Haji Murad

3:06 am


Hadji Murad
By Leo Tolstoy

Penerjemah: Fahmy Yamani
Penyunting: Anton Kurnia
Pewajah Isi: Eri Ambardi

Hak terjemahan Indonesia ada pada Serambi
Penerbit PT Serambi Ilmu Semesta

Cetakan 1: Juli 2013

242 hlm

“Dan oleh karenanya, aku teringat cerita lama dari Kaukasus. Sebagian dari cerita ini kusaksikan sendiri, sebagian kudengar dari sejumlah saksi, dan sebagian kubayangkan sendiri. Cerita itu, saat berwujud di dalam kenangan dan imajinasiku, berlangsung seperti ini...”
_Hlm 8

Karya pamungkas Leo Tolstoy yang baru diterbitkan setelah kematiannya ini adalah dongeng moral paling dahsyat pada zaman kita.

Novel ini terinspirasi oleh sosok historis dan kontroversial yang didengar Tolstoy ketika bertugas sebagai tentara di Kaukasus. Kisah ini menghidupkan sang pejuang terkenal, Haji Murad, seorang pemberontak Checnya yang berjuang dengan garang dan gagah berani melawan kekaisaran Rusia.

Haji Murad adalah gambaran menggetarkan sosok pejuang tragis yang masih dikenang hingga kini. Inilah sebuah kisah indah tentang cinta, perjuangan, dan pengorbanan yang layak Anda renungkan.

Sebelum membaca buku ini saya membayangkan Haji Murad adalah sosok pahlawan yang gagah perkasa dan pemberani, yang membela tanah airnya hingga titik darah penghabisan. Ya semacam kisah-kisah pahlawan tanah air kita. Bayangkan betapa terkejut, berprasangka, dan sanksinya saya ketika membaca bab-bab awal di buku ini, dimana Tolstoy menyuguhkan saat-saat Haji Murad dan para muridnya berlari dari kejaran Shamil untuk membelot kepihak Rusia. Wah jadi Haji Murad ini seorang pengkhianat? Begitu pikir saya.

Entah terjemahannya yang memang aneh atau daya magis tulisan Tolstoy memudar, saya kurang mampu menikmati cara bertutur Tolstoy di buku ini. Saya pun malas-malasan membacanya. Untuk ukuran buku yang tebalnya hanya 242 halaman, butuh waktu sembilan hari baru saya dapat menamatkannya. Banyaknya juga tokoh-tokoh yang tak penting yang diceritakan membuat saya jengkel! Mengapa tak fokus saja di Haji Murad, murid, dan keluarganya? Meskipun saya tahu si, Tolstoy sangat sulit mengumpulkan data mengenai Haji Murad ini.

“Jika dia membunuhku, itu berarti Allah menghendakinya.”
_Haji Murad

Pada pertengahan novel ini hingga tamat, saya pun tak kuasa “jatuh cinta” dengan Haji Murad. Pada keberaniannya dan pada ras cintanya kepada keluarganya. Hanya saja rasa cinta saya ini sungguh membuat frustasi. Saya memprumpamakan-nya dengan jatuh cinta pada pandangan pertama pada seseorang yang kita temui di tengah keramian, lalu orang itu menghilang dan kita tak pernah lagi bertemu dengannya. Nyesek! Mengapa? Karena sangat sedikit yang kita ketahui mengenai Haji Murad ini. Menamatkan bukunya hanya menimbulkan pertanyaan yang lebih besar saja. Bahkan ketika saya mensearch-nya di google saya tetap tak dapat mengenal sosok Haji Murad lebih jauh.

Seandainya buku ini setebal Musashi atau Taiko, saya tidak akan sefrustasi ini menamatkannya, saya bisa mengenal Haji Murad lebih dalam...

“Kematian ini diingatkan kepadaku oleh serpihan bunga widuri di tengah ladang yang baru di bajak.”
_Hlm 238

“Kalian, burung di udara, terbang ke rumah kami, sampaikan pada adik, ibu, dan perawan berkulit putih bahwa kami semua gugur dalam ghazavat. Katakan pada mereka, tubuh kami tidak akan tergeletak di dalam kuburan, tetapi serigala yang kelaparan akan memakan dan mengunyah tulang kami, dan burung gagak hitam akan mematuki mata kami.”
_Lagu bangsa Checnya



You Might Also Like

2 comments

  1. Replies
    1. :O Bukan! Tokohnya memang muslim tapi ini buku novel religi ._. Lebih pada kemanusiaan.

      Delete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan