Bittersweet Rain

2:49 am




Bittersweet Rain
By Sandra Brown
By arrangement Maria Carvainis Agency, Inc.
Translated from the English Bittersweet Rain
Copyright @ 1984 by Erin St.Claire
First published in the United States by
Silhouette Books, New York
Reissued in 2000 by Warner Books, New York
All right reserved

Dalam Derai Hujan
Alih bahasa: Santi Handrawati
Desain sampul: Eduard Iwan Mangopang
Hak cipta terjemahan Indonesia: PT Gramedia Pustaka Utama
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, Maret 2005

Cetakan ketiga: Januari 2006

390 halaman

“Ah, memang orang yang tengah jatuh cinta bisa kejam dan gila. Cinta bisa membuat seseorang bertingkah seperti orang tolol. Bahkan sekalipun menyadari perilakunya seperti orang bodoh tidak akan mampu mengendalikan dirinya untuk tidak bersikap seperti orang tolol. Cinta membuat seseorang mampu berjabat tangan dengan sikap dingin.”
_Rink

Caroline Dawson mampu bertahan menghadapi gosip. Ia yang hanya seorang gadis miskin dan anak dari seorang pemabuk yang kerjanya sepanjang hari hanya bermain kartu, minta uang pada orang bodoh yang kebetulan bertemu atau berbicara dengannya, sampai ia mendapat uang cukup untuk membeli minuman yang bisa dinikmatinya sampai keesokan hari. Ia yang menikah dengan Roscoe Lancaster, orang yang palin kaya di daerahnya, yang tiga-puluh-tahun-lebih-tua-darinya, yang pantas menjadi ayahnya. Ia mampu menghadapi semua itu, tapi ia takut takkan sanggup menghadapi Rink Lancaster, putra suaminya.

Ketika suaminya sakit keras, sebelum masuk ke ruang operasi ia meminta agar Rink, putranya segera diberitahu. Permusuhan antara ayah dan anak itu telah menjadi rahasia umum di daerah mereka, berpuncak ketika dua belas tahun yang lalu Rink akhirnya pergi dan tak pernah kembali. Tapi kali ini Rink kembali...

Bertahun-tahun sebelum Caroline menikah, ketika ia dan Rink masih remaja, dalam derai hujan pria itu memperkenalkan Caroline pada cinta pertama yang menggetarkan dan satu-satunya yang pernah ia rasakan. Di musim panas itu mereka saling mengenal dengan baik dan menjalin ikatan yang kuat. Lalu Rink pergi, tanpa pesan ataupun ucapan selamat tinggal, dan selama dua belas tahun ini tak pernah mengabarinya, membuat hatinya hancur. Tapi sekarang Rink kembali...

Menyenangkan membaca buku ini, melihat bagaimana manusia dapat berlindung dan merasa aman dengan status dan kekayaan yang ia miliki, melihat bagaimana cinta menghampiri dua anak manusia tanpa peduli dengan norma/ketabu-an yang diciptakan oleh masyarakat, membuatku tak rela meletakkannya sebelum menamatkannya. Mungkin juga karena saya ini memang menyukai membaca buku-buku romansa terjemahan, kecuali yang berlabel cicklit tentunya. Bagi saya buku-buku seperti ini mampu menangkap konsep cinta yang sebenarnya, setidaknya cinta yang sebenarnya dalam angan saya.

Saya suka tokoh Rink, kecintaanya kepada adiknya dan almarhum ibunya, juga terhadap pembantu rumah tangganya dan Alyssa. Rasa tanggung jawabnya dan kemampuannya untuk lepas dari bayang-bayang sang ayah. Insting bisnisnya... Pokoknya tipe idaman lah! Hahaha... Lelaki luar biasa yang tidak sempurna yang memilki kelemahan di sana sini...
Untuk tokoh Caroline saya tidak begitu menyukainya. Bagi saya ia terlalu mengambil pusing anggapan orang-orang, ia tidak bisa dengan kemampuannya sendiri untuk berjalan dengan penuh rasa percaya diri, ia tidak mampu berbangga atas apa yang ia capai, ia baru merasa aman ketika dia bersembunyi di balik kekuasaan suaminya. Bahkan ketika untuk mendapatkan cinta yang ia idamkan ia tak mau membeberkan fakta yang akan membuat orang-orang memaklumi tindakannya. Meskipun pada akhirnya ia menutup telinga dan menggapai cintanya, tapi saya rasa lebih baik jika mereka membeberkan fakta tersebut. Apalagi jika hal itu terjadi di sini, di Indonesia. Tapi ya... karena tidak bersetting di Indonesia ya okelah...

Selain kisah cinta Caroline dan Rink, di buku ini kita juga disajikan kisah cinta adik Rink, Laura Jane, yang polos dan mengalami keterlambatan perkembangan otak tetapi memiliki insting, kepekaan, dan kemampuan membaca situasi dengan Steve, seorang vetran perang yang kehilangan sebelah kakinya dari lutut ke bawah dan sekarang bekerja sebagai pengurus kuda di rumah mereka. Kisah mereka, Laura Jane & Steve, bagi saya sangat mengharukan dan indah, saya berangan-angan jika cerita tentang mereka dibuatkan buku tersendiri. Pastinya sangat menarik, mungkin akan melebihi buku ini. Cinta yang sederhana yang menyatukan dua orang yang “cacat”. Saya ingin lebih banyak tentang mereka...

“Sayangku,” bisiknya di antara rambut wanita itu. “Bagaimana mungkin aku menyesal menikah denganmu? Aku selalu cinta padamu, apa pun yang kau lakukan, atau tidak kau lakukan. Kau tidak perlu mengejar cintaku, Laura Jane, kau sudah mendapatkannya. Untuk selamanya.”
_Steve

Ia ini memang kisah cinta yang tabu. Di Amerika saja, setting buku ini, ketabuan ini masih dipergunjingkan, saya tidak dapat membayangkan jika kisah ini terjadi di Indonesia. Yang masih “mengagungkan” norma dan nilai yang entah siapa pembuatnya, yang diam-diam mereka pun melanggarnya. Saya rasa jika buku ini bersetting di Indonesia akan berakhir sad ending dan tragis...

Dari segi kover, saya tidak memiliki komentar apapun. Bagi saya kovernya yang berwarna hijau muda itu dengan latar perkebunan kapas sundah sangat pas. Saya menyukainya.

Oh ia, saya menyadari di beberapa buku Sandra Brown yang pernah saya baca, sosok Ayah selalu digambarkan sebagai sosok yang kejam, licik dan memaksakan kehendaknya kepada anak-anaknya. Contohnya Mirror Image dan White Hot, dua buku itupun menggambarkan sosok ayah yang kejam, licik, dan memaksakan kehendaknya kepada anaknya. Saya menjadi penasaran ada apa dengan sosok ayah dalam kehidupan pengarang sendiri? Apakah hal ini dari pengalaman sang pengarang? Atau dari seseorang yang ia kenal? Atau hanya sebuah kebetulan? Ahh tapi kebetulan jarang terjadi tiga kali... Ih saya kepo banget ya?!! Hahaha...

“Aku cinta padamu. Aku selalu mencintaimu, Caroline. Dulu aku mengumpat datangnya hari baru. Karena aku terbangun dengan pikiran melayang padamu, mencari dirimu, memikirkan apa yang kau lakukan, kau inginkan, ingin sekali melihat wajahmu. Kini aku menantikan datangnya hari baru, karena aku bangun tidur untuk mencintaimu dan tahu kau pun mencintaiku.”
_Rink

“Cintailah aku, tinggalkan keangkuhan dirimu, cintai aku apa adanya.”
_Caroline



You Might Also Like

0 comments

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Beautiesquad