Gadis Kecil di Bawah Lampu Merah

10:30 am


Aku lupa kapan saat pertama kali aku menyadari kehadirannya. Dia, seorang gadis kecil yang duduk di bawah lampu merah, di sebuah pertigaan jalan yang sepi, tepat di depan kantor perwakilan rakyat. Ia duduk memeluk tubuhnya erat dan menumpukan wajahnya pada kedua lututnya. Rambutnya yang hitam sebahu  jatuh terurai merahasiakan tampangnya dari rasa ingin tahuku. Baju yang ia kenakan selalu sama; kaos hitam dan celana putih pendek menutupi tubuhnya yang ringkih. Apa yang ia lakukan di sana? Pertanyaan itu selalu mendatangiku setiap melihat sosoknya di sana.
Tertidurkah ia?

Anehnya, aku hanya menjumpai sosoknya ketika malam telah semakin larut dan hari telah berganti. Jika kau lewat di jalan itu sekitaran jam delapan malam kau tak akan menemukan sosoknya di sana. Kau hanya akan mendapati pengamen-pengamen tukang maksa dengan suara cempreng dan petikan gitar asal-asalan atau anak-anak pengemis yang menengadahkan tangannya sambil memasang muka memelas mengibakan hati. Kau bahkan tidak akan menemuinya jika lewat sekitaran pukul sebelas malam di sana. Dia baru bisa kau dapati ketika jam telah menunjukkan pukul 12am lewat...
Siapakah gadis kecil itu?

Awalnya aku mengira dia salah satu anak-anak pengemis yang mungkin belum pulang ke rumahnya, masih mencoba mencari peruntungan di dinginnya malam. Ada rasa iba melihatnya, tampak begitu lelah hinggah terduduk di sana. Dengan tubuh kecil dan kurus dengan pakaian setipis itu. Tidakkah ia kedinginan? Di mana orangtuanya? Sebenarnya aku sangat tidak menyukai melihat anak-anak meminta-minta uang. Di usia sekecil mereka sudah tau tentang nilai uang rasanya sangat menyedihkan. Sosok polos yang telah di kotori dengan anggapan uang adalah segalanya dan wajib didapatkan dengan cara apa pun. Miris melihatnya, bahkan menimbulkan “benci” di hatiku. Tapi mungkin tak ada pilihan buat mereka? Mengemis atau mati? Entahlah... aku tiba-tiba teringat tentang pengemis-pengemis yang ternyata kaya di kampungnya, mengumpulkan harta dari meminta dan menarik simpati orang-orang. Ketika kemalasan dan ketamakan telah mengambil alih, harga diri dan rasa malu pun tak lagi dimiliki. Dan bukankah anak-anak paling ampuh menarik simpati dan rasa iba?!!

Aku bahkan menolak memberi anak-anak pengemis itu uang. Terkesan pelit?!! Aku tidak peduli, dan tidak mengambil pusing pikiran orang lain. Aku lebih memilih memberikan mereka makanan yang biasanya ada di dalam tasku, itu pun jika ada, jika tidak saya memilih tak memberikan apa-apa. Sebegitu tidak sukannya saya pada anak-anak yang meminta uang... Saya jauh lebih menghargai jika mereka bekerja. Tapi pekerjaan apa yang bisa dilakukan anak-anak? Mungkin menjual koran atau menjual makanan buatan ibunya?

Berbeda dengan tingkah gadis kecil itu, aku sadar dia tak pernah sedikit pun mendekati kendaraan yang terhenti ketika lampu lalulintas tersebut berwarna merah, di hanya sekedar duduk di sana dengan posisi yang sama. Selalu seperti itu setiap aku pulang terlalu malam dan melewati tempat itu. Mungkinkah dia sedang menunggu sesuatu? Atau seseorang?

Siapa dia sebenarnya?
Dimana kedua orangtuanya?
Apa yang ia lakukan?

Ada keinginan untuk menyapanya, untuk mengetahui namanya dan bahkan mungkin menanyakan apa gerangan yang ia lakukan di tempat itu ketika malam melarut. Tapi karena malam telah larut itulah aku mengurungkan niat, aku harus segera pulang. HP ku sudah beberapa kali berbunyi menandakan SMS dari orang rumah yang menanyakan keberadaanku. Dan malam seperti itu selalu sangat dingin, aku ingin segera bergelung hangat dalam kedamaian kamarku.

Maka semua pertanyaan tentang gadis kecil di bawah lampu merah itu tak terjawab...
*****

Suatu hari ketika membersihkan sebuah lemari tua aku menemukan sebuah foto yang terselip di sebuah buku anak-anak yang isinya tak bisa lagi dibaca karena ilustrasinya telah digunting-gunting. Foto itu mengabadikan aku yang masih kecil berdiri bersama seorang lelaki tinggi yang memakai jas hitam, tanganku di gandengnya, aku dan dia tersenyum menatap kamera. Aku mengenakan kaos hitam dan celana pendek putih. Dan aku ingat, foto itu diambil sebelum lelaki itu berangkat kerja... aku selalu menunggu kepulangannya dengan tidak sabar...


You Might Also Like

0 comments

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Beautiesquad