Guru Yang Mengajarkanku Memaafkan

8:07 pm


Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu....

Itu adalah lirik dari Himne Guru yang setiap hari guru dinyanyikan di sekolahku. Ada perasaan sinis setiap aku menyanyikan lagu ini. Maaf saja, di sekolahku itu hanya terhitung jari guru-guru yang saya hormati atau lebih tepat dapat dihormati. Selebihnya? Sangat membuatku kecewa. Atau mungkin aku yang terlalu menilai tinggi profesi ini? Sehingga ketika pada kenyataannya tidak seperti "itu", aku sendiri yang kecewa.

Dulunya, aku beranggapan guru adalah seseorang yang membimbing kita menemukan potensi diri. Guru adalah seseorang yang membantu kita menemukan cita-cita dan tujuan hidup kita. Guru adalah seseorang yang membuat kita mengerti dan memahami pelajaran yang ia ajarkan, dan jika ternyata kita tidak mampu dalam pelajaran yang ia ajarkan ia akan membesarkan hati kita dan tanpa lelah terus mengajar kita. Guru adalah seseorang yang memang terpanggil untuk mengajar. Guru adalah seseorang yang mencintai anak-anak dan remaja. Apakah aku salah mengharapkan hal-hal di atas ketika mendengar kata "guru"?

Awal SMA bisa dikatakan aku mulai memperhatikan sekitarku, hidup tidak lagi menjadi seputar diriku. Aku memperhatikan dan kemudian menyadari banyak guru di SMA ku tersebut yang mementingkan mencari uang dibandingkan membuat kami mengerti pelajarannya. Tinggal membeli buku cetak dan LKS, maka nilai kami telah terjamin. Dan ketika ulangan dan ternyata nilai kami tidak memenuhi standar, tidak perlu repot, kami tidak perlu melakukan remedial, hanya membayar senilai tertentu (tergantung gurunya), maka bereslah. Memang tidak semua guru di sekolahku itu yang melakukan hal tersebut, ada juga beberapa guru yang sangat kuhormati. Yang hingga sekarang namanya selalu hidup dalam sanubariku... Seperti lagu himne guru itu.... Hanya beberapa.....

Dan mirisnya, teman-temanku malah menyukai melakukan pembayaran tersebut. Tidak perlu repot bagi mereka, tinggal mengeluarkan uang dan nilai mereka terjamin. Buat apa repot-repot belajar? Dan masalah bagiku, sebagai anak yatim piatu, mengeluarkan uang untuk melakukan pembayaran untuk menjamin nilai-nilai di matapelajaran tertentu, terasa sangat berat. Sempat juga terpikir, jika aku masih memiliki orangtua, akankah aku juga merasa tidak keberatan mengeluarkan uang untuk menjamin nilai-nilaiku? Apakah ini hanya masalah iri hati? Karena aku tidak seperti teman-temanku?

Kembali ke guru, ada satu orang guru yang jika kuingat selalu menimbulkan perasaan sakit hati. Saat itu dia menjadi wali kelasku. Saat kenaikan kelas, di aula aku di umumkan sebagai peringkat ke tujuh di kelasku. Senang? Biasa saja. Tidak merasa sombong, hanya saja sudah lama aku menyadari nilai tidak pernah penting. Mereka gampang dimanipulasi. Singkat cerita, saat aku memegang raport ku, raport sementara, aku dinyatakan naik dengan bersyarat. "Apa-apaan ini?!!" pikirku saat itu. "Bukankah aku berada di peringkat ke tujuh?!! Mengapa aku naik dengan bersyarat?!! Jadi semua dibawahku naik bersyarat juga??? Parah!!!"

Ternyata kenyataannya lebih parah bagiku. Yang naik bersyarat di kelasku hanya ada tiga orang (apa lima ya? sudah agak lupa. Males ingatnya)!!! Tidak terima aku mulai protes dengan guru itu dan sedikit ngotot, ya agak tidak sopan si pada orang yang lebih tua, aku mengambil daftar nilai yang ia pegang. Jelaslah sangat berbeda dengan nilai yang ia pegang dengan nilai yang tercetak di raport sementaraku. Daftar nilai yang ia pegang sangat pantas untuk diriku berada di peringkat ke tujuh, sementara yang tercetak di raport sementaraku, yiah memang sangat pantas aku naik dengan bersyarat.

Lalu mana yang benar? Aku cenderung percaya pada daftar nilai yang ia pegang!Mengapa? Hey siapa pun tahu dan aku tahu, aku bukan anak yang bodoh ataupun malas mengumpulkan tugas. Dan meskipun aku tidak berada di peringkat ketujuh aku tidak mungkin naik dengan bersyarat! Kesombongan? Entahlah tapi aku yakin aku benar saat itu. Apa guru ini membenciku? Atau karena aku tidak pernah memberinya " buah tangan" jadi ia memperlakukanku seperti ini? Ia wali kelasku yang ini memang tipe guru matre, seperti yang kujabarkan diatas.

Sang guru memberikan alasan ada kesalah ketik dan bla bla bla... Intinya aku disuruh saja mengumpulkan tugas untuk naik kelas. Toh hanya mengumpulkan tugas. Marah dan sakit hati, aku menangis. Merasa sangat tidak berdaya dan aku benci perasaan itu. Ini nama baikku yang ia cemari, harga diriku terluka. Lebai? Mungkin. Aku paling benci jika mendapat perlakuan yang tidak adil. Dan aku tidak memiliki dan mungkin tidak mempercayai orang sebagai tempat mengadu, tempat untuk berkeluh-kesah. "Andai saja orangtuaku masih hidup, pasti hal ini tidak akan terjadi kepadaku." begitu pikirku saat itu. Apa hubunganya? Sejujurnya aku malas menjelaskannya.

Semenjak itu aku mulai sinis menanggapi guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, dan orang yang sangat berjasa bagi perkembangan pengetahuan kita. Sedikit dendam aku menyamaratakan setiap guru, mereka tidak berhak sama sekali menyandang predikat Pahlawan Tanpa Tanda Jas! Toh mereka dibayar!

Memang dengan berlalunya waktu, marahku lenyap, dendamku menghilang, tapi sakit hatinya masih ada. Guru itu memang tidak menjadi wali kelas lagi, rupanya ada orangtua murid yang protes dengan nilai anaknya. Entah bagaimana perkaranya, orangtua murid itu merasa ada kesalahan dan ketidakadilan di sini. Dan begitulah, guru itu tidak menjadi wali kelas lagi dan syukurlah dia tidak mengajarku lagi.

Sekali lagi memang tidak semua guru di sekolahku itu mengecewakan. Aku juga menyukai dan menghormati beberapa guru. Kebaikan dan pelajaran yang ia ajarkan menjadi menyenangkan, meskipun ada beberapa guru yang kusukai itu mengajar pelajaran yang tidak kusukai. Aku selalu menanti saat-saat ia mengajar, membuatku bersemangat belajarnya.

Suatu hari, aku menemukan kenyataan yang membuatku merombak kesinisanku tentang guru. Demi kepentingan mendaftar kuliah melalui jalur bebas tes, kita diminta mengumpulkan fotokopi nilai raport dari kelas sebelas hingga semester terakhir. Itu berarti aku harus menemui wali kelasku yang dulu itu, guru yang itu, untuk mengambil raport asliku yang memang belum berada di tanganku. Karena waktu yang mendesak, malam itu aku ke rumahnya untuk mengambil raportku. Rumahnya jauh... Jauh dari sekolah. Dan kondisinya, maaf, setingkat lebih baik dari gubuk. Anaknya juga banyak, dan aku jadi merasa kasihan pada guru itu. Apakah ini dibalik alasan ia meraup keuntungan sebanyak-banyaknya dari mengajar?

Sebenarnya berapa gaji guru?
Apakah memadai untuk keberlangsungan hidup mereka? Toh guru pun butuh hidup, butuh makan dan memberi makan keluarganya, butuh menyekolahkan anak-anaknya...
Dan pendidikan itu mahal, sangat mahal di negara ini. Sehingga kita sering mendengar pendidikan hanya untuk orang-orang yang kaya.
Apakah ini dibalik alasan mereka melakukan "bisnis" disaat mengajar?
Sejujurnya aku mulai bertanya-tanya dan merasa kasihan, tapi tidak membenarkan metode ataupun perlakuannya.

Hey dan apakah aku pernah sebagai murid mengecewakan guru-guruku? Kurasa itu hal yang harus dipikirkan juga!!! 

Aku menyadari setiap hal pasti memiliki pelajaran di dalamnya. Melalui guru ini, secara tidak langsung, ia mengajariku untuk terlebih dahulu mengenal sesorang, memahaminya, dan mencoba berfikir berada diposisinya baru kemudian menilainya. Melaluinya aku belajar mengatasi rasa marah dan dendam... Dan memaafkan.
Untuk itu aku berterimakasih padanya.

You Might Also Like

10 comments

  1. idealnya memang guru adalah panutan, ganti orang tua kita di sekolah ya. Idealisme ini menempatkan profesi ini sebagai pekerjaan dengan label "not for everybody" Tapi kenyataanya tidak demikian diperlukan banyak guru untuk sekolah-sekolah dimana saja berada sehingga banyak yang terseleksi menjadi guru. TAPI ... tidak semuanya bisa menjadi GURU(dengan idealisme tadi).
    Dan aku setuju dengan poin terakhir ketika disinggung soal gaji guru menhjadi salah satu pemicu guru menjadi sedikit keluar dari idealisme.

    ReplyDelete
  2. Guru oh guru. Aku selalu kagum dengan guru yang mengajar karena panggilan jiwa daripada yang mengajar karena mata pencarian

    ReplyDelete
  3. 2 komentar di atas sudah mewakili apa yg ingin ane utarakan.. namun biarpun begitu, guru tetaplah guru, meskipun mungkin kini sudah banyak yg menjadi buku hanya sebatas mata pencaharian, namun tetap guru akan memberikan ilmu :)

    ReplyDelete
  4. kalau mba tulisan mba,jadi kangen sama guru semasa SMA dulu.Entah kenapa,padahal beliau dulu galak banget sama saya,tp akhirnya saya sadar akan arti dalam kegalakan tsb.Dan beliaulah yg membuat saya begini #thanks for my teacher

    ReplyDelete
  5. dulu guruku juga ada yang gitu. harus beli buku ke beliau langsung. aku gak beli dan nilaiku gak pernah tuntas. aku beli buku di luar sekolah biar lebih murah.akhirnya terpaksa beli buku lagi biar bisa lulus pelajaran itu.
    tapi, karena bete berkepanjangan (teman-teman juga), aku dan ayah menghadap ke wakil kepala sekolah (waktu itu kepala sekolah lagi gak ditempat)
    dan entahlah,
    semuanya berhasil lulus di pelajaran itu meski tidak semua membeli buku :)

    ReplyDelete
  6. kata bapak saya, guru berbeda dari jaman-ke jaman. kalau jamannya bapak saya sekolah dulu, guru bener2 pahlawan tanpa tanda jasa seperti pak umar bakri hehe.tapi sekarang? itu patut dipertanyakan..

    ReplyDelete
  7. Terimakasih untuk semua komentarnya :) *catat dalam hati*

    ReplyDelete
  8. kalau mba tulisan mba,jadi kangen sama guru semasa SMA dulu.

    ReplyDelete
  9. hmm guru emang jasanya banyak banget buat kita

    ReplyDelete
  10. tulisan ini bnr" kerren..
    aku jd inget smua guru"ku, yg telah mengajarku, membimbingku..

    ReplyDelete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Beautiesquad