Sekali Lagi, Pilihan

11:58 pm


Saat sedang membaca Eleven Minutes, buku karangan Paulo Coelho, tiba-tiba saja pertanyaan ayah George (Gadis Jeruk, Jostein Gaarder) terlintas; “… apa yang kamu pilih seandainya kamu punya kesempatan untuk memilih? Akankah kamu memilih hidup yang singkat di bumi kemudian dicerabut lagi dari semua itu, tak pernah kembali lagi? Atau apakah kamu akan berkata tidak, terima kasih?”
Tentu saja pertanyaan itu tidak ada sangkut pautnya dengan Eleven Minutes, tapi entah mengapa saat itu pertanyaan itu terlintas…


Pertama kali membaca pertanyaan tersebut dari buku Gadis Jeruk, saya bersegera menjawab; tidak, terima kasih. Mengapa memilih turun ke bumi dan berpisah dengan Sang Kekasih? Untuk apa merasakan kepedihan di bumi jika kita telah berada di sisi-Nya? Menjadi manusia itu berat loh, sangat berat. Juga menyedihkan. Perasaan kehilangan, kemarahan, kesedihan serta rasa cemburu melihat orang terkasih terlebih dahulu menemui Sang Kekasih sungguh tidak tertanggungkan bagiku. Belum lagi perasaan berdarah-darah melihat orang lain kesusahan atau mengalami hal yang buruk. Menyesakkan! Sangat. Apalagi jika ternyata kita tidak berdaya menolong atau sedikit meringankan beban mereka, sesaknya berlipat ganda. Juga tingkah manusia-manusia itu sendiri yang serakah, berkhianat atau berlaku curang. Menjijikkan melihat bumi ini dengan segala manusia yang bertempat tinggal di dalamnya.
Jadi, tidak terima kasih Tuhan…

Ya itulah yang akan ku pilih. Itu jawabanku jika Sang Kekasih memberikan tawaran untuk “turun” ke bumi. Tapi apakah sebelumnya, sebelum aku berada di bumi, Sang Kekasih sudah pernah memberikanku pilihan untuk ini? Jika ia, mengapa sekarang aku berada di bumi? Apakah dengan tololnya aku menyambut tawaran untuk berada di bumi? Mengapa? Apa dulu aku menginginkan berada di bumi ini? Mengapa?
Tidak menemukan jawabannya, aku melanjutkan membaca Gadis Jeruk tersebut hingga selesai. Akhir cerita, Georg menyakinkan ayahnya bahwa ia sangat bersyukur bisa berada di bumi saat ini. Alasan yang ia kemukaan sedikit bisa kupahami tapi tidak sama sekali mengubah jawabanku. Lalu hal ini terlupakan sampai tadi siang saat aku membaca Eleven Minutes.

Setelah merenungkannya (Sok ya pemakaian katanya, tapi betul, merenungkannya pas menggambarkan apa yang ku lakukan tadi), aku menemukan jawabannya beserta jawaban-jawaban dari segala pertanyaan yang menyusul setelah aku menjawab pertanyaan ayah Georg pertamakali…

Jika aku sekali lagi diberikan pilihan untuk tinggal di bumi atau tidak sama sekali, pilihanku sama, tidak, terima kasih. Tidak seperti ayah Georg yang menyesal karena ia begitu cepat “dicerabut” dari bumi, aku hanya ingin terus bersama Sang Kekasih. Menjadi tiada.

Dan mengapa saat ini aku berada di bumi?
Ya, kurasa saat itu aku tergoda suatu petualangan di demensi lain. Aku tergoda untuk menjadi sekedar ada. Meskipun sedih dengan pilihanku, aku tidak menyesal. Aku senang memilih berada di bumi, sesingkat apapun nantinya keberadaanku ini. Apakah kau mengerti? Aku merasa sedih sekaligus senang? Ambigu ya… Di sini, di bumi, kusadari meskipun menyaksikan keburukan, kekejaman, dan hal-hal mengerikan yang dilakukan manusia, aku juga menyaksikan kebaikan, kelembutan, dan hal-hal terpuji yang dilakukan manusia. Aku menderita sekaligus berbahagia di sini. Aku memiliki keluarga, sahabat, dan kekasih yang tidak bisa ditukar dengan apapun. Yeahhh… Aku tidak menyesal menerima tawaran Tuhan untuk berada di bumi ini. Dan aku bahagia dengan pilihanku.

You Might Also Like

10 comments

  1. Ya, life is choice, menjalani kehidupan dibumi memang sangat indah hanya saja terkadang kita luput untuk menikmatinya, terlalu banyak memandang keatas dan lupa memandang kebawah salah satu penyebabnya.
    Salam kenal :) salam blogger. Visit back my blog :)

    ReplyDelete
  2. Mushadiqah: Ia mbak :) Jadi mbak sudah puas dengan keadaan sekarang? Dan seandainya Allah bertanya lagi kepada mbak, apa yang mbak pilih???

    ReplyDelete
  3. Dari berandai-andai sekarang balik ke kenyataan, gimana perasaanmu dengan kenytaan hidupmu dweedy?

    ReplyDelete
  4. Mbak Hany: Secara keseluruhan bahagia mbak :), sangat... Yah meskipun tidak sempurna tapi ada hal-hal yang membuatnya terasa sempuna dan cukup :D

    ReplyDelete
  5. Perjalanan ke bumi ini mungkin adalah selingan dr perjalanan panjang sesungguhnya ya Mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Evi: Mungkin :) Tapi mengapa kita memilih untuk itu ya?

      Delete
  6. jika aku yang ditanya, dengan senang hati aku akan memilih untuk diturunkan ke bumi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. JK: Mas pernah merasakan ditinggal sendirian? Merasakan orang yang dicintai untuk selamanya pergi dari bumi? :) Mungkin tidak akan menjawab secepat itu jika telah merasakannya :p

      Delete
  7. ♥;.•°``°•.¸¸.•.¸¸..¸¸...
    Kita datang ke dunia tanpa permintaan lalu pergi tanpa paksaan. Apakah kita bergulat di bumi hanya sekedar menyia-nyiakan hidup? Aku memilih untuk Tersenyum... Karena senyumku adalah bukti mensyukuri hidup.

    ReplyDelete
  8. salam gan ...
    menghadiahkan Pujian kepada orang di sekitar adalah awal investasi Kebahagiaan Anda...
    di tunggu kunjungan balik.nya gan !

    ReplyDelete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Beautiesquad