Berjumpa Lagi Dengan Samalona

4:28 am

26 Oktober 2013

Pukul 5.30am alarm HP ku berbunyi, terbangun, saya pun mematikannya dan segera menuju kamar mandi bersiap-siap untuk liburan selanjutnya setelah minggu lalu saya berlibur ke Permandian Air Panas Lejja (cerita liburan minggu lalu bisa di baca di sini). Kali ini saya akan ke Pulau Samalona bersama teman-teman kuliah saya dan beberapa junior di kampus. Ia dulu saya pun juga pernah kuliah ._. #plak hahahaha

Jam 6.00am sebenarnya saya dijanji teman akan di jemput, soalnya kami akan ke pasar ikan dulu untuk berbelanja ikan untuk makanan anak-anak di sana. Kami berencana akan makan ikan bakar di sana. Tapi si teman mampir dulu ke rumah teman yang lain untuk mengecek kesiapan makanan, peralatan dll dan memang dia terlambat bangun jadi ya kami berangkat agak sedikit molor dari waktu yang direncanakan. Setelah berbelanja ikan, kami pun segera menuju Dermaga Wisata Pulau Kayangan, tempat kami berjanji dengan yang lainnya untuk berkumpul dan memang dari dermaga itulah kami akan berangkat menuju Pulau Samalona. Kami berangkat ke Samalona sekitar jam 8.23am

Oh ia Pulau Samalona sendiri adalah sebuah pulau kecil yang terletak di Selat Makassar dan masih termasuk wilayah Kota Makassar. Untuk ke sana kami menggunakan perahu nelayan bermotor dan jarak tempuhnya kurang lebih 30 menit.





Terakhir kali saya ke Pulau Samalona adalah 2 tahun yang lalu, juga bersama teman-teman kuliahku. Sekilas melihat saya langsung menyadari banyak perubahan pada Pulau ini. Dermaga tempat perahu-perahu mendarat sudah tidak ada lagi, hancur di makan usia. Ia si, bahkan 2 tahun yang lalu pun dermaga itu sudah sangat lapuk, tapi setidaknya masih dapat digunakan. Juga semakin banyaknya rumah-rumah baru yang berdiri, yang difungsikan sebagai penginapan, yang bagi saya malah membuat pulau ini menjadi sumpek dan tumpukan sampah yang mengganggu pemandangan. Belum lagi pohon favoritku yang berada di sekitar tengah pulau sudah tidak ada, batangnya tergeletak mati dan telah terpotong-potong. Entah pohon ini rubuh sendiri atau memang di tebang. Padahal saya sangat suka memandang cabang-cabang batang pohon ini yang besar dan terlihat sangat kokoh, tempat saya sering menyaksikan tupai berlarian di sana. Sedih melihatnya hanya tersisa kenangan di memori ku saja.

Hari itu Pulau Samalona terbilang ramai, bahkan ada beberapa bule yang berbikini. Sayangnya bule cowoknya berperut gendut semua, gak ada yang perutnya sixpack macam lelaki di baywatch >.< Hihihihi~
Sesampai di sana saya langsung nyemplung ke laut meninggalkan teman-temanku yang sibuk membakar ikan. Tak lama saya bermain air, saya dibuat sedih lagi menyaksikan karang-karang yang mati. Entah apa istilahnya benar apa tidak, karang-karangnya berwarna kelabu saja tanpa ada terumbu karang berwarna-warni lagi. Dua tahun yang lalu pun sebenarnya karang-karang sudah banyak yang mati, tapi jika kita berenang lebih jauh akan menemukan juga warna-warni terumbu karang dan beberapa ikan cantik yang berenang di sekitarnya. Tapi sekarang?!!

Tak lama saya berenang (lebih tepatnya berendam soalnya saya tidak tahu berenang) saya pun kembali naik dan melihat-lihat membantu menyiapkan makanan. Setelah semuanya siap, kami pun makan. Setelah makan, saya pun dan beberapa teman kembali ke laut. Bermain air kembali... Sayangnya matahari telah semakin terik dan kepala saya pun sudah lumayan sakit karena kurang tidur, saya pun memutuskan untuk berhenti dan kembali kepenginapan untuk mandi. Setelah itu tidur sejenak, lima belas menit kemudian saya terbangun dan memutuskan untuk melihat-lihat sekeliling pulau.




Keadaan di "belakang" pulau jauh lebih bersih tapi banyak karang


Beberapa kulit kerang yang kukumpulkan

Rumah, rumah, dan rumah

Pohon kesayanganku T___T






Pasir di sini agak kasar karena berupa pecahan karang


Akan dibangun apa?



Mengintip laut


Jemputan kami sudah datang ^^



Jam 5 lewat kami pun pulang. Perjalanan pulang sedikit horor, soalnya ombaknya kencang dan membasahi tubuh kami. Lautnya pun berwarna gelap dan bergolak menyeramkan. Saya dibuat terpesona pada "keganasan" laut tersebut, pada kekuatan yang Maha Dahsyat itu. Betapa kita adalah setitik keberadaan kecil jika dibandingkan hamparan luas lautan yang sejauh mata membentang itu. Kita tidak ada apa-apanya. Perjalanan pulang pun terasa sangat lama...

Sampai jumpa lagi, Samalona~

Ombak yang mengamuk

Pulau Lae-lae dari Dermaga Wisata Pulau Kayangan

You Might Also Like

5 comments

  1. Woww, kereeeenn!! It's so beautiful scenery yaahh!! Sayangnya aku belom pernah menyentuh langsung keindahan yang kayak gitu. Nice post, Kak Dwi!! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk jalan-jalan yuk :p Jangan kerja mulu >.<

      Delete
  2. iya nih, aku jg belum sempet ke samalona

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayooo ke Samalona sebelum pulaunya penuh sesak dengan rumah dan semua karangnya mati u.u

      Delete
  3. Terima kasih postingannya. Saya senang menemukan blog ini, meskipun sedih mendengar dan melihat kabar dari Samalona.

    ReplyDelete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan