Cerita Mudik – Perjalanan

11:28 pm

Selamat hari raya Idul Fitri untuk yang merayakan, Minal Aidin wal Faizin~ mohon maaf lahir batin ^^ (Hihihi maap ucapannya telat)


Lebaran tahun ini, aku merayakannya jauh dari Makassar, jauh dari kakak beserta tante-tante, om-om, dan sepupu-sepupuku. Semenjak Andi’ meninggal, ini kali pertama aku merayakan momen lebaran itu jauh dari mereka. Lebaran kali ini kurayakan di sebuah desa bernama Parombean, Enrekang, kampung halaman Pai. Rasanya campur aduk, saking campur aduknya aku lumayan binggung mau bagaimana menuliskannya...

Sabtu 26 Juli 2014


Setelah solat subuh kami pun berangkat. Dengan barang bawaan yang membengkak, kami lumayan berdesak-desakan di atas mobil. Baru saja mobil berjalan, ngantuk pun menghampiri, saya mulai mencari posisi yang paling enak untuk terlelap. Tetapi saya baru bisa benar-benar tertidur ketika mobil telah mengisi bahan bakarnya di SPBU di Maros, setelah saya menumpang pipis di toilet SPBU tersebut. Sepanjang jalan dari Maros hingga Pare-pare saya tertidur pulas. Ini memang kebiasaan saya jika bepergian dengan jarak tempuh yang lama dan jauh, membunuh waktu sera kebosanan selama perjalanan dengan tidur. Tapi kaget juga si pas membuka mata dan melihat ke luar jendela, menyadari telah berada di Pare-pare. Padahal jarak Makassar-Pare-pare itu kurang lebih 152km. Terjaganya pun tidak lama, cukup waktu dengan menyadari telah berada di mana, saya pun melanjutkan tidur lagi. Hehehe...

Sesampai di Pinrang, di rumah mertua ipar saya yang kebetulan juga masih ada hubungan keluarga dengan keluarga Pai... Ehmmm... ngerti gak ya? Jadi gini... salah satu ipar saya itu menikah dengan seseorang yang masih ada hubungan keluarga dengan mereka. Udah ngertikan? Udah dong ya?! *ngancem* Jadi pas sampai di Pinrang itulah saya benar-benar terjaga. Ipar ku beserta keluarganya turun di sana. Kami pun menyempatkan mampir. Bersilaturahmi.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kembali... Pai, Bapak (bapak mertua), tante (saudara bungsu bapak), dan saya. Mobil terasa lapang, dan kini saya sudah bisa banyak bergerak, melenturkan kaki serta mencari posisi yang paling enak buat melanjutkan tidur kembali. Ternyata pemandangan di luar memanggil-manggil saya untuk menikmatinya... entah daerah itu sudah masuk daerah Marowangin (nama salah satu daerah di Enrekang) atau masih daerah Pinrang, rumah-rumah panggung di sepanjang jalan tersebut dipercantik dengan berbagai bunga yang sedang bermekaran dengan indah. Kuning, orange, merah... cantik sekali... terkadang diselingi dengan hamparan sawah berwarna hijau yang meneduhkan mata...

Puas menikmati pemandangan di luar, saya pun mulai terkantuk-kantuk lagi, cuma memang tidur kali ini tidak sepulas sebelumnya. Beberapa kali saya terbangun, kemudian menikmati pemandangan di luar atau mengobrol, terkadang juga hanya menyimak obrolan yang sedang berlangsung saat itu.

Enrekang kota berlalu begitu saja...
Saya hanya bertanya-tanya di mana dari sekian banyak rumah di Enrekang kota yang merupakan rumah Dhani ^^

Oh ia, ada sebuah tempat di Enrekang, rumah makan tepatnya, yang sangat ingin saya kunjungi. Beberapa hari yang lalu, apa minggu ya? Saya melihat seorang teman berfoto di sana, di teras belakang restoran tersebut. Pemandangan dari teras belakang restoran tersebut sangat indah, tepat menghadap ke Gunung Nona.  Melihat foto teman saya itu dan menanyakan perihal tempat itu kepada Pai, timbullah keinginan untuk mengunjungi tempat tersebut. Menikmati pemandangannya dan berfoto di sana.

Syukurlah keinginan saya itu, tanpa saya ucapkan, kecuali pada Pai, disetujui oleh yang lainnya. Kami pun singgah ke tempat itu. Namanya Rumah Makan Bukit Indah. Masalahnya, kami sedang berpuasa, tentunya tidak bisa masuk ke tempat itu hanya untuk sekedar berfoto saja. Saya, Pai dan Tante memuaskan diri dengan berfoto di luar rumah makan itu, bahkan pemandangan di luarnya pun cukup indah. Tapi entah Bapak mendapat ide dari mana, beliau mengajak kita masuk, katanya mungkin saja pemilik rumah makan tersebut berbaik hati mengizinkan kami menikmati pemandangan yang disuguhkan di teras belakangnya dengan cuma-cuma, dikarenakan dia memaklumi kami yang sedang berpuasa.



Bersama tante ^^
Salah satu bunga di halaman rumah makan itu

Menemukan ngengat di depan pintu toilet

Dengan pede kami pun melangkah memasuki tempat tersebut berjalan terus hingga ke teras belakangnya... Suasana rumah makan itu sangat sepi, hanya ada seorang kasir di meja depan dan dua orang pemuda-pemudi yang sedang duduk menanti pesanannya. Langsung saja Pai dan Bapak asik memotret pemandang, saya pun tak mau kalah dengan mereka, camdig pisang ijo ku pun mulai beraksi. Seorang pelayan mendatangi kami, menanyakan akan memesan apa, Bapak pun menjawab bahwa kami sedang berpuasa, bolehkah diisinkan beristirahat di sini dan memotret. Si pelayan pun pergi, entah bertanya kepada kasir di meja depan atau ke dapur bertanya pada koki atau mungkin bertanya langsung kepada pemilik tempat tersebut. Intinya kami tidak diperbolehkan berada di dalam sana. Hehehehe kebayang dong malunya?!!! Apa lagi pas kami melangkah keluar dari pintu rumah makan tersebut, tau-tau saja dipasang pengumuman dilarang memotret jika tidak membeli di tempat itu, ya kurang lebih begitulah kata-katanya. Huhuhuhu...

Yang penting masih sempat motret ya :p Cantik ya ^^


Dengan langkah gontai keberatan malu, kami pun kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan. Barulah saat itu tiba-tiba kepikiran mengapa kami tidak membungkus saja makanan di sana untuk kami makan ketika telah tiba waktu berbuka??? Duh....

Di Cakke’ (masih di daerah Enrekang), kami singgah di rumah nenek (nenek yang ini adalah sepupu nenek, mamanya Bapak yang tinggal di Parombean yang rumahnya akan kami datangi). Di sana kami menjenguk Nenek Cakke’ (untuk seterusnya saya akan memanggilnya seperti itu) yang sudah terbaring koma. Lama kami berada di sana, melihat kondisi beliau, berbincang dengan para tante yang ada di sana. Sebagian besar percakapan dilakukan dalam bahasa Enrekang, yang tidak saya mengerti, jadilah saya cuma mengangguk-angguk sok tahu. Oh ia, di sana kami menyempatkan solat Duhur plus menjama’ solat Ashar.

Perjalanan pun dilanjutkan... terus.... hingga mencapai Sudu (masih juga di daerah Enrekang). Kami menyempatkan singgah di pasar di sana. Lalu membelok masuk ke jalan yang akan membawa kami ke Parombean.

Parombean ini adalah kampung halaman Bapak. Banyak cerita yang kudengar tentang desa itu... Desa ini berbatasan langsung dengan Toraja, hanya dibatasi dengan sungai. Menyebrang sungai, kita sudah masuk di daerah Toraja. Karena desa ini berada di atas gunung, maka cuacanya sangat dingin, apalagi di malam-malam musim kemarau, maka dari itu saya mempersiapkan diri dengan banyak baju tebal berlengan panjang, beanie, dan kaus kaki. Belakangan saya tahu kalau siang, cuaca di sana agak panas. Terus.... Hmmmm... jalanan masuk ke desa ini parah dan berbatasan langsung dengan jurang, syukurlah sudah ada jalan masuk untuk mobil, dulunya dari Sudu orang harus berjalan kaki memasuki desa ini. Bayangkan naik turun gunung jalan kaki?!!!

Sering aku diceritakan bagaimana dulu sampai ada reunian orang-orang yang merantau jauh dari desa tersebut. Mereka bersama-sama dari Sudu, menginap dulu sebelumnya di rumah-rumah penduduk dan kemudian pagi-pagi berangkat bersama-sama berjalan menuju Parombean, dengan barang bawaan mereka masing-masing. Di satu titik mereka akan singgah dan membuka bekal masing-masing. Jadinya semacam piknik gitu ya. Sepertinya seru banget ya?!! Tapi saya bersyukur banget kok sudah ada jalan yang bisa dilalui mobil untuk masuk ke daerah tersebut, gak terbayangkan jika harus berjalan kaki di saat-saat berpuasa seperti ini.

Ada juga cerita jika memasuki desa tersebut, para bangsawan (yang punya gelar andi’, puang, petta, dll) harus melepaskan gelarnya di sana, dan jika memasuki desa tersebut sedang menaiki kuda, wajib turun dari kudanya dan berjalan kaki masuk. Jika melanggar biasanya para bangsawan tersebut tidak bisa lagi keluar dari desa itu. Pasti meninggal di desa itu. Sudah banyak kejadian seperti itu dulunya... jadi ya percaya gak percaya si... hehehe
Jika ditanyain kok bisa seperti itu? Sayangnya gak ada yang tahu hanya sekedar dugaan saja...

Nah lanjut ya, pas belok itu di jalan menuju Desa Parombean itu kita disuguhkan pemandangan rumah-rumah penduduk yang asri dengan bunga berwarna-warni dihalaman mereka, bahkan ada bunga anggrek bulan yang ditanam di dalam keranjang sampah yang di beri sabuk kelapa, dan juga ada bunga matahari!!! Lalu pemandangan berganti, kita melewati kebun cokelat, cengkeh, dan merica secara bergantian. Ada juga si kebun cabe dan kopi. Dan dibeberapa halaman rumah penduduk mereka menanam buah markisa.

Semakin jauh, jalan semakin rusak dan pemandangan semakin indah...






Awalnya jalanan lumayanlah seperti ini





Si kerbau yang cukup lama menghalangi jalan kami, bahkan setelah berapakali di klakson dia tetap kekeuh di tengah jalan.



Lama-lama jalan seperti ini .___.


Saat sampai di rumah Nenek Parombean, saya pun berkenalan dengan keluarga Pai yang ada di sana..

Setelah menyimpan barang tidak terasa telah tiba waktu berbuka, kami pun dengan ucapan Bismillah dan rasa syukur menyeruput teh hangat dan menyantap kue-kue yang telah disediakan. Cuaca mulai mendingin, setelah solat Magrib, mengganti pakaian yang lebih tebal, kami pun makan. Setelah itu kami mengobrol, saya lebih banyak mendengarkan saja, lalu kemudian pergi tidur. Pakaian tebal plus kaos kaki dan ditutupi lagi dengan selimut tebal sambil berpelukan barulah saya benar-benar dapat tertidur, meskipun dingin masih tetap merayap masuk...

You Might Also Like

8 comments

  1. wah mudik ke makasar ya, lanjut ke manado dong, dikitt lagi tuh :)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mudiknya ke Enrekang Om >.< lah akukan tinggalnya di Makassar ._. Makassar-Menado mah jauh u.u

      Delete
  2. pemandangannya baguuss bangettttt ^^

    ReplyDelete
  3. sama kayak di daerahku mbak, di lamongan jatim. semakin pelosok jalannya semakin runyam dan menggalukan tp kalo sampai di destinasi puaassss banget. bbrp taun lalu aku dan tim pecinta alam pernah ke pantai tersembunyi dan harus melewati gua dengan cara merangkak, superb!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wow :O pasti pantainya masih perawan gitu ya >.< ih keren ih

      Delete
  4. Wah, mudik di Sulawesi ya macet banget nggak mbak? Di Jawa sini kan macet pakai banget. Yang foto kedua dari bawah itu, jalan tanahnya bener2 muat dilewati mobil mbak? Kok kayaknya jalan kaki saja susah ya?

    Eh, untuk yang foto di restoran tapi nggak beli itu, saya pernah juga, tapi ga ketauan sih karena masih pagi :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jalan ramai si tapi gak macet kok ^^
      Alhamdulillah si muat, pas banget emang, salah sedikit masuk jurang >.<

      Delete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Beautiesquad