So I Married the Anti-fan

1:43 am



So I Married the Anti-Fan
By Kim Eun Jeong
@ 2010 by Kim Eun Jeong
All rights reserved
This translated edition arranged with Orum Media through Shinwon Agency Co. In Korea
Indonesian edition @ 2012 by Haru Publisher

Penerjemah: Putu Pramania Adnyana
Penyunting: Nyi Bio
Ilustrasi diary: Bambang ‘Bambi’ Gunawan S
Tata letak: Dedy Andrianto
Penerbit: Penerbit Haru

Cetakan kedua, April 2012

540 hlm; 20 cm

Sekarang bukan lagi Chick Lit,
Tetapi Loser Lit!
Mimpi menjadi kenyataan. Tinggal bersama dengan selebriti terkenal di Korea. Akan tetapi....
Aku ini anti-fannya!

Selebriti H
Tampil Bersama Anti-fannya, L,
Dalam Acara Real Variety!

Top star Korea yang terkenal dengan karisma lembutnya akan tampil bersama dengan anti-fannya, L, dalam acara real variety, yang menampilkan kisah mereka beraktivitas bersama selama 24 jam.

H: Anti-fan itu juga harus dijaga dengan baik. Aku ini cukup gentle kan? Hahaha
L: Sebagai anti-fannya, aku akan menunjukkan sifat aslinya. Aku janji!

Fan-fan H menolak rencana ini karena dianggap sama saja mengumpankan bayi angsa yang lugu kepada induk itik yang buruk rupa. Dan apabila L sedikit saja melukai H, mereka siap melakukan teror apa pun.
_ Harian Paparazi

Geun Yong adalah seorang wartawan yang karirnya stagnan, selama menjadi seorang wartawan ia tidak pernah menuliskan artikel yang benar-benar berkualitas. Sifatnya yang mudah menyerah serta cepat kehilangan semangat dan harapan menjadikannya seperti itu. Dan ya, sebenarnya menjadi seorang wartawan bukanlah cita-citanya. Suatu hari ia terlibat masalah dengan seorang aktor terkenal, Hu Joon, saat menghadiri pembukaan sebuah cafe. Hal itu berujung pada pemecatan dirinya.
Tidak menerima hal tersebut, Geun Yong bermaksud meminta pertanggung jawaban Hu Joon. Tetapi menemui seorang aktor terkenal bukanlah perkara mudah, setiap usaha yang ia lakukan berujung pada kegagalan. Marah, benci dan dendam membuatnya menjadi seorang anti-fan yang bertekad untuk mengungkap sifat asli Hu Joon yang sebenarnya. Lalu mereka berdua dipertemukan dalam sebuah acara variety show, “I Married the Anti-fan”.

“Tapi, saya harus tetap melakukan apa yang harus saya lakukan. Untuk meraih tujuan saya.”
_Geun Yong

Ini buku pertama yang saya baca dari seorang penulis Korea dan juga buku pertama yang saya baca dan miliki dari Penerbit Haru. Dalam segi cerita, bagi saya buku ini seperti novel-novel metropop karangan penulis-penulis Indonesia, bacaan selingan yang sepertinya agak rugi jika dibeli, cukup dipinjam saja. Inti ceritanya sudah sangat umum, tentang dua orang yang saling membenci tetapi ketika telah mengenal lebih jauh satu sama lain akhirnya saling jatuh cinta. Biasa bagi saya~ Lalu kenapa saya tertarik membelinya?

Cover barunya ._.
Saya termasuk orang yang sangat menyukai menonton serial drama Korea, karena hal itu saya tertarik memiliki buku ini. Selain itu banyak teman-teman saya di twitter yang menyukai Korea-koreaan sangat merekomendasikan buku ini. Dan juga saya sangat menyukai covernya >.< Makanya saat Penerbit Haru menerbitkan buku ini dengan cover baru, yang tidak sebagus cover yang ini, saya segera membeli buku ini yang juga memang sisa dua di Gramedia. Menyesal? Tidak juga sebenarnya.


“Baginya kebahagiaan adalah ketika ia berhasil melindungi apa yang ingin ia lindungi.”
_Hu Joon

Secara umum saya menikmati membaca kisah antara Geun Yong dan Hu Joon ini, saya membayangkan jika novel ini dijadikan serial drama pasti akan sangat keren. Saat-saat membacanya pun saya memikirkan siapa-siapa artis dan aktor Korea yang pantas memerankan tokoh-tokoh di dalam novel ini. Tapi entah memang seperti ini cara berkisah Kim Eun Jeong atau penerjemah yang memilih menerjemahkan novel tersebut seperti ini, saya kurang menyukai susunan kalimatnya. Agak susah menjelaskannya, haya saja membacanya sedikit kurang nyaman. Seperti diterjemahkan kata per kata. Dan ya itu, saya rasa kisah ini bakalan lebih sukses jika dijadikan serial drama saja~ Oh ia penggunaan istilah Korea yang setengah hati juga sedikit mengganggu, istilah “oppa” diperkenalkan tapi penyebutan Ibu dan ayah tetap memakai bahasa Indonesia, padahal istilah “omma” dan “appa” sudah begitu umum. Sebaiknya bagi saya digunakan saja istilah-istilah tersebut, agar ciitarasa Koreanya lebih terasa.

“Lupakan saja apa yang terjadi di masa lalu. Kau tahu apa yang terjadi kalau kau hanya memikirkan masa lalu mu? Rasanya seperti terkurung di sebuah ruangan. Berkompromilah dengan kehidupan. Bukankah itu hal yang indah? Jarang ada orang yang mau berbicara dengan kehidupan dan mengulurkan tangan.”
_PD Han

You Might Also Like

2 comments

  1. keliatannya dari segi ceritanya menarik yah.. :D

    ReplyDelete
  2. Arif: Menarik sih, tapi gaya berceritanya agak aneh~

    ReplyDelete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Beautiesquad