TINTENBLUT

2:06 pm

TINTENBLUT
By Cornelia Funke
@ Cecilie Dressler Verlag GmbH & Co. KG,
Hamburg 2005
Copyrights arranged through Tuttle-Mori Agency Co., Ltd
All rights reserved

INKSPELL
Oleh Cornelia Funke
Ilustrasi: Cornelia Funke
Alih Bahasa: Dinyah Latuconsina & Monica D. Chresnayani
Editor: Barokah Ruziati
Hak cipta terjemahan Indonesia:
PT Gramedia Pustaka Utama
Penerbit:
PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, Juni 2012
680 hlm; 18 cm
“Cerita tidak akan berakhir, walaupun harapan kosong seperti itulah yang kita dapatkan dari buku-buku. Cerita akan terus berlanjut, tidak tamat di halaman terakhir seperti halnya ia tidak berawal di halaman pertama.”
_Mo

Kisah ini dibuka dengan Staubfinger dan Farid yang sedang menunggu kedatangan Orpheus. Orpheus adalah seseorang yang memiliki kemampuan magis seperti Lidah Ajaib dan putrinya, Meggie, yang mampu mengeluarkan tokoh-tokoh di dalam buku dengan membacanya dengan suara yang keras. Orpheus mengaku mampu mengembalikan Staubfinger kembali ke dunianya, dunia yang sangat ia rindukan, Inkheart (Tintenherz), hal yang tidak pernah mampu Lidah Ajaib lakukan. Tapi Orpheus melanggar janjinya, ia hanya mengembalikan Staubfinger dan meninggalkan Farid sekali lagi seorang diri di dunia ini. Dia juga ternyata bersekongkol dengan musuh lama mereka dan merampas buku Tinterherz dari Farid, buku satu-satunya yang tersisa yang Staubfinger curi dari Lidah Ajaib.
Untunglah Farid berhasil meloloskan diri! Seorang diri ia memutuskan memperingatkan dan meminta bantuan kepada Lidah Ajaib dan putrinya.
“Heee, bajingan kecil tukang gigit! Lari sana terus, aku pasti bisa mendapatkanmu, kau dengar tidak? Kau, si Pemakan Api, Lidah Ajaib, dan putrinya yang manis, juga bapak tua yang membuat semua kata terkutuk itu! Aku akan membunuh kalian semua! Satu demi satu! Seperti aku membunuh monster yang keluar dari buku itu.”

Satu tahun telah berlalu semenjak matinya Capricorn. Meggie, Mo, Resa dan Darius memutuskan tinggal di rumah Elinor. Hasrat Meggie untuk dapat menulis sebuah kisah semengagumkan Tintenherz mengalami kesulitan, kata-kata selalu terhenti di kalimat pertama. Dia tidak mampu menciptakan sebuah kisah yang baru. Meskipun begitu ia begitu menyukai mendengarkan cerita-cerita ibunya, Resa, tentang Tintenherz. Tanpa sadar ia merindukan negeri itu, haus akan petualangan yang ditawarkan kepadanya. Ia menuliskan cerita ibunya ke dalam buku yang ia sebut Tintenblut. Hal tersebut membuat Mo khawatir, ia merasa anak dan istrinya terlalu memuja hal-hal dari buku terkutuk itu. Buku yang telah merengut istrinya selama sepuluh tahun dan menciptakan teror bagi mereka belum lama ini. Satu tahun belum terlalu lama untuk melupakan semuanya.
Hal tersebut menyebabkan Mo dan Meggie sering bertengkar yang kemudian mereka sesali. Tapi pertengkaran kali ini yang terparah, mereka belum sempat berbaikan saat Mo pergi memperbaiki buku. Saat itulah Farid datang, pemuda yang wajahnya tidak pernah Meggie lupakan semenjak Mo menariknya keluar dari Kisah Seribu Satu Malam.  Farid datang memberikan peringatan akan musuh-musuh masa lalu dan meminta bantuan kepadanya.
“Astaga, betapa dahsyatnya kekuatan cinta! Siapapun yang berkata sebaliknya pasti tidak pernah merasakan getaran hati yang dilanda cinta.”
_Staubfinger
Bersama mereka menemukan jalan untuk ikut masuk ke cerita. Maggie yang memang sangat menginginkan melihat Tintenherz memutuskan untuk ikut bersama Farid, meskipun ia sadar orangtuanya akan sedih dengan kepergiannya.
Di sana mereka bertemu dengan Fenoglio, penulis kisah asli Inkheart (Tintenherz), yang sekarang tinggal di dalam ceritanya sendiri. Tapi Tintenherz telah berubah sangat banyak, bahkan mungkin berkembang mengerikan menjadi sesuatu yang tidak pernah dibayangkan penulisnya sendiri.....
“Kau tahu, kurasa sebuah buku selalu menyimpan sesuatu dari pemiliknya di antara halaman-halamannya.”
_Taddeo
Bisahkah Maggie, Farid, dan terutama Fenoglio mengembalikan cerita ini ke jalur semula?
Dapatkah Farid bertemu dengan Staubfinger?
Bagaimana dengan Mo, Resa, Elinor, dan Darius yang mereka tinggalkan?
Dapatkah mereka bertahan dari kemarahan musuh-musuh lama mereka?
Dan dapatkah mereka mengendalikan kegelapan yang semakin berkuasa di Tintenherz?
Akhirnya setelah menunggu selama tiga tahun, buku kedua dari trilogi Inkheart ini diterbitkan juga oleh Gramedia. Rasanya saya sudah terlampau lama bertanya-tanya akan kelanjutan kisah mereka. Dan saat terbit, saya tetap belum dapat membacanya segera. Baru beberapa hari ini buku ini diberikan kepadaku oleh tante (dia sering membeli buku dan saya yang mengoleksinya :p)
Tidak seperti Inkheart yang tokoh-tokoh utamanya mengeluarkan tokoh/mahluk dari sebuah buku, di Inkspell ini sang tokoh-tokoh utama yang masuk ke dalam buku. Dan tentu masih tentang buku yang sama, Tintenherz, mereka memasuki Inkworld tempat asal Staubfinger, Capricorn, Mortola, dan Basta.
Pengarang membuat kita merasakan dan menapaki dunia rekaan Fenoglio. Tersesat di Hutan tak Berujung yang pepohonannya seakan menjangkau langit dan tak henti-hentinya berbisik dan bertemu mahluk-mahluk di dalamnya; para peri api yang membakar kulitmu jika cukup lama hinggap di badanmu yang menghasilkan madu api yang jika kau cicipi akan memberikan sensasi lidah terbakar tetapi membuatmu mampu berbicara dengan api, peri air yang ramah tapi tidak menyukai suara yang keras, manusia kulit kayu, peri biru, trow, bogle, nachtmahr sang mimpi buruk serta mahluk-mahluk lainnya.
Tinggal di Ombra yang damai, Ibukota Lombrica wilayah kekuasaan Paduka Tertawa. Terpesona memandang ketampanan Casimo Sang Rupawan, putra satu-satunya Paduka Tertawa. Menyaksikan pertunjukan menakjubkan Kaum Berwarna, sekelompok seniman pengelana yang dipimpin oleh Pangeran Hitam dan beruangnyayang setia.
Hinggah dikurung di ruangan bawah tanah Kastel Kegelapan, di Argenta wilayah Raja Perak yang lalim, Natternkopf...
Akhirnya pengarang mengangkat lebih banyak kisah antara Meggie dan Farid di buka ini juga alasan mengapa Staubfinger sangat ingin kembali ke Inkworld meskipun Fenoglio menakdirkan dia akan mati. Menyenangkan membaca buku ini saat hujan turun deras di luar sana...

Peta
“Semuanya kejam. Dunia tempat aku berasal, dunia tempat kau berasal, dan dunia ini juga. Mungkin orang-orang tidak langsung melihat kekejaman di duniamu, karena tersembunyi dengan lebih baik, tapi tetap saja kekejaman itu ada."
_Farid

You Might Also Like

0 comments

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Beautiesquad