Mengenang Mu

11:49 am

“Siapa perempuan itu Dit? Perempuan dalam setiap lukisan mu? Siapa ia?”
Ini sudah ketiga kalinya Kesya bertanya hal yang sama kepada Radit, seperti pertanyaan sebelumnya, ia hanya mendapat sorotan mata dingin penuh amarah dan kepedihan. “Siapa ia?” Bisiknya lirih….
…..

Entah mengapa akhir-akhir ini semua orang bersekongkol bertanya tentang mu. Tak tahukah mereka mengorek luka lama? Luka yang bahkan belum mengering, tak akan mengering, meskipun tentang mu telah bejarak empat tahun. Empat tahun sudah saat ku kembali dan melihat mu tengah hamil dalam gandengan sahabatku, suami mu…
…..

“Dit…?”
“Apakah itu penting Sya? Aku lebih suka bila tidak membahasnya. Tak pernah membahasnya.”
“Maaf… Hanya saja aku penasaran…”
“…..”
“Dit? Kau marah? Maaf… Aku hanya ingin tahu. Bukankah kita teman? Kau tahu semuanya tentangku, aku hanya ingin lebih mengenalmu, lebih dekat…”
“Itu hanya akan menyakiti mu.”
“Aku lebih merasa sakit bila berusaha bersaing pada perempuan dalam lukisan, perempuan yang bahkan namanya pun tidak kuketahui.”
“Kesya! Bukankah sudah kukatakan kepada mu?! Aku menganggap mu sebagai teman, adik, tak lebih Sya”
“Justru karena itu Dit! Ceritakan tentangnya, agar aku tahu. Agar aku tak berharap! Kumohon…”
…..

Semuanya bermula ketika ayahku berkeinginan aku kuliah dijurusan bisnis. Hal itu dipersiapkan agar aku suatu saat kelak, dapat menggantikan kepemimpinannya diperusahaan keluargaku ini. Disaat itu aku sangat ingin mengambil jurusan seni rupa tetapi, aku diharuskan, diwajibkan, mungkin lebih tepat bila kukatakan; dipaksakan, untuk kuliah bisnis. Dan ya… Dengan berat hati kuturuti kemauan beliau.

Kuliah dengan setengah hati menguras kewarasan ku. Aku kehilangan tujuan untuk hidup dan berusaha. Meskipun begitu, disana aku mendapatkan seorang sahabat. Kehadirannya mampu membuatku bertahan beberapa semester. Dia sudah seperti kakak untukku. Aku selalu menikmati cerita-ceritanya tentang sebuah desa kecil nan asri, tempat kelahirannya. Juga tentang seorang perempuan di sana yang ia cintai. Lalu ketika semua tak tertahankan lagi, dia jugalah yang menyarankan kepadaku agar mencari kedamaian hati di desa kelahirannya itu.

Aku pergi kesana bermodalkan petunjuk darinya yang tak dapat mengantarku karena padatnya jadwal kuliah, “Enam bulan lagi aku akan pulang, jika kau betah disana dan masih ada ketika aku pulang, akan kutunjukkan tempat-tempat terindah yang hanya aku ketahui disana.” Katanya saat itu. Setiba ku disana, aku memilih tinggal di sebuah penginapan kecil, dibandingkan dirumah keluarga sahabatku. Takut merepotkan dan sesungguhnya aku tak tahu akan berapa lama disini.

 Ilustrasi di ambil di sini

Kuakui, desa itu memang sungguh indah dengan kesederhanaannya. Begitu mampu mendamaikan hati yang gelisah. Hamparan pegunungan dan padang rumput memanjakan mata ini yang setiap saat hanya memandang lautan beton. Ya, aku mulai kerasan di sana. Aku menghabiskan waktu ku disana dengan menjelajahi hutan-hutan dan padang rumput serta melukis, melukis, dan melukis.

Hingga suatu pertemuan dengannya, perempuan dalam lukisan itu, membuat ku merasa seperti hidup kembali. Sekali lagi, aku memiliki sesuatu yang pantas untuk kuperjuangkan.

Ia perempuan yang mungil,  tingginya tak lebih dari bahuku. Rambut dan matanya sehitam malam dan kulitnya secerah mentari. Setelah mengenalnya, aku tahu ia lugu dan cerdas, sebuah perpaduan yang manis. Ia selalu menatapku dengan lekat, sorot matanya memancarkan perhatian total akan kata-kata ku, aku senang menemukan seseorang yang mau mendengarkan impian-impianku. Aku tak tahu dimana awal dari semua ini, yang ku tahu saat itu hati ini bukan lagi milik ku sendiri. Aku tak kuasa mencintainya.

Ketika kusadari ialah perempuan yang dincintai oleh sahabat ku, semuanya telah terlambat. Aku dan dia telah berbagi jiwa dan raga. Meninggalkannya sama saja dengan membunuh diri ku sendiri. Ini pertama dan terakhir kalinya aku merasakan perasaan seperti itu. Kuat. Sangat Kuat. Dan aku memutuskan akan menjelaskan segalanya kepada sahabatku, secepatnya, sebelum ia pulang.

Tapi aku menundanya dan terus menundanya, aku terbuai dengan kebahagian yang kumiliki saat itu hingga enam bulan berlalu. Sahabatku pun pulang… Ia marah. Tentu saja ia marah, murka dengan penghianatanku kepadanya. Aku berusaha menjelaskan kepadanya bahwa itu terjadi begitu saja. Cinta ini menguasaiku, aku tak lagi berfikir menggunakan otak, hati ini, seiring detaknya, mengambil alih fungsi otakku.
Seperti yang kau pun ketahui, ia lelaki yang baik, jauh… jauh lebih baik dari ku. Ia akhirnya menerima hubunganku dengannya, meski mungkin dengan berat hati. Saat itu persahabatan kami yang kukira akan hancur, berlanjut…

Aku ingin menetap di desa tersebut, menikahinya, dan membangun keluarga ku, bersamanya. Aku membeli penginapan itu dan membiarkan pemilik sebelumnya menjalankannya sebentara aku menyiapkan diri dan segalanya untuk melamarnya.  Lalu semua rencana itu berantakan, ketika kabar ayahku terkena serangan jantung kuterima, aku pergi terburu-buru tanpa sempat meninggalkan pesan kepadanya.

Ayahku meninggal… Sebelum meninggal, ia membuatku berjanji melanjutkan kepemimpinanya diperusahaan keluarga ku. Aku dibuat sibuk dengan tetek bengek perusahan itu, hanya sempat mengirimkan sepucuk surat kepadanya, yang menjelaskan kenapa aku meninggalkannya dan mengapa belum kembali hingga sekarang, semoga ia mengerti. Surat itu kualamatkan kerumah sahabatku beserta sepucuk surat juga untuknya, memohon agar ia menjaganya sampai aku kembali, secepat yang aku bisa. Apakah surat itu sampai atau tidak? Atau memang sahabatku menghianatiku seperti aku menghianatinya? Atau memang aku hanyalah pengganggu diantara mereka? Aku tak tahu…

Tiga bulan waktu yang kuhabiskan untuk menstabilkan perusahaan itu yang sempat goyah saat kepergiaan ayah ku. Aku kembali kesana, dan mendapati ia tengah hamil dalam gandengan suaminya, sahabatku….

Aku meninggalkan tempat itu tanpa menyapa keduanya. Untuk apa?! Toh semuanya telah jelas! Aku telah tersingkir dari kehidupan mereka, selingan sebelum mereka menyatu. Pahit. Dan semenjak itu aku tak pernah kembali lagi kesana. Tak pernah. Meskipun aku takkan bisa melupakannya, sekejappun… Dirinya hadir disetiap detak jatuntungku. Mengingatnya, dan mengabadikannya dalam lukisan merupakan pelipur lara untukku...

Baca Cerpen Sebelumnya:










You Might Also Like

6 comments

  1. aku bacanya loncat-loncat, karna aku pikir ini td petikan dari perahu kertas :p

    ReplyDelete
  2. Gerandis: Petikan perahu kertas? o.O emang ada kesamaan cerita si :p lelakinya sama-sama pelukis. hehehe

    froggy: Sip sip? o.o Kenapa gy? *bingung*

    ReplyDelete
  3. bagus banget..

    terus menulis Dwee....

    ReplyDelete
  4. bagus banget mbak, anda sangat berbakat :)

    ReplyDelete
  5. Meilya: Terimakasih :) Ya, selama saya masih hidup, saya akan terus menulis.

    Jk: Bakat itu bisa dimunculkan kok dengan sering berlatih. Bagaimanapun terimakasih telah membacanya :)

    ReplyDelete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Beautiesquad