Puasa Pertama: Ramadhan yang sedikit berbeda

2:48 pm

Ramadhan telah datang lagi, dan alhamdulillah kita masih diberikan kesempatan untuk berjumpa, melihat, mendengar, dan merasakannya lagi. Untuk Ramadhan kali ini, saya akan melaluinya dengan sedikit berbeda. Ada beberapa hal yang membuat saya harus beradaptasi, ada juga beberapa hal yang menuntut saya untuk mempelajarinya. Tidak semuanya terasa menyenangkan, tetapi berusaha melaluinya dengan semangat dan rasa bahagia membuatnya lebih mudah. Adanya dia juga cukup membantu saya untuk beradaptasi dan belajar itu.

Untuk Anda sendiri, adakah hal yang berbeda di Ramadhan kali ini? Sesuatu yang bertambah atau menghilang mungkin?

Puasa pertama itu sendiri, kami beramai-ramai ke kebun. Malam sudah tua ketika kami baru berangkat, sehingga sesampai di sana kami hanya berbenah barang lalu kemudian beristirahat. Jam setengah empat, kami dibangunkan. Makanan telah tersedia di meja makan, saya hanya tinggal menyantapnya saja. Untuk yang satu ini, sama sekali tidak ada yang berubah. Saya tetap malas menyentuh wilayah dapur. Setelah sahur saya membaca Al-Quran sambil menunggu subuh, sukur-sukur jika saya bisa menamatkannya dalam Ramadhan kali ini, jika tidak... ya setidaknya saya membacanya. Ketika telah tiba waktu subuh, kami pun solat berjamaah. Dan setelah itu saya melanjutkan membaca Al-Quran lagi lalu kembali tidur.

Agak canggung memang, dipuasa kali ini saya melewatkannya dengan keluarga yang baru. Sahur hingga berbuka dengan mereka, terlebih saya memang lumayan sulit berbaur dan berbasa-basi. Menyenangkan juga karena hal-hal baru selalu membuat saya tertantang...

Puasa pertama ini terasa lumayan berat untuk saya pribadi. Saya merasa sangat letih dan malas melakukan apapun, mual secara tiba-tiba, dan harus selalu berada di dekatnya, jika tidak saya merasa ada yang salah, gelisah, dan ujung-ujungnya mau menangis. Belum lagi cuaca yang sangat panas, hingga mencapai suhu tiga puluh empat koma lima derajat celcius. Akhirnya yang saya lakukan hanya seloyoran di bale-bale di bawah rumah.

Terkadang saya juga bermain-main dengan keponakan-keponakan kecilku. Yang paling kecil, masih bayi bernama Queen. Giginya baru saja tumbuh sehingga dia sangat suka menggigit apa pun dan memasukkan apa saja ke dalam mulutnya. Dia juga sudah bisa merangkak, sehingga dia merangkak ke sana ke mari, dan harus selalu diawasi karena dia sering memanjati barang-barang, berusaha berdiri dengan berpegangan pada barang-barang itu. Dia sering berceloteh dan sangat suka mendengarkan orang bercakap-cakap, jika sudah seperti itu dia akan terus berceloteh tentang hal-hal yang hanya dia dan Tuhan yang tahu. Sangat menggemaskan melihatnya.

Saya suka menggendongnya, memeluknya dan merasakan hangat dan berat tubuhnya. Bermain bersamanya mengajari saya banyak hal.

Menakjubkan melihat dunia dari mata seorang anak kecil. Ketika semuanya terlihat luar biasa, aneh, dan menimbulkan rasa penasaran. Harinya dipenuhi hal-hal baru, petualangan-petualangan baru. Bersamanya saya diajak turut serta merasakan kembali keajaiban dunia. Mengagumi ciptaan Sang Kekasih yang biasanya abai saya perhatikan. Takjub melihat ikan-ikan bersisik gemerlapan berenang ke sana ke mari di dalam aquarium. Tidakkah ia lelah menggerakkan siripnya? Tak maukah ia berhenti sejenak? Terpesona melihat ayam-ayam yang berkotek-kotek dan berkokok nyaring, ke sana ke mari mematuki tanah. Pernahkah kalian memperhatikan bulu ayam yang ternyata sangat indah? Bahwa mereka ternyata memakan hampir segalanya, apa saja yang mereka temukan, bahkan jika itu tulang saudara mereka sendiri. Kalau dipikir-pikir sedikit menyeramkan ya?!! Hahaha... Atu pernahkah kalian melihat kelinci anggora? Dengan bulunya yang lebat persis kucing anggora. Dan segala yang hijau sejauh mata memandang, juga bunga-bunga anggrek yang bermekaran. Bukankah dunia ini indah?!!

Sayangnya karena rasa letih yang saya rasakan, hari itu saya tak berlama-lama bermain dengan Queen. Seperti yang saya bilang tadi, saya lebih banyak seloyoran di bale-bale. Hingga sore menjelang, saya membantu sedikit memotong-motong jely dan timun suri. Dan meskipun saat itu waktu terasa lambat berjalannya, azad magrib tiba-tiba saja berkumandang. Alhamdulillah puasa kita sudah satu... masih ada dua puluh sembilan hari lagi hingga Idul Fitri.

You Might Also Like

5 comments

  1. selamat menunaikan ibadah puasa, Kak Dwi...semoga ramadhan tahun ini memberi kesan dan berkah buat kakak sekeluarga..salam buat kak Pay :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin ^^ Makasih Meike :* kapan balik? Kangen deh >.<

      Delete
  2. Puasa di kebung ngapain? Maksudnya keluarga baru? Baru menikah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya gak ngapa-ngapain Om ._. mertua tinggalnya di sana soalnya ^^ hehehe

      Delete
  3. wuiiii....congrats ya.....

    ReplyDelete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan