Gadis Pakarena

11:22 am




Gadis Pakarena
By Khrisna Pabichara, 2010
All rights reserved

Penyunting: Salahuddien Gz
Desain Sampul dan ilustrasi: Yudi Irawan
Penata Letak: MT Nugroho

Cetakan I: Juli 2012

Penerbit Dolphin

Gadis Pakarena adalah kumpulan karya fiksi yang seperti tertulis di belakang sampulnya, yang membabarkan makna dan hakikat cinta, kesetiaan, kerinduan, kebencian, juga angkara murka. Sebuah daftar kisah yang digali dari khazanah tradisi, diramu dalam narasi-narasi tak terperi, seakan hendak menyadarkan kita betapa dekatnya cinta dan benci, tak henti-henti bertarung di ruang yang sangat sempit bernama hati...

Ada empat-belas kisah di buku ini; Laduka, Gadis Pakarena, Arajang, Mengawini Ibu, Rumah Panggung di Kaki Bukit, Haji Baso, Silariang, Ulu Badik Ulu Hati, Selasar, Lebang dan Hatinya, Pembunuh Parakang, Hati Perempuan Sunyi, Riwayat Tiga Layar, dan Dilarang Mengarang Cerita di Hari Minggu.

Secara pribadi saya menikmati setiap kisah yang ada di dalam buku ini, jarang saya membaca buku kumpulan cerpen yang berlatar kebudayaan Bugis-Makassar, kebanyakan saya membaca tentang kebudayaan Jawa, Minang, dan Bali. Apali setiap cerpen sangat kental dengan unsur kebudayaan dan tentang persimpangan antara cinta-benci. Meskipun begitu, ada beberapa hal yang membuat saya sedikit mengerutkan kening dan bertanya-tanya... Seperti pada kisah “Silariang”, memang tidak jelas kapan waktu kejadian kisah tersebut, tapi apakah adat siri’ yang sampai tidak mau memaafkan keluarga itu masih terjadi hinggah sekarang? Sampai ia diburu hinggah ke Jakarta demi membayar rasa malu itu? Dan rasa malu itu sebenarnya tertujukan pada siapa? Sebagai orang yang lahir dan besar di Makassar, sayapun masih asing dengan hal-hal tersebut. Entah karena saya dibesarkan jauh dari “kebudayaan” dan “adat” atau karena adat pada kisah “Silariang” sudah tidak pernah terjadi lagi atau terjadi di tempat yang jauh dari Makassar sehingga saya tidak pernah mendengarnya. Saya tau kok tentang silariang, siri’, dan pantang sebuah badik yang telah tercabut dari sarungnya kembali di masukkan sebelum dibasahi oleh darah. Tapi biasanya yang saya dengar dan lihat, akhirnya kedua orang yang silariang itu dimaafkan oleh keluarganya atau yang paling tragis hanya dianggap tidak ada, dua orang asing dan tidak dipedulikan. Sampai diburu? Hmmm... Entahlah saya belum pernah mendengarnya :p Tapi hey kisah inikan ciptaan sang pengarang, dialah Tuhan yang mengatur nasip sang tokoh utama, jadi mari kita kembali ke buku ini *kebanyakan protes* *padahal pengetahuan kebudayaannya masih minim* :p #plak

Ada tiga kisah yang menjadi favorit saya di buku ini;

Gadis Pakarena
Berkisah tentang dua orang yang saling mencintai yang terpaksa berpisah karena adat dan budaya yang berbeda. Sebelum perpisahan, mereka berjanji akan bertemu kembali di tepi danau Dong Hu, Wuhan, sebuah kota di Tionghoa. Ketika hari yang dijanjikan tiba, sang lelaki menanti kedatangan sang perempuan sambil mengingat tentang kenangan di antara mereka dan bertanya-tanya, masihka cinta itu ada? Masihkah sang perempuan sendirian? Akankah ada perjumpaan?
Klasik. Sebuah kisah yang klasik sebenarnya, tapi diramu kembali dengan indah dengan memuat kebudayaan kampung halaman Sang Pengarang dan sepotong kisah kelam sejarah Indonesia. Ahhh saya juga jadi tau melalui cerita ini tentang asal mula Imlek ^^

“Kamu ingat, dulu kita benar-benar percaya bahwa Kitab Penyatuan itu ada. Sebuah kitab agung yang memuat daftar jodoh setiap manusia dan Tuhan akan menggerakkan pena-Nya untuk mencentang nama setiap pasangan. Kamu dulu sering merasa kurang khusyuk berdoa, sampai-sampai kamu memejamkan mata rapat-rapat dan memintaku segera menggeser gerakan pena Tuhan agar berhenti tepat di tempat namamu dan namaku diguratkan.”

Arajang
Berkisah tentang seorang calabai yang di usir oleh ayahnya dari rumah. Dahulu ia adalah anak kebanggaan sang ayah, tapi semakin bertambahnya usianya, ia bertingkah lebih keperempuan-perempuanan sehingga sang ayah murka dan mengusirnya. Setelah pengusiran itu ia menemukan jati dirinya dan menjadi bissu yang disegani banyak orang. Seiring berjalannya waktu, sang ayah jatuh sakit dan dalam sakitnya itu teru memanggil-manggil putra yang telah ia usir.....

“Sekarang aku menjadi bissu termuda yang disegani banyak orang. Menjadi lelaki paling lelaki yang piawai memainkan atraksi manggiri, menusuk tubuh dengan pisau, kalewang, keris atau badik. Aku pun menjelma perempuan paling perempuan yang suci karena tak pernah menstruasi dan tak berdarah karena tubuh tak tembus besi dan timah.”

Mengawini Ibu
Seorang putra yang sangat mencintai ibunya mendendam amarah yang teramat besar kepada sang ayah yang setelah sang ibu jatuh sakit, ia memperistri banyak perempuan muda yang memiliki nama berawalan huruf “N”. Sang ibu yang tetap setia mencintai sang ayah hinggah akhir hayatnya semakin mengobarkan amarah sang putra. Dengan niat balas dendam, ia mengawini ibu-ibu tirinya tanpa peduli jika perbuatannya diketahui atupun perasaan sang ayah. Hinggah pada suatu hari sang ayah tidak juga pulang ke rumah...

“Cinta, Nak, adalah obat paling mujarab untuk menyembukan luka.”
“Mencintai itu pekerjaan abadi, Nak, tak pernah selesai.”
“Tak ada gunanya mengelak, Nak, seperti juga tak ada gunanya banyak berharap.”
“Bakti itu, Nak, adalah saudara kandung kepatuhan.”
“Jika ingin menerima yang terbaik, Nak, berikan juga yang terbaik.”
“Hidup, Nak, acap kali tak seperti yang kita bayangkan.”
“Jadilah laki-laki, Nak, yang bukan Ayahmu.”
“Perempuan bukan boneka, Nak, mereka punya hati.”
“Penyesalan, Nak, selalu lahir di urutan terakhir.”
“Maaf itu menyembuhkan, Nak, bagi yang dimaafkan dan yang memaafkan.”
“Tawa dan air mata, Nak, bergantung bagaimana kita menyikapinya.”
Bukan dendam, Nak, cintalah yang mesti kamu rawat!”

Oh ia, saya suka sekali cover buku ini, sangat cantik terus dapet poster lagi :p #plak




You Might Also Like

5 comments

  1. list judul-judul'a, karya perpaduan gaya sastra & fiksi

    ReplyDelete
  2. hmm,, jadi pengin baca juga deh...

    ReplyDelete
  3. Daun Sirsak: Ceritanya menarik ^^ Menambah pengetahuan akan kebudayaan Bugis-Makassar :)

    Mengobati Kelenjar Tiroid: Bingung mau panggilnya apa ._.V Dalam cerita si Gadis Pakarena sudah tiada loh :p

    Andy: Ia bahasanya sastra banget dan tup ini cerita fiksi tentunya ^^

    Nana: Yuk yuk baca :)

    ReplyDelete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Beautiesquad