, dan sebagainya yang berlebihan. Karena sekali lagi, di luar sana, masih banyak orang yang lebih layak untuk bersedih daripada kita, tapi mereka masih bisa merasa bahagia. Masih banyak orang yang lebih layak mengeluh daripada kita, tapi mereka masih tetap bersyukur. Masih banyak orang yang lebih layak berputus asa daripada kita, tapi mereka masih tetap berjuang. Masih banyak orang yang lebih susah daripada kita, tapi mereka masih tetap bersabar.”
_Halaman 125

Tertarik juga membaca buku ini?
Silahkan pesan di :
Page Fb Nazrul Anwar.

You Might Also Like

0 comments

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Beautiesquad