Tetap Saja Kusebut (Dia) Cinta

9:00 am


Tetap Saja Kusebut (Dia) Cinta
Oleh Tasaro GK, 2013

Penyunting: Indradya S.P
Proofreader: Ocllivia D.P
Ilustrator sampul dan isi: Dredha Gora Hadiwijaya
Desainer sampul: Bluegarden

Cetakan 1, Mei 2013

Diterbitkan oleh Penerbit Qanita

264 hlm; 13 cm

Mau kubilang lantang...
... atau kupendam dalam diam.
Tetap saja kusebut (dia) cinta.

Ini merupakan kumcer pertama Tasaro GK yang saya baca, atau mungkinkah ini memang kumcer pertama yang ia buat? Ada sensasi berbeda saat membaca kumcer ini, seakan saya baru pertama kali ini membaca tulisan-tulisan seorang Tasaro GK. Kumcer ini mengenalkan saya untuk pertama kalinya pada sisi berbeda seorang Tasaro. Entahlah saya hanya merasa asing dan tidak biasa saja saat membaca kumcer ini. Penggunaan bahasa di kumcer ini rasanya jauh lebih sastra, lebih puitis,  dibandingkan tulisan-tulisannya yang lainnya yang pernah saya baca...

Di buku ini sendiri ada sembilan cerpen yaitu;

Puisi, bercerita tentang seorang dokter paling rock n roll se-Indonesia. Dokter itu selalu serius dalam melakukan segala hal, dalam pekerjaan maupun hal-hal diluar itu. Dia serius saat melucu, sangat serius waktu bernyanyi, sangat-sangat serius ketika memotret objek ke sana-sini, dan tentunya dia paling serius jika sedang menyiapkan senyumnya di depan kamera. Dia menamai dirinya Dokter Smile dan orang-orang memahami dirinya kurang lebih seperti itu.

Setiap hari sang dokter mengawali hari dengan memeriksa pasien yang bermasalah pada jantungnya di berbagai kamar rawat inap dan mengakhirinya di paviliun yang pasien penghuninya amat ia kenal. Pasein itu seorang perempuan sepuh yang membuat Dokter Smile jatuh hati. Cerita hidupnya mengingatkannya kepada film Love in the Time of Collera. Pada waktu-waktu tertentu, sang dokter bisa berjam-jam menungguinya, mendengarkan kisahnya selepas jam kerja. Suatu hari sang dokter berjanji akan menemui mantan suami perempuan sepuh tersebut untuk menyampaikan permintaan maafnya...

“Pada pernikahan-pernikahan lampau, ketika cinta bahkan tidak pernah dilisankan begitu rupa, imbasnya mampu mencengkram hati begitu lama.
_Halaman 15

Perjalanan ke Madiun itu serta kisah sang perempuan sepuh tersebut membuatnya memikirkan lagi, apa sebenarnya yang dia inginkan untuk masa depan. Dan apa yang belum selesai dari masa lalunya... Berhasilkah ia menemui mantan suami perempuan sepuh itu dan menyampaikan pesan permintaan maafnya? Dan masa lalu apa yang ia miliki yang belum terselesaikan?

Roman Psikopat. Bercerita tentang seorang pemuda yang dipanggil Rom, dia adalah lelaki yang cuek dan abai pada sekitarnya. Hanya Jorjie, kucingnya, yang paling ia sayangi di dunia ini. Suatu hari temannya, Joshua dengan hati-hati memberitahunya bahwa sepertinya ia memiliki “bakat” seperti pelaku penembakan murid-murid SD di Amerika. Semua itu bermula karena sebuah soal tentang seorang adik yang membunuh kakaknya tak lama setelah pemakaman ibu mereka, ia jawab sama persis dengan jawaban para tanahan pelaku pembunuhan di Amerika. Joshua pun menyarankannya untuk bertemu psikolog. Saat itu ia merasa temannya itu mungkin sedang demam atau kesurupan, dia memilih untuk mengabaikan perkataannya dan segera pulang karena Jorjie sedang sakit.

Tapi lama-lama dia pun merasa terancam... ide bahwa ia psikopat bisa merugikannya. Benarkah dia seorang psikopat seperti yang dikatakan oleh Joshua? Penasaran dia pun mencari perihal psikopat di internet... dia pun merasa semua tulisan tentang psikopat yang ia baca itu bukanlah hasil penelitian ilmiah. Ia berfikir semua tulisan yang diunggah itu hanya bertujuan untuk memojokkan dia. Orang-orang seperti dia. Apanya yang psikopat?!! Untuk membuktikannya dia pun berpacaran dengan Gendhis, mahasiswa beda fakultas yang sering menjadi model foto-fotonya... Benarkah kecurigaan temannya bahwa Rom adalah seorang psikopat?

Galeri. Berkisah tentang kisah cinta dua orang seniman yang pertama kali bertemu di sebuah gedung tua. Tokoh Dia menyapa tokoh Aku saat Aku berdiri termangu di depan gedung mati tersebut. Setelah bertahun-tahun keberduaan mereka, barulah Aku tahu, pada sore pertemuan itu, di hati Dia terbenam tekad yang bulat, Dia akan menghadiakan gedung itu untuk Aku. Membangun galeri terbaik mereka di sana.

Tapi ternyata rahasia Dia tidak hanya sampai di situ, gedung tua tempat galeri mereka itu rupanya memiliki sejarah kelam tentang pemerkosaan gadis-gadis Belanda di zaman pendudukan Jepang, gedung itu milik seorang gadis cantik berkulit pucat... Siapa gadis cantik itu? Dan rahasia apalagi yang masih Dia sembunyikan?

Ahh baiklah... di cerpen Galeri ini saya agak bingung memberikan sinopsisnya, ujung-ujungnya saya akan spoiler jika saya teruskan. Di cerpen ini pun banyak menceritakan tentang lukisan dan seorang pelukis yang bernama Moii Indie.

Bukan Malaikat Rehat, bercerita tentang seorang lelaki bernama Sutha yang sedang mengalami kebosanan dalam beribadah. Ia menjadi sinis dan mencurigai banyak hal serta malas-malasan dalam ibadahnya. Dia pun mempertanyakan banyak hal dalam agamanya dan motif perhatiian teman-temannya di liqa (kelompok kajian agama yang telah tiga bulan ia ikuti). Apakah kecurigaannya beralasan? Ataukah karena ia yang mengharapkan dan menuntut terlalu banyak?

Tetap Saja Kusebut (Dia) Cinta, yang dipilih sebagai judul buku ini, berkisah tentang dua orang anak manusia yang merupakan teman sewaktu kecil, Arumdhati dan Angaraka. Angaraka adalah nama yang sebanding dengan Mars dalam tata surya, seperti halnya Arumdhati yang bermakna Venus pada tatanan benda-benda antariksa. Dua nama yang semestinya berpasangan, tapi tidak seperti itu dalam kenyataan.

Mereka berasal dari Tengger yane berbeda. Angaraka berasal dari keluarga Tengger kaki Bromo yang telah menganut agama Nabi selama beberapa generasi. Sedangkan keluarga Arumdhati mewarisi ajaran Hindu Parsi yang hidup di pedalaman Tengger, peradaban terpisah yang antah berantah. Semuanya bermula dari sebuah kecupan di dahi saat malam Yadnya Kasada, saat Arumdhati hampir terpleset masuk ke kawah Bromo dan Angaraka yang menyelamatkannya.

Lalu takdir memisahkan mereka... meskipun keduanya tak pernah dapat melupakan satu sama lain. Mungkinkah takdir akan mempertemukan mereka kembali?

 “Cinta kadang memiliki dimensi yang terbatas pada rasa saja. Kebutuhannya sampai di situ.”
_Halaman 153

Kisah ini mengingatkanku pada kisah Kinanthi dan Ajuj pada Galaksi Kinanthi (Kinanthi Terlahir Kembali), polanya sama, dua anak manusia teman sedari kecil yang saling mencintai tetapi dipisahkan oleh takdir tetapi masih saling mengenang satu sama lain, masih saling merindu. Meskipun begitu ini cerpen yang paling saya sukai dari semua cerpen yang ada di buku ini.

Tuhan Nggak Pernah Iseng, bercerita tentang seorang wartawan bernama Bhumi. Dia sedang meliput sebuah kasus sodomi yang dilakukan oleh seorang guru ngaji kepada bocah-bocah yang ia ajar. Dia merasa marah dan merasa tak bisa netral menuliskan artikelnya. Dia ikut-ikutan emosi dan sekaligus benci setengah mati melihat sosok pelaku yang duduk ringkih dengan ekspresi tanpa dosa di pojok ruang tahanan itu. Dia pun sangat ingin menghajar guru ngaji yang tak setitik tinta pun memahami posisinya sebagai panutan. Kenapa harus guru ngaji?

Mewawancarai orangtua korban pun bukan perkara mudah. Kadang Bhumi merasa terlalu sensitif sebagai seorang wartawan. Mana bisa ia bertanya tanpa beban, tanpa berpikir duka apa yang sedang pekat di kepala orang yang sedang ia wawancarai? Ia pun mulia muak pada pekerjaannya. Muak pada tak dapatnya  idealisme bertahan jika menyangkut bisnis dan telah dihadapkan pada uang.

Kasus sodomi itu juga membawanya pada kebencian terhadap kaum homoseksual. Entah bagaimana ia menghubungkan mereka dengan kasus ini dan merasa jijik pada mereka dan menganggap mereka semua sampah masyarakat. Benarkah seperti itu? Ataukah ia hanya mencari kambing hitam dengan semakin bejatnya dunia yang ia tinggali?

“Soal takdir Tuhan, gue mau bilang Dia enggak pernah iseng.

Jadi, semuanya ciptaan-Nya, termasuk orang-orang yang diberi bakat menyimpang itu, tidak dilahirkan untuk menjadi manusia sampah.
Setiap manusia itu diciptakan dengan beban yang sama. Hak sama, kewajiban sama. Hanya bentuknya yang beda.

Apa bedanya homoseks dan heteroseks di mata Tuhan? Mereka sama-sama akan dimintai tanggung jawab semua perilaku selama hidup, kan?

Memangnya Cuma homo saja yang harus menahan nafsu? Hetero pun sama, kan? Memangnya cuma hetero yang disuruh menjauhi zina? Homo juga sama. Yang membedakankan objek pemancing nafsu dan hal yang menyebabkan zina di antara keduanya.”
_Halaman 199-200

Cerpen ini membawa kita berfikir tentang kaum homoseksual dan bagaimana kita bersikap tentang keberadaan mereka, eksistensi mereka di dunia. Saya sendiri yang memang mengakui keberadaan mereka dan hak asasi mereka sebagai manusia masih memiliki ketidak sepahaman pada “ide” yang diutarakan pada cerpen ini. Tapi ya secara keseluruhan saya puas membaca cerpen ini dan “ide-ide” yang ia utarakan.

“Kebanyakan kan orang-orang berilmu itu enggak adil. Menilai sesuatu hanya dari sudut keilmuannya, tanpa mau tahu cara mencari solusinya.”
_Halaman 201

Separuh Mati, berkisah tentang dua orang yang saling mencintai tetapi tak bisa menyatu. Keduanya telah memiliki orang lain yang mendampingi hidup mereka, tetapi rasa itu masih saja terus tumbuh, setidaknya pada seorang di antara mereka. Tokoh Aku itu pun mengambil keputusan untuk terbang ke kota tempat Kau tinggal, untuk bertemu dan bertanya apakah rasa itu ada... atau hanya ada di bayang-bayangnya semata. Adakah rasa itu memang ada? Masih ada?
Pada cerpen yang ini pun saya tidak dapat bercerita terlalu banyak, takutnya spoiler. Ini cerpen kedua yang paling saya sukai setelah Tetap Saja Kusebut (Dia) Cinta.

Atarih. Berkisah tentang seorang penulis yang menghadiri “Konser” Sastra seorang penulis lain bernama Atarih, penulis masyhur yang punya kenangan masam di kepalanya bertahun-tahun yang lalu. Saat itu di sebuah kafe di dataran tinggi Bandung, lima atau enam tahu yang lalu, sang penulis memohon dengan sangat agar Atarih memberi endorsement pada bukunya yang dummy-nya telah Atarih pegang. Bukan hanya mengatai bukunya tidak menarik, pada akhirnya Atarih menolak memberikan sedikit komentar untuk naskah yang membangun sejarah sang penulis. Episode masam itu cukup membuatnya beranggapan, bertemu dengan Atarih adalah hal yang “nanti-nanti” dulu yang ingin ia lakukan. Tapi karena editornya memaksa agar ia menerima tawaran itu, akhirnya dia pun menerimanya.

Dan hari-hari di Singapura, tempat di mana konser sastra itu diadakan,  mengubah banyak hal dalam benak penulis mengenai Atarih. Ketika di Indonesia Atarih sedang di hujani kata di sana-sini, dia malah menemukan sisi lain dariAtarih di pulau seberang lautan itu. Juga tentang mimpi lamanya.

Lebih dari banyak hal, dia pun memaknai pertemuannya dengan Atarih sebagai sebuah awal dia jatuh cinta lagi kepada kekasih lamanya: cerita dan kata-kata.

“Kuncinya adalah terus belajar. Bagi seorang penulis, tidak ada pilihan agar dia terus berkembang selain dengan terus belajar.”
_Halaman 243

Cerpen yang ini saya duga bukalah sebuah fiksi malah saya menduga lagi ini adalah pengalaman Tasaro sendiri. Dan saya pun dapat menebak siapa sosok Atarih ini yang tak lain dan tak bukan adalah Andrea Hirata ^^

Dan cerpen terakhir, Kagem Ibuk, adalah sebuah surat seorang putra kepada Ibunya ^^

“Sebab, yang kupahami dari Ibuk, memberi itu bukan persoalan punya atau tidak punya, tapi mau atau tidak mau.”
_Halaman 254
 “Meski tidak secara verbal, aku selalu percaya, Ibuk selalu memberi contoh kepadaku bahwa martabat, harga diri, tidak pernah datang sendiri. Bukan warisan atau pemberian. Setiap orang, sepanjang hidupnya, harus membuktikan bahwa seizin Tuhan, dia lahir bukan untuk menjadi pengemis.”
_Halaman 258

Kumcer ini memang mengambil tema tentang cinta yang bersifat universal, tidak hanya cinta pada lelaki dan perempuan. Kumcer ini juga bertambah indah dengan disertakannya lukisan-lukisan Dredha Gora Hadiwijaya. Selain itu kertasnya yang berwarna-warni pada tepinya membuatku sangat senang saat membelinya, dari luar kertas buku ini terlihat sangat indah, berwarna-warni seperti pelangi. Tetapi sayangnya ketika membuka bukunya, saya mendapati kertas yang berwarna-warni ini terlalu norak!




Saya juga dibuat cukup penasaran mengapa kumcer ini untuk Dewi Lestari?

Dan ya pada akhirnya saya cukup menyukai kumcer ini...


You Might Also Like

0 comments

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan