Kesan Sehari di Balikpapan dan Kilang Minyak

3:08 am

Saya pernah mengira Makassar adalah kota terpanas di Indonesia, itu sebelum saya menginjakkan kaki di Pulau Kalimantan. Melewatkan sehari di Samarinda menyadarkan saya tentang hal itu. Yang biasanya saya tidak terlalu sering menggunakan AC ketika tidur atau sekedar duduk di kamar, di sana rasanya mau mati jika tidak menyalakan AC. Gerahnya sungguh luar biasa. Saat itu saya berfikir mungkin Samarinda inilah yang memenangkan sebagai kota terpanas di Indonesia.

Saat sehari di Balikpapan itu, saya menyadari Makassar itu sangat panas tapi lebih panas di Samarinda, dan ternyata Balikpapan jauh-jauh lebih panas. Di sana serasa kita menjejakkan kaki di penggorengan penuh minyak panas. Lebay? Enggak sumpah! Balikpapan itu panasnya bukan main!!! Terlebih saat melintasi daerah kilang minyak di sana. Pak supir yang mengantar kami mengatakan jika hujan di sepanjang jalan itu akan terlihat uap-uap air seperti saat kita memasak air. Mungkin karena minyak bumi di bawah kami yang menyebabkan Balikpapan sepanas itu. Atau mungkin juga karena Pulau Kalimantan di lalui Garis Khatulistiwa. Apapun itu, intinya PANAS!!!

Jika mata saya mampu melihat yang jauh di sana, saya akan melihat Makassar
 Kilang Minyak







Luas kilang minyak di sana sungguh luar biasa, terkadang saya membayangkan jika kilang minyak itu terbakar mungkin seluruh Kalimantan Timur akan gosong. Sayang di sepanjang jalan itu kita tidak di perbolehkan berhenti, padahal di seberang kilang minyak itu ada perumahan untuk orang-orang yang bekerja di kilang minyak tersebut yang gaya arsitekturnya membuat saya jatuh cinta. Saya juga tidak bisa memfotonya dari mobil yang berjalan karena duduk di sisi yang salah.

Balikpapan seperti Makassar, yang berbatasan langsung dengan Selat Makassar tapi sayangnya Pantai di Balikpapan sebagaian besar ditutupi dengan hotel dan rumah makan. Tidak ada pemandangan selayaknya Pantai Losari. Ikon kota ini adalah Beruang Madu yang sangat ingin bisa kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Tapi karena keterbatasan waktu kami tidak sempat melihat hewan tersebut. Dan kami berlima sangat tidak suka dengan reptil (kecuali kura-kura & penyu) sehingga tidak menyempatkan diri mengunjungi penangkaran buaya di sana. Ahhh... sebenarnya baik Balikpapan maupun Samarinda, kami belum sempat ke tempat-tempat wisatanya.

Mungkin dilain waktu jika ke Samarinda ataupun Balikpapan lagi saya bisa mengunjungi tempat-tempat wisatanya. Semoga ke sana bukan dalam periode berduka lagi.

Oh ia, Samarinda dan Balikpapan ongkos hidup di sana sangat menguras dompet, apa-apa mahal. Tapi mungin itu berbanding dengan pendapatan orang-orang di sana. Yang susah ya saya sebagai wisatawan kere ^^

You Might Also Like

0 comments

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Beautiesquad