Saya Tidak Peduli!

5:00 pm

Bagaimana menilai sebuah buku?
Bagaimana menentukan sebuah buku bagus atau jelek?

Untuk saya, mudah saja, jika buku itu membuat saya menikmati membacanya, maka buku itu sudah termasuk buku yang bagus. Ia, semuanya memang tergantung selera saja. Buku yang saya anggap bagus belum tentu dianggap bagus oleh pembaca lainnya, begitu pun sebaliknya, buku yang saya anggap jelek mungkin saja dipuja-puja orang pembaca lain. Kembali lagi ini memang tergantung selera masing-masing...

Saya yang memang sering mereview buku, kerapkali juga mengeluarkan kritikan pedas pada buku-buku yang tidak saya sukai. Yang jelek dalam anggapan saya. Tentunya sedapat mungkin dalam review itu saya sertakan hal-hal yang tidak saya sukai dalam buku tersebut dan mengapa saya tidak menyukainya. Dan karena saya mereview sebagai seorang pembaca yang telah meluangkan waktu dan uang untuk membaca buku tersebut dengan harapan mendapatkan “kesenangan” dari sebuah buku, saya tentunya berhak menuliskan/mengutarakan pendapat saya atau pun kritikan saya pada buku itu.

Sebagai pembaca, saya tentunya hanya menilai buku tersebut dari fisik maupun isi buku tersebut. Saya tak mau tahu ataupun mengambil pusing, apalagi bersimpati pada seberapa keras sang penulis menuliskan bukunya itu, atau seberapa jatuh bangunnya ia sampai buku itu dapat diterbitkan. Hal itu tidak akan mempengaruhi pendapat saya tentang isi buku tersebut. Tak suka ya tak suka, jelek ya jelek! Haruskah saya memuji sesuatu yang rasanya tak pantas untuk saya puji? Yang sama sekali tidak memberikan “kenikmatan” saat saya membacanya? Hanya karena, mungkin, saya bersimpati pada sang pengarang? Munafik sekali rasanya...

Ataukah memang seharusnya kehidupan pengarang diturutsertakan dalam menilai tulisannya? Ahhh... saya hanya seorang penggila buku bukan orang sastra yang paham, saya menilai sesuai apa yang saya baca dan sesuai selera bacaan saya.

Jika pun mungkin ada yang tersinggung atau pun penulis yang terluka hatinya hinggah patah semangat saat membaca kritikan saya yang pedas (yaelah kayak tong ada penulis buku yang mau mampir ke blog ku deh atau tiba-tiba nyasar baca reviewku), saya meminta maaf. Tapi tidak akan berhenti melakukannya. Saya cuma akan merasa kasihan jika ada seseorang yang mendapatkan kritikan lalu menerima kritikan itu dengan prilaku negatif (marah, putus asa, menyerah, dll). Seseorang yang mentalnya begitu lemah saya rasa tak usah memilih profesi sebagai pekerja seni yang karyanya “dilempar” ke khalayak ramai. Ahhh... manusia yang tak bisa menerima kritikan, meminjam kata-kata dari seorang teman, “Mamam racun saja sana!”.

Apakah ada yang merasa bangga jika bukunya dikatakan bagus karena siapa dia? Bagaimana kepribadiannya? Bagaimana latar belakangnya? Bukan karena hasil karyanya? Adakah? Jika ada, duh kasian sekali deh, tenar karena rasa iba.

Bukan berarti dengan tidak memperdulikan proses bagaimana sang pengarang menuliskan bukunya itu dalam menilai tulisannya, saya menjadi seorang yang hanya mementingkan hasil akhir dan tidak memperdulikan sebuah proses. Sekali lagi, saya menilai sebuah buku dari sudut pandang seorang pembaca! Tentu saja proses itu jauh lebih penting dari pada hasil akhir. Bagaimana seorang manusia bangkit dari kekalahan, penolakan, belajar, lalu jatuh dan berusaha bangkit lagi, belajar dari masa lalu, dan seterusnya itulah yang menjadikan kita manusia. Dan juga di mana “hasil akhir” itu sebenarnya? Dalam hal seorang penulis apakah hasil akhirnya ketika dia telah menerbitkan sebuah buku?

Menulis dan menerbitkan buku memang tidak mudah. Saya akui itu. Apalagi hingga buku kita bisa dibaca orang lain, dipuja, dicerca, disukai, dicela, itu sebuah proses yang panjang dan mental yang kuat serta pikiran yang terbuka sangat diperlukan di sini. Mungkin juga saya tak bisa menulis “sebaik” buku yang saya anggap jelek ataupun saya tidak pernah sekali pun menerbitkan buku... tapi untuk sekian kalinya saya tekankan, sang mengkritik sebagai seorang pembaca buku, bukan sebagai seorang penulis. Tolong pisahkan kedua hal itu...

Dan sebagai pembaca saya akan tetap seperti ini ^^

Nb: Hal ini juga berlaku saat saya menonton film ^^



You Might Also Like

2 comments

  1. Bener banget mbak, terkadang jaman sekarang menulis buku bukan karena passion, tapi karena dikejar deadline sama penerbit gara2 sudah tanda tangan kontrak sebelum buku dibuat. Akibatnya, buku yg ditulis pun menjadi ala kadarnya..

    ReplyDelete
  2. sekarang banyak banget penulis2 karbitan yang di uber2 dateline, gw sih ga ada masalah sama fenomena ini cuma kadang banyak yang kecewa sama hasil dari bukunya. ingat jumlah followes tidak menjamin buku akan enak di baca

    ReplyDelete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Beautiesquad