Perawan Remaja Dalam Cengkraman Militer

8:14 pm


Perawan Remaja Dalam Cengkraman Militer
Pramoedya Ananta Toer

Penyunting: Candra Gautama
Perancang Sampul: Boy Bayu Anggara
Penataletak: Wendi Arteswenda

Penerbit KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2001
248 hal; 13,5 x 20cm

Cetakan Ketujuh, Juni 2011

“… kalian para perawan remaja, telah aku susun surat ini untuk kalian, bukan saja agar kalian tahu ntang nasib buruk yang biasa menimpa para gadis seumur kalian, juga agar kalian punya perhatian terhadap sejenis kalian yang mengalami kemalangan itu….. surat kepada kalian ini juga semacam pernyataan protes, sekalipun kejadiannya telah puluhan tahun lewat…”

1943, Pemerintahan Pendudukan Balatentara Dai Nippon di Jawa telah mengeluarkan janji (perintah) melalui Sandenbu untu memberi kesempatan para perawan remaja melanjutkan sekolah di Tokyo dan Shonanto. Janji ini tidak pernah diumumkan secara resmi, terutama tidak pernah tercantum dalam  Osamu Serei (Lembaran Negara), hal ini merupakan sebuah kesengajaan untuk menghilangkan jejak. Dan para perawan remaja yang telah diberangkatkan meninggalkan kampung halaman dan keluarga, menempuh perjalanan yang berbahaya, bukan atas kemauan sendiri tetapi karena ketakutan orang tua mereka terhadap ancaman Jepang.

Jepang memilih para perawan remaja yang belum dewasa selain untuk memenuhi impian seks serdadu Jepang, juga agar mereka tidak mendapat perlawanan dari remaja tidak berdaya itu…

“Aku percaya kalian tidak akan suka menjadi korban bangsa apa pun. Juga tidak suka bila anak-anak gadis kalian mengalami nasib malang seperti itu. Artinya, kalian juga tidak akan suka bila ibu-ibu kalian—para perawan remaja pada 1943-1945—menderita semacam itu. Itu sebabnya kukhususkan surat ini pada kalian.”

Berdasarkan catatan –catatan yang telah dikumpulkan Pramoedya, diduga sebagian besar para perawan remaja yang diangkut Jepang itu telah mati dalam penderitaan, tanpa disaksikan orang terkasih, tidak pernah mendapat kesempatan belajar sebagaimana dijanjikan, dan mati di negeri yang jauh. Penderitaan yang mereka alami bermacam-macam, dan sangat mengguncangkan rasa kemanusiaan, kecuali bagi serdadu Jepang.

Setelah Jepang menyerah, mereka, para korban, sangat ingin kembali ke kampung halaman dan keluarga. Hanya saja pengalaman buruk telah menjadi beban moral yang berat, sehingga mereka tidak sampai hati bertemu orangtua, saudara, maupun kenalan. Sebagaian lagi tidak mempunyai dana dan daya untuk pulang, dan memang tidak berani pulang. Saat dibawa Jepang—senang ataupun tidak senang—mereka menyiapkan diri untuk meneruskan pelajaran. Mereka membayangkan diri akan pulang sebagai manusia yang lebih berilmu dan berpengetahuan. Dan pada kenyataannya mereka dipaksa untuk memasuki kekejian, kemesuman, dan kehinaan.

Dalam hal ini, pihak balatentara Jepang berusaha keras untuk cuci tangan. Dalam hal ini Jepang dapat dikatakan berhasil dalam usahanya. Dapat dikatakan berhasil karena memang tidak ada gugatan. Mengapa?

Pertama, segera setelah Jepang menyerah, pihak yang berhak menggugat, Indonesia, belum atau tidak mempunyai bahan otentik untuk menggugat. Kedua, Indonesia sedang terlibat dalam perjuangan senjata untuk mempertahankan kemerdekaannya. Ketiga, segera setelah pemulihan kedaulatan, Republik kita yang masih sangat muda itu terlibat dalam pertentangan kepartaian yang berlarut-larut. Keempat, karena keteledoran pihak RI sendiri.

Keteledoran itu terlihat dari kenyataan tak pernah ada komisi yang ditugaskan untuk menyelidiki hal ini. Dalam perundingan-perundingan tentang pampasan perang dan pelaksanaannya antara RI dan Jepang, juga hal tersebut tak disinggung. Dengan demikian, para perawan remaja itu, tanpa pernyataan resmi dari pemerintah, dengan sendirinya menjadi orang buangan. Mereka belum atau memang tidak mendapatkan pelayanan perlindungan hukum…

Ada kesedihan tersendiri ketika menamatkan buku ini. Fakta sejarah yang disodorkan begitu gamblang oleh Pramoedya, membuat kita bergidik ngeri dan merasa terpanggil untuk mengetahui lebih jauh tentang hal ini… Dan merasa bersalah… Pernahkah kita merasa peduli atau bergerak untuk menuntut keadilan untuk mereka? Atau bahkan, apakah kita tahu tentang sejarah kelam ini?

Jugun Ianfu adalah istilah Jepang terhadap perempuan penghibur tentara kekaisaran Jepang dimasa Perang Asia Pasifik, istilah asing lainnya adalah Comfort Women. Pada kenyataannya Jugun Ianfu bukan merupakan perempuan penghibur tetapi perbudakan seksual yang brutal, terencana, serta dianggap masyarakat internasional sebagai kejahatan perang. Diperkirakan 200 sampai 400 ribu perempuan Asia berusia 13 hingga 25 tahun dipaksa menjadi budak seks balatentara Jepang. Mereka diperkosa disiksa secara kejam. Dipaksa melayani kebutuhan seksual tentara Jepang sebanyak 10 hingga 20 orang siang dan malam serta dibiarkan kelaparan. Kemudian di aborsi secara paksa apabila hamil. Banyak perempuan mati dalam Ianjo karena sakit, bunuh diri atau disiksa sampai mati.

Kaisar Hirohito merupakan pemberi restu sistem Jugun Ianfu ini diterapkan di seluruh Asia Pasifik. Para pelaksana di lapangan adalah para petinggi militer yang memberi komando perang. Maka saat ini pihak yang harus bertanggung jawab atas kejahatan kemanusiaan ini adalah pemerintah Jepang.

Pemerintah Jepang masa kini tidak mengakui keterlibatannya dalam praktek perbudakan seksual di masa perang Asia Pasifik. Pemerintah Jepang berdalih Jugun Ianfu dikelola dan dioperasikan oleh pihak swasta. Pemerintah Jepang menolak meminta maaf secara resmi kepada Jugun Ianfu. Kendatipun demikian Juli 1995 Perdana Menteri Tomiichi Murayama pernah menyiratkan permintaan maaf secara pribadi, tetapi tidak mewakili negara Jepang. Tahun 1993 Yohei Kono mewakili sekertaris kabinet Jepang memberikan pernyataan empatinya kepada korban Jugun Ianfu. Namun pada Maret 2007 Perdana Menteri Shinzo Abe mengeluarkan pernyataan yang kontroversial dengan menyanggah keterlibatan militer Jepang dalam praktek sistem perbudakan seksual.
*sumber

Nb: Makasih Meike untuk pinjaman bukunya ^^

You Might Also Like

0 comments

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Beautiesquad