Romeo Juliet

8:28 pm

ROMEO JULIET
The Tragedy of Romeo and Juliet
Penulis:
William Shakespeare
Alih Bahasa:
Manda Milawati A.
Penyadur:
Musthofa W. Hasyim
Sholeh UG.
Pewajah Sampul:
Zaeni Yusuf
Pewajah isi:
F. Ulya. Himawan
Tebal: 184 halaman
Cetakan: I-2010
Penerbit:
NAVILA


Karena sesungguhnya kebijaksanaan hanya bisa didapat melalui latihan dan akan mencapai kesempurnaan selama bertahun-tahun.
_ Shakespeare, Romeo Juliet

Siapa yang tidak pernah mendengar kisah tentang dua insan manusia yang saling mencintai tapi harus terpisah oleh warisan kebencian ini? Mungkin bisa saya katakan, TIDAK ADA. Saya ingat, pertama kali mendengar kisah ini saat TK, tapi hanya sepotong-sepotong dari menguping kakak dengan teman-temannya. Lalu, saat mulai besar, saya menonton filmnya. Dan sejujurnya, saya bingung. Dengan otak kanan-kanak, saya berfikir kisah ini tolol, penuh kesia-siaan. Saat itu saya berfikir, “Apa arti cinta yang berujung pada kematian? Apanya yang romantis dari bunuh diri bersama?” Pendapatku itu terus bertahan hingga saya dewasa.

Setelah saya membaca buku ini, akhirnya saya paham. Film yang saya nonton tidak mampu merangkum intisari dari kisah ini. Atau mungkin otak saya yang belum bisa paham tentang ini?! Entahlah… Yang aku tahu, dulu aku tidak memandang kisah ini secara keseluruhan. Tidak melihat akhir kisah, kesimpulan kisah ini. Tak sadar yang selama ini kukira bad ending, ternyata happy ending, setidaknya bagi rakyat Verona. Romeo dan Juliet tidak mati dengan sia-sia. Kematian mereka membawa perdamaian diantara kedua keluarga mereka, yakni, Capulet dan Montague. Kedamaian akhirnya melingkupi Verona. Meskipun kedamaian itu tercapai dengan korban manusia.

Disajikan dengan bahasa yang sangat indah, yang mampu menyeret kita ke masa itu. Shakespeare selalu membuat saya berdecak kagum dengan bahasa yang ia sajikan di buku ini.

“Romeo dan Juliet. Kisah cinta abadi dan melegenda, bertahan dari generasi ke generasi. Kedua insan ini menjadi bukti kekuatan cinta, yang tak memandang kasta atau harta, pun tak peduli pada harga diri.
Cinta selalu punya dua sisi, ia bagai jembatan mimpi atau bagai anggur yang memabukkan jiwa. Namur dalam cinta terselip belati, bisa membunuh juga bisa melukai.

Cinta mendorong Romeo menjadi pemberani, tak takut mati. Cinta juga menuntun Romeo untuk berhati lembut, tak suka membalas dendam. Cinta Romeo pada Juliet, menjadi peredam amuk, membuhul tali persaudaraan, meski akhirnya mereka harus menjadi korban.”

Cinta akan menunjukkan jalan, seperti mereka menunjukkan jalan untuk menemui mu.
_Shakespeare, Romeo Juliet





You Might Also Like

4 comments

  1. jadi ingat tagline-nya film Tristan & Isolde..

    "sebelum ada Romeo & Juliet, ada Tristan & Isolde.."

    ReplyDelete
  2. Oh ia, tristan dan isolde juga bagus. Tapi ada bukunya gak ya? Saya lebih bisa memahami cerita kalau tertulis dibandingan nonton filmnya :p

    ReplyDelete
  3. wooww....
    blogmu kerenn . . . jadi iri ~.~"

    oh ya . . bku ini kmu bli dmana ? aku cr d gramedia kok udah g ad y ? :D

    ReplyDelete
  4. Senengnya ada yang puji :o
    hehehe...

    Aku belinya di gramedia Mari si waktu itu, pas pertama kalinya keluar. Udah habis ya? pesan aja lagi :p

    ReplyDelete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Beautiesquad