Rispondimi

1:15 pm

RISPONDIMI
by Susanna Tamaro
Copyright 2002 Limmat Stifting
All rights reserved


JAWABLAH AKU
Alih bahasa: Antonius Sudiarja, SJ
Desain dan ilustrasi sampul: nitamamora
Diterbitkan pertama kali oleh
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama,
anggota IKAPI,
Jakarta, Agustus 2005

“Orang yang mencintai menanggung resiko lebih besar, dan sering harus membayar harga yang lebih tinggi… Alih-alih membuka hati, cinta lebih sering menutupnya. Mengapa? Mungkin karena kita khawatir, orang lain akan merampas cinta itu dari kita dan mereguknya sampai habis. Tapi tahukah kaucinta itu bagai udara, tak berbatas…”

Buku ini mengisahkan tiga cerita dengan dilema serupa: Sanggupkah kita mencintai dan menerima cinta dari orang lain? Sanggupkah kita eksis di dunia yang didominasi oleh keserakahan dan rasa iri ini? Buku ini bercerita tentang sifat-sifat jahat, perjuangan untuk hidup tanpa rasa takut, serta pencarian akan cinta.

Seperti karya-karya sastra yang lainnya; dituliskan dengan indah sekaligus gelap dan berbalut dengan majas-majas dari kisah pertama hingga akhir. Oh ia, saya sendiri sangat menyukai kisah ke tiga yang berjudul “Hutan yang Terbakar”. Kisah ke tiga ini bercerita tentang seorang suami yang mendapati istrinya berubah, lalu ia diliputi cemburu atas perubahan itu. Kecemburuannya membuatnya gelap mata, hingga suata kejadian membuat ia membunuh istrinya. Penyesalan hingga penolakan putrinya atas dirinya lalu surat-menyuratnya dengan seorang biarawan yang merupakan sahabat istrinya dan perjuanganya untuk memaafkan diri sendiri tertuang dalam kisah ini. “Teruslah berjalan meskipun orang mengatakan itu sia-sia atau kau tak berhak. Teruslah berjalan meskipun kau tak bisa melihat jalannya lagi, meskipun kabut menyelimuti dan kau menemukan dirimu berjalan di bibir jurang. Dengan terus berjalan, cepat atau lambat kau akan sadar kehidupan adalah perjalanan yang harus ditempuh, bukanlah kepompong tempat kau hanya bisa meregangkan kaki mu” (Hal 212-213). Dan dua kisah lainnya yang pertama berjudul sama dengan judul bukunya “Jawablah Aku”, yang kedua berjudul “Neraka Itu Tidak Ada”.

Karya-karya Susanna Tamaro memang tak dapat dilewatkan begitu saja, begitu berbekas dihati, meninggalkan jejak kearifan. Sayang bila melewatkan membaca buku yang satu ini. Beruntunglah, saya menemukannya disebuah taman baca dan meminjamnya. Setelah menamatkannya, saya berharap Gramedia menerbitkannya ulang sehingga saya bisa memilikinya.

“Aku lebih suka menganggap setiap akhir sebenarnya awal yang baru. Tentu saja ada ‘sesuatu’ yang telah berakhir. Akan tetapi ‘sesuatu’ tidak pernah berarti seluruhnya . Apa yang kita sebut akhir, sering kali hanya sejenis metamorfosis.”



You Might Also Like

2 comments

  1. aku pernah dapat buku ini di sencho , tp wktu itu ga begitu minat . stelah baca ulasan mu ini , keknya aku tertarik , hehehe :D

    ehh...kamu suka buku karangan dewi lestari ga ?

    ReplyDelete
  2. Cari semua buku karangan Susanna Tamaro, semuanya bagus-bagus :)

    Suka dong, kenapa?

    ReplyDelete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Beautiesquad