Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

1:24 am


Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Oleh Hamka
Hak cipta @ Hamka

Penerbit PT Bulan Bintang
Cetakan ke-32
Mei 2009

236 hlm, 21 cm

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck melukiskan suatu kisah cinta murni di antara sepasang remaja, yang dilandasi keikhlasan dan kesucian jiwa, yang patut dijadikan tamsil ibarat. Jalan ceritanya dilatar-belakangi dengan peraturan-peraturan adat pusaka yang kokoh kuat, dalam suatu negeri yang bersuku dan berlembaga, berkaum kerabat, dan berninik-mamak.

“Cinta bukan mengajar kita lemah tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat.”
_Muluk

Ayah Zainuddin, Pendekar Sutan, adalah orang Minangkabau asli, perihal perdebatan harta warisan ia pun diasingkan selama dua-belas-tahun di Cilacap dan kemudian memilih menetap di Makassar. Di Makassar ia menikah dengan Daeng Habibah, dan tiga-empat tahun kemudian lahirlah Zainuddin. Baru saja Zainuddin dapat merangkak sendiri, ibunya meninggal. Karena kedukaan ditinggalkan oleh orang yang sangat dicintainya, ayahnya pun meninggal tak begitu lama sepeninggalan ibunya.

Ketika beranjak dewasa, Zainuddin pun meminta izin kepada pengasuhnya, Mak Base untuk berangkat ke Minangkabau. Telah lama ia memimpikan tanah kelahiran ayahnya di Batipuh. Sayangnya sambutan masyarakat di sana tidak seperti yang ia harapkan. Ia dianggap orang luar, orang Makassar, karena ibunya bersukukan Bugis, bukan orang Minangkabau. Akibatnya ia merasa terasing dan kesepian.

Perkenalannya dengan Hayati, sang bunga Batipuh membuat hari-harinya tidak terasa sepi lagi. Mereka pun sering saling berkirim surat dan lama kelamaan bunga-bunga cinta itu pun muncul diantara keduanya. Sayangnya ada adat dan masyarakat Minangkabau yang menjadi penghalang diantara mereka. Dan Zainuddin pun memutuskan meninggalkan Batipuh dan menetap di Padang Panjang, hal itu juga dikarenakan mamak Hayati memintanya untuk segera meninggalkan Batipuh. Sebelum berpisah, Hayati bersumpah kepada Zainuddin untuk terus menunggunya dan selalu setia kepadanya.

“Cinta bukan melemahkan hati, bukan membawa putus asa, bukan menimbulkan tangis sali sedan. Tetapi cinta menghidupkan pengharapan, menguatkan hati dalam perjuangan menempuh onak dan duri penghidupan. Berangkatlah! Dan biarlah Tuhan memberi perlindungan bagi kita.”
_Hayati

Selama Zainuddin di Padang Panjang, surat-menyurat diantara mereka terus terjalin. Hingga suatu hari Hayati memutuskan ke Padang Panjang untuk bertemu dengan Zainuddin, dia pun menginap di rumah seorang temannya, Khadijah. Khadijah memiliki seorang kakak yang bekerja di Padang yang juga kebetulan datang berlibur saat itu, Aziz. Aziz pun terpesona pada kecantikan Hayati dan memutuskan untuk mengirimkan lamarannya kepada keluarga Hayati di Batipuh. Aziz yang memang keturunan Minangkabau asli dan juga dari keluarga terpandang tentulah lebih disukai oleh keluarga Hayati, dibandingkan dengan Zainuddin...

Bagaimana kelanjutan kisah cinta antara Zainuddin dan Hayati?
Akankah Hayati menerima lamaran Aziz atau tetap setia menuggu Zainuddin?
Dan apa pula hubungannya dengan tenggelamnya kapal Van Der Wijck?

Hmm... Ini buku pertama Hamka yang saya baca. Sedari kecil, selain buku-buku Pramoedya saya lebih banyak “memakan” buku-buku terjemahan, buku-buku yang dikarang oleh pengarang luar seperti Enid Blyton, Agatha Christie, Sandra Brown, Nora Roberts, John Grisham, Danielle Steel, dll. Itu karena saya membaca buku-buku koleksi Aba dan tante saya, otomatis hanya pengarang-pengarang luar yang saya ketahui. Dan ya, saya pun ingin sekali-kali membaca lebih banyak buku-buku pengarang Indonesia, kususnya di periode pra-pasca kemerdekaan seperti Hamka ini.

Saat membaca buku ini saya cukup exited dengan kisah yang diangkat dan gaya penulisan yang “berbunga-bunga” yang digunakan pengarang. Iya, saya sangat suka membaca buku-buku dengan gaya penulisan ejaan lama dan baku, yang bagi saya itu sangat romantis. Apa hubungan antara ejaan lama, baku, dan romantis silahkan Anda pikirkan sendiri ^^ Saya pun kurang bisa menjabarkannya menggunakan kata-kata. Saya suka tema budaya yang diangkat, meskipun menggiring kita untuk menjust kebudayaan tersebut. Yang sebetulnya tentu saja tidak adil karena kita hanya melihat dari sepotong kisah ini.

Saya suka cinta remaja di zaman dahulu yang tertuang pada buku ini yang yaaa romantis... Berkirim-kirim surat itu sangat romantis bagi saya dan bagimana Zainuddin dan Hayati berinteraksi satu sama lain itu sukses membuat saya tersenyum-senyum (saya selalu berfikir mungkin saya lahir di zaman yang salah). Yang pasti saya sangat menyukai gaya bahasa buku ini dan bagian awal hingga mulai memasuki bagian pertengahan buku ini...

Di pertengahan buku alis saya mulai terangkat, saya kurang bisa menikmati “ceramah-ceramah” atau “doktrin-doktrin” yang terselip pada buku ini, yang mungkin harusnya sudah saya antisipasi mengingat sang pengarang adalah salah satu tokoh agama yang sangat berpengaruh di masanya. Entahlah, saya malah merasa membaca buku agama yang sangat membosankan dan menggurui yang selalu membuat saya ingin muntah. Dan saya pun tidak menyetujui beberapa pandangan Zainuddin, atau pengarang, di buku ini.

Untuk segi penokohan, tokoh-tokohnya digambarkan dengan kuat dan meninggalkan kesan yang dalam di kepalaku. Meskipun ya, semua tokoh di buku ini menjengkelkan bagi saya, terutama si Zainuddin ini. Zainuddin ini sangat menjatuhkan karakter orang Bugis-Makassar bagi saya, lembek dan enggak banget-lah pokoknya. Tipe lelaki yang iyuhhh... Saya sebel sekali membaca surat-suratnya yang “menuduh” dan berceramah kepada Hayati. Saya jijik dengan surat-surat selanjutnya yang memohon-mohon, gak punya harga diri bagi saya. Saya juga MUAK dengan dirinya yang selalu mau dikasihani! Yang selalu mengungkit-ungkit kemalangannya yang tidak beribu dan berayah lagi! Halooooo emang di dunia ini kamu saja gitu yang yatim-piatu?!! Errrr... Muaklah pokoknya!

“Hai Guru Muda! Mana pertahanan kehormatan yang ada pada tiap-tiap laki-laki? Tidakkah ada itu pada Guru? Ingatkah Guru bahwa ayah Guru terbuang dan mati di negeri orang, hanya semata-mata lantaran mempertahankan kehormatan diri? Tidakkah dua aliran darah yang panas ada dalam diri Guru, darah Minangkabau dari jihat ayah, darah Mengkasar dari jihat ibu?
_Muluk

Saya pun tidak bisa menyukai Hayati, meskipun ia masih lebih mendinglah dibandingkan Zainuddin. Setidaknya ia lebih dewasa dan memiliki sifat yang keibuan dan belas-kasiahan yang besar. Jika ada karakter tokoh yang tidak menjengkelkan di buku ini hanyalah Mak Base dan Muluk. Itu pun mereka hanya di kisahkan sedikit pada buku ini, ya memang si mereka hanya peran pendukung.

Mendekati akhir buku ini saya pun kembali dapat menikmatinya lagi. Tokoh Zainuddin pun perlahan-lahan berubah menjadi “lelaki”, meskipun bagi saya tetap saja menjengkelkan. Saya suka bagaimana endingnya dan ya saya menutup kisah ini dengan puas. Meskipun kisah di buku ini tidak dapat membuat saya terhanyut dan terus membayangi saya berhari-hari seperti saat membaca Gone With the Wind, Jane Eyre, A Walk to Remember, The Notebook, dan Love Story. Tapi setidaknya buku ini cukup layak bersanding dengan buku-buku koleksiku di rak dan saya tidak merasa rugi membelinya ^^

“Kalau bagi saya, sekiranya datang malaikat dari langit, mengaku sudi menjadi kecintaanku, dibawanya sangkar dari emas, cukup pakaian dari sutra ainal benaat, bermakhotakan intan baiduri, tetapi kemerdekaanku dirampas, dan aku wajib tinggal selama-lamanya dalam sangkar mas itu; jika aku bernyanyi hanya untuk dia, jika aku bersiul hanya buat didengarnya, aku diikat, dipaksa turut ikatan itu. Maka terima kasih bagi malaikat, selamat jalan bagi sangkar mas, selamat pergi bagi mahkota baiduri. Bagiku, bebas menurutkan kata hati, di bawah perintah diri seorang, itulah tujuan yang paling tinggi di dunia ini.”
_Khadijah


You Might Also Like

12 comments

  1. jadi, hubungannya dg kapa apa?
    bisa ndak yah dipinjam ini bukuuuuuu :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi baca sendiri ajaaa ^^ kalo aku ceritain bakalan jadi spoiler. Boleh, tapi udah banyak yang antri si...

      Delete
  2. Oh ada bukunya juga toh kirain filmnya aja...
    bagus juga ceritanya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. :O bukunya ini dari zaman nenek ku bang ^^

      Delete
  3. Aku juga penasaran, kenapa dikasih judul kapal ya? :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baca Jun, bacaaaa.... Judulnya jadi akhir ceritanya :p

      Delete
  4. kemaren pengen nonton ini tapi istri ku lebih tertarik sama Walking with dinosour

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nonton Om filmnya keren kalo aku si ^^ Hahaha

      Delete
  5. bukunya dibeli dmn kk?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ather tinggalnya di mana? Aku tinggalnya di Makassar dan kebetulan nemu buku ini di toko buku siswa di jalan Mongensidi ^^

      Delete
  6. dan lagi-lagi, romantisme telah meninggalkan jejak pada pemuda.
    novel sastra yang (mungkin) menginspirasi saya masuk kuliah di sastra. hehe

    ReplyDelete
  7. aku sudah pernah baca buku ini saat masih duduk dibangku sekolah, kira-kira tahun 2004. Lama sekali ya, sampai kenanganku akan isi buku ini mulai meredup

    ReplyDelete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan