Botchan

4:23 pm

BOTCHAN
by Natsume Soseki
Alih Bahasa: Indah Santi Pratidina
Sampul dan ilustrasi cover: Matin Dima
Hak cipta terjemahan Indonesia:
PT Gramedia Pustaka Utama
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, Februari 2009

Cetakan kelima: September 2012

224 hlm; 20 cm

Botchan adalah anak yang nakal, sangat nakal. Ayah dan Ibunya telah lama menyerah dengan perilaku Botchan dan menganggapnya sebagai pengganggu di rumah tersebut, setan kecil yang tidak mampu mereka jinakkan. Sebentara kakak Botchan adalah seorang anak teladan, kesayangan kedua orangtuanya. Kakaknya selalu dilimpahi kasih sayang, perhatian, dan uang saku.

Di rumah itu ia seperti anak yang terbuang, hanya Kiyo, seorang pembantu di rumahnya yang tidak pernah kehilangan harapan terhadapnya. Hanya Kiyo yang melimpahinya dengan kasih sayang dan percaya bahwa suatu saat ia akan menjadi orang yang sukses dan hebat.

Perbedaan prilaku orangtuanya terhadapnya dan kakaknya membuat Botchan tumbuh sebagi orang yang sinis dan menaruh curiga terhadap semua orang. Ia tidak memiliki perasaan peduli apalagi sayang terhadap keluarganya. Sepeninggalan kedua orangtuanya, kakaknya menjual rumah mereka dan pergi ke Kyushu untuk bekerja, sedangkan Botchan melanjutkan studinya di Sekolah Ilmu Alam Tokyo.

Sebentara itu Kiyo yang sedih karena harus meninggalkan rumah yang telah sepuluh tahun ia tinggali dengan berat hati tinggal dengan keponakan laki-lakinya. Ia berharap setelah lulus sekolah, Botchan segera memiliki rumah dan mengajaknya tinggal bersama.

Tiga tahun Botchan belajar di sekolah itu dan ketika akhirnya ia lulus, ia mendapat tawaran menjadi seorang guru matematika di sebuah sekolah menengah di Shikoku. Dan Ia menerima tawaran itu berhubung ia tidak punya bayangan lain selain menjadi seorang guru.

Botchan sulit beradaptasi dengan kehidupan pedesaan di Shikoku. Sifatnya yang sombong dan terkadang menganggap rendah dan kampungan orang-orang di sana membuatnya tidak memiliki banyak teman. Hidupnya yang sering memanjakan diri dianggap sangat aneh oleh masyarakat. Selain itu dia juga menghadapi banyak masalah dengan siswa-siswa yang ia ajar. Ia tidak suka bermanis-manis didepan mereka. 

Dia juga membenci "sistem" di sekolah itu. Dia merasa muak dengan intrik dan politik yang dimainkan guru-guru di sana. Keterusterangannya dan ketidakmauannya berpura-pura membuatnya mengalami banyak kesulitan dalam berinteraksi dengan orang-orang disekitarnya~

Di satu sisi saya sangat sebel dengan prilaku Botchan yang sok orang kekotaan dan juga kebodohannya yang mudah percaya hasutan orang lain. Saya benci caranya memperlakukan murid-muridnya, sebuah contoh yang sangat cerdas di tuliskan oleh Soseki ini; bahwa menjadi guru itu seharusnya memilki kecintaan untuk mengajar dan kepedulian terhadap remaja. Disisi lain saya dapat memahami kesinisannya dan mengagumi kejujuran, ketegasan, dan sifat terus terangnya. Juga solidaritas yang ia tunjukkan kepada orang-orang yang tidak diperlakukan adil.

Saya menyukai Kiyo, perempuan tua yang mencintai tanpa pamrih dan mampu menemukan kebaikan yang tersembunyi didalam diri seseorang~

Awalnya saya mengira Botchan ini dapat di baca oleh anak-anak, seperti Totto-chan karangan Tetsuko Kuroyanagi. Perbedaannya mungkin hanya Botchan bercerita tentang kehidupan seorang guru dan Totto-chan tentang seorang murid, ternyata setelah membacanya saya salah. Kesinisan tokoh Botchan membuat buku ini tidak aman untuk pembaca anak-anak, terlalu beraura negatif. Sampulnya membuat saya tertipu~

Mungkin karena telah menaruh harapan yang terlalu tinggi akan buku ini saya kecewa setelah membacanya. Saya tidak menemukan keindahan bertutur seperti karangan penulis-penulis Jepang lainnya. Tidak ada keindahan seperti karangan Yasunari Kawabata atau Banana Yoshimoto, kemuraman yang dihadirkan juga tanggung tidak sekuat karangan Haruki Murakami.

Tapi setidaknya buku ini tepat dibaca sebagai selingan ketika sedikit lelah membaca karya sastra yang berat dan menambah koleksi buku-buku Jepang saya. Dan ini pun geratisan!!!!

Oh ia saya bingung apakah buku ini langsung diterjemahkan dari versi Jepangnya atau hanya diterjemahkan dari versi Inggrisnya saja. Jika diterjemahkan langsung dari versi Jepangnya, mengapa penerbit menyertakan tulisan pembuka oleh Alan Turney (yang menerjemahkan Botchan ke bahasa Inggris)? Jika memang diterjemahkan dari versi Inggrisnya, mengapa nama Alan Turney tidak dituliskan sebagai penerjemah dari bahasa Jepang ke Inggris?

You Might Also Like

2 comments

  1. ini modelnya kaya komik ya mba ?
    jujur aku sering denger nama buku ini,tapi belum pernah baca jd belum tahu version jepang / version english'a :(

    ReplyDelete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Beautiesquad