Menyaksikan Pertunjukan I La Galigo

9:13 pm

Kemarin, tanggal 24 April 2011, saya akhirnya menyaksikan pertunjukan teater tari dan musik yang mengangkat kisah dari Sureq Galigo. Bertempat di Benteng Ujung Pandang dan berdurasi dua setengah jam non stop, sukses membuat saya berurai air mata menyaksikannya. Saya tau, pasti banyak penonton yang tidak mengerti dari pertunjukan tersebut, wong pertunjukannya monolog hanya gerak tubuh dan sinrili'. Telah lama kunantikan pergelaran ini, semenjak sepupuku menontonnya di Paris nun jauh disana. Heran juga sebenarnya, kisah ini merupakan warisan suku Bugis tetapi namanya jarang terdengar, bahkan telah banyak yang mulai melupakannya. Cobalah bertanya kepada ABG sekarang, adakah yang mengenal I La Galigo, BataraGuru, dan Sawerigading???
Beruntunglah saya sekali lagi terlahir disebuah keluarga yang tak melupakan warisan. Kisah ini telah sering dikisahkan kepada kami dan berhubung saya juga orang yang mencintai "mitologi", maka saya semakin tak sabar menantikan pertunjukan ini. Dan akhirnya....

Naskah La Galigo yang dipamerkan.













Untuk yang tidak mengetahui kisah Sureq Galigo, maka isinkan saya mengutip dari selebaran cerita yang dibagikan sebelum pertunjukan;
"Sureq Galigo, juga dikenal sebagai La Galigo, adalah hikayat asal muasal orang Bugis. Hikayat ini mulainya berkembang sebagai cerita lisan yang dikisahkan banyak pendongeng dari beberapa generasi sebelum abad ke-14, ketika kemudian aksara Bugis asli dibuat dan hikayat ini mulai dituliskan. Sekarang ini La Galigo hadir dalam bentuk lisan maupun tulisan yang saling mempengaruhi selama berabad-abad. Ada 100 lebih naskah yang diketahui dengan panjang 6000 lebih halaman folio sehingga menjadikan Sureq Galigo, barangkali, teks terpanjang di dunia, lebih panjang dari Mahabrata.

Kisah bermula pada masa Luwuq prasejarah, kerajaan yang dipandang sebagai asal mula kebudayaan Bugis, dan bergerak ke banyak tempat sepanjang Sulawesi dan luar Sulawesi. Pokok cerita adalah pentingnya silsilah yang memicu sebagian besar petualangan gila-gilaan tokoh-tokoh utamanya dalam upaya mereka menemukan dan menikahi orang yang setara dengan darah putih ningrat mereka. Silsilah Sureq Galigo dimulai dengan dewa-dewa Dunia Atas dan Bawah yang mengirimkan salah seorang anak mereka mengisi Dunia Tengah. Ratusan petualangan, perang, upacara, sabung ayam, kisah cinta, pernikahan yang rumit yang tercantum di hikayat ini mencangkup enam generasi keturunan mereka. Di akhir cerita, para dewa mengumpulkan keturunan mereka di Luwuq, dan mengirim mereka ke Dunia Atas dan Bawah. Permukaan Dunia Tengah dikosongkan dan disucikan, dan tindakan-tindakan yang merupakan awal hikayat diulangi. Anak-anak tokoh utama hikayat dikirim dari Dunia Atas dan Bawah untuk mengisi sebuah dunia baru. Hanya kali ini, gerbang ke Dunia Atas dan Bawah ditutup dan dikunci selamanya, kehidupan dunia baru ini, dunia yang kita kenal sekarang, mulai, namun tanpa campur tangan lagi dari para dewa."
Berhubung saat pementasan saya terlalu terpesona sehingga melupakan untuk mengabadikannya dalam sebuah foto, jadi tak ada satu pun foto yang memperlihatkan tentang pertunjukan tersebut. Hanya sebelum dan sesudah pementasan saja. Berikut beberapa fotonya:

Takut berdesakan masuk, dari jam 5 udah ada di tempat.

Badi' dan alat untuk membaca naskah lontara yang turut dipamerkan

Memandang foto-foto pertunjukan terdahulu.


Menunggu pintu dari museum terbuka untuk menuju ketempat pertunjukan.

Akhir pertunjukan. Para pemain.



Singgah makan Mie Awa'. Yummy...



You Might Also Like

6 comments

  1. hoaa...puas k nonton kak..semoga pertunjukkan budaya seperti ini akan ada lagi....

    kenyataan yg menyakitkan adalah ternyata byk masyrakat Sulsel yang tidak mengetahui Laga Ligo..

    ReplyDelete
  2. jadi iri -__-' ,
    saya kehabisan tiket :"(

    smoga taon depan berlabuh di mkasssar lagi , amin , , hehhe :)

    ReplyDelete
  3. waaaah... seneng banget bisa nonton, secara diriku jauh.. huhu.. jd gak bisa. padahal udah tahu I La Galigo udah lama, pernah diberitakan di Kompas, trus kemaren juga diberitakan lagi pas manggung di Makassar

    ReplyDelete
  4. Meike: Ia saya juga puas banget nontonnya apalagi dengan tiket murah trus duduknya ditempat strategis :)
    Maka mari kita membudayakan warisan kita.

    Ummy: Ia tiketnya emang dari 1 hari sebelum pertunjukan udah sold. Amin, kalo tahun depan ada lagi, saya masih mau nonton lagi.

    Mbak Vita: Mbak tinggal dimana emangnya? tahun 2005 pernah ditampilkan di Jakarta

    ReplyDelete
  5. Terima kasih sudah berbagi cerita dan menuliskan ringkasan kisahnya disini, sangat menarik!!!

    ReplyDelete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Beautiesquad