Pesan Gadis Kecil di Suatu Malam

2:56 am

Di suatu malam, malam yang biasa-biasa saja, tak ada yang spesial, Gadis Kecil mendatangiku. Saat itu aku masih belum bisa terlelap, selain karena cuaca yang gerah, membuat kulitku lengket dan gatal-gatal, nyamuk yang terus berdengung membuatku semakin susah untuk tertidur. Entah dari mana datangnya nyamuk-nyamuk itu. Padahal pintu kamarku selalu kujaga agar senantiasa tertutup dan obat nyamuk eletrik sudah kunyalakan sedari tadi. Kadang kupikir nyamuk itu bisa muncul dari ketiadaan begitu saja. Atau mungkin mereka bisa seenaknya berpindah ruang dan waktu, lalu muncul dihadapanku, berdengung berisik di telingaku sembari mencari sebidang kulitku yang terbuka. Seenaknya tanpa meminta izin mengisap darahku, lalu meninggalkan bentolan yang membuatku semakin gatal. Kulitku yang super sensitif tidak akan pernah terlihat mulus jika seperti ini! Ahh, di saat merutuki nyamuk, cuaca panas, dan kulit sensitif itulah si Gadis Kecil datang lalu menghampiriku...

Wajahnya cemberut dan dia terlihat begitu menyebalkan jika sedang seperti itu. Merajuk, merajuk, dan merajuk. Jika dia sedang seperti itu, tidak dalam mood yang bagus, aku selalu memilih membiarkannya sendiri. Membiarkannya merajuk dalam sepi, terkadang menangisi sesuatu yang teramat bodoh dan tak penting, seorang diri. Karena aku tahu, itu yang terbaik untuknya dan itu yang ia inginkan. Dia akan sangat malu jika kedapatan menangis, dan akan menjadikanku, atau kalian yang kebetulan ada di sekitarnya sebagai sasaran emosinya. Jadi ya, hal yang paling baik memang membiarkannya merajuk, karena setelah itu, setelah ia menyalurkan energi negatifnya di tempat-tempat lain, dia akan kembali menjadi anak yang manis. Tapi tidak kali ini, aku mendapati ada kesedihan dan kekecewaan di matanya, tidak seperti biasanya.

"Ada apa denganya?" pikirku saat itu.

"Ada apa?" tanya ku kepadanya, "Kau terlihat sangat gusar. Dan sedih? Kecewa?" tanya ku lagi sembari mendekatinya dan menunduk mencari-cari matanya. Aku berusaha menatap mata yang seperti biji almond dan sehitam malam itu, berusaha mencari jawaban. Ya, kuakui aku mulai merasa cemas. Apakah dia sakit? Apakah ada seseorang yang melukainya? Ataukah aku berbuat salah?

Dia pun mendongakkan kepalanya, mengunci mataku, dan menjawab "Kau tak tahu?".

"Tidak, aku tak tahu. Ada apa?"

"Kau bahkan tak sadar." Jawabnya lagi, terlihat semakin gusar.

"Oh ayolah! Jangan seperti ini! Beritahu aku ada apa, sehingga aku dapat membantumu." Aku pun mulai ikut-ikutan gusar dibuatnya. Yup! Sama sepertinya, aku pun tidak memiliki banyak stok kesabaran.

Dia tak menjawab pertanyaanku, hanya menatapku nanar. Panik! Menyadari dia akan menangis, aku pun memeluknya dan mengelus-elus kepalanya. "Ada apa?" tanyaku pelan padanya, "Kau membuatku takut sayang."

Kemudian sambil terisak-isak dia pun menjawab, "Kau melupakanku!".
"Berminggu-minggu ini kau tak pernah mengajakku bermain! Jangankan bermain, kau bahkan tak mengingatku lagi. Kau sibuk mengurusi berbagai hal dengan Perempuan Itu, hingga lupa bersenang-senang denganku. Kau tak lagi mendambakan negeri dimana kita sering bertualang di dalamnya. Kau lupa caranya berkhayal dan bermimpi. Kau tak lagi menyempatkan dirimu mengagumi dan dibuat kagum oleh hal-hal kecil. Kau perlahan-lahan menjadi manusia-manusia dewasa itu, yang sering kita tertawakan karena tak mampu memilih untuk berbahagia, yang begitu tolol hingga mengira hal-hal besar dan mewah yang dapat membuat mereka bahagia. Yang tak bisa percaya pada hal-hal luar biasa di luar sana, yang tak dapat mereka indrai. Yang bahkan tak mampu dan tak punya waktu untuk berkhayal dan bermimpi... kau mulai menjadi sama seperti mereka..."

"Jangan sampai... Jangan sampai setelah semua ini, kau pada akhirnya melupakanku. Mendorongku pergi sejauh mungkin dan kehilanganku. Kau menjadi seperti mereka. Menjadi dewasa. Tidak percaya dan melupakan keajaiban-keajaiban saat bermain denganku. Kau menjadi kaku dan sulit untuk dibuat bahagia. Kau tak lagi dapat tersenyum pada hal-hal yang sederhana. Kau takkan tersentuh pada hal-hal kecil, kau pun akan jarang menitikkan air mata. Hatimu membantu dan mengeras. Ya, begitulah artinya menjadi dewasa... seperti itulah kau pada akhirnya ketika melupakanku."

"Jangan... Jangan sampai kau kehilanganku. Karena kau membutuhkanku."


You Might Also Like

2 comments

  1. emang penting ya to keep our inner child alive, alive and happy :)

    aahh.. gambarnya bagus, Dweedyy *jempol.com*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Toss lagi deh kita ^^ hahaha
      Makasih Indah ^^ ini baru dalam proses belajar kok~

      Delete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan