Puasa Hari Ketiga: Antusiasme Bulan Ramadhan

1:44 pm

Setelah solat subuh, rasa ngantuk itu tidak tertahankan lagi. Kami pun menutup mata dan tertidur pulas... rasanya baru saja sedetik aku menutup mata, badanku diguncang-guncangkan lembut oleh dia. Dengan malas kubuka mataku dan dia berkata bahwa jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan. Kaget, aku langsung bangun sambil mengucapkan maaf beberapa kali. Seharusnya jam setengah tujuh aku membangunkannya atau setidaknya alarm hp kami berbunyi. Tapi ternyata, hp ku mati, sepertinya dia lupa menyetel alarm di hp-nya, dan kami sukses tertidur pulas. Jadi bagaimana? Hari ini dia akan membolos kerja? Ternyata tidak, dia tetap pergi meskipun sudah sangat terlambat. Untungnya subuh tadi dia sudah mandi terlebih dahulu dan aku sudah menyetrikakan pakaian yang akan dia pakai ke kantor.

Selepas dia pergi ke kantor, aku kembali melanjutkan tidur ku. Hehehe... entahlah berapa hari ini aku selalu merasa ngantuk. Sejam kemudian barulah aku benar-benar terjaga. Setelah melakukan beberapa pekerjaan rumah tangga (cieeeeeee yang ibu rumah tangga), aku pun menghabiskan waktu dengan berganti-gantian membaca Al-Quran, menonton TV, dan membaca Atheis sembari menunggu azan magrib.

Saat itu tiba-tiba saja saya terkenang masa-masa ketika bulan Ramadhan di waktu saya kecil. Saat itu rasanya bulan Ramadhan adalah bulan yang begitu menggairahkan, mengasikkan, dan magis. Disaat itu rasanya saya menyambutnya dengan penuh sukacita, tidak berarti sekarang bulan Ramadhan tidak lagi saya sambut dengan sukacita, hanya saja rasanya sudah tidak seperti dulu lagi. Sukacitanya berbeda, jauh-jauh lebih polos.

Betapa saat itu saya sangat bersemangat untuk bangun sahur, solat subuh berjamaah dengan Aba dan Andi', dan jika sedang menginap di rumah nenek, solat subuh di mesjid. Mati-matiian menahan lapar dan haus karena tidak mau kalah dengan sepupu-sepupu yang lain, dimana kami sering "bertanding" siapa yang puasanya full sebulan itu. Yang selalu berakhir seri, karena puasa kami tidak ada bolongnya sama sekali. Malu sekali rasanya saat itu jika puasa kami ada yang bolong.

Dan tentunya saat-saat yang paling dinantikan adalah saat suara azan maghrib berkumandang. Melahap panganan manis buatan rumah dengan lahap terkadang malah kalap sehingga saat solat magrib berjamaah dilakukan dengan bermalas-malasan, perlu panggilan berkali-kali lalu teguran yang lumayan keras baru beranjak turut serta untuk solat. Biasanya juga disertai dengan drama air mata. Hahaha... setelah solat maghrib lalu makan nasi beserta lauknya sambil menunggu panggilan teman-teman untuk solat taraweh.

Di kompleks rumah dulu, mesjid belum ada. Kami harus berjalan ke luar kompleks, menyebrangi jalan raya untuk sampai ke mesjid. Karena itu untuk ke mesjid itu, kami berombongan, menunggu anak-anak sekompleks lalu pergi beramai-ramai. Anak yang lebih tua, otomatis ditugaskan untuk menjaga yang lebih muda. Terutama memegangnya ketika menyebrang.

Meskipun solat taraweh plus witir adalah solat terlama yang aku lakukan, tetapi solat inilah yang paling membuatku bersemangat. Berkumpul bersama teman-teman, bermain-main disela-sela waktu solat dan saat uztad berceramah, membeli mangga atau kedondong atau bonte (ketimun) yang diberi saus tauco yang banyak dijual hanya saat bulan Ramadhan. Bagi saya saat itu adalah saat-saat menyenangkan di bulan itu. Belum lagi ketika mulai bersekolah dengan bersemangat mengisi buku Amaliah Ramadhan yang nantinya dengan bangga diserahkan kepada guru agama setelah sebelumnya membandingkannya dengan punya teman.

Juga memilih baju baru untuk dipakai saat lebaran dan sekali lagi dengan sombong membandingkannya dengan punya sepupu. Berapa banyak baju baru yang dia punya? Saya harus punya sama banyak dengan punyanya. Hihihihi...

Juga menikmati kisah-kisah para nabi dari berbagai sumber; buku, TV, maupun cerita yang dituturkan nenek atau pun bapak seorang teman. Terkagum-kagum dan sangat penasaran pada malam lailatur qodar. Konon, katanya ketika malam lailatul qodar, suasana mendadak hening, angin berhenti berhembus, daun yang gugur tiba-tiba terhenti di tempatnya (sehingga seperti melayang) dan beribu-ribu malaikat turun ke bumi. Karena itu, pernah aku menunggui malam lailatur qodar itu dengan keukeh, meskipun pada akhirnya tertidur juga. Aku menungguinya bukan untuk mengharapkan pahala, pikiran anak kecil belum sampai ke sana, aku saat itu hanya ingin menyaksikan keajaibannya. Benarkah bumi mendadak hening? Dan tentu saja karena aku sangat ingin bertemu malaikat!!!

Mengingat saat-saat ku kecil itu, membuat ku tersenyum. Senyum yang sedikit miris juga. Ketika "dewasa" semangat itu perlahan-lahan memudar. Bertambahnya "pengetahuan" membuat bulan Ramadhan itu tidak lagi terlalu mengasikkan. Ya, bertambah dewasa membuat banyak hal berubah. Saya selalu iri pada anak kecil, hidup mereka begitu bahagia. Saya juga agak sedih ketika melihat mereka tumbuh bertambah besar....

Dan apakah saya menyesal bertumbuh? Bertambah besar dan dewasa? Tidak juga sebenarnya, tapi ya, ada hal-hal yang hilang yang sangat saya rindukan pada diri saya sewaktu saya kecil...


You Might Also Like

0 comments

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Beautiesquad