#Jumatulis Kumis, kopi, indera, roda, bunting - Kartini Modern

4:34 am

Ilustrasi di ambil di sini
Namanya Kartini Sri Ayu. Orang-orang memanggilnya Kartini, tapi bagiku panggilan itu cukup panjang, sehingga aku hanya memanggilnya dengan Tini. Seperti R.A Kartini, tokoh idolanya, dia pun sangat memperhatikan masalah-masalah kaum perempuan. Ada kegelisahan yang ia rasakan ketika melihat sekelilingnya dan mendapati banyak perempuan diperlakukan tidak adil. Ada kemarahan yang muncul ketika menyadari perempuan-perempuan di sekitarnya itu menggantungkan hidupnya pada lelaki, menjadi manja dan lemah dan merasa sudah sepantasnya mereka seperti itu. Ada kemuakkan ketika ia sadar, hanya sedikit dari perempuan-perempuan itu yang peduli, atau bahkan mau tahu kesulitan yang sedang dialami saudaranya. Perempuan-perempuan itu malah saling bersaing demi menjadi pajangan lelaki. Ya setidaknya hal-hal itu yang sering ia ceritakan padaku, bagaimana ia gelisah ingin membantu tetapi tak tahu caranya, bagaimana ia marah dan muak melihat tingkah kebanyakan perempuan disekitarnya.

Ia merasa perempuan tak seharusnya menyerahkan masa depannya di tangan orang lain. Perempuan seharusnya juga jangan manja, dan kita harus dengan usaha sendiri mendapatkan hak kita sebagai manusia. Perempuan pun harus percaya pada dirinya sendiri, pada kemampuannya untuk berfikir, mengambil keputusan, dan bertindak sesuai keputusannya tersebut. Juga bertanggung jawab sendiri atas pikiran, keputusan dan tindakannya tersebut. Dan bla... bla... bla... Dengan segelas kopi pahit untuknya dan susu coklat untukku, ocehannya itu bisa berlangsung berjam-jam. Dan ya, aku memang lebih banyak mengambil posisi sebagai pendengar setianya.

Perbincangan diantara kami tentunya tidak melulu pada topik yang berat, kami juga terkadang tak bisa menolak indahnya sensasi bergossip dan bergunjing. Terkadang kami membicarakan teman-teman lelaki kami; betapa tampannya si itu, betapa menggiurkannya tubuh si anu, betapa menjijikkannya kumis si itu, dan beberapa percakapan dangkal lainnya seputaran lelaki. Juga tentang buku, isu terkini, mata kuliah di kampus, fashion, film, artis, dan segala hal yang bisa kami komentari. Ahhhh... betapa aku sangat merindukan saat-saat seperti itu.

Ketika kami berdua lulus dan aku memilih segera menikah lalu pindah kota lain mengikuti suamiku, dan dia sedang aktif-aktifnya pada organisasai dan LSM perempuan hubungan kami pun merenggang. Iya, kami memang terkadang saling bertanya kabar dari akun twitter maupun whatsapp, hanya sebatas itu, keintiman yang dulu hadir diantara kami perlahan-lahan tergerus oleh jarak.

Kabar mengejutkan darinya kuterima beberapa bulan yang lalu, bahwa dia akan segera menikah. Tentu saja kabar itu cukup mengejutkan, karena setauku dia memang tidak dekat dengan siapa pun, dan kabar pernikahan itu yang datangnya sangat mepet dari waktu acaranya, sehingga aku pun tak bisa menghadirinya. Apakah hubungan kami memang sudah serenggang itu? Aku tentu saja turut berbahagia karena dia telah memiliki seorang pendamping hidup. Aku selalu berharap dia menemukan seseorang yang tepat untuknya...
*****
Sore ini aku dan Tini akan bertemu di cafe yang biasa kami datangi semasa kuliah dahulu. Sudah berapa lama itu? Waktu terus berjalan, kami sudah semakin tua saja. Terkadang aku membayangkan waktu itu bulat seperti roda yang terus berputar dan melaju dengan cepat di sebuah jalan bernama kehidupan. Tidak peduli pada sekitarnya, roda itu akan terus menggelinding, terus maju mengikuti aturannya sendiri. Hahahaha... mengapa aku malah berfilosofis? Dimana Tini? Mengapa ia begitu lama? Dahulu dia adalah orang yang selalu tepat waktu, berkebalikan denganku, yang selalu lelet dalam hal apa pun.

Tak lama ketika susu coklat pesananku datang, Tini pun datang. Rambut hitamnya kini dipotong model long bob, mukanya dilapisi make up tipis, dan perutnya membulat. Dia berjalan anggun memasuki cafe ini sambil mencari-cari keberadaanku. Ketika melihatku, senyumannya mengembang, menghangatkan ruangan ini. Aku pun berdiri menyambutnya, membalas senyumnya dan dengan tak sabar menghampirinya lalu memeluknya.

“Cieeee... ada yang sebegitu kangenya nih” Katanya menggodaku.

“Huh! GR!” Aku pun melepas pelukannku dan tertawa... sambil menggandengnya kami pun menuju ke meja.

“Huwaaaa sudah bunting aja nih! Curang! Main nyerobot saja ma yang sudah dua tahun menikah. Sudah berapa bulan si?” Kataku lagi sambil memperhatikan perutnya.

“Hahaha... mungkin belum waktunya buatmu Bu, sabar aja ih.. Sudah jalan tiga bulan nih.” Jawabnya sambil membolak balik menu, belum dapat memutuskan akan memesan apa.

Aku mengambil kesempatan itu untuk mengamatinya. Dia terlihat baik-baik saja meskipun agak kurus. Gossip yang beredar di seputaran teman-teman kuliahku, membuatku sangat mengkhawatirkan keadaannya. Benarkah seperti itu? Benarkah dia “dijual” oleh orangtuanya untuk menikah dengan orang yang menjadi suaminya sekarang? Dan dia adalah istri kedua? Seorang Tini dipaksa untuk menikah, apalagi dipoligami rasanya sungguh tak mungkin. Benarkah?

Aku tak ingin menanyakan perihal hal tersebut kepadanya, aku merasa pasti ada alasan mengapa dia tidak menceritakannya kepadaku. Mungkin dia belum siap untuk berbagi... Aku ingin menghormati pilihannya itu, meskipun rasanya aku bisa mati penasaran dibuatnya. Seluruh inderaku mengatakan dia baik-baik saja, dan sepertinya sangat bahagia dengan kehamilannya. Tapi benarkah begitu? Jauh di dalam hati ku, aku merasa dia kesepian dan tertekan.

“Bagaiman kabarmu?”

Tersenyum ia menjawab; “Aku sangat bersemangat menunggu kelahiran bayiku ini. Juga deg deg-an tentunya. Aku harap dia lahir dengan sehat.”
*****
6 bulan kemudian...

“INNALILLAHI WA INNA ILAHI ROJIUN
Telah berpulang teman kita, Kartini Sri Ayu,
Di rumah sakit Bunda, subuh tadi.

Sebelumnya Alm sempat melahirkan seorang
anak laki-laki.”
*****
#Jumatulis adalah latihan menulis, atau boleh juga dikatakan sebagai proyek menulis, bersama beberapa teman dari grup @klubbuku. Setiap minggu akan ada kata yang ditentukan salah satu anggota secara bergiliran, yang akan kita kembangkan menjadi sebuah tulisan yang di posting setiap hari Jumat di blog masing-masing. Panjang tulisan mau pun jenis tulisan tidak ditentukan, boleh berupa fiksi mau pun nonfiksi, bisa berupa cerpen, puisi, atau pun artikel. Bebas sesuai inspirasi ^^

You Might Also Like

6 comments

  1. Kaget endingnya Mbak Tini meninggal. Itu gara2 lahiran meninggalnya? :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ho oh Jul >.< Seperti RA Kartini kan ^^

      Delete
  2. Replies
    1. Jadi apa yang saya baca Bin??? :p

      Delete
  3. Innalillahi.. selamat jalan mbak tini, mungkin untuk tahun2 kedepan kartinian bakal digelar tiap tgl 25, bukan 21 lg :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. No!!! >.< Kartini yang meninggal di tanggal 21 maupun di tanggal 25, tidak patut dijadikan pahlawan ^^

      Delete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan