Mencintaimu, Memilikimu, Tapi tak Pernah Mendapatkan Hatimu.

3:08 pm

Tiada perempuan di dunia ini yang kukasihi melebihi dirimu. Senyum serta tawa mu senantiasa membuat hari-hari ku berwarna. Aku sadar, aku akan selalu mencintaimu.
.....

Aku ingat disuatu masa saat kita masih kanak-kanak; saat kau sering bermain bersama adik ku di rumah kami. Kau gadis yang lemah, itu fikirku saat melihatmu. Cengeng. Aku menjuluki mu "Selang Air", saking seringnya dirimu mengeluarkan air dari matamu. Tak tahan ejekan anak-anak yang lain, kau bersembunyi dalam bayang-bayang adik ku yang perkasa. Kau lebih memilih bermain dirumahku dan menghadapi ejekan ku dibandingkan bermain diluar sana bersama anak-anak yang lain. Ya, ku akui, terkadang anak-anak memang kejam tanpa mereka sadari. Mengejekmu "Anak Haram" tanpa tahu arti dari kata yang mereka ucapkan. Mereka hanya mencontoh para dewasa berbisik-bisik dibelakang ibu mu.
Seiring waktu yang berjalan dalam hidup ku, hidup mu, hidup kita yang terbalut dalam kasih yang ditunjukkan dan diberikan keluarga ku kepada mu, benih-benih itu mulai muncul. Awalnya aku mengira, menyayangimu seperti aku menyayangi saudari ku. Tapi tidak, kepergian ku untuk melanjutkan pendidikan ku malah semakin menguatkan perasaanku padamu. Di kota itu, tempatku belajar, aku menyadari perasaan ini. Rindu yang menyesakkan hati ini hampir membuatku gila. Dan surat-surat balasan dari mu yang meskipun ramah dan bersahabat membuatku semakin sesak, aku sadar, kau menyayangiku layaknya seorang adik pada abangnya. Abang yang tak pernah kau miliki.
.....
Aku belajar mensyukuri apapun yang Tuhan berikan kepada ku. Setidaknya dekat dengan mu, membuatku merasa cukup. Cukup. Atau hanya dalam fikirku yang munafik ini!

Sepulangku, melihatmu dekat dengan dia, pemuda kota itu, membuatku terbakar cemburu. Marah sekaligus merasa bersalah. Marah, karena kau menatapnya dengan penuh cinta, tatapan yang senantiasa ku impikan. Bersalah, karena aku ingin kau bahagia, kau tak pernah sebahagia ini, tapi cemburu terus saja membakar dan menggrogotiku.

Kau tak tahu dan mungkin tak mau tahu, akulah yang menyarankan lelaki itu untuk menyepi di desa kita. Aku bahkan satu universitas dengannya. Bahkan, yang membuatku semakin marah dan merasa dikhianati, dia tahu kalau aku mencintaimu. "Aku tak pernah merencanakan semua ini, semuanya terjadi dengan begitu saja", katanya saat itu. Dan apa yang dapat kulakukan? Kalian saling mencintai, aku berada ditengah-tengah kalian, diantara perempuan yang kucintai dan sahabatku. Aku berusaha berbesar hati menerimanya, asalkan kau bahagia dan senantiasa tersenyum seperti ini.
.....

Dan betapa terlukanya diriku melihatmu hancur luluh lantak saat kepergiannya yang tiba-tiba. Tanpa pesan, tanpa nomor yang dapat dihubungi saat itu. "Ini salah ku", lirih ku saat itu. Seandainya aku tak mengusulkannya untuk kesini, ini tidak mungkin terjadi. Salah ku...

Kemudia aku mengambil kesempatan dalam hal ini. Aku melamar mu dan kau pun menerimanya. Kita menjadi sepasang suami-istri. Dan kau pun mengandung. Aku berharap kehadiranku dapat mengobati luka mu dan perlahan kau dapat mencintai ku. Dan semoga aku dapat menghapus bayangannya dari mata mu.
.....

Sepertinya harapan itu terlalu muluk. Kau menyimpannya di hatimu selayaknya perhiasan. Ketika malam, kadang kudapati dirimu membuka hatimu dan memandang perhiasan itu dengan duka dan cinta. Telah empat tahun usia pernikahan kira, aku tahu kau menyayangi ku dan bahkan mencintai ku. Cinta yang seperti apa, berwujud apa, itu masih sebuah misteri. Hingga saat ini...

Aku melihat mu tercengang memandang layar televisi. Matamu terpaku padanya, pada dia, bayangan dalam hidup kita, momok dalam rumah tangga ini. Seketika aku sadar saat melihat mu saat ini, hati mu tak pernah untuk ku.

 Ilustrasi diambil di sini

_Makassar, Sabtu 30 April 2011
1.01am

*Lihat cerpen sebelumnya "Ingatkah Aku?" di sini





You Might Also Like

7 comments

  1. Ini versi suaminya Dwi?

    Ternyata, suaminya kk temannya y o.o

    Baeknya suaminya, mw menerima istrinya apa adanya + menerima kenyataan kaLw istrinya tidak pernah mencintainya T.T

    Semoga suami saya keLak juga mencintai saya! AMIN

    ReplyDelete
  2. Ia sayang :)
    tipe Dorien banget kan suaminya ~(^O^)~
    AMIEN! sy jga mau punya suami yg mencintai sy :)

    ReplyDelete
  3. Dorien? Bukannya Sonea juga mencintai Dorien?

    Aku mw kayak Akkarin atau ayank Darco aja deh ;p

    ReplyDelete
  4. ijin nyimak dulu ya.
    karya yg bagus :D

    ReplyDelete
  5. Hata: ya emang, si istri jga mencintai suaminya tpi cinta yang berbeda yang dia rasakan terhadap “pemuda kota” itu :) Seperti cinta Sonea pada Dorrien berbeda dengan cintanya pada Akkarin. Mirip juga di kasus Bella, dia cinta Jacob tapi pada kadar yang berbeda dengan cintanya kepada Edward :)

    ia lah ambil saja semua, silahkan hidup didunia hayal.

    Kurnia: Terimakasih :) Jangan lupa baca kisah terdahulunya di “Ingatkah Aku?”

    ReplyDelete
  6. dweedy, sejuta cerita yang ditulis di blog ini rasanya dapat memberikan inspirasi bagi pembaca setianya :)

    ReplyDelete
  7. Wah... terimakasih yah :)

    ReplyDelete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Beautiesquad