Prelude Rintik Hujan

2:18 pm

Setiap senja, saat matahari mulai memerahkan langit dan perlahan tenggelam dibibir cakrawala, aku selalu mendengar sayup-sayup lantunan melodi diantara hembusan angin dan deburan ombak. Awalnya aku tak percaya dengan pendengaranku, kupikir, ini hanyalah hayalanku yang memang sedari tadi sudah berkelana ke negeri antah berantah. Hal ini membuatku penasaran dan bertanya-tanya. Dari mana asal suara ini? Dentingan pianokah ini? Jika ia, siapa yang memainkannya? Apa nama melodi ini? Siapa penggubahnya? Dan mengapa hanya terdengar ketika senja?

Kuakui hal ini sangat mengusikku. Setiap senja aku menyempatkan diriku ke pantai, mendengarkan dan berusaha mencari asal lantunan melodi itu. Melodi yang indah dan sedikit membuat pilu. Keindahan yang kelam. Begitu indah menikmatinya seorang diri sambil memandangi mentari yang kembali keperaduannya. Melodi itu menyatu dengan debur ombak dan merasuki hati, mengisinya sampai  sesak dan ingin meledak.

Hari demi hari pun berlalu, sepulang bekerja, seorang diri berteman sepi, aku melakukan rutinitas hiburanku ini. Duduk disebuah batu yang menghadap pantai, menikmati kesendirian. Aku tak pernah mengetahui dari mana asal melodi itu dan juga pertanyaan-pertanyaan lain seputar melodi tersebut. Dan lama kelamaan aku tak pernah lagi berusaha mencari jawaban atas semuanya. Rasa penasaran tetap ada, hanya kemauan untuk mencari yang telah lenyap. Kuanggap saja itu suara denting piano yang terbawa oleh angin dari berjuta-juta masa yang lalu. Sedikit meromantisasi suasana. Rasanya seperti ada seseorang diluar sana, entah siapa ia, pengagum rahasiaku yang mempersembahkan melodi itu setiap senja hanya untukku. Menemani kesepian dan kesendirianku. Dan pada angin yang berhembus serta ombak yang memukul-mukul pantai, kucurahkan segala keluh dan kesahku…

…..

Enam tahun yang lalu, aku menyadari diriku hamil dengan seorang lelaki yang bahkan baru kukenal. Sebuah kecerobohan yang berakhir bencana. Kami terpaksa menikah. Pernikahan yang canggung, ketika dua orang yang tak terlalu saling mengenal harus hidup bersama dan segera akan menjadi ibu dan ayah. Kami berusaha menjalaninya. Harus!

Sembilan bulan kemudian, putraku lahir.  Hanya sejam ia bernafas di dunia ini, kami pun memakamkannya. Pernikahan ini, yang memang tidak didirikan dengan fondasi yang kuat, hancur. Kami bercerai dan kembali kekehidupan masing-masing. Aku melanjutkan kuliah dan mengejar mimpiku. Berusaha melupakan kepahitan ini.

…..
Dan disinilah aku sekarang.  Diusia 27 tahun, berbisik pada angin dan ombak sambil menikmati melodi misterius setiap senja…Terlalu takut memulai sebuah hubungan. Tidak mengerti dan belum mengerti dengan semua yang terjadi dalam hidupku… Dan masih selalu dihantui masa lalu.

…..
Kemudian kusadari, perlahan-lahan aku mulai berdamai dengan masa lalu ku. Aku memberikan kesempatan pada diriku sendiri untuk berteman, tertawa, dan berbahagia. Aku pun memulai sebuah hubungan dengan seorang lelaki. Rutinitasku setiap senja tak pernah kulewatkan, hal itu membuatku kuat dan berani untuk melangkah kedepan. Aneh memang, seuntai melodi mampu menyemangati ku…

Tiba-tiba melodi itu berhenti berdenting. Entah mengapa, tak lagi kudengar ia setiap senja. Aku bersedih atas kehilangan ini, rasanya seorang teman meninggalkanku. Tapi kekuatan yang telah ia berikan kepadaku berbulan-bulan lalu tetap kurasakan. Aku bersyukur atasnya, pada siapapun itu yang memainkannya atau apapun ia yang menimbulkan dentingan melodi tersebut. Terimakasih atas kekuatan yang engkau alirkan kepadaku…

…..
“Sesosok mayat perempuan ditemukan disebuah mercusuar tua yang tidak terpakai lagi. Diduga Ia meninggal  akibat penyakit jantung yang ia derita. Warga sekitar mengatakan perempuan itu memang tinggal seorang diri di mercusuar tersebut. Saat ini mayatnya dibawah ke rumah sakit untuk diotopsi. Pembantu rumah tangga yang mendapati mayat tersebut mengatakan majikannya meninggal saat memainkan piano. Sebuah surat ditemukan disamping sang mayat yang baru saja diketahui berisi wasiat perempuan tersebut.”

“Kumainkan prelude rintik hujan ini untuk suamiku tercinta. Yang sangat mengagumi karya-karya Chopin terutama 24 prelude. Setiap senja saat ia masih hidup, sebelum laut menelannya, ia akan memainkan Prelude Rintik Hujan untuk ku. Sekarang aku yang memainkan untuknya. Jika nanti nafas terakhir meninggalkanku, aku ingin mayat ku dikremasi dan abu ku ditebar dilaut ini. Agar kami menyatu. Dalam debur ombak dan rintik hujan sebelum badai di senja saat itu.”

_Makassar 20 Juli 2011

*ilustrasi diambil disini



You Might Also Like

2 comments

  1. kalo baca ini, sekilas jadi inget dee lestari :)

    ReplyDelete
  2. Oh ya? Hahaha... Kenapa gitu ya? :p

    ReplyDelete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Beautiesquad