CINEUS

2:39 am


CINEUS
Oleh Evi Sri Rezeki

Penyunting: Dellafirayama
Penyelaras aksara: Novia Fajriani, @kaguralian
Penata aksara: Nurul M Janna
Perancang sampul: Fahmi Ilmansyah
Penggambar ilustrasi isi: Anisa Meilasyari

Diterbitkan oleh teen@noura
Lini Remaja Penerbit Noura Books
PT Mizan Publika

Cetakan 1, Agustus 2013

304 hlm; 13x19 cm

“Len, di dunia ini, ada dua hal yang pantas diperjuangkan. Yaitu impian dan cinta.”
_Dion

Demi menang di Festival Film Remaja, Lena rela melakukan apa saja. Bukan hanya demi misi mengalahkan mantan pacarnya yang juga ikut berkompetisi, tetapi karena dia pun harus mempertahankan Klub Film sekolahnya. Soalnya klub kecilnya itu kurang didukung oleh pihak sekolah. Padahal salah satu kreativitas siswa bikin film, kan!

Untung ada satu orang yang bikin hari-hari Lena jadi  lebih seru. Si cowok misterius yang kadang muncul dari balik semak-semak. Apaaa? Eh, dia bukan hantu, loh... tapi dia memang punya tempat persembunyian ajaib, mungkin di sanalah tempat dia membuat web series terkenal favorit Lena. Nah, siapa tahu cowok itu bisa membantu Lena biar menang di festival.

Kisah Lena ini seperti film komedi-romantis yang seru. Jadi, selamat nonton, eh baca! J

Begitulah sinopsis yang tertulis pada cover belakang buku ini, membacanya saya rasa layaknya teenlith kebanyakan, tentang cinta monyet dan hal menye-menye lainnya yang sejujurnya sudah sangat lama tidak menjadi bacaanku lagi. Tidak bermaksud sombong, hanya saja buku-buku teenlith Indonesia selalu saja mengangkat tema cerita yang itu-itu saja, saya pun berhenti membacanya ketika duduk di kelas satu SMA, dan itu delapan-tahun-yang-lalu, tua banget ya saya. Yang membuat saya akhirnya membaca buku ini adalah ketertarikan saya pada Klub Film dan Festival Film Remaja yang di sebut-sebut di sinopsis cover tersebut maklum di SMA saya dulu tak ada ekstrakulikuler yang berhubungan dengan film selain itu juga karena diadakannya lomba review buku ini dengan hadiah yang sukses membuat saya meneteskan air liur.

Ternyata isi buku ini jauh lebih kompleks dari apa yang saya bayangkan, saya pun menikmati membacanya hinggah akhir... Apalagi dengan adanya ilustrasi-ilustrasi super keren di dalam buku ini yang membuat saya semakin menikmati membacanya.

Basecamp Klub Film tampak dari luar

Basecamp Klub Film tampak dari dalam

Tempat persembunyian ajaib Rizki dan Ryan
Kisah di buku ini dibuka dengan adegan ketika Lena, Dania, dan Dion mendapatkan persetujuan dari Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan untuk mendirikan Klub Film. Demi memperkenalkan Klub Film dan menarik anggota, mereka pun mengadakan nonton bareng film indie pertama mereka yang berjudul “SKIP”. Sayangnya tak ada yang tertarik, dan aula tempat pemutaran film itu hanya terisi oleh mereka bertiga dan dua orang reporter dari majah sekolah. Berusaha untuk tidak patah semangat, mereka pun membagikan DVD film “SKIP” secara cuma-cuma, tapi sekali lagi hal itu tidak mendapatkan respon yang baik, banyak siswa dan siswi sekolah mereka menolak DVD tersebut. Hal itu sungguh membuat mereka berkecil hati apalagi ditambah artikel dari majalah sekolah mereka yang bertajuk: “KLUB FILM-KLUB PEMBUAT FILM PICISAN”

Setahun pun berlalu...
Klub Film pun berhasil tetap eksis selama itu dan mendapatkan tujuh orang anggota baru dari kelas sepuluh. Meskipun predikat aneh masing melekat kepada mereka, setidaknya klub masih tetap ada bagi mereka itu hal yang patut disyukuri.

Suatu hari saat seorang diri mengedit film horor di basecamp Klub Film yang rencananya akan diputar keesokan harinya, Lena mendapat telpon dari Mbak Ratna, panitia Festival Film Remaja yang mengajak Lena selaku pemenang di kategori skenario tahun lalu untuk turut serta lagi. Merasa sangat senang dan bersemangat, Lena pun mensearching mengenai Festival Film Pendek di internet. Saat membaca mengenai kategori film pendek yang juga diperlombakan di Festival Film Remaja, Lena berfikir untuk menyertakan Klub Film mereka. Jika mereka bisa menang, Lena merasa hal itu dapat meningkatkan popularitas Klub Film dan menarik siswa-siswi Cerdas Pintar untuk menjadi anggotanya.

Lena, Diana, dan Dion sebenarnya sudah sering mengikuti kompetisi film pendek, sayangnya mereka belum pernah menang. Jika kali ini mereka menggabungkan “kekuatan”, Lena berpikir ada kemungkinan buat mereka memenangkan kompetisi tersebut dan menyingkirkan saingan-saingan mereka. Saingan... tiba-tiba sosok seorang Adit berkelebatan di kepala Lena...

Adit adalah mantan pacar Lena yang mencampakkan Lena ketika dia memenangkan skenario terbaik di Festival Film Remaja. Bagi Adit tak ada yang boleh mengalahkannya, termasuk Lena. Lena telah menginjak-injak harga dirinya dan menjadikannya seorang pecundang. Kenangan itu kembali mendatangi Lena, membuat perutnya bergejolak. Dan tanpa disangka-sangka Adit memention Lena, menantangnya taruhan memenangkan dua kompetisi sekaligus, skenario dan film pendek. Siapa yang kalah harus mencuci kaki yang menang dan foto saat mencuci kaki tersebut harus dupublish di socmed dan akan menjadi tukang gulung kabel selama setahun.

Karena tak tahan lagi terus diperlakukan semena-mena oleh Adit, Lena pun menyetujui taruhan tersebut. Lena juga bertekad bulat untuk memenangkan taruhan tersebut!!! Pertemuannya dengan “Anak Hantu” membuatnya semakin yakin dapat memenangkan taruhan tersebut, asalkan dia mau bergabung dengan Klub Film, tapi sayangnya dasar “Anak Hantu”, cowok itu sangat sulit ditemukan. Segala upaya ia lakukan, meskipun membuatnya diskors seminggu, akhirnya mempertemukannya kembali dengan Rizki, si “Anak Hantu”. Lena pun berhasil mengetahui bahwa Rizki adalah creator web series favoritnya yang selama ini identitasnya disembunyikan. Dengan ancaman akan mempublikasikan identitasnya, akhirnya Rizki bersedia bergabung di Klub Film.

“Tuan Putri, jangan pernah melibatkan urusan kamu sama dengan orang lain! Jangan jadikan tujuan pribadi seolah-olah tujuan bersama.”
_Rizki

Sayangnya bergabungnya Rizki dan temannya, Ryan, malah memecah belah Klub Film. Ketujuh anak kelas sepuluh memilih keluar dari Klub Film dan tidak hanya sampai di situ, mereka pun merampas basecamp Klub Film dan bersama anak-anak populer membentuk Movie Club. Apalagi mereka ternyata mendapat dukungan dari Wakasek yang baru. Wakasek yang mengatakan akan mengakui keberadaan Klub Film jika mereka telah memperlihatkan prestasi yang dapat dibanggakan.

“Bersyukurlah kalau kalian dapat kritikan, berarti karya kalian diapresiasi. Kalau sebuah karya sudah dilempar kemasyarakat, karya itu bukan milik kalian lagi. Sudah jadi milik publik!”
_Rizki

Berlima; Lena, Diana, Dion, Rizki, dan Ryan harus pontang-panting demi membuat film pendek itu. Rintangan-rintangan dan stres saat membuat film tersebut semakin mengeratkan persahabatan mereka, meskipun ada saat-saat tertentu persahabatan mereka mengalami ujian.

“Sahabat pasti akan kembali sekalipun bertengkar hebat. Sahabat sejati selalu punya tempat di hati, kehilangan mereka akan menyisakan ruang kosong yang tak bisa ditambal lagi.”
_Lena

Dapatkah mereka memenangkan film pendek terbaik serta mendapatkan pengakuan untuk Klub Film? Bisakah Lena memenangkan taruhannya dengan Adit? Sebentara ia disibukkan dengan pembuatan film sehingga tidak sempat membuat skenario film?
Bagaimana kelanjutan hubungan Lena dan Rizki?

Lena
Nah! Sehari saja saya pun menamatkan buku ini, selain karena memang bukunya ringan dan tak perlu membuat kita merenung, kisah Lena dan teman-temannya ini lumayan membuat saya ingin segera menamatkannya. Penasaran gitu deh...

Saya kagum pada Lena yang begitu bersemangat dan yang telah mengetahui ingin menjadi apa dia nantinya ketika telah tamat bersekolah, saya suka kegigihannya demi mengejar impian, cita-citanya, dan cintanya. Saya suka bagaimana ia begitu gigih mencari Rizki demi menjelaskan segalanya. Saya juga suka interaksi yang manis antara Lena dan Rizki, mengajak kita mengenang saat-saat manisnya cinta monyet itu.

Saya juga suka pertemuan pertama Lena, Diana, dan Dion, pertemuan pertama yang membuat mereka bersahabat, persahabatan yang dipersatukan pasion dan impian mereka. Meskipun tarian mereka saya rasa hal yang lebay dan aneh. Mungkin memang itu tujuan pengarang, untuk menambah kesan aneh pada mereka bertiga. Hanya saja kesannya malah terlalu dibuat-buat dan itu, lebay!

Saya salut pada pengarang yang mengangkat isu ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) yang digambarkan pada sosok Dion. Sehingga pembaca remaja dapat mengenal dan memahami orang-orang, yang mungkin saja ada di sekitar kita, yang mengidap ADHD. Memperlakukan mereka dengan manusiawi tanpa mengucilkan mereka atau malah dijadikan bahan olok-olokan. Meskipun tingkahlaku pada diri Dion malah tidak seperti anak penderita ADHD. Anak ADHD tidak berarti dia gampang ditipu dan terlalu polos. Anak pengidap ADHD itu hiperaktif dan mudah marah dan cenderung cerewet dan membuat keributan. Pengidap ADHD sangat baik/sesuai digambarkan oleh Rick Riordan pada diri Percy Jackson dan demigod lainnya.

Yang tidak saya sukai malah pada penyelesaian konflik “pemalsuan” itu, yang tidak bisa diceritakan di review ini, mending kalian baca sendiri deh bukunya. Mengapa? Rasanya kecerobohan Diana itu terlalu besar hanya untuk tidak dibahas. Mustahil banget ada orang yang sudah di cap pengkhianat, penipu, dll padahal tidak melakukannya yang akan dengan mudahnya memaafkan sang teman, yang notabene adalah biang keladi dari permasalahan itu. Bahkan mengomelinya pun tidak? Bulshit banget bagiku! Lalu “sikap kesatria” Rizki itu bagiku annoying banget! Apapun alasannya, entah mengapa saya tidak bisa menerima hal tersebut... Bagi saya hal itu sebuah persekongkolan tindak penipuan. Apakah bisa dibenarkan?

“...kemenangan lahir dari proses, dari perjuangan! Kamu tahu, sebanyak apa pun kamu mencari pengakuan dari orang lain, kamu tidak akan pernah bisa memuaskan dirimu sendiri! Karena kepuasanmu bukan berasal dari hatimu sendiri!”
_Rizki

Adapun jika buku ini memiliki kesalahan penulisan atau pun ejaan saya tidak terlalu memperhatikannya, saya terlalu asik membacanya sehingga tidak menyadari hal tersebut. Ahh ya, saya juga menyukai cover buku ini...

Akhir kata saya merekomendasikan buku ini untuk pembaca remaja maupun orang-orang yang sedang ingin bernostalgia pada masa-masa SMA-nya. Kisah cintanya yang manis sukses membuat saya mengenang masa-masa disaat saya merasakan cinta monyet~

Btw, entah siswa-siswi sekolah Cerdas Pintar pada kaya semua atau memang gak doyan gratisan, saya gak habis pikir mengapa mereka menolak DVD yang Klub Film bagikan. Secara itu gratisan loh... ^^ Atau memang saya saja yang sangat doyan gratisan ^^ Hehehe

“Malasnya ngobrol dengan orang dewasa, tuh, kalian terlalu realistis. Tapi, yeah, aku juga belum dewasa. Jadi, enggak tahu gimana rasanya di posisi kalian. Kenapa enggak kejar impian dari sekarang? Kenapa harus tunggu kaya? Itu juga kalau kaya. Kalau enggak?”
_Lena

“Setinggi apapun impianmu, kamu hanya butuh percaya. Seperti aku mempercayai impianku. Sertakan orang-orang yang kau cintai dalam impianmu. Karena mereka adalah sumber kekuatan bagimu. Satu hal lagi, Tuhan bersama kita yang berjuang.”

_Lena




You Might Also Like

13 comments

  1. wah kayaknya menarik banget tuh ceritanya... *jadi penasaran, pinjem donk.. :D
    sukses ya wi buat lombanya, moga menang.. aaamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ehemmm... saya juga minjem di Dhila :p Hahaha
      Amin! Amin! Amin!

      Delete
  2. Udah berbau bau sop iler XD

    Bagian ending gak semanis bagian opening. Rada terkesan buru-buru. Tapi not bad lah....

    Btw, bukan kak Nan aja kok yang doyan gratisan *lalu mumpet*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo aku si gak terkesan terburu-buru, hanya saja penyelesaian kasus itu gak bisa banget aku terima >.<

      *tosss* *sesama yang doyan gratisan*

      Delete
  3. Huaaaa. sudah baca kamu rupanya dwi! Lucu ilustrasinya. Semoga menangko dwi, bagi saya bukunya satu nah kalo menang :p :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin!!!
      Dak ikutan ko? Sampai tanggal 31 ji batas reviewnya ^^

      Delete
  4. ini bukunya mba evi yang dari warung blogger kan?
    kayaknya keren neh ceritanya, pinjem dongs...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia Om ^^ Jangan pinjam tapi beli dong... Hehehe

      Delete
  5. Wah, ilustrasinya jenis ilustrasi yang dibikin dengan tangan :O

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iaaaaa >.< Makanya aku suka banget Jun ^^

      Delete
  6. Terima kasih sudah mengapresiasi novel CineUs. Semoga nanti berkenan mengapresiasi sekuelnya :)

    ReplyDelete
  7. Hi, mohon ijin berbagi informasi ya… Yuk ikutan #ZockoUnlocked Blogging Competition berhadiah iPhone 5S atau iPad Mini! Untuk info lengkap silakan kunjungi http://weare.zocko.com ya dan jangan lupa sign up di http://www.zocko.com terlebih dahulu! Kami tunggu ☺

    ReplyDelete
  8. buku yg ada gbr2nya gini paling asik dibaca nih...jd bisa smbil ngebyangin gitu :D... gbrnya bgs lagi...bukan cuma asal...

    ReplyDelete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Beautiesquad