Jadi ini alasannya

1:15 am

“Bagi negeri-negeri, bahasa nasional adalah perjuangan besar untuk mempertahankan eksistensi dan jati diri. Sementara di belahan lain Asia, pemimpin dan rakyatnya malah bangga bisa menyelip-nyelipkan kata dan kalimat bahasa asing, sebagai lambang kecerdasan dan kemajuan berfikir, tertimbun oleh kekaguman dan pemujaan terhadap kemajuan peradaban asing- secuil superioritas dari sindrom inferioritas bangsa terjajah.”
_ Garis Batas, Agustinus Wibowo

Ada alasan tersendiri mengapa saya sangat muak, enek, dan rasanya ingin melempar buku-buku karangan penulis Indonesia yang dalam tulisannya itu banyak menyelipkan kalimat-kalimat berbahasa asing. Ya, mungkin bisa di maklumi jika setting tempatnya di luar negeri. Tapi jika settingnya masih di Indonesia??? Tidak, ini bukan rasa iri karena saya tak mampu seperti mereka yang bisa dan mengerti banyak bahasa asing sebentara saya masih terbata-bata di bahasa Inggris. Hal itu sama sekali tidak ada hubungannya.

Saya hanya selalu bertanya-tanya apa gunanya mereka melakukan hal tersebut. Bukankah yang akan membaca tulisan mereka adalah masyarakat Indonesia?!! Sang pengarang ingin ditahu bahwa ia pintar, jago bahasa asing? Jika alasannya memang seperti itu, mengapa tidak menulis dalam bahasa asing saja? Mengapa harus campur-aduk ala gado-gado seperti itu? Atau itukah ciri khas mereka?

Ada juga yang mengatakan bahwa kalimat-kalimat itu maknanya lebih dalam jika menggunakan bahasa asing dibandingkan mencari padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Tapi sekali lagi, bukankah mereka menulis tentang orang Indonesia dan bertempat di Indonesia? Dengan kultur Indonesia? Hal apa yang tidak dapat disampaikan menggunakan bahasa Indonesia yang notabene bahasa kita sehari-hari? Ahhh maaf rasanya saya tidak bisa menganggap benar alasan apapun itu.

Tidak hanya dalam buku sebenarnya, bahkan percakapan sehari-hari sekarang ini sering sekali saya menjumpai percakapan yang menyelipkan kalimat-kalimat asing. Merasa keren jika bisa berbahasa asing tapi bahasa Indonesianya blepotan. Ada apa dengan kita? Mungkinkah ini sindrom inferioritas bangsa terjajah yang Agustinus sebutkan? Ketika kita sudah tidak bangga lagi menggunakan bahasa kita sendiri...



You Might Also Like

2 comments

  1. Haha. Kalau saya sih sama sekali nggak merasa terganggu dengan bahasa gado-gado. Untuk novel, selama gaya menulisnya asik, saya bisa enjoy. Sekalian belajar bahasa Inggris. Maklum, bahasa Inggris saya fayah. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi sepertinya tiap orang memang beda-beda ya :p Aku gak suka pake banget!!! Hehehe

      Delete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Beautiesquad