Bunga Malam

12:20 pm

Bising! Itu hal pertama yang Perempuan Itu sadari. Suara musik yang diputar keras berdentum-dentum di telinganya dan membuat jantungnya berdetak cepat. Dia pun mulai sulit untuk bernafas. Sesak! Itu hal kedua yang ia sadari. Dia terhimpit manusia-manusia yang sedang asik bergoyang mengikuti irama musik dengan tempo yang sangat cepat. Tubuh-tubuh berbalut pakaian gemerlap dan berpeluh dengan keringat dan... nafsu? Entah mengapa ia bisa berada di tengah kekacauan ini. Di tengah hiruk-pikuk yang tak dapat ia pahami... yang belum ia pahami. Bagaimana dan mengapa? Ia sama sekali tak dapat mengingatnya.

Ia pun berusaha menyingkir dari kekacauan itu, menyibak manusia-manusia yang terbakar adrenalin di sekitarnya dan menyingkir sejauh-jauhnya dari tempat ini. Beberapa tangan merengkuhnya ke dalam pelukan; menggenggam, membelai, meremas tubuhnya. Mengajaknya terus tinggal dalam kekacuaan itu. Malu, marah, dan terangsang ia pun semakin ganas menyibak manusia-manusia disekitarnya. Menyikut beberapa perut dan menginjak banyak kaki.

Mendekati tepi “lautan manusia”, dia pun semakin mempercepat langkahnya. Kepalanya dia tengokkan ke kiri dan ke kanan, matanya awas mencari-cari pintu keluar. Dia lelah. Lelah setelah semalaman menari kesetanan seperti manusia-manusia itu?! Kesadaran itu pun menghantamnya! Dia harus keluar, segera! Tapi di mana pintu keluarnya? Mengapa tak ada pintu keluar dari tempat ini? Atau mungkinkah dia hanya tak melihatnya saja? Kepalanya pening, dia pun memilih beranjak ke toilet. Untuk menarik nafas, untuk menenangkan diri...

Toilet yang ia masuki memiliki sebuah cermin besar yang menutupi nyasir seluruh dinding di depannya. Sebuah tempat yang memang disediakan untuk para perempuan mengagumi dirinya. Di depan cermin itu ada tiga orang wanita yang sedang memperbaiki make up-nya dan asik bergunjing. Perempuan Itu pun mendekat ke cermin tanpa memperdulikan ketiga wanita tersebut. Ketika ia mendekati cermin itu, ketiga wanita itu meliriknya sekilas, lalu melanjutkan kembali gunjingannya. Mau tak mau Perempuan Itu pun sedikit-sedikit mendengarkan apa yang mereka pergunjingkan, tentang si lelaki anu yang cakepnya minta ampun tapi tititnya kecil, tentang si lelaki itu yang tangannya cekatan, tentang si lelaki ini yang dapat memberimu orgasme berkali-kali. Mukanya sontak memerah. Ia paksakan mukanya menghadap ke cermin, tidak menoleh ke kiri maupun ke kanan, fokus kepada bayangan yang dipantulkan cermin kepadanya.

Cermin itu memantulkan seseorang yang ia sangat kenal sekaligus tidak ia kenal... Tubuh mungilnya dipantulkan cermin itu, terbalut little black mini dress yang erat memeluk tubuhnya. Rambutnya yang seringnya ia kuncir kini dibiarkan terurai, hitam, panjang dan bergelombang, meskipun saat itu sedikit berantakan yang malah mengesankan sensualitas. Mukanya dilapisi make up tipis dengan gincu berwarna merah mewarnai bibirnya. Ia menunduk, dan memandang pump shoes yang juga berwarna merah yang ia kenakan. Terheran-heran ia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri mengapa ia bisa sampai tidak terjatuh menggunakan sepatu itu. Ia pun lalu kembali memandangi cermin di depannya, mencermati bayangannya. Siapa perempuan yang balik memandangnya itu? Dirinyakah? Mengapa tiba-tiba saja dia merasa asing pada tubuhnya sendiri?

Tiba-tiba pintu toilet itu terbuka, seorang lelaki tinggi besar berperawakan tegap masuk. Bukankah ini toilet kusus untuk perempuan? Apa yang ia lakukan di sini? Begitulah pikir Perempuan Itu. Ketiga wanita lainnya cekikikan dan kemudian salah satu dari mereka menghampiri lelaki tersebut. Dengan manja ia berglayut di tubuh lelaki itu dan berkata, “Kau ini sangat tak sabaran”. Lelaki itu menyeringai lalu merengkuhnya, atau lebih tepatnya mengangkat wanita itu dan mencumbunya dengan ganas. Kedua wanita lainnya terkekeh melihat tingkah kedua orang itu, lalu tak lama kemudian turut bergabung bersama mereka, dalam hal yang kemudian di sebut Perempuan Itu olah tubuh yang rumit. Terbengong-bengong Perempuan Itu menyaksikan hal tersebut, jauh di sudut hatinya dia pun ingin bergabung dengan mereka—ia pun memilih bergegas keluar dari toilet itu.

Ketika pintu toilet telah tertutup di belakangnya. Ia menyadari musik tidak lagi mengalun, lampu pun telah mati. Ruangan itu sunyi senyap, entah kemana para manusia yang memadati tempat itu sebelumnya. Menggigil, ia lalu berbalik, berniat kembali ke toilet. Tetapi pintu toilet di belakangnya sudah tidak ada lagi, yang ada hanya kehampaan berwarna hitam pekat. Tau-tau saja ia kehilangan pijakan dan jatuh...

Terus jatuh...

Semakin dalam.... dan dalam...

Ia berdiri di kerumunan orang lagi, di suatu hari yang sangat gerah, matahari bersinar cerah dan seluruh tubuhnya tertutup kain. Dia sekali lagi merasa sulit bernafas...

Dan terjebak.

You Might Also Like

2 comments

  1. ehhhmmm aku kok ngerasa terganggu dengan kata "titit" knp nggak menggunakan kata "penis" wee?
    apa ini faktor d sengaja ya? :o

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi ia sengaja Feb ^^
      Penis terlalu... hmmmm... baku? Ceritanya si ini celotehan cewek-cewek gaul :p

      Delete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan