Puasa Hari Kedua: Saat berdoa terasa terlalu maruk

12:13 pm

Dia jarang berdoa meminta kepada-Nya, apalagi jika doa itu untuk dirinya, hal itu bisa dikatakan tidak pernah. Terdengar sombong, hanya saja dia memang seperti itu. Bukannya dia tidak ingin rejeki yang mengalir lancar, rumah tangga yang sakinah, mawadah, warahman, anak yang cantik/tampan, sehat, dan soleh, dll. Dia hanya merasa malu jika terus meminta kepada-Nya.

Bukankah banyak hal yang Ia berikan telah lebih dari cukup?!! Dia merasa terlalu maruk untuk merecoki Sang Kekasih dengan permintaan-permintaannya. Dia sehat, bahagia, punya tempat untuk tinggal, bisa makan tiga kali sehari, punya keluarga dan teman-teman. Lalu apa lagi yang harus ia keluhkan? Apalagi yang kurang? Untuk yang lebih dari itu, dia merasa semuanya lebih baik dia serahkan kepada-Nya. Dia yang paling tahu apa yang terbaik untuknya.

Dia jarang bahkan tidak pernah berdoa. Dia hanya lebih banyak berbincang dan curhat dengan Sang Kekasih. Lebih banyak mengucapkan syukur, lebih banyak memuji kebesaran-Nya.

Dan Ramadhan kali ini, dia ingin setingkat lebih dekat dari mengenal Sang Kekasih. Lebih dekat dan lebih dekat lagi... hingga dia melebur dalam ketiadaan.

Tapi bukankah itu tetap sebuah doa? Sebuah permintaan?

Ahhh ternyata dia pun tetap merecoki Sang Kekasih~

You Might Also Like

4 comments

  1. gpp wujud syukur itu bisa berupa doa. Allah maha pengasih dan Allah suka dengan hambanya yang bersyukur dan tak bosan meminta pada NYA :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia si >.< cuma terkadang ya itu, malu saja dengan-Nya~

      Delete
  2. terus semangat nulisnya...
    sangat inspiratif

    ReplyDelete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Beautiesquad