#Jumatulis Manis, cookies, cupcakes, lolipop, ice cream - Rumah SangPenyihir

11:30 pm

Gambar diambil di sini
Matahari baru saja terbit, makhluk-makhluk hutan pun baru saja terbangun dan memulai aktifitasnya, tetapi di jalan setapak di tengah hutan, seekor beruang cokelat besar sudah berjalan-jalan bergandengan tangan dengan seorang gadis kecil. Di tangan kiri beruang itu ia memegang keranjang piknik yang terlihat cukup berat, sementara si gadis kecil menggandeng ransel di bahunya dan membiarkan tangan kanannya bebas menunjuk segala hal yang terlihat menakjubkan untuknya.

Setiba di perempatan jalan, mereka pun berpisah. Si beruang berbelok ke kiri menuju peternakan lebah dan si gadis kecil berjalan terus ke kedalaman hutan. Tentunya kalian telah menebak mereka siapa bukan? Yup!!! Mama Beruang dan Gadis Kecil kita tersayang. Mereka berangkat sebelum matahari terbit dari rumah mereka di pinggir hutan untuk perjalanan yang panjang ini. Mama Beruang akan menjenguk putranya yang memiliki peternakan lebah (Sudahkah kuceritakan tentang anak-anak Mama Beruang? Belum? Lain kali akan kuceritakan tentang mereka), sementara Gadis Kecil ingin menyusuri hutan lebih jauh lagi.

Awalnya Gadis Kecil berniat ikut dengan Mama Beruang ke peternakan lebah tetapi dia tiba-tiba mengingat sebuah kisah yang sering diceritakan teman-temannya tentang seorang penyihir yang hidup jauh di dalam hutan. Katanya penyihir itu memiliki kesaktian yang luar biasa, ia bisa mengutuk dan memberkati seseorang, menurunkan hujan maupun menghalau hujan, memunculkan sesuatu dari ketiadaan, mempercepat tumbuh tanaman, dan sangat suka memakan anak-anak kelinci dan telur-telur burung. Tentunya cerita ini sering digunakan oleh makhluk-makhluk hutan untuk menenangkan anak-anak mereka yang terlalu aktif, terutama oleh kelinci dan burung. Dan bagi Gadis Kecil sendiri, cerita ini sangat menarik dan membangkitkan jiwa petualangannya. Dia juga sangat penasaran bagaimana rupa sang penyihir dan dari mana ia mempelajari ilmu sihirnya.

Maka ketika Mama Beruang membangunkannya jauh sebelum matahari terbit untuk pergi ke peternakan lebah, Gadis Kecil meminta izin untuk tidak ikut dan menyatakan niatnya. Dengan beberapa nasehat tentang tidak boleh berkeliaran di hutan jika telah gelap, tidak boleh mengganggu makhluk hutan lainnya, tak boleh memasuki rumah seseorang tanpa dipersilahkan, Mama Beruang pun mengizinkan Gadis Kecil.

Sebelum berpisah di perempatan jalan itu, Mama beruang mengulangi nasehatnya dan memeluk Gadis Kecil. Gadis Kecil pun tak lupa mencium pipi Mama Beruang sebelum melepaskan diri dari pelukannya dan melanjutkan perjalanannya seorang diri.

Seperti biasa Gadis Kecil benyanyi-nyanyi riang menyusuri jalan setapak dan jika berpapasan dengan makhluk hutan lainnya ia menyapa mereka, bahkan terkadang ia singgah dan mengobrol cukup lama dengan mereka. Tetapi mengingat perjalannya yang akan lebih jauh dari biasanya, ia berusaha hanya mengobrol singkat saja dan kemudian melanjutkan perjalanannya kembali. Dia pun tak lupa singgah memetik bunga-bunga liar untuk hadiah bagi Sang Penyihir. Apakah Sang Penyihir menyukai bunga? Yaa... setidaknya Gadis Kecil sudah punya niat baik bukan?

Segera saja jalan setapak itu berakhir, dan dia harus berjalan hanya dengan mengandalkan kompas yang ada di jam sakunya. Masalahnya dia tak tahu pasti di mana letak rumah sang penyihir, apakah di sebelah timur, utara, atau selatan?

Beruntungnya saat kebingungan itu, dia berpapasan dengan Tuan Serigala.
“Apa yang kau lakukan di sini Gadis Kecil? Tempat ini jauh dari tempat biasanya kau berjalan-jalan.”
“Tuan Serigala!!!” Gadis Kecil sangat senang bertemu Tuan Serigala, selain karena mereka sudah lama tidak bertemu, juga karena Tuan Serigala hampir pasti mengetahui tempat-tempat yang belum pernah ia jelajahi. Ia pun berlari menghampirinya dan memeluknya erat lalu berkata, “Aku berniat mengunjungi Sang Penyihir. Tahukah kau di mana letak rumah Sang Penyihir?”
Tuan Serigala mengerutkan keningnya dan bertanya, “Penyihir yang mana yang ingin kau temui?”
“Banyakkah penyihir yang tinggal di tempat ini?” tanya Gadis Kecil keheranan.
“Terlalu banyak malah, sehingga membuatku hampir gila!”
“Whaaaaa...” Gadis Kecil memandang Tuan Serigala dengan terpesona dan berkata, “Kenalkah kau dengan semua penyihir itu?”
“Tidak juga. Kau ingin bertemu penyihir yang mana? Ada urusan apa kau dengannya?”
“Entahlah...” Gadis kecil mengangkat bahu, kemudian ia duduk di sebuah batu lalu berkata, “Teman-temanku; Bola Salju, Gula-gula Kapas, Telinga Terkulai, Cericip, dan Kwak sering menceritakan tentang penyihir ini. Mereka sangat takut berjumpa dengannya, setakut mereka berjumpa denganmu. Katanya lagi penyihir itu sangat suka memakan anak-anak kelinci dan telur-telur burung.”
Mendengar hal itu Tuan Serigala menyeringai. Jika saja Gadis Kecil tidak mengenal Tuan Serigala dan sebelumnya tidak pernah melihat ia menyeringai, Gadis Kecil akan segera berlari ketakutan, karena seringai Tuan Serigala sungguh menakutkan. Seakan-akan sebuah pikiran jahat melintas di kepalanya dan dia bersiap-siap menerkammu. Tapi karena ia telah mengenal Tuan Serigala dan menyayanginya, ia tahu bahwa memang seperti itulah cara Tuan Serigala tersenyum.
“Hah! Jadi dia yang ingin kau temui?!!! Aku tahu di mana ia tinggal, sini, kuantar kau ke rumahnya. Ya, kurasa kau akan sangat menyukai rumah itu!” Tuan Serigala pun berjalan menuju rumah Sang Penyihir dan Gadis Kecil mengikuti di sisinya sambil meloncat-loncat kegirangan dan mengajukan banyak pertanyaan pada Tuan Serigala...
“Betulkah? Apakah kau mengenalnya? Apakah di baik? Menurutmu dia akan senang menemuiku?”
“Dia oke! Hanya saja jangan sampai kau mencuri makanannya atau masuk ke rumahnya tanpa seizinnya. Istrinya juga baik, dan ya ia akan menyukai bunga-bunga pemberianmu.”
Gadis Kecil mendengarkan baik-baik perkataan Tuan Serigala dan menyimpannya di kepala dan hatinya, ia harus bersikap santun dan jangan sampai membuat Sang Penyihir beserta istrinya marah atau pun mempermalukan Mama Beruangnya dan Tuan Serigala yang mempercayainya.

Ketika mereka tiba di sebuah jalan setapak yang diterangi cahaya dari lampion-lampion yang tergantung di dahan-dahan pohon, Tuan Serigala menghentikan langkahnya.
“Jika kau mengikuti jalan setapak ini, kau akan menemukan rumah mereka,” kata Tuan Serigala.
“Kau tidak akan menemaniku?”
“Tidak. Aku punya urusan lain, berapa lama kira-kira kau akan bertamu di sana?”
Gadis Kecil melihat jamnya dan berkata dengan sedikit cemas dan gusar, “Mungkin tiga atau empat jam. Bagaimana caraku pulang? Aku kurang memperhatikan jalan ke sini tadi. Lagi pula pohon-pohon terlihat sama semuanya, dan cahaya matahari hanya sedikit yang menembus kanopi pepohonan di sini. Kupikir kau akan menemaniku.” Kentara sekali bahwa ia mulai merajuk...
Tuan Serigala menyeringai dan berkata denagan sayang, “Lihat, inilah yang tidak ku sukai dari anak manusia, mereka mudah tersesat dan manja. Juga merepotkan. Aku akan menjemputmu dalam tiga atau empat jam, yang perlu kau lakukan hanyalah tidak membuat masalah di sana. Mengerti?!!”
“Mengerti Pak!” Jawab Gadis Kecil dengan riang. Dia pun melanjutkan perjalannya seorang diri lagi, menyusuri jalan setapak yang diterangi lampion yang berkedap-kedip.

Lampion yang berkedap-kedip?
Penasaran, Gadis Kecil mendekati salah satu lampion itu dan langsung menyadari bahwa cahaya lampion itu berasal dari segerombolan kunang-kunang.
“Psttt... kunang-kunang mungil... psttt... apa kalian terkurung di sini?” Gadis Kecil merasa kasihan melihat kunang-kunang tersebut, ia berpikir kunang-kunang tersebut di kurung di dalam lampion itu. Tetapi kunang-kunang itu tak ada yang menjawab pertanyaan Gadis Kecil, ya memang seperti itulah para serangga, mereka terlalu sibuk dengan dunia mereka sendiri sehingga tak ada yang pernah mengacuhkan Gadis Kecil. Maka Gadis Kecil pun melanjutkan perjalannya dan segera melupakan para kunang-kunang.

Di ujung jalan setapak itu berdiri sebuah pondok yang sangat menakjubkan, mengingatkan Gadis Kecil pada sebuah dongeng yang pernah ia baca di perpustakaan sekolahnya, bedanya jika pondok dalam dongeng itu terbuat dari roti jahe, pondok ini terbuat dari coklat. Pondok itu dipagari oleh permen lolipop yang berwarna-warni, dan sebelum mencapai pondok itu, Gadis Kecil melewati sebuah gerbang lengkung yang terbuat dari permen, yang dirambati oleh tanaman yang bunganya berwana merah cerah yang juga terbuat dari permen. Dan tidak hanya itu, setelah melewati gerbang tersebut, Gadis Kecil menyadari bahwa setiap tanaman yang ada di sekitar pondok itu, sepanjang yang dipagari oleh permen lolipop terbuat dari bermacam-macam permen, cokelat, toffe, fudge, nougat dan kue. Tetapi yang paling luar biasa adalah pondok yang terbuat dari cokelat tersebut; dindingnya adalah cokelat yang ditempeli kue-kue kering, pintunya adalah biskuit berukuran raksasa, dan kusen-kusen jendelanya adalah permen batangan. Dan jangan lupakan atapnya yang terbuat dari wafer. Perut Gadis Kecil seketika berbunyi, ia melihat jamnya dan menyadari ini waktunya makan siang.

Gadis Kecil sedikit bimbang untuk mengetuk pintu pondok itu, rasanya kurang sopan bertamu diwaktu seperti ini, seakan-akan kau berharap diajak makan siang. Tapi jika ia memakan bekalnya di sekitar pondok ini, rasanya itu jauh lebih tidak sopan lagi, siapa pun yang melihatnya pasti berpikir bahwa tuan rumahnya sangat pelit sehingga membiarkan tamunya makan makanan yang ia bawa sendiri. Akhirnya Gadis Kecil  mengetuk pintu pondok tersebut. Tok tok tok... Tok tok tok... Tok tok tok... Tok tok tok... tetapi tidak ada yang menjawab ketukan Gadis Kecil. Apakah tidak ada orang? Apakah mereka sedang keluar?

Penasaran Gadis Kecil mengintip di jendela yang terletak di samping pintu. Memang tidak ada siapa-siapa di pondok itu, hanya ada sebuah meja besar yang diatasnya terletak dua buah mangkuk yang berukuran besar dan sedang. Entah apa yang berada di dalam mangkuk tersebut, yang bisa Gadis Kecil lihat hanyalah uap yang mengepul dari dalamnya. Juga ada sepiring besar cupcake yang seperti baru saja selesai dipanggang dan dihias. Dan juga sekeranjang buah-buahan... perut Gadis Kecil kembali berbunyi...

Selain meja besar tersebut yang berdekatan dengan dapur, di sisi lain pondok itu, yang menghadap di depan perapian ada dua buah kursi yang berukuran besar dan sedang. Kedua kursi itu terlihat sangat nyaman, pasti sangat enak melemaskan kaki di sana, beristirahat setelah perjalanan yang jauh. Karena sepertinya memang tidak ada orang, hewan, atau apapun makhluk yang menghuni pondok ini, Gadis Kecil pun memutuskan mengelilingi pondok tersebut sambil mengintip di setiap jendela yang ada. Sebenarnya ia sangat ingin memutar pegangan pintu itu dan masuk ke pondok itu untuk melihat-lihat, tapi mengingat nasehat Mama Beruang dan Tuan Serigala maka ia tidak melakukannya.

Di salah satu jendela, Gadis Kecil melihat sebuah tangga yang mengarah ke tingkat dua pondok tersebut, “Mungkinkah mereka sedang tidur siang dan tidak mendengar suara ketukanku?” pikirnya. Maka ia pun kembali ke depan pondok dengan niatan mencoba mengetuk pintu itu sekali lagi, tetapi...
“Hay anak kecil!!! APA YANG KAU LAKUKAN DI SANA?!!!”
Gadis Kecil terlonjak kaget mendengar suara yang menggelegar dan sepertinya tidak ramah itu, takut-takut ia berbalik dan melihat dua ekor beruang hitam berjalan ke arahnya. Yang jantan besarnya dua kali Mama Beruang, memakai jas berwarna hijau dan kemeja putih, bercelana kain selutut, dan bersepatu hitam mengkilap. Matanya dibingkai kaca mata yang tebal dan diatas moncongnya ada kumis hitam yang sangat lebat, tampangnya terlihat sangat galak. Sebentara itu yang betina memakai terusan bunga-bunga selutut dengan kerah model victoria, dia sebesar Mama Beruang, hanya mungkin sedikit lebih langsing. Sepatunya senada dengan terusannya dan di kepalanya dihiasi topi lebar berpita merah, dia terlihat ramah dan tersenyum geli melihat Gadis Kecil.
“Apa yang kau lakukan di sini anak Hawa? Apakah kau berniat mencuri makanan kami seperti saudaramu dahulu?” tanya si beruang betina dengan ramah meskipun tetap saja terdengar mengancam.
“Tidak... tidak... Tuan dan Nyonya Beruang. Aku datang berkunjung untuk berkenalan dengan Sang Penyihir dan istrinya. Apakah itu kalian? Dan sebenarnya aku tidak punya saudara, mungkin kalian salah mengenaliku.” Kata Gadis Kecil. Dia masih sedikit ketakutan, kakinya bergerak-gerak gelisah.
“Ohh lihatlah, kasian dia ketakutan. Seharusnya kau tidak membentak-mentak seperti tadi sayang.” Kata Nyonya Beruang kepada Tuan Beruang, “Dan setelah dilihat-lihat dia memang tidak mirip dengan anak nakal itu.”
“Bagiku anak manusia terlihat sama saja dimana pun! Mereka nakal-nakal, tidak sopan, dan tak tahu malu!” gerutu Tuan Beruang. “Lagi pula aku tak suka disebut penyihir! Aku ini penemu, bukan penyihir!” katanya lagi masih dengan menggerutu.
“Apa yang kau temukan? Maukah kau menceritakannya kepadaku?” ujar Gadis Kecil yang tanpa sadar karena terlalu bersemangat, mendekati Tuan Beruang dan memegang tangannya sambil meloncat-loncat kegirangan. “Maukah? Maukah? Maukah?”
“Oh hentikan anak ini! Dia membuatku pusing!” erang Tuang Beruang.
“Sudah... sudah... sudah... mari kita masuk ke dalam.” Kata Nyonya Beruang. Dia membuka pintu dan mempersilahkan mereka masuk.

Pondok itu beraroma manis yang menyenangkan... dan dengan banyaknya kue, coklat, dan permen disekitar situ, anehnya Gadis Kecil tak melihat seekor semut pun.
“Huwaaaaaa... tak ada semut di sini!”
“Hah! Jika kau mencari semut carilah di hutan sana! Hah!” gerutu Tuan Beruang. “Duduklah di sini!” perintahnya kepada Gadis Kecil, sambil mengangkat sebuah kursi kecil dari sebuah pintu tingkap di bawah meja. Kursi itu ia letakkan di depan meja makan.
“Ayo kita makan siang dulu.” Ajak Nyonya Beruang sambil menuangkan bubur dari panci ke sebuah mangkuk kecil. “Kau suka bubur manis bukan?” tanyanya ramah kepada Gadis Kecil.
“Tentu saja.” Jawab Gadis Kecil. Mereka pun duduk mengelilingi meja makan tersebut dan menyantap bubur serta cup cakes dan buah-buahan.

Enak sekali bubur itu, Gadis Kecil segera menghabiskannya. Baru ketika ia mencicipi cupcake yang tak kalah enaknya itu, dia pun memulai obrolan.
“Bagaimana tempat ini bisa penuh dengan makanan manis? Anda yang menciptakannya Tuan Beruang? Bagaimana? Oh ia, mengapa kalian mengira aku memiliki seorang saudara?”
“Lihat! Dia tidak sopan! Sudah kubilang jangan pernah berbaik hati dengan anak manusia!” gerutu Tuan Beruang lagi.
“Sayang... bukankah seharusnya kau memperkenalkan dirimu dahulu?” kata Nyonya Beruang.
“Oh ia, maaf...” jawab Gadis Kecil. Mukanya memerah menahan malu. “Namaku Gadis Kecil, aku tinggal di tepi hutan bersama Mama Beruang. Aku ke sini karena penasaran tentang penyihir yang sering diceritakan teman-temanku. Selain itu aku senang bertualang dan bersahabat dengan siapa pun.”
“Jauh sekali tempatmu tinggal. Bagaimana kau bisa tiba di sini tanpa tersesat?” tanya Nyonya Beruang lagi.
“Aku menyusuri jalan setapak hinggah jalan itu habis dan kemudian Tuan Serigala mengatarku ke sini.” Jawab Gadis Kecil.
“Huh! Si serigala itu selalu membuatku gusar!”
“Jadi siapa kalian?” tanya Gadis Kecil lagi.
“Namaku Nemu dan dia istriku Flo. Kami punya seorang anak bernama Dagi yang kini membuka toko permen di kota manusia. Aku menumbuhkan gula-gula, coklat, kue, dan segala makanan manis lainnya. Aku menciptakan “kondisi” sehingga makanan itu tidak basi dan semut serta binatang-binatang pengganggu lainnya tidak bisa mendekati tempat ini.” Kata Tuan Beruang.
“Bagaimana?” tanya Gadis Kecil lagi dengan penuh kekaguman.
“Kau tahu anak kecil? Itu Rahasia!” jawabnya lagi dengan menggerutu.
Gadis Kecil cemberut. Dia selalu merasa jengkel jika pertanyaannya tidak dijawab. Tetapi dia berpikir karena ini baru bertemuan pertama, tidak apa-apalah, masih akan banyak waktu untuk membujuk Tuan Beruang. Dia berencana ini bukan kunjungannya yang terakhir ke pondok ini. Dan dia pun masih memiliki banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan. Saat akan bertanya lagi, Nyonya Beruang tiba-tiba bangkit dari kursinya dan menuju dapur. Tak lama ia kembali sambil membawa tiga gelas es krim strawberry...
“Cicipilah es krim buatan sendiri.” Katanya ramah sambil meletakkan gelas berisi es krim itu di depan Gadis Kecil. Tentu saja rasanya sangat enak, melumer dan meleleh di mulut, dan ketika di telan, es krim itu meninggalkan rasa mint menyegarkan.
“Ini enak sekali Nyonya Beruang.” Kata Gadis Kecil.
“Terimakasih sayang. Panggil saja aku Flo. Dan panggil ia Nemu.”

Gambar diambil di sini
“Aku senang kau berkunjung ke rumah kami ini. Sudah lama aku tidak dikunjungi oleh seorang teman. Ya, rumah kami ini memang terlalu jauh.” Kata Nyonya Beruang memulai percakapan lagi, sebentara itu Tuan Beruang bangkit dari tempatnya duduk dan beranjak ke kursi besar di depan perapian. Ia menyalakan pipanya dan duduk diam menikmatinya.
“Aku juga senang berkujung ke sini Nyonya, eh, Flo.” Jawab Gadis Kecil. “Apakah kalian pernah mengalami kejadian buruk dengan anak manusia? Anak yang kalian sangka adalah kakakku? Miripkah ia denganku?” tanya Gadis Kecil lagi.
“Ahhh ya. Waktu itu anak kami masih kecil dan rumah kami belum seperti ini, hanya pondok biasa yang terletak tidak terlalu jauh di dalam hutan. Seperti biasa aku memasak bubur dan seperti biasa juga kami menyempatkan berjalan-jalan dahulu sembari menunggu bubur kami dingin. Saat itu ada gadis kecil seusiamu, hanya saja rambutnya berwarna emas, masuk ke pondok itu dan mencicipi bubur di mangkuk kami dan menghabiskan bubur di mangkuk anakku. Tidak hanya itu, di menduduki kursi kami dan merusakkan kursi anakku, lalu ia tidur di  tempat tidur kami. Yang paling menyebalkan, dia bahkan tidak meminta maaf saat kami menemukannya, ia hanya berlari keluar begitu saja.”
“Oh tidak sopan sekali!” seru Gadis Kecil.
“Ia hal itu membuat kami bertanya-tanya tentang sifat manusia. Jika anak-anaknya saja seperti itu, bagaimana dengan yang telah dewasa?” kata Nyonya Beruang. Dia tersenyum lalu melanjutkan ceritanya, hanya saja kali ini suaranya lebih pelan, “Dan ketika suamiku memulai usahanya ini, dia pun berkeinginan menjual permen-permennya kepada manusia. Tapi sayangnya karena tampangnya yang seperti itu, manusia-manusia itu, terutama anak-anaknya berlari mejauhinya. Hal itu membuatnya sakit hati.”
“Aku mendengar itu!!!” gerutu Tuan Beruang.
“Wah bodoh sekali mereka padahal permen-permen di sini sangat lezat!” Kata Gadis Kecil sambil mengemut lolipop yang disodorkan Nyonya Beruang kepadanya.

Waktu berlalu begitu cepat, tau-tau saja Tuan Serigala telah datang menjemput Gadis Kecil. Padahal masih banyak hal yang ingin Gadis Kecil ketahui tentang Tuan dan Nyonya Beruang itu.
“Astaga!” katanya sambil penepuk jidatnya, “Aku punya sesuatu untukmu Flo, aku hampir saja melupakannya.” Gadis Kecil pun menyerahkan bunga-bunga liar yang ia petik di perjalanan kepada Nyonya Beruang dan berkata dengan malu-malu, “Bolehkah aku berkunjung ke sini lagi kapan-kapan? Oh maaf bunganya sudah agak layu.”
“Tentu saja boleh.” Jawab Nyonya Beruang lagi.
“Ya, datang sajalah.” Jawab Tuan Beruang

Maka Gadis Kecil pun berjalan pulang dengan riang bersama Tuan Serigala. Senang rasanya memiliki teman baru.
“Astaga!!!!” kata Gadis Kecil lagi sambil menepuk jidatnya (lagi), “Aku lupa menanyakan mengapa mereka mengurung kunang-kunang itu di dalam lampion.”
Tuan Serigala hanya menyeringai melihat tingkah Gadis Kecil.
*****

#Jumatulis adalah latihan menulis, atau boleh juga dikatakan sebagai proyek menulis, bersama beberapa teman dari grup @klubbuku. Setiap minggu akan ada kata yang ditentukan salah satu anggota secara bergiliran, yang akan kita kembangkan menjadi sebuah tulisan yang di posting setiap hari Jumat di blog masing-masing. Panjang tulisan mau pun jenis tulisan tidak ditentukan, boleh berupa fiksi mau pun nonfiksi, bisa berupa cerpen, puisi, atau pun artikel. Bebas sesuai inspirasi ^^

You Might Also Like

1 comments

  1. Kak dwiiii aku baru selesai baca punyamu, aku suka ceritanya. Eh iya tapi aku baru tau kata "sebentara" itu ada ya?

    ReplyDelete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan