Melilitkan Keberuntungan

9:00 am


Okeee sudah sepuluh hari berlalu, dan baru saat ini saya ada mood untuk menuliskannya.....

Hari sebelumnya Kak Eka mentag saya di instagram sebuah foto tentang acara Craft Day yang akan diadakan di di Kata Kerja bersama Ikat Craft, yang kebetulan Kak Denok, si pemilik Ikat Craft sedang berada di Makassar. Dia akan mengajari kami cara membuat ojo de dios (baca: oho de dios). Yippie!!! Sudah lama saya ingin belajar membuat ojo de dios. Sudah semenjak saya menemukan sebuah buku yang di dalamnya ada tutorial membuat ojo de dios. Tidak hanya tutorialnya sebenarnya, tetapi juga asal-usul ojo de dios itu yang menjadikannya semakin menarik untuk saya. Tapi sayangnya mengikuti petunjuk pembuatannya dari buku tidak segampang seperti yang ada pada gambar, saya sangat kesulitan membuatnya. Apalagi sudah lama saya merasa sangat tidak berbakat jika menyangkut tali, simpul-menyimpul, dan lilit-melilitkan. Jadi bayangkan betapa senangnya saya mengetahui ada yang bersedia mengajarkan kami membuat ojo de dios tersebut ^^.

Senin, 7 April 2014

Siangnya saya sudah bersiap, mandi lebih cepat dan makan lebih cepat, dan tadaaaaa... hujan deras tiba-tiba turun. Padahal sebelumnya matahari masih bersinar, walau pun memang sedikit mendung, tapi saya sama sekali tidak menyangka akan turun hujan deras seperti itu. Terlanjur telah berpakaian dan berdandan cantik #plak, juga didorong keinginan belajar, saya pun dengan nekat menerobos hujan...

Sebelum saya lanjutkan, mungkin ada yang bertanya-tanya apa itu ojo de dios?

Saya akan mengutip sedikit dari buku yang saya punya tentang apa itu ojo de dios di sini;

“Ojo de dios secara harfiah diterjemahkan dari bahasa Spanyol sebagai ‘mata dewa’, melambangkan kemampuan melihat dan memahami hal-hal yang tidak diketahui. Walau pun ojo de dios paling sering didapatkan di antara orang-orang Indian Huichol di Meksiko Barat Laut, ojo juga dapat ditemukan di selatan sejauh Peru dan di timur sejauh Mesir. Baik di timur maupun di barat, desain ojo selalu sama, yakni dua tongkat berbentuk salib yang dililit dari pusat ke arah luar dengan benang-benang tenun berbagai warna sehingga terbentuk suatu pola intan. Bagian pusat atau manik ojo de dios biasanya dililit sedemikian rupa sehingga terciptalah permukaan datar serta licin, dan biarkan bagian belakang tongkat tetap terbuka. Ada banyak variasi cara melilitkan benang di sekeliling bagian luar tongkat dan tiap variasi menghasilkan suatu ojo de dios yang unik.



Asal usul

Orang Indian Huichol menganut kepercayaan panteisme, dan keempat ujung salib yang membentuk kerangka ojo de dios melambangkan bumi, api, udara, dan air. Dalam membuat ojo de dios seorang Indian akan berdoa agar roh tertentu selalu menjaga dirinya. Jika sudah selesai, ojo de dios akan ditempatkan di dalam kuil suku atau di tempat keramat tertentu yang khusus disediakan untuk dewa yang dipuja. Karena angka kematian bayi cukup tinggi, orang Indian Huichol sangat bersungguh-sungguh dalam mendoakan kelangsungan hidup bayi yang baru lahir. Sewaktu anak lahir, kakek anak itu atau tua-tua yang berkuasa, membuat satu ojo de dios. Setahun sekali, rambut anak itu dipotong; kemudian rambut dan sebuah mata kecil lain ditambahkan ke ojo de dios tadi. Tindakan ini melambangkan suatu permohonan agar anak itu berumur panjang. Setelah rambut dipotong lima kali dan lima mata ditambahkan, ojo de dios kini sudah lengkap dan disimpan di dalam kuil sebagai lambang suatu doa yang terus dipanjatkan supaya anak itu tidak jatuh sakit.

Orang Indian Huichol membuat ojo de dios untuk meminta agar para dewa menjaga berbagai segi kehidupan mereka.”

Nah, jadi itulah ojo de dios ^^
Seiring berkembangnya zaman, ojo de dios tersebut memiliki banyak varian desain yang telah dikembangkan. Salah satunya adalah mandala, yang juga akan diajarkan Kak Denok nantinya.



Sesampai di sana, cukup terlambat sekitaran satu jam, saya pun langsung turut serta mempelajari membuat ojo de dios ini. Sesuai dugaan, saya tipe pembelajar yang cukup lelet, apa lagi menyangkut tali, simpul menyimpul, dan lilit-melilit. Beberapa kali saya meminta Kak Denok untuk mengulang instruksinya dan pada akhirnya saya harus diprivat karena tak juga mengerti. Hihihi... untungnya Kak Denok yang bertubuh mungil ini orangnya sabar >.< Dan ya akhirnya saya pun mengerti cara melilitkan benang tersebut. Dan setelah itu semuanya jadi lebih mudah dan tak terasa ojo de dios saya pun jadi.




Sebentara hujan di luar tak juga berhenti, kami di dalam masih juga asik membuat ojo de dios tersebut. Malam pun datang, dan waktu terus berlalu tanpa kami sadari... ketika malam sudah cukup larut, sepertinya saya harus pulang, meskipun hujan masih terus turun di luar sana. Untunglah saya dijemput, mengingat malam yang sudah cukup larut itu untuk pulang naik pete-pete (angkot) sendiri dan rumah memang jauh dari sana. Dan ya dengan berat hati karena mandala saya belum selesai, saya pun harus pulang...

Terimaksih untuk IkatCraft dan tentunya Kak Denok yang telah sangat sabar mengajari saya ^^ Terimakasih untuk ilmunya yang keren ini ^^

Terimakasih utuk KakEka yang telah mentag acara ini di instagram saya ^^

Terimakasih untuk KataKerja yang menyediakan tempat untuk Craft Day ini dan terimaksih untuk kakak-kakak dan teman-teman semua yang di Kata Kerja hari itu ^^ Saya merasa sangat beruntung mengenal kalian semua~


You Might Also Like

2 comments

  1. Kak Dwi, ajarika buat giniaaannn. >.<

    ReplyDelete
  2. kak dwi sebagian tulisan dari blog ta, saya kutip yah. mau di share kan juga di fanpage Taman Baca Anak Bangsa

    ReplyDelete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan