Layar Terkembang

11:57 am


Layar Terkembang
Oleh St. Takdir Alihsyahbana

Perum Penerbitan dan Percetakan
Balai Pustaka

Cetakan pertama: 1937
Cetakan kedua puluh: 1990

139 hlm; 21 cm

Hmmm.... baiklah, bagaimana seharusnya saya memulainya?

Layar Terkembang menceritakan tentang dua perempuan, kakak-adik, yang berbeda perangai. Tuti sang kakak yang selalu serius dan aktif dalam kegiatan pergerakan perempuan dan Maria yang lincah dan periang. Tuti bukanlah seseorang yang mudah kagum, yang mudah heran dan terpesona melihat sesuatu. Ia memiliki harga diri yang besar, ia tahu bahwa ia pandai dan cakap dan banyak yang bisa ia kerjakan dan ia capai. Ia memiliki pendapat dan pemikiran sendiri tentang segala hal, dan pemikirannya itu ditopang oleh pengetahuannya dan keyakinannya yang kukuh. Jarang ia melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan kata hatinya.

“Bahwa tiap-tiap manusia harus menjalankan penghidupannya sendiri, sesuai dengan deburan jantungnya, bahwa perempuan pun harus mencari bahagianya dengan jalan menghidupkan sukmanya.”
_Tuti

Sedangkan Maria sangat mudah kagum, gampang memuji dan memuja sekitarnya. Ia sering mengatakan sesuatu tanpa ia pikirkan terlebih dahulu, baik ketika berbahagia mau pun sedang bersedih, semuanya didorong oleh perasaannya yang meluap-luap. Air mata dan tawa silih berganti di mukanya selayaknya siang dan malam. Tak beberapa lama ia bersedih sesedih-sedihnya, ia bisa tiba-tiba tertawa bahagia karena kegirangan hatinya yang masih remaja.

Yang seorang tegap dan kukuh pendiriannya, tak suka beri-memberi, gelisah bekerja dan berjuang untuk cita-cita yang menurut pikirannya mulia dan luhur. Yang satunya lagi adalah seorang perempuan yang bertingkah laku sesuai dorongan perasaannya yang meluap-luap, melimpah, pada sekitarnya dengan sepenuh hatinya. Tetapi perbedaan sifat antar keduanya tidak membuat hubungan keduanya renggang. Keduanya berusaha saling memaklumi dan menghargai masing-masing.

Mereka berdua adalah anak seorang mantan wedana di daerah Banten, Raden Wiriaatmaja, yang kini menetap dan hidup dari pensiunnya di Jakarta bersama-sama kedua anaknya itu. Ibu mereka sendiri telah meninggal dua tahun yang lalu.

Suatu hari saat keduanya berjalan-jalan di Aquarium Pasar Ikan, mereka bertemu dengan Yusuf, seorang mahasiswa Kedokteran. Sejak saat itu antara Maria dan Yusuf muncul ketertarikan yang pada akhirnya berkembang menjadi cinta...

“Yusuf termenung melihat ke hadapannya dengan tiada nampak suatu apa. Sungguh bertentangan pekerti dua bersaudara itu. Kepada yang seorang ia merasa hormat dengan sepenuh-penuh hatinya. Hormat akan keberaniannya dan ketetapan hatinya, hormat akan ketajaman pikirannya, hormat akan kegembiraannya berjuang dan berkorban bagi yang terasa kepadanya mulia dan suci. Pada yang seorang lagi perasaan hormat itu diganti oleh perasaan yang gaib yang tiada terkatakan; oleh perkataannya yang bersahaja, oleh gerak badannya, dan cahaya mukanya yang tiada ditahan-tahan, oleh suaranya yang mesra mencumbu dan pandangan matanya yang membelai menyinar kagum. 
Maka dalam bermenung itu sayup-sayuplah terasa kepadanya, bahwa dalam perasaan hormatnya kepada yang seorang ada tersela tersembunyi perasaan takut.
 Dan jiwanya yang muda remaja itu tertariklah kepada perasaan yang gaib, yang nikmat melamun menghanyutkan dirinya tiada tertahan-tahan..."
 _Hlm 53

Buku ini sendiri bersetting zaman kolonial, dimana pergerakan pemuda sedang giat-giatnya. Pada bagian Tuti kita akan diajak pengarang mendalami cita-citanya, perjuangannya untuk sebuah emansipasi, pemikiran-pemikirannya, beserta kegelisahan dan keinginan hatinya. Saya bisa menyimpulkan bahwa Tuti ini tipe perempuan feminis kebanyakan... Sedangkan pada bagian Maria kita akan dibawa pengarang mencicipi romansa antara Maria dan Yusuf. Tentunya juga di buku ini kita akan menyaksikan bagaimana dua bersaudara ini berinteraksi satu dengan lainnya.

Saya pribadi menyukai buku ini, saya suka dengan ejaan lamanya yang rasanya sangat puitis, meskipun di sisi lain saya juga tidak menyukai ejaan lama yang ada di buku ini yang cukup membingungkan dan bertele-tele. Saya mengidolakan pemikiran-pemikiran Tuti yang sangat maju dan bagaimana ia bertindak sesuai pemikirannya itu. Saya suka kepolosan, keceriaan, dan sifat Maria yang penuh kasih sayang. Saya menemukan diri saya pada kedua kakak beradik ini. Saya pun menyukai kedewasaan dan kecerdasan Yusuf.  Oh ia buku ini saya pinjam dari Kak Afdhal... Makasih Kak buat pinjamannya ^^

Anehnya saya yang suka mengumpulkan barang-barang tua sangat tidak menyukai bau buku ini yang sukses membuat saya flu saat membacanya...

Hmmm apa lagi ya?
Ohh ia saya menyukai pribadi Tuti mau pun Maria ^^ Tapi... terkadang tingkah Maria terlalu lebay buat saya. Lebaynya hingga titik yang membuat ingin muntah. Saya senang saat Tuti menegur tingkah Maria yang bagi saya, sepakat dengan Tuti, terlalu merendahkan derajat perempuan. Rasanya Maria ini ingin saya perlihatkan bagaimana kerasnya dunia, jangan hanya bersembunyi di istananya yang damai saja!!!

Dan ya saya kurang sreg dengan akhir buku ini...
Bagaimana ya... terlalu melompat, ada jeda yang seharusnya pengarang isi dengan pergolakan hati Tuti untuk menyetujui keinginan Maria. Sayangnya karena tak ada hal itu malah mengisyaratkan Tuti yang menjadi lembek dan tidak konsisten pada kepribadian yang sang pengarang tuliskan sebelumnya.

Dan mengapa judulnya Layar Terkembang?
Tebakan saya si pengarang menggambarkan berkembangnya kepribadian kedua kakak beradik ini, beserta Yusuf, seperti sebuah layar yang mengembang. Tapi itu sih cuma sekedar tebakan saya saja... ada yang sudah baca? Bagaimana pendapat kalian?

Dan ya ini merupakan karya pertama Sultan Takdir Alisyahbana yang saya baca.... haloooooo kemana saja kamu selama ini?!!!!!

Oh ia ada lagi! Saya sangat geram pada kata pengantar yang Balai Pustaka buat di buku ini!!! Kata pengantarnya spoiler!!!! Saya tipe pembaca yang membaca semua yang tertulis dari sebuah buku, mulai dari identitas buku, kata pengantar, ucapan terimakasih, dll. Bayangkan betapa geramnya saya saat membaca kata pengantar dan telah mengetahui isi cerita buku ini?!! Dari awal hingga akhir!!! Ya, Balai Pustaka menyingkat cerita buku ini dan memuatnya di bagian kata pengantar!!! Kampret!!!



You Might Also Like

6 comments

  1. cuma tau nama novelnya pas pelajaran bahasa indonesia smp, soal ceritanya .... ehmmmm





    maap aku ora ngerti tenan mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga sudah lama tau novel ini tapiiiii baru bacanya sekarang :p
      Baca yuk ^^

      Delete
  2. Yaa ampuunnnn lama bangetttt
    Aku gak ngerti diksinya :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ho oh Mbak ini buku sudah lama banget, dan cetakkan ini pun seumuran saya! Hahaha
      Diksinya jadul sejadul jadulnya >.<

      Delete
  3. Pas jaman saya SMA dulu, Ini buku wajib pelajaran Bahasa Indonesia yang mesti kami baca karena isinya jadi bahan ujian, hahaha. Lupa-lupa inget saya dengan isi cerita buku ini. Seingat saya, Maria itu kena sakit TBC ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huwaaa guru SMA-nya keren >.<
      Ia, Maria kena TBC plus malaria

      Delete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Beautiesquad